NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesialan Stella 07.

Kalau ada penghargaan untuk orang paling bodoh sedunia dalam urusan menyembuhkan patah hati, Stella bersedia maju di urutan paling depan.

Kemarin sore, dunianya rasanya runtuh sampai ke dasar bumi. Demi Tuhan, menyaksikan Gibran—cowok yang waktu kelas satu SMA yang diam-diam memperhatikan Stella tanpa harus meminta validasi dari Stella— pulang berboncengan dengan Clara adalah bentuk siksaan visual paling kejam.

Clara itu cantik, populer, dan tipe cewek yang kalau bersin saja suaranya masih terdengar estetik.

Sementara Stella? Dia hanyalah seonggok manusia yang kalau tertawa kemasukan lalat.

Stella menangis semalaman. Matanya bengkak seperti habis disengat tawon. Kamarnya penuh tisu berserakan. Dia sudah siap menyerah dan mengubur perasaannya dalam-dalam.

Sampai akhirnya, sebuah pesan WhatsApp dari sahabatnya, Rara, masuk jam sebelas malam

“Stel, lo jangan bego. Gibran kemarin anterin Clara karena disuruh Pak Kepsek. Clara kan panitia inti pensi, dan barang dekorasinya ketinggalan di rumah Gibran. Itu settingan sirkus OSIS, bukan kencan!”

Satu kalimat itu mengubah segalanya. Rasa sedih Stella menguap, digantikan oleh lonjakan adrenalin dan rasa malu karena sudah menangis bombay tidak jelas.

Sore ini, Stella kembali menjadi Stella yang biasa, petakilan, keras kepala, dan menolak kalah sebelum berperang.

“Lo yakin mau ikutan ginian?” Rara menatap Stella sangsi. Mereka berdua berdiri di pinggir lapangan futsal sekolah yang aromanya didominasi bau keringat dan minyak telon.

“Yakin seratus persen!” Stella membetulkan kuncir kudanya yang agak miring. “Gibran itu kapten tim futsal. Kalau gue bisa main futsal, atau minimal paham regulasinya, kita bakal punya topik obrolan baru selain rumus tabel periodik. Masuk akal, kan?”

“Regulasi simpanse,” cibir Rara. “Fisik lo itu lemah, Stel. Lo lari keliling lapangan upacara dua putaran aja udah megap-megap kayak ikan mas koki kekurangan oksigen. Sekarang mau main futsal?”

“Ini namanya usaha, Rara sayang.” Stella merangkul pundak sahabatnya mantap, lalu berjalan menghampiri sekumpulan cowok yang sedang melakukan pemanasan di tengah lapangan.

Di sana ada Gibran. Cowok itu memakai jersi nomor punggung 10. Rambutnya yang sedikit basah karena keringat berantakan terkena angin, membuat kadar ketampanannya naik lima kali lipat. Jantung Stella berdegup kencang, tapi dia memaksakan diri untuk tetap terlihat kasual.

“Woi, bentar!” Stella berteriak, menginterupsi latihan.

Gibran menoleh, dahinya berkerut heran melihat kehadiran Stella di area kekuasaannya. “Stella? Lu Ngapain ke sini? Lapangan lagi dipakai anak-anak cowok.”

“Gue mau latihan,” cetus Stella percaya diri, sambil meletakkan satu tangannya yang bebas di pinggang.

Beberapa cowok di belakang Gibran langsung bersiul menggoda. “Waduh, ada srikandi nyasar nih. Mau jadi seksi konsumsi atau gimana, Stel?”

“Gue mau belajar main!” sergah Stella, matanya melotot galak ke arah cowok-cowok itu, tapi langsung melunak begitu menatap Gibran. “Gibran, ajarin gue dribble dong. Atau apa aja deh, yang penting gue bisa nendang bola dengan benar.”

Gibran menghela napas, menyeka keringat di dahinya dengan ujung jersi. Interaksi mereka selalu seperti ini—Stella yang meledak-ledak dan Gibran yang menanggapi dengan kasar. “Stel, ini bukan jam olahraga. Kita lagi latihan taktik buat turnamen minggu depan. Lo mending duduk di tribun aja, ntar kena bola.”

“Enggak mau. Gue mau nyoba sekali aja. Masa pelit banget sih?” Stella cemberut, mengeluarkan jurus andalannya, tatapan memelas.

Gibran menatap Stella beberapa detik, tampak menimbang-nimbang. Ada kilat geli di matanya yang coba dia sembunyikan. Sikap petakilan Stella sebenarnya selalu berhasil menghiburnya di tengah penatnya jadwal latihan.

“Yaudah, satu kali nendang aja ya” Gibran akhirnya mengalah. Dia menggelindingkan bola futsal ukuran empat ke arah kaki Stella. “Coba lo oper ke gue. Pakai kaki bagian dalam, jangan ujung sepatu. Biar arahnya lurus.”

Stella tersenyum lebar. Kemenangan kecil! Dia melirik ke arah tribun, memamerkan senyum penuh kemenangan pada Rara yang hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dalam rangkulan erat dari Stella yang menyiksa tubuhnya.

Stella mundur dua langkah. Dia memfokuskan pandangannya pada bola, lalu beralih ke Gibran. Di otaknya, momen ini berjalan sangat romantis dengan efek slow-motion, dia menendang bola dengan anggun, Gibran menangkapnya, lalu mereka saling melempar senyum penuh arti.

“Oke, Stella. Lo pasti bisa. Tunjukkan pesona lo!” batinnya menyemangati diri sendiri.

Stella berlari kecil, mengayunkan kaki kanannya dengan kekuatan penuh. Dia ingin impresif. Dia ingin Gibran terpukau dengan kekuatannya.

Namun, hukum fisika tidak berpihak pada ambisi Stella.

Alih-alih mengenai bola dengan kaki bagian dalam seperti instruksi Gibran, ujung sepatu sekolah Stella justru menghantam bagian bawah bola terlalu keras karena dia kehilangan keseimbangan. Badannya limbung, dan bola itu melesat naik secara vertikal ke udara dengan kecepatan tinggi, melambung melewati kepala Gibran yang otomatis merunduk kaget.

“Eh? Kok ke atas?!” pekik Stella panik, berusaha menyeimbangkan badannya agar tidak jatuh terjengkang.

Bola futsal itu melesat liar keluar dari area lapangan, menuju koridor kelas yang berada tepat di samping lapangan terbuka.

Di saat yang bersamaan, Pak Bambang—guru Geografi sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan atau Guru BK yang terkenal paling killer sejagat raya—baru saja keluar dari ruang konseling.

Beliau sedang berjalan santai sambil membawa secangkir kopi panas di tangan kanan dan setumpuk silabus di tangan kiri.

“PAK BAMBANG AWASSS!!!” teriak anak-anak futsal kompak.

Pak Bambang menoleh ke arah sumber suara dengan wajah bingung.

DUAAAAKKK!

Bola futsal berukuran padat itu mendarat telak di dahi lebar Pak Bambang. Suara hantamannya terdengar begitu nyaring hingga gema suaranya seolah memenuhi seluruh penjuru sekolah.

Dalam hitungan detik, semuanya seolah berhenti berputar. Kopi panas di tangan Pak Bambang tumpah membasahi kemeja putihnya yang rapi. Kacamata minus tebalnya terlempar ke lantai dan retak. Silabusnya berhamburan ditiup angin. Beliau terhuyung ke belakang, memegangi kepalanya yang langsung memerah seketika.

Hening.

Lapangan futsal mendadak sekaku es di kutub utara. Tidak ada yang berani bernapas.

Stella membeku. Mulutnya menganga lebar. Tangannya gemetar. Dia menatap ke arah Pak Bambang, lalu menatap kakinya sendiri, seolah tidak percaya kaki itu baru saja melakukan kejahatan tingkat tinggi.

Gibran memejamkan mata sesaat, memijat pangkal hidungnya. “Stella... lo bener-bener cari masalah,” bisik Gibran pelan, suaranya terdengar antara frustrasi dan ingin tertawa di saat bersamaan.

Pak Bambang mengerjap-ngerjapkan matanya yang buram tanpa kacamata. Wajahnya perlahan berubah merah padam, menahan amarah yang siap meledak layaknya Gunung Merapi.

“SIAPA...” suara Pak Bambang bergetar, menggelegar membelah keheningan. “SIAPA YANG NENDANG BOLA INI?! KELUAR KAMU SEKARANG!!!”

Stella menelan ludah dengan susah payah. Kaki petakilannya yang tadi begitu bersemangat, kini mendadak lemas seperti jeli. Dia melirik Gibran yang menatapnya dengan pandangan 'lo-harus-tanggung-jawab', sementara di kejauhan, Rara sudah mulai pura-pura tidak kenal dengannya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!