Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Suara bariton Bapak yang menggelegar dari seberang telepon seolah menyedot habis seluruh pasokan oksigen di ruang keluarga itu. Naya berdiri kaku, tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat hingga buku-buku jarinya memutih. Udara dingin dari pendingin ruangan mendadak terasa menusuk tulang.
"P-Pak... Bapak dengar dari siapa?" suara Naya keluar berupa cicitan panik. Jantungnya yang beberapa detik lalu berdebar karena antisipasi ciuman Kafka, kini berpacu karena teror yang mengerikan.
"Tidak penting Bapak dengar dari siapa!" bentak Pak Haris, ayahnya, dengan nada tinggi yang sangat jarang ia gunakan. "Keluarga Reno menelepon ibumu sambil menangis-nangis. Mereka bilang kamu yang tiba-tiba membatalkan pernikahan sepihak, pindah dari apartemen, dan sekarang tinggal serumah dengan laki-laki simpananmu! Apa-apaan kamu ini, Naya?! Tiga tahun kamu berhubungan sama Reno, keluarga mereka sudah sangat baik sama kita, dan begini caramu membalasnya?!"
"Pak, itu fitnah! Bapak nggak tahu kejadian sebenarnya!" Naya mulai terisak, air matanya kembali menggenang. "Reno yang selingkuh, Pak. Naya mergokin dia bawa perempuan lain ke tempat tidurnya pas anniversary kami. Naya pindah ke rumah Nessa, sahabat Naya. Bapak kan tahu Nessa!"
"Alasan!" suara Bapak di seberang sana tidak melembut sedikit pun, justru semakin keras dan menghakimi. "Kalau memang dia yang salah, kenapa ibunya sampai sujud-sujud minta tolong ke Bapak buat ngebujuk kamu? Dan laki-laki yang ada di rumah temanmu itu siapa?! Reno bilang laki-laki itu yang ngusir dia dan ibunya dengan kasar. Kamu diajari siapa jadi perempuan murahan begini, hah?!"
Kata 'murahan' yang meluncur dari mulut ayah kandungnya sendiri menghantam dada Naya bagaikan godam berton-ton. Pertahanan Naya hancur seketika. Isakannya pecah. Lututnya lemas, membuatnya merosot ke atas karpet jika saja Kafka tidak dengan sigap menahan pinggangnya.
Kafka, yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan pemandangan itu, tidak bisa lagi menahan diri. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat-urat di lehernya menonjol. Kilat amarah yang luar biasa gelap dan berbahaya menyala di sepasang mata legamnya.
Tanpa meminta izin, Kafka mengambil alih ponsel itu dari tangan Naya yang gemetar.
"K-Kaf, jangan..." bisik Naya panik, berusaha meraih ponselnya kembali. Namun Kafka hanya memberikan isyarat dengan tatapan matanya yang tegas, lalu merengkuh bahu Naya dengan satu lengan, menarik wanita itu ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.
Kafka menempelkan ponsel itu ke telinganya. Tarikan napasnya terdengar tenang, namun memancarkan otoritas yang mematikan.
"Selamat malam, Pak Haris," sapa Kafka. Suara baritonnya mengalun sangat berat, datar, namun diucapkan dengan artikulasi yang luar biasa sopan. "Nama saya Kafka. Adik kandung dari Nessa, pemilik rumah tempat putri Anda berlindung saat ini. Dan kebetulan, saya adalah laki-laki yang baru saja Anda sebut sebagai pria hidung belang."
Keheningan seketika melanda ujung telepon. Pak Haris tampaknya sama sekali tidak menduga bahwa teleponnya akan diambil alih oleh pria asing tersebut.
"Berani-beraninya kamu ikut campur urusan keluarga saya," suara Pak Haris kembali terdengar, kali ini dipenuhi amarah yang tertahan. "Saya tidak peduli siapa kamu. Suruh Naya bicara sekarang, atau saya sendiri yang akan terbang ke Jakarta malam ini untuk menyeretnya pulang ke Solo!"
Kafka tersenyum sinis, sebelah tangannya mengusap lembut punggung Naya yang masih bergetar di pelukannya.
"Anda tidak perlu repot-repot membuang waktu dan tenaga Anda untuk datang ke Jakarta, Pak," jawab Kafka, suaranya tetap tenang layaknya permukaan danau yang dalam, menolak terintimidasi oleh gertakan pria paruh baya itu. "Besok pagi, saya sendiri yang akan membawa Naya pulang ke Solo. Saya akan mengantarkannya ke hadapan Anda dengan selamat, tanpa kurang satu goresan pun."
Naya mendongak, menatap rahang Kafka dengan mata membulat sempurna. Apa yang baru saja diucapkan pria ini? Solo?!
"Oh, silakan!" tantang Pak Haris dari seberang sana. "Bawa dia ke rumah. Saya ingin lihat sehebat apa laki-laki yang sudah berani mencuci otak anak perempuan saya sampai berani melawan orang tuanya sendiri!"
"Dengan senang hati, Pak," balas Kafka tak kalah tegas. "Tapi sebelum saya menutup telepon ini, izinkan saya menyampaikan satu hal. Putri Anda adalah wanita paling terhormat yang pernah saya kenal. Pria bernama Reno itu yang telah mengkhianatinya dengan sangat menjijikkan. Naya menangis sendirian, hancur sendirian, dan Anda sebagai ayahnya justru memilih memercayai bualan keluarga pengkhianat itu daripada tangisan putri Anda sendiri."
Kafka menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan yang tajam menusuk dari seberang telepon.
"Besok saya akan datang untuk meluruskan semuanya," lanjut Kafka, suaranya kini berubah menjadi geraman rendah yang sarat akan dominasi absolut. "Dan saya pastikan, setelah besok, tidak akan ada satu orang pun—termasuk Anda—yang berani memanggil Naya dengan sebutan murahan lagi. Selamat malam, Pak Haris."
Tanpa menunggu balasan, Kafka menekan tombol merah di layar dan mematikan daya ponsel tersebut, lalu meletakkannya di atas meja kaca.
Naya menatap Kafka dengan raut wajah syok yang luar biasa. Air matanya bahkan berhenti mengalir saking terkejutnya.
"Kafka... kamu gila?!" seru Naya tertahan, mendorong dada Kafka pelan untuk melepaskan diri dari pelukan pria itu. "Bapakku itu galak banget! Dia kolot, keras kepala, dan kamu baru aja ngajak dia perang urat saraf! Dan apa maksudmu besok kita ke Solo?!"
Kafka menatap Naya, raut wajahnya yang semula keras perlahan melembut. Pria itu mengangkat kedua tangannya, menangkup wajah Naya yang basah oleh sisa air mata. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Naya, menyalurkan kehangatan yang langsung meredakan badai panik di dada Naya.
"Aku tidak gila, Kak Naya. Aku sangat sadar dengan apa yang aku lakukan," ucap Kafka pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Naya. "Keluarga bajingan itu sudah melewati batas. Mereka sengaja menggunakan ayahmu untuk menghancurkan mentalmu karena mereka tahu kau sangat menghormati ayahmu."
"Tapi kamu nggak perlu ikut campur sampai sejauh ini, Kaf," Naya menggeleng lemah. "Ini urusan keluargaku. Kalau kamu ikut ke Solo, Bapak pasti bakal ngira kamu beneran selingkuhanku, dan—"
"Lalu apa yang Kakak harapkan? Aku membiarkanmu pulang sendirian, menghadapi kemarahan ayahmu sendirian, dan disudutkan oleh kebohongan keluarga Reno?" potong Kafka tegas, matanya berkilat penuh keposesifan. "Aku sudah berjanji tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu lagi. Tidak siapa pun, Kak. Termasuk keluargamu sendiri."
Kata-kata itu diucapkan dengan keyakinan yang begitu kuat, membuat Naya kehabisan kata-kata. Kafka tidak sedang berpura-pura menjadi pahlawan kesiangan. Pria ini benar-benar menempatkan dirinya sebagai tameng terdepan untuk Naya.
"Bersiaplah. Kemasi barang-barang yang Kakak butuhkan untuk beberapa hari," titah Kafka lembut, mengecup kening Naya sekilas sebelum melepaskan tangkupannya. "Aku akan meminta asistenku memesankan tiket penerbangan pertama ke Solo besok pagi. Malam ini, cobalah untuk tidur."
Naya hanya bisa mengangguk kaku. Sisa malam itu dihabiskannya dengan mengemas beberapa helai pakaian ke dalam koper kecil. Pikirannya berkecamuk antara ketakutan menghadapi amarah ayahnya dan perasaan hangat yang mendesak di dadanya mengingat bagaimana Kafka membelanya tadi.
Keesokan paginya, langit Jakarta masih berwarna abu-abu saat Naya dan Kafka berdiri di terminal keberangkatan Bandara Halim Perdanakusuma.
Nessa yang baru pulang tengah malam tadi sempat syok mendengar rencana dadakan tersebut, namun ia justru mendukung penuh. "Bawa adek gue, Nay. Biar bapak lo melek dan tahu menantunya itu kelas sultan, bukan kelas benalu kayak si Reno!" begitu pesan Nessa sebelum Naya berangkat.
Kafka benar-benar mengurus semuanya dengan sempurna. Pria itu memesan dua kursi di kelas bisnis. Sepanjang menunggu boarding, Kafka tidak banyak bicara, namun ia memastikan Naya merasa nyaman. Ia membelikan Naya teh chamomile hangat dan roti croissant, lalu duduk di sebelah Naya dengan satu tangan yang tidak pernah lepas menggenggam jemari wanita itu.
Saat mereka akhirnya duduk di kursi pesawat yang luas dan nyaman, Naya menatap keluar jendela. Deru mesin pesawat yang mulai menderu membuat perutnya kembali mual karena gugup.
"Tanganmu dingin sekali, Kak," suara bariton Kafka memecah lamunan Naya.
Naya menoleh. Kafka yang duduk di sebelahnya tampak sangat menawan dalam balutan kemeja polo berwarna hitam dan celana chinos gelap. Kacamata hitam disematkan di kerah kemejanya. Pria itu menarik tangan Naya, meletakkannya di atas paha berototnya, lalu menutupi tangan Naya dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Aku takut, Kaf," aku Naya jujur, suaranya nyaris berbisik. "Bapak itu keras. Kalau dia udah percaya sama satu hal, susah banget buat mengubah pikirannya. Gimana kalau dia malah ngusir kamu?"
Kafka tersenyum tipis. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Naya dengan ritme konstan yang luar biasa menenangkan. "Aku tidak pernah mundur dari medan perang yang sudah aku pilih, Kak. Kalau ayahmu mengusirku, aku akan berdiri di depan pagar rumahmu sampai beliau lelah dan membukakan pintu untukku."
"Kamu nggak perlu sampai segitunya..."
"Aku perlu," Kafka mencondongkan tubuhnya, menatap Naya dengan intensitas yang membuat napas Naya tertahan. "Karena wanita yang ada di sampingku ini sangat pantas untuk diperjuangkan. Tidurlah. Perjalanannya hanya satu jam. Kumpulkan tenagamu."
Pesawat lepas landas menembus awan. Naya menyandarkan kepalanya di kursi, membiarkan tangan Kafka terus menggenggamnya. Entah bagaimana, berada di dekat pria ini membuat semua ketakutannya terasa lebih bisa ditanggung.
Satu jam kemudian, mereka mendarat di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo. Udara kota yang lebih lambat dan tenang menyambut mereka, sangat kontras dengan badai yang menanti Naya di rumah.
Sebuah mobil Toyota Alphard hitam yang ternyata sudah disewa oleh Kafka melalui asistennya telah menunggu di pintu kedatangan VIP. Supir berpakaian rapi segera membukakan pintu dan memasukkan koper kecil mereka ke bagasi.
"Ke daerah Laweyan, Pak," instruksi Kafka kepada sang sopir.
Perjalanan dari bandara menuju rumah keluarga Naya memakan waktu sekitar empat puluh menit. Sepanjang jalan, Naya meremas ujung blus katun berwarna salem yang ia kenakan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki sebuah jalan perumahan yang cukup tenang, dan berhenti tepat di depan sebuah rumah berdesain perpaduan klasik Jawa dan modern. Halaman depannya luas, ditumbuhi pohon mangga yang rindang.
Di teras rumah tersebut, dua orang paruh baya sudah berdiri menunggu dengan postur tubuh yang tegang. Pak Haris, dengan wajah kerasnya yang khas, berdiri bersedekap dada. Di sebelahnya berdiri Bu Tari, ibu tiri Naya, yang memandang ke arah mobil dengan raut cemas.
"Kita sudah sampai," bisik Kafka. Pria itu menatap Naya, memberikan senyuman menenangkan yang entah mengapa membuat Naya merasa seperti memiliki perisai baja tak kasat mata. "Ingat, Kak. Jangan menunduk. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun."
Supir membukakan pintu. Naya melangkah keluar lebih dulu, kakinya terasa seperti terbuat dari jeli. Namun saat Kafka keluar dari sisi pintu yang lain dan berjalan memutar menghampirinya, rasa gentar itu perlahan memudar. Kafka berdiri di sebelah Naya, posturnya yang tinggi tegap dan karismanya yang luar biasa seketika mendominasi atmosfer di sekitar mereka.
Naya menarik napas panjang, melangkah memasuki pagar rumah yang terbuka, diikuti Kafka tepat setengah langkah di belakangnya.
"Bapak... Ibu," sapa Naya pelan, meraih tangan ayahnya untuk salim. Pak Haris menerimanya dengan kaku, lalu menepisnya pelan. Bu Tari menerima uluran tangan Naya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Mata Pak Haris yang tajam bagai elang langsung melesat melewati bahu Naya, menatap lurus ke arah pria asing yang berdiri menjulang di belakang putrinya. Penampilan Kafka yang sangat rapi, mahal, dan memancarkan aura kekuasaan yang kental sempat membuat Pak Haris tertegun selama sepersekian detik. Pria tua itu rupanya tidak menduga bahwa 'pria hidung belang' yang diceritakan Tante Rina ternyata memiliki perawakan layaknya eksekutif papan atas.
Namun, gengsi dan amarah menutupi keterkejutan itu. Pak Haris menegakkan bahunya.
Kafka melangkah maju. Dengan tenang dan penuh hormat, pria itu mengulurkan tangan kanannya. "Selamat pagi, Pak Haris. Saya Kafka."
Pak Haris tidak membalas uluran tangan itu. Ia menatap tangan Kafka dengan sinis, lalu menatap wajah Kafka dengan tatapan merendahkan.
"Saya tidak sudi bersalaman dengan laki-laki yang merusak nama baik keluarga saya," desis Pak Haris dingin, suaranya cukup keras hingga menggema di teras rumah.
Naya tersentak. "Pak! Jangan kasar begitu! Kafka ini yang bantuin Naya—"
"Kamu diam, Naya!" bentak Pak Haris, menunjuk wajah putrinya. "Bapak tidak mengajarimu menjadi perempuan yang gampang dibujuk rayu laki-laki asing. Kamu batalin pernikahan dengan Reno yang keluarganya jelas bibit-bebet-bobotnya, hanya demi laki-laki tidak jelas asal-usulnya ini?!"
Mendapat penolakan yang begitu kasar, Kafka sama sekali tidak terlihat tersinggung atau kehilangan ketenangannya. Pria itu menarik kembali tangannya dengan gerakan elegan, memasukkannya ke dalam saku celana, lalu mengukir sebuah senyum miring yang luar biasa mematikan. Aura predator yang tenang namun berbahaya menguar pekat dari tubuhnya.
"Bapak mungkin belum sudi bersalaman dengan saya hari ini," ucap Kafka, suaranya mengalun sangat berat, rendah, dan mengintimidasi, namun tetap menjaga batasan sopan santun. "Tapi saya yakin, setelah kita selesai berbicara di dalam nanti, Bapak tidak hanya akan menjabat tangan saya, tapi Bapak sendirilah yang akan memohon agar saya secepatnya membawa putri Bapak menuju pelaminan."