32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Akad baru saja selesai beberapa jam lalu. Namun alih-alih menikmati waktu bersama keluarga atau menerima ucapan selamat lebih lama, Baskara justru berdiri dan melihat jam tangannya. "Kita harus segera pulang."
Kalimat itu membuat Vivi menoleh. "Pulang?" ulangnya pelan.
Baskara mengangguk. "Anak-anak menunggu." Jawaban itu singkat. Tidak terdengar romantis.
Tapi cukup membuat Vivi sadar bahwa kehidupannya kini berbeda. Ia bukan pengantin baru yang akan menikmati hari-hari pertama pernikahan dengan tenang. Ia sedang masuk ke sebuah keluarga yang sudah berjalan jauh sebelum dirinya hadir. Dan keluarga itu sedang menunggu di rumah. Meski belum tentu menginginkannya.
Vivi tidak membantah. Ia juga tidak tahu harus berkata apa. Sejak beberapa jam lalu statusnya sudah berubah. Ia adalah istri Baskara. Mungkin inilah salah satu bentuk kepatuhan yang selama ini diajarkan orang tuanya. Menghormati suami. Belajar menyesuaikan diri. Belajar mengalah. Meski hatinya masih ingin duduk lebih lama bersama ayah dan ibunya. Meski ia masih ingin menikmati beberapa jam terakhir sebagai anak yang tinggal di rumah itu. Dengan langkah berat, Vivi menghampiri kedua orang tuanya.
Ibunya langsung memeluknya erat. Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah juga. "Jaga diri baik-baik ya, Vi."
"Iya, Bu."
"Kalau ada apa-apa bilang."
Vivi mengangguk. Padahal mereka semua tahu mulai hari ini rumahnya sudah berbeda.
Ayahnya tidak banyak bicara. Hanya menepuk bahu Vivi pelan. Namun mata pria tua itu tampak lebih merah dari biasanya. "Hati-hati."
"Iya, Pak." Vivi mencium tangan kedua orang tuanya. Lalu melangkah menuju halaman depan rumah. Mobil Baskara sudah menunggu. Mesin menyala. Pintu terbuka. Beberapa langkah lagi dan ia akan meninggalkan rumah yang telah menjadi dunianya selama tiga puluh tahun. Namun tepat saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu mobil Sebuah suara memanggilnya.
"Vivi?"
Vivi menoleh. Seorang wanita berusia sekitar lima puluhan berdiri di dekat pagar. Wajah itu sangat dikenalnya. "Tante Sinta?"
Dokter Sinta berjalan mendekat dengan ekspresi terkejut. Wanita itu masih mengenakan pakaian kerja, seolah baru pulang dari klinik. Matanya berpindah dari kebaya Vivi ke Baskara yang berdiri tidak jauh di sana. "Kamu menikah, Vi?" Pertanyaan itu terdengar spontan. Bahkan sedikit tidak percaya.
Vivi tersenyum kecil. Meskipun senyumnya tampak gugup. "Iya, Tante."
Dokter Sinta tampak membeku sesaat. "Menikah?"
"Iya."
"Tapi..." Wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya. Tatapannya berubah aneh. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di tenggorokan.
Vivi justru tersenyum lebih lebar. Senyum yang selama bertahun-tahun tidak pernah bisa ia tunjukkan saat membicarakan masa depannya. "Nggak apa-apa, Tante. Saya sudah jujur sama suami saya tentang kondisi saya."
Jantung Dokter Sinta berdetak lebih cepat. Namun Vivi tidak menyadarinya.
"Dia tahu saya nggak bisa punya anak." Kalimat itu terdengar begitu polos. Begitu tulus. Seolah diagnosis yang selama ini ia pegang adalah kebenaran mutlak. "Dan suami saya insya Allah bisa menerima kondisi saya."
Untuk sesaat, wajah Dokter Sinta tampak kehilangan warna. Tangannya mengepal tanpa sadar. Tatapannya turun sesaat ke tanah. Lalu kembali ke Vivi. Perempuan yang berdiri di hadapannya itu terlihat bahagia. Mungkin tidak sepenuhnya tenang. Mungkin masih takut. Tetapi bahagia. Dan justru itulah yang membuat dada Dokter Sinta terasa semakin sesak. Karena tidak ada seorang pun di tempat itu yang tahu rahasia yang ia simpan selama bertahun-tahun. Tidak Vivi. Tidak kedua orang tuanya. Tidak suaminya Vivi. Tidak siapa pun. Hanya dirinya sendiri.
"Tante?" panggil Vivi pelan.
Dokter Sinta tersentak. Lalu buru-buru memaksakan senyum. "Oh... iya. Selamat ya."
"Terima kasih, Tante."
Dokter Sinta mengangguk pelan. Namun saat Vivi berbalik menuju mobil, tatapannya tetap mengikuti perempuan itu. Ada rasa bersalah yang sekilas muncul di wajahnya. Lalu menghilang lagi. Sementara di dalam mobil, Vivi tidak tahu bahwa pertemuan singkat beberapa menit itu kelak akan menjadi awal terbukanya rahasia terbesar dalam hidupnya. Rahasia yang akan membuatnya mempertanyakan seluruh masa lalu yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran.
***
Perjalanan menuju rumah Baskara berlangsung dalam keheningan.Vivi duduk di kursi penumpang sambil memangku tas kecilnya. Sesekali ia melirik ke luar jendela, melihat pemandangan yang semakin asing. Di sampingnya, Baskara fokus menyetir. Tidak ada percakapan.Tidak ada obrolan ringan seperti pasangan yang baru menikah. Hanya suara mesin mobil dan pikiran Vivi yang semakin berisik. Semakin dekat mereka ke rumah, semakin kencang jantungnya berdetak.Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar akan bertemu dengan lima anak yang selama ini hanya ia lihat dari foto. Lima anak yang tidak menginginkannya. Lima anak yang telah menggagalkan tiga puluh dua calon ibu sebelumnya.
"Tegang?" tanya Baskara tiba-tiba.
Vivi sedikit terkejut. "Iya."
Baskara mengangguk kecil. "Aku mengerti." Hanya itu. Tidak ada kalimat penyemangat. Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena mungkin Baskara sendiri tidak yakin.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah. Rumah itu besar.Jauh lebih besar daripada rumah tempat Vivi tumbuh. Halamannya luas, dipenuhi tanaman yang terawat rapi.Namun entah kenapa, rumah itu tidak terasa hangat. Lebih mirip bangunan yang megah tetapi sepi.
Mobil berhenti. Baskara mematikan mesin. "Kita sudah sampai."
Kalimat itu membuat perut Vivi mendadak mual. Ia mengangguk pelan. Lalu membuka pintu. Angin sore menyambut wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di samping mobil sambil menatap rumah yang kini menjadi rumahnya juga. Rumah yang belum tentu menerimanya.
Pintu depan terbuka. Bu Mega keluar terlebih dahulu, usai akad ia memang izin pulang duluan karena tak ada yang mengkombinasikan anak-anak. Pengasuh mereka tak ada yang betah, entah sudah berapa banyak yang resaind, tak sampai hitungan bulan. Pengasuh saja tidak betah, bisa bayangkan bagaimana dengan calon ibu tiri yang biasanya lebih menakutkan bagi anak-anak?
Seolah sudah menunggu sejak tadi.l, Bu Mega menyambut Vivi. "Alhamdulillah," ucapnya sambil tersenyum puas. Kemudian ia menggenggam tangan Vivi. "Ayo masuk."
Vivi mengikuti. Langkah demi langkah. Semakin dekat ke pintu utama. Semakin dekat ke kehidupan barunya. Dan tepat ketika ia melewati ambang pintu rumah Ia melihat mereka. Lima anak berdiri di ruang keluarga. Persis seperti barisan kecil yang sedang menunggu kedatangan seseorang. Sean di depan. Yuan di sebelahnya. Saka dengan tangan terlipat di dada. Ella bersembunyi setengah badan di belakang kakaknya. Sementara Lili digendong oleh pengasuh harian yang dibawa Bu Mega.
Tidak ada senyum. Tidak ada ucapan selamat datang. Tidak ada yang bergerak mendekat. Mereka hanya menatap. Mengamati. Menilai. Seolah Vivi adalah tamu asing yang masuk tanpa izin.
Ruangan mendadak sunyi. Vivi memaksakan senyum. "Halo..."
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik