NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:245.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Saat Dia Berhenti Peduli

Pintu ruang VIP terbuka tanpa banyak basa-basi.

“Alden.”

Suasana di dalam sedikit berubah. Beberapa pria menoleh.

Alden tetap di tempatnya. Duduk santai, gelas di tangan.

“Kenapa?” tanyanya tanpa melihat.

“Kayaknya… istrimu di bawah.”

Kalimat itu cukup untuk membuat dua orang lain langsung tertarik.

“Hah?”

“Serius?”

Alden akhirnya mengangkat pandangannya.

“Belvina?”

“Aku hampir gak kenal,” lanjut pria itu. “Penampilannya beda.” Ia menghembuskan napas pendek. “Lebih… menarik.”

Seseorang di sofa terkekeh kecil. “Wah. Tumben. Biasanya dia datang buat ribut, bukan buat dilihat.”

Yang lain menyahut santai. “Paling bentar lagi naik ke sini.”

Nada suaranya ringan. Seolah sudah hafal pola.

“Kalau lihat kamu sama Seraphina di sini, siap-siap aja.”

“Padahal ini cuma urusan kerja,” tambah yang lain, mengangkat bahu.

“Tapi ya… kau tau sendiri dia.”

Senyum miring muncul.

“Aku sih gak bakal tahan punya istri kayak gitu.”

Suasana tetap santai, seolah itu hal biasa.

Alden tidak ikut tertawa. Ia hanya meneguk minumannya pelan. Matanya turun sebentar ke gelas, lalu kembali diam.

Tidak ada respons. Namun pikirannya… tidak diam.

Belvina. Datang ke sini sendiri. Bukan untuk mencari. Bukan untuk menuntut. Dan itu… justru yang tidak masuk akal.

Jarinya berhenti di sisi gelas.

“Menarik…”

Bukan diucapkan keras. Lebih seperti bisikan yang hanya ia dengar sendiri.

Ini bukan pola lama. Kalau ini akting, terlalu rapi. Kalau ini perubahan, terlalu cepat.

Tatapannya sedikit bergeser ke arah pintu, seolah menunggu. Bukan untuk menghindar, tapi… untuk melihat.

“Kita lihat saja…” Nada suaranya rendah. “Dia akan lakukan apa.”

Seraphina masuk ke ruang VIP bersama seorang wanita lain. Seperti biasa, ia langsung duduk di samping Alden. Dekat. Terbiasa.

Alden tidak menolak. Tidak juga menyambut. Wajahnya tetap datar.

Namun beberapa pasang mata di ruangan itu saling lirik. Menunggu. Biasanya, tidak butuh waktu lama sebelum, pintu terbuka keras, suara tinggi, atau drama kecil yang memalukan.

Tapi kali ini… tidak ada.

Menit berlalu. Obrolan bisnis tetap berjalan, tapi tidak benar-benar hidup.

Alden menjawab seperlunya. Singkat. Tepat. Namun perhatiannya tidak sepenuhnya di meja.

Sesekali, tatapannya beralih ke arah pintu. Seolah menunggu sesuatu. Padahal, biasanya justru pintu itu yang ia hindari.

Dulu, satu kemunculan saja sudah cukup membuat suasana berantakan.

Sekarang?

Pintu itu tetap tertutup. Kosong. Belvina tidak muncul.

Jari Alden mengetuk meja sekali. Pelan. Hampir tidak terdengar.

Dan entah mengapa, ia merasa… ada yang kurang.

Tangan Alden akhirnya bergerak. Ia meraih ponselnya, mengetik cepat.

> Istriku ada di klub ini. Cari.

Beberapa menit kemudian, balasan datang tepat saat Alden menyesap minumannya. Tapi bukan dalam bentuk teks.

Layar ponselnya langsung menampilkan video.

Gerakan Alden berhenti, fokusnya ke layar. Dan dalam satu detik—ia tersedak.

Batuknya terdengar cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di meja.

Seraphina langsung meraih tisu.

“Alden—”

Tangannya belum sempat menyentuh, ketika Alden sudah lebih dulu mengambilnya.

“Aku saja.” Nada suaranya datar. Terlalu cepat.

Seraphina tersenyum anggun seperti biasa. Namun matanya… tidak ikut tersenyum.

Di layar ponsel, Belvina di lantai dansa. Lampu berkilat di sekelilingnya. Musik menghentak. Tubuhnya bergerak bebas, tanpa ragu.

Beberapa pria di sekitarnya ikut mendekat. Terlalu dekat. Terlalu nyaman.

Rahang Alden mengeras. Layar ponsel dimatikan lebih cepat dari seharusnya.

“Maaf, kita lanjut.”

Suara Alden kembali stabil, seolah tidak terjadi apa-apa.

Klien akhirnya datang. Percakapan bisnis berlanjut lebih serius. Lebih formal.

Namun kali ini, Alden hanya terlihat fokus. Bukan benar-benar fokus. Jarinya sempat mengetuk meja sekali. Pelan.

Setelah pembahasan bisnis selesai, klien akhirnya pamit. Pintu tertutup, dan suasana langsung berubah.

Mereka mengobrol santai. Tapi fokus Alden kembali ke ponsel di tangannya. Ia menekan nomor tanpa ragu.

Salah satu temannya bersandar, menyeringai. “Eh, mana istrimu, Al? Tumben belum nyamperin.”

Seraphina menoleh cepat. “Istrimu… di sini?”

Namun Alden tidak menjawab. Panggilannya tersambung.

“Di mana?” tanyanya langsung. Dingin.

Di seberang, suara itu terdengar ragu.

“Tuan… itu—”

“Itu apa?” potong Alden.

Pertanyaan itu singkat, tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu ikut diam.

“Tuan…” suara itu melemah. “Nyonya… menyewa beberapa host untuk menemaninya.”

Tidak ada suara setelah itu. Bahkan napas pun terasa tertahan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, emosi di wajah Alden… benar-benar terlihat.

“Apa?”

Jari Alden tanpa sadar mengencang di ponselnya.

“Di mana?” tanyanya rendah.

“Di ruang VIP, Tuan.”

Tidak menunggu satu detik pun, Alden langsung berdiri.

“Alden?” Seraphina menoleh. “Mau ke mana?”

“Toilet,” jawabnya singkat.

Pintu tertutup di belakangnya.

Beberapa temannya saling lirik.

“Kebelet banget ya.”

“Entah kenapa… aneh.”

“Aneh karena Alden… atau karena istrinya belum bikin keributan?”

Tidak ada yang menjawab.

Seraphina diam, namun beberapa detik kemudian, ia ikut berdiri.

“Aku ke toilet sebentar.”

Di sisi lain.

Ruang VIP.

Lampu lebih redup. Musik tetap terdengar, tapi lebih teredam.

Belvina duduk di tengah, dikelilingi beberapa pria. Ia tampak santai. Terlalu santai.

Salah satu dari mereka mendekat. Jaraknya dekat dan nampak terbiasa.

Belvina memerhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Lalu tersenyum.

“Kalian tampan,” katanya ringan. “Tapi… itu saja?”

Beberapa pria itu saling lirik, lalu tertawa kecil.

Salah satu dari mereka membuka sedikit kancing kemejanya. Yang lain ikut. Cukup untuk memperlihatkan garis tubuh yang terlatih.

Belvina mencondongkan tubuh sedikit. Matanya berbinar.

“Boleh lihat lebih jelas?” tanyanya, setengah bercanda.

Suasana jadi lebih hidup. Beberapa dari mereka menurut. Tidak berlebihan, tapi cukup.

Belvina tertawa kecil. “Menarik…”

Tangannya terangkat sedikit. Ragu? Tidak juga. Lebih seperti… penasaran.

“Boleh?” tanyanya santai.

Salah satu pria itu mengangguk. Dan tepat saat ujung jari Belvina hampir menyentuh—

Pintu terbuka.

Suara musik dari luar menyusup masuk sesaat.

Di ambang pintu, Alden berdiri. Tatapannya langsung jatuh ke satu titik. Ke tangan itu. Ke jarak yang terlalu dekat. Ke situasi yang… tidak pernah ia bayangkan.

Tawa yang tadi masih terdengar, terputus begitu saja. Tidak ada yang bicara.

Belvina menoleh. Tatapan mereka bertemu.

Ia tidak menarik tangannya.

Justru… jari itu tertahan lebih lama di sana.

Untuk pertama kalinya, Alden tidak langsung tahu harus bereaksi seperti apa. Dan itu jauh lebih mengganggunya daripada apa pun di ruangan itu.

Beberapa detik berlalu, terasa lebih berat dari biasanya.

Sudut bibir Belvina terangkat tipis. Bukan kaget. Bukan pula bersalah.

Seolah… ia sengaja menunggu momen ini terjadi.

 

...✨"Malam itu, yang berubah bukan situasinya, tapi orang yang selama ini selalu mengejar, akhirnya berhenti."✨...

.

To be continued

1
anonim
Alden bersama sopir meluncur ke kota di mana Belvina berada.

Belvina ketangkap kau. Kembali dalam pelukan Alden.

Wow...pagi hari bangun tidur Belvina sudah main bogeman dengan sasaran suaminya wkwkwk
anonim
Belvina Dina sudah tidak gadis lagi. Tetap ingin bercerai dari Alden.

Belvina melarikan diri tanpa membawa ponsel. Jadi ketahuan Alden - nama kontak "Es Balok" untuk Alden 😄.

CCTV memperlihatkan bagaimana Belvina memulai aksi kaburnya.

Saatnya mencari Belvina. Alden memerintahkan seseorang mencari Belvina.

Secepat itu orang suruhan Alden menemukan Belvina. Sudah berada di luar kota. Sudah diketemukan alamat hotel dimana Belvina menginap.
abimasta
terimakasih thor,sukses di karya2 selanjutnya
Sulati Cus
menarik
Kyky ANi
aduh tuan Raymond ini manas manasin aza deh,,,
Kyky ANi
bahaya nih,,Serap,, udah mulai rencana jahat,,
Kyky ANi
Alden sudah tidak percaya lagi sama kamu Seraphina,,
Kyky ANi
Alden menganggu aza sih kamu,
Kyky ANi
Seraphina punya rencana jahat nih ke Belvina,, semoga Belvina selamat dari rencana jahat siSerap,,,
Liana Simon
Ceritanya menarik Thor
Bela Viona
ada beberapa kisah hidup yg tidak pantas mendapatkan kesempatan ke2.dan ada juga yg pantas di berikan kesempatan ke 2. itu semua tergantung dgn usaha dan pembuktian. tidak mudah mendapat kn maaf dan pengampunan, selama org itu tetap sabar dan berusaha keras serta berusaha memperbaiki serta tdk mengulangi hal yg sama. maka kesempatan itu pasti ada.
Bela Viona
posisi HB yg baik untuk ibu hamil itu miring & wanita di atas 😁.
klo perempuan di bawah yg ad sesak, dan terlalu terguncang buat kandungan 😁
Bela Viona
jgn salah kn hormon ibu hamil 😁, aku hamil anak ke 2 juga gtu, asli kandungan ku usia 1-4 bln. aku benci bgt lht suami.
di sentuh tangan aj gak suka. smpe suami frustasi di kira udh gak cinta.
usia kehamilan 5 bln malah aku nempel trs sama suami. tiap mlm mau ny HB trs. smpe suami kewalahan 🤣. horman ibu hamil itu unik² dan bukan di sengaja ya.
Kadek Sri
akhirnya tamat juga
Bela Viona
makan tuh 🤣
Anitha
Akhirnya kisah Belvina dan Alden happy ending...

terimakasih juga kak Nana....
Anitha
selama nikah bertahun² Alden hanya dua kali merasakan surga dunia bersama Belvina🤣
Yunita Sophi
bintang lima untuk penyemangat mu thor..
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Yunita Sophi
makasih jg thor... salam sehat penuh semangat dan sukses slalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak.🤗🙏🙏
total 1 replies
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk belvina dan alden
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!