NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Saat Dia Berhenti Peduli

Pintu ruang VIP terbuka tanpa banyak basa-basi.

“Alden.”

Suasana di dalam sedikit berubah. Beberapa pria menoleh.

Alden tetap di tempatnya. Duduk santai, gelas di tangan.

“Kenapa?” tanyanya tanpa melihat.

“Kayaknya… istrimu di bawah.”

Kalimat itu cukup untuk membuat dua orang lain langsung tertarik.

“Hah?”

“Serius?”

Alden akhirnya mengangkat pandangannya.

“Belvina?”

“Aku hampir gak kenal,” lanjut pria itu. “Penampilannya beda.” Ia menghembuskan napas pendek. “Lebih… menarik.”

Seseorang di sofa terkekeh kecil. “Wah. Tumben. Biasanya dia datang buat ribut, bukan buat dilihat.”

Yang lain menyahut santai. “Paling bentar lagi naik ke sini.”

Nada suaranya ringan. Seolah sudah hafal pola.

“Kalau lihat kamu sama Seraphina di sini, siap-siap aja.”

“Padahal ini cuma urusan kerja,” tambah yang lain, mengangkat bahu.

“Tapi ya… kau tau sendiri dia.”

Senyum miring muncul.

“Aku sih gak bakal tahan punya istri kayak gitu.”

Suasana tetap santai, seolah itu hal biasa.

Alden tidak ikut tertawa. Ia hanya meneguk minumannya pelan. Matanya turun sebentar ke gelas, lalu kembali diam.

Tidak ada respons. Namun pikirannya… tidak diam.

Belvina. Datang ke sini sendiri. Bukan untuk mencari. Bukan untuk menuntut. Dan itu… justru yang tidak masuk akal.

Jarinya berhenti di sisi gelas.

“Menarik…”

Bukan diucapkan keras. Lebih seperti bisikan yang hanya ia dengar sendiri.

Ini bukan pola lama. Kalau ini akting, terlalu rapi. Kalau ini perubahan, terlalu cepat.

Tatapannya sedikit bergeser ke arah pintu, seolah menunggu. Bukan untuk menghindar, tapi… untuk melihat.

“Kita lihat saja…” Nada suaranya rendah. “Dia akan lakukan apa.”

Seraphina masuk ke ruang VIP bersama seorang wanita lain. Seperti biasa, ia langsung duduk di samping Alden. Dekat. Terbiasa.

Alden tidak menolak. Tidak juga menyambut. Wajahnya tetap datar.

Namun beberapa pasang mata di ruangan itu saling lirik. Menunggu. Biasanya, tidak butuh waktu lama sebelum, pintu terbuka keras, suara tinggi, atau drama kecil yang memalukan.

Tapi kali ini… tidak ada.

Menit berlalu. Obrolan bisnis tetap berjalan, tapi tidak benar-benar hidup.

Alden menjawab seperlunya. Singkat. Tepat. Namun perhatiannya tidak sepenuhnya di meja.

Sesekali, tatapannya beralih ke arah pintu. Seolah menunggu sesuatu. Padahal, biasanya justru pintu itu yang ia hindari.

Dulu, satu kemunculan saja sudah cukup membuat suasana berantakan.

Sekarang?

Pintu itu tetap tertutup. Kosong. Belvina tidak muncul.

Jari Alden mengetuk meja sekali. Pelan. Hampir tidak terdengar.

Dan entah mengapa, ia merasa… ada yang kurang.

Tangan Alden akhirnya bergerak. Ia meraih ponselnya, mengetik cepat.

> Istriku ada di klub ini. Cari.

Beberapa menit kemudian, balasan datang tepat saat Alden menyesap minumannya. Tapi bukan dalam bentuk teks.

Layar ponselnya langsung menampilkan video.

Gerakan Alden berhenti, fokusnya ke layar. Dan dalam satu detik—ia tersedak.

Batuknya terdengar cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di meja.

Seraphina langsung meraih tisu.

“Alden—”

Tangannya belum sempat menyentuh, ketika Alden sudah lebih dulu mengambilnya.

“Aku saja.” Nada suaranya datar. Terlalu cepat.

Seraphina tersenyum anggun seperti biasa. Namun matanya… tidak ikut tersenyum.

Di layar ponsel, Belvina di lantai dansa. Lampu berkilat di sekelilingnya. Musik menghentak. Tubuhnya bergerak bebas, tanpa ragu.

Beberapa pria di sekitarnya ikut mendekat. Terlalu dekat. Terlalu nyaman.

Rahang Alden mengeras. Layar ponsel dimatikan lebih cepat dari seharusnya.

“Maaf, kita lanjut.”

Suara Alden kembali stabil, seolah tidak terjadi apa-apa.

Klien akhirnya datang. Percakapan bisnis berlanjut lebih serius. Lebih formal.

Namun kali ini, Alden hanya terlihat fokus. Bukan benar-benar fokus. Jarinya sempat mengetuk meja sekali. Pelan.

Setelah pembahasan bisnis selesai, klien akhirnya pamit. Pintu tertutup, dan suasana langsung berubah.

Mereka mengobrol santai. Tapi fokus Alden kembali ke ponsel di tangannya. Ia menekan nomor tanpa ragu.

Salah satu temannya bersandar, menyeringai. “Eh, mana istrimu, Al? Tumben belum nyamperin.”

Seraphina menoleh cepat. “Istrimu… di sini?”

Namun Alden tidak menjawab. Panggilannya tersambung.

“Di mana?” tanyanya langsung. Dingin.

Di seberang, suara itu terdengar ragu.

“Tuan… itu—”

“Itu apa?” potong Alden.

Pertanyaan itu singkat, tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu ikut diam.

“Tuan…” suara itu melemah. “Nyonya… menyewa beberapa host untuk menemaninya.”

Tidak ada suara setelah itu. Bahkan napas pun terasa tertahan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, emosi di wajah Alden… benar-benar terlihat.

“Apa?”

Jari Alden tanpa sadar mengencang di ponselnya.

“Di mana?” tanyanya rendah.

“Di ruang VIP, Tuan.”

Tidak menunggu satu detik pun, Alden langsung berdiri.

“Alden?” Seraphina menoleh. “Mau ke mana?”

“Toilet,” jawabnya singkat.

Pintu tertutup di belakangnya.

Beberapa temannya saling lirik.

“Kebelet banget ya.”

“Entah kenapa… aneh.”

“Aneh karena Alden… atau karena istrinya belum bikin keributan?”

Tidak ada yang menjawab.

Seraphina diam, namun beberapa detik kemudian, ia ikut berdiri.

“Aku ke toilet sebentar.”

Di sisi lain.

Ruang VIP.

Lampu lebih redup. Musik tetap terdengar, tapi lebih teredam.

Belvina duduk di tengah, dikelilingi beberapa pria. Ia tampak santai. Terlalu santai.

Salah satu dari mereka mendekat. Jaraknya dekat dan nampak terbiasa.

Belvina memerhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Lalu tersenyum.

“Kalian tampan,” katanya ringan. “Tapi… itu saja?”

Beberapa pria itu saling lirik, lalu tertawa kecil.

Salah satu dari mereka membuka sedikit kancing kemejanya. Yang lain ikut. Cukup untuk memperlihatkan garis tubuh yang terlatih.

Belvina mencondongkan tubuh sedikit. Matanya berbinar.

“Boleh lihat lebih jelas?” tanyanya, setengah bercanda.

Suasana jadi lebih hidup. Beberapa dari mereka menurut. Tidak berlebihan, tapi cukup.

Belvina tertawa kecil. “Menarik…”

Tangannya terangkat sedikit. Ragu? Tidak juga. Lebih seperti… penasaran.

“Boleh?” tanyanya santai.

Salah satu pria itu mengangguk. Dan tepat saat ujung jari Belvina hampir menyentuh—

Pintu terbuka.

Suara musik dari luar menyusup masuk sesaat.

Di ambang pintu, Alden berdiri. Tatapannya langsung jatuh ke satu titik. Ke tangan itu. Ke jarak yang terlalu dekat. Ke situasi yang… tidak pernah ia bayangkan.

Tawa yang tadi masih terdengar, terputus begitu saja. Tidak ada yang bicara.

Belvina menoleh. Tatapan mereka bertemu.

Ia tidak menarik tangannya.

Justru… jari itu tertahan lebih lama di sana.

Untuk pertama kalinya, Alden tidak langsung tahu harus bereaksi seperti apa. Dan itu jauh lebih mengganggunya daripada apa pun di ruangan itu.

Beberapa detik berlalu, terasa lebih berat dari biasanya.

Sudut bibir Belvina terangkat tipis. Bukan kaget. Bukan pula bersalah.

Seolah… ia sengaja menunggu momen ini terjadi.

 

...✨"Malam itu, yang berubah bukan situasinya, tapi orang yang selama ini selalu mengejar, akhirnya berhenti."✨...

.

To be continued

1
Yunita Sophi
biar Alden tau gimana rasa nya mengejar🤭😂😂
abimasta
belvina di suruh datang sama bunda alden bukan kemauan sendiri
Anitha Ramto
Mobilnya yang di Culik istrinya Bun...
Putramu kalah telak🤭
asih
wkwkwk bukan di cilik bun tapi di bajak istrinya🤣🤣🤣🤭
elief
lanjut thor
Dek Sri
lanjut
sya
semangatt thorrr ga sabar nungggu up selanjutnya
Anitha Ramto
waduh kasihan kamu Al....mobilmu di bajak sang istri,,dan kamu di tinggalin begitu saja🤣
Wardi's
menarik...
Wardi's
lucccuuu..
Dek Sri
lanjut
Yunita Sophi
🤣🤣🤣🤣🤣 Belvina ngerjain...
abimasta
belvina kereen
^ã^😉
lanjut bel
Puji Hastuti
lanjut kk
Puji Hastuti
makin seru
partini
wkwkkwkw lucu,,Thor Kunti bogel kemana ko ga muncul , munculin dong kalau lihat bel sama suami nya kaya gitu behhh auto Ngenes kangen kata" pedas bell buat dia
Puji Hastuti
belvina keren
Yunita Sophi
perempuan hebat Belvina... Alden makin meleleh terpesona melihat yg luar biasa dari diri mu Bel...
Yunita Sophi
semoga aja Alden datang tepat waktu... tp kemana tuh bodyguard yg tadi ngawasin Belvina...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!