NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Malam ini Sean Pradana sudah tertidur pulas di perpustakaan lantai dua di atas buku bank soal UTBK Matematika miliknya. Pemandangan itu masih jelas terekam di ingatan Alena. Sean yang biasanya jaim, cool, dan gengsi, malam itu tertidur dengan posisi yang sangat tidak cool sama sekali. Kepalanya tertelungkup di atas meja kayu jati besar, kacamata belajarnya yang baru ia pakai karena minus karena kebanyakan main game, miring hampir jatuh, mulutnya sedikit terbuka, dan tangan kanannya masih memegang pensil mekanik dengan erat, seolah takut rumus integral itu akan kabur kalau dilepaskan. Di sekelilingnya berserakan kertas coretan, 3 kaleng kopi kaleng, dan buku-buku UTBK yang tebalnya seperti batu bata. Sean, cowok 17 tahun, tinggi 178cm, anak SMA kelas 12 yang sebentar lagi akan menghadapi UTBK dan ujian kelulusan, yang biasanya terlihat dingin dan cuek seperti papanya, malam itu terlihat sangat lelah dan sangat manusiawi. Ia tertidur bukan karena malas, tapi karena kelelahan belajar yang ditemani oleh Alena sampai jam 1 malam.

Alena yang menemukan Sean dalam keadaan itu tidak tega untuk membangunkannya. Ia hanya bisa tersenyum, hatinya terasa perih melihat anak sambungnya yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri itu kelelahan. Dengan hati-hati ia melepaskan kacamata Sean, meletakkan pensilnya, menyingkirkan buku-buku yang menindih tangan Sean, lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. Ia mematikan lampu besar perpustakaan dan hanya menyisakan lampu tidur kecil berwarna kuning hangat agar Sean tidak kedinginan dan tidak takut jika terbangun tengah malam. Sean tertidur dengan wajah lelah tapi ada senyum kecil di wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertidur setelah belajar dengan ditemani seseorang yang sabar, bukan dimarahi dan dibentak karena nilainya jeblok dan dianggap bodoh oleh papanya sendiri.

Dan pagi ini adalah keesokan harinya. Hari baru.

Jam 07.00 pagi, sinar matahari pagi yang hangat masuk melalui jendela kaca besar perpustakaan dan menyinari wajah tampan Sean yang masih tertidur pulas di sofa kulit perpustakaan. Sean terbangun bukan karena suara teriakan Aditya yang dingin menyuruhnya bangun dan belajar seperti biasanya, bukan karena suara alarm iPhone nya yang berisik, tapi karena wangi ayam goreng tepung super kriuk dan wangi kopi yang sangat menyengat, gurih, dan menggugah selera yang berasal dari dapur di lantai bawah. Wangi itu berhasil membangunkan raksasa 17 tahun yang sedang tertidur.

"Bunda? Bunda masak apa wangi banget? Wanginya sampai ke perpustakaan Bunda!" teriak Sean dari perpustakaan lantai dua dengan suara serak khas baru bangun tidur, suara cowok 17 tahun yang berat, rambutnya berantakan acak-acakan, kemeja tidurnya kusut.

Dari dapur lantai satu, Alena menjawab dengan suara ceria yang penuh semangat keibuan, "Jagoan Bunda yang ganteng sudah bangun ya! Sini turun cepat! Ayam goreng kesukaan kamu sudah jadi! Janji Bunda kan semalam kalau kamu bisa selesaikan soal integral nomor 9 yang susah itu, Bunda akan bikinin ayam goreng tepung super kriuk kesukaan kamu. Bunda sudah bikinin 5 potong besar paha atas semua untuk kamu sean! Sama kopi susu gula aren kesukaan kamu"

Mendengar kata ayam goreng 5 potong besar paha atas dan kopi susu gula aren, Sean yang tadinya masih mengantuk dan malas-malasan langsung melek sepenuhnya. Ia yang biasanya butuh 30 menit untuk bangun dari kasur, kali ini hanya butuh 10 detik untuk melompat dari sofa. Ia bahkan tidak sempat merapikan selimutnya, dan berlari turun tangga dengan masih memakai kaos oversize hitam dan celana pendek, rambutnya masih berantakan, tapi wajahnya yang ganteng itu terlihat cerah.

Di meja makan marmer yang besar, sudah tersaji ayam goreng tepung yang masih panas, mengepul, berwarna keemasan, sangat kriuk, dengan taburan bawang putih goreng di atasnya, lengkap dengan nasi putih pulen yang masih hangat, lalapan timun dan selada segar, sambal bawang super pedas kesukaan Sean, dan segelas besar kopi susu gula aren dingin dengan es batu yang banyak.

"Bunda beneran bikinin sebanyak ini? Buat Sean semua? Serius Bunda?" mata Sean berbinar-binar, ia langsung duduk dan mengambil ayam goreng terbesar.

"Beneran dong! Semua buat jagoan Bunda yang semalam sudah berjuang keras sampai jam 1 malam! Makan yang banyak ya sayang, karena habis ini kita perang lagi. Ada 10 soal UTBK lagi yang harus kita taklukkan hari ini. Kalau kamu bisa selesaikan semuanya, nanti malam Bunda bikinin lagi yang lebih banyak, plus Bunda beliin skin Mobile Legends yang kemarin kamu mau itu! Bunda yakin kamu pasti bisa, kamu kan anak pintar, cuma butuh ditemani aja!"

Sean langsung makan dengan sangat lahap, ayam gorengnya langsung habis 2 potong besar dalam waktu 5 menit, nasinya nambah. "Enak banget Bunda! Enak banget! Ini ayam goreng terenak yang pernah Sean makan seumur hidup! Lebih enak dari ayam goreng di mall! Bunda terbaik sedunia! The best mom ever!"

Alena hanya menatap Sean dengan mata yang berkaca-kaca bahagia, hatinya terasa hangat dan penuh. Dulu saat pertama kali menikah dengan Aditya, Sean yang berumur 16 tahun sangat membencinya, sangat dingin, menganggap Alena hanya numpang hidup. Tapi sekarang, Sean yang sudah 17 tahun ini, sudah mulai luluh, sudah mulai memanggilnya Bunda dengan tulus. Ia duduk di samping Sean dan dengan lembut mengelus rambut Sean yang gondrong acak-acakan itu, rambut cowok SMA yang jarang disisir.

"Makan pelan-pelan sayang, nanti keselek. Bunda senang lihat kamu makan lahap seperti ini. Sudah lama Bunda gak lihat kamu makan sebanyak ini."

Pemandangan sarapan pagi itu sangat hangat, sangat berbeda dengan sarapan-sarapan sebelumnya di rumah itu yang selalu dingin, sepi, canggung, dan penuh ketegangan antara ayah dan anak yang sama-sama gengsi. Kali ini ada tawa, ada canda, ada kasih sayang seorang ibu dan anak laki-lakinya yang beranjak dewasa.

Jam 08.00 sampai 11.30 siang, mereka kembali mengurung diri di perpustakaan lantai dua. Hanya berdua. Dunia mereka hanya berdua, buku-buku UTBK yang tebal, papan tulis kaca, spidol warna-warni, dan tawa. Rumah megah itu masih sepi, masih dingin, masih kosong karena Aditya masih belum pulang. Aditya masih bersembunyi dan mengasingkan diri di rumah rahasianya di kawasan Senopati yang super mewah dan super sepi dengan alasan dinas ke Surabaya selama 3 hari, padahal kenyataannya ia hanya tidak kuat, tidak sanggup, dan tidak tahu harus bersikap seperti apa saat menatap Alena dan Sean setelah kejadian emosional di makam Riana 2 hari yang lalu, dimana ia melihat Alena dengan tulus memeluk Sean dan berkata bahwa ia akan menjadi ibu untuk Sean sampai kapanpun.

Tapi hari ini Sean benar-benar berbeda 180 derajat. Jika dulu Sean adalah cowok 17 tahun yang 5 menit belajar UTBK saja sudah mengeluh pusing, mengeluh sakit perut, mengeluh ngantuk, mengeluh lapar, langsung buka HP main Mobile Legends atau scroll TikTok, hari ini selama 3,5 jam penuh dari jam 8 sampai jam 11.30, Sean fokus tanpa menyentuh HP sama sekali. HP nya ia taruh di ujung meja dengan mode silent. Matanya yang tajam fokus menatap papan tulis kaca, telinganya mendengarkan setiap penjelasan Alena dengan seksama, tangannya sibuk mencatat.

Soal nomor 10 tentang integral parsial yang semalam membuatnya hampir frustasi, melempar pensil, dan berkata "Sean bodoh, Sean gak bisa, Sean mau nyerah aja Bunda, gak usah kuliah aja", soal UTBK level HOTS yang menurutnya seperti bahasa alien dan bikin otaknya mau meledak, pagi ini ia kerjakan hanya dalam waktu 15 menit dengan metode balapan motor MotoGP yang diajarkan Alena kemarin malam. Metode dimana X adalah pembalap motor dan angka-angka adalah tikungan tajam.

"BUNDA! BUNDA LIHAT! SEAN BISA! JAWABANNYA X \= 7! BENER GAK BUNDA? BENER GAK? CEK DONG BUNDA!" teriak Sean histeris, suaranya yang berat itu melengking karena terlalu bangga dan bahagia, seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru, sambil mengangkat buku bank soalnya tinggi-tinggi di atas kepalanya, padahal dia sudah 17 tahun, tinggi 178cm, sudah mau kuliah.

Alena yang sedang menyeruput kopi susu di ujung meja langsung berdiri dengan cepat dan menghampiri Sean. Ia memeriksa jawaban itu dengan teliti. Langkah demi langkah, rumus demi rumus, coretan demi coretan, semua benar. 100% benar. Tidak ada yang salah sedikitpun. Jawaban anak SMA kelas 12 yang semalam masih remedial, pagi ini sudah bisa mengerjakan soal HOTS UTBK.

"YA ALLAH ANAK PINTAR BUNDA! BENAR! BENAR SEMUA! MASYAALLAH PINTER BANGET ANAK GANTENG BUNDA! SEAN HEBAT BANGET! CALON MAHASISWA UI!" Alena langsung memeluk Sean erat-erat dari samping, karena Sean sudah terlalu tinggi untuk dipeluk seperti anak kecil.

Sean yang biasanya jaim, cool, gengsi, dan malu untuk dipeluk karena sudah 17 tahun dan merasa sudah dewasa, kali ini tidak menolak. Ia tertawa keras, tawa lepas cowok 17 tahun yang sangat bahagia dan lega. Pelukan itu hangat sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai remaja, ia dipeluk dan dibanggakan karena prestasinya, bukan dimarahi, dibentak, dan direndahkan karena nilainya jeblok dan dianggap mempermalukan nama besar keluarga Pradana.

"Bunda bangga banget sama kamu, Sean. Bunda sayang banget sama kamu, nak. Kamu hebat, kamu bisa. Bunda yakin kamu bisa masuk UI tahun depan," bisik Alena tulus di telinga Sean, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan, air mata bahagia seorang ibu.

Sean yang biasanya jaim dan gengsi untuk menunjukkan kasih sayang karena sudah 17 tahun, kali ini memeluk balik Alena dengan erat, kepalanya ia sandarkan di bahu Alena. "Sean juga sayang Bunda. Makasih ya Bunda sudah sabar ajarin Sean, tidak seperti Ayah yang selalu marah-marah dan bilang Sean bodoh, Sean beban keluarga. Cuma Bunda yang percaya Sean bisa."

Mendengar kata Ayah, senyum Alena sedikit memudar, hatinya terasa sakit mengingat Aditya, tapi ia cepat-cepat menutupinya agar tidak merusak mood Sean yang sedang bagus-bagusnya.

Jam 11.30 siang, amunisi atau logistik belajar mereka habis total. Susu kotak stroberi 5 kotak, kopi kaleng 4 kaleng, snack kentang pedas 3 bungkus besar, biskuit cokelat 2 kaleng, semua ludes, habis tak bersisa dimakan dan diminum Sean selama 3,5 jam belajar. Sean memang kalau sudah fokus belajar, mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah dan minum kopi, khas anak SMA yang begadang belajar UTBK.

"Bunda, laporan Komandan! Logistik kita habis total Bunda! Tentara butuh amunisi lagi untuk perang sore nanti! Susu stroberi Sean abis, kopi Sean abis, snack abis, biskuit abis! Perut tentara kosong!" lapor Sean dengan gaya hormat tentara yang lucu, padahal dia sudah 17 tahun, tinggi besar, tapi tingkahnya masih seperti anak kecil di depan Alena, sambil menunjukkan tong sampah di pojok perpustakaan yang sudah penuh dan menggunung dengan bungkus-bungkus snack kosong dan kaleng kopi kosong.

Alena tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Sean yang super ganteng tapi kocak itu. "Ya ampun tentara 17 tahun ini boros banget amunisinya! Lebih boros dari tentara beneran! Ya sudah, tentara Sean kerjakan dulu 5 soal latihan mandiri UTBK di halaman 52 ya, yang gampang-gampang itu, sambil Bunda akan ke supermarket Grand Lucky di bawah komplek, cuma 30 menit, beli susu dan snack dan kopi lagi yang banyak buat stok seminggu buat begadang UTBK. Kamu jangan kemana-mana ya? Jangan buka pintu untuk orang asing, jangan keluar gerbang, tetap di perpustakaan ya? Kunci pintu perpustakaan dari dalam!"

"Siap Komandan Bunda! Sean akan jaga benteng perpustakaan sampai Bunda kembali! Laksanakan! Sean janji gak main game!" jawab Sean dengan semangat sambil memberi hormat.

Alena pun bersiap-siap. Ia hanya memakai dress panjang sederhana berwarna cream yang lembut dan jatuh, hijab pashmina cokelat muda yang dililit simple namun anggun, tanpa make-up sama sekali, wajahnya polos bersih bercahaya, hanya memakai lip balm tipis agar bibirnya tidak kering. Tasnya hanya dompet kecil berwarna putih dan kunci mobil. Tapi justru dengan kesederhanaan dan kepolosan itu, kecantikan alami Alena yang berumur 26 tahun itu terpancar berkali-kali lipat. Cantik, anggun, bersih, keibuan, menenangkan, seperti bidadari.

Ia keluar rumah dengan langkah ringan.

Ia tidak tahu, bahwa sejak jam 06.00 pagi tadi, mobil Alphard hitam milik Rendra sudah siaga, sudah standby di luar gerbang rumah, mesinnya menyala, ACnya menyala, Rendra di dalamnya dengan mata yang awas tidak berkedip. Rendra memang ditugaskan secara khusus dan rahasia oleh Aditya untuk mengawasi Alena dan Sean 24 jam penuh selama Aditya bersembunyi di rumah rahasianya. Aditya bilang untuk keamanan, tapi sebenarnya karena Aditya tidak bisa berhenti memikirkan Alena dan juga khawatir dengan Sean.

Di rumah rahasia Senopati yang super mewah dan super sepi, Aditya sedang mencoba untuk fokus rapat online dengan klien super penting dari Jepang yang membahas proyek pembangunan apartemen mewah triliunan rupiah. Tapi pikirannya tidak di sana sama sekali. Pikirannya kosong, melayang-layang. Sejak kejadian di makam Riana 2 hari yang lalu, dimana ia melihat Alena menangis, memeluk Sean yang sudah 17 tahun itu, dan berkata bahwa ia akan menjadi ibu untuk Sean sampai kapanpun, pikiran Aditya terus berkecamuk, tidak karuan, tidak bisa tidur, tidak bisa makan.

Saat telepon dari Rendra masuk dengan nada dering khusus, Aditya yang sedang rapat langsung mematikan mic dan mematikan kameranya tanpa permisi, membuat klien Jepang dan semua direkturnya bingung.

"Lapor," jawab Aditya dengan suara super dingin dan tegas, tapi ada nada panik di dalamnya.

"Pak Aditya, laporan Pak. Ibu Alena baru saja keluar rumah sendirian Pak, pakai dress cream cantik, hijab cokelat, tanpa pengawalan, menuju Grand Lucky Supermarket yang di bawah komplek. Sean di rumah sendirian di perpustakaan mengerjakan soal UTBK. Sean terlihat baik-baik saja Pak, belajar. Apa saya perlu ikuti Ibu Alena Pak?"

"Ikuti! Jangan sampai lepas satu detik pun! Ikuti kemanapun dia pergi! Laporkan setiap gerak-geriknya! Setiap orang yang menyapanya! Setiap orang yang melihatnya! Dan pastikan dia aman! Kalau ada apa-apa dengan dia, saya pecat kamu! Dan pastikan Sean juga aman di rumah!" perintah Aditya dengan cepat, nadanya panik, rapatnya ia tinggalkan begitu saja, ia end meeting tanpa bilang terima kasih, membuat klien Jepang kaget.

Di Grand Lucky Supermarket yang ramai dan ber-AC dingin siang itu, Alena mendorong trolley silver dengan santai sambil bersenandung kecil lagu anak-anak yang biasa ia nyanyikan untuk Sean. Ia sedang fokus sekali memilih susu kotak dan kopi kaleng, ia membandingkan susu stroberi dan susu cokelat, membandingkan kopi gula aren dan kopi latte, membandingkan harga, tanggal kadaluarsa, dan kandungan gizinya dengan sangat teliti seperti ibu-ibu muda pada umumnya yang belanja untuk anak remajanya.

"Alena? Alena Putri? Ya Allah ini Alena Putri beneran? Alena?"

Sara laki-laki yang terdengar sangat familiar, suara yang pernah sangat dekat di masa lalu, memanggil dari belakang dengan nada kaget dan bahagia yang meledak-ledak.

Alena menoleh dengan cepat. Matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka kaget, trolley nya hampir menabrak rak. "ASTAGA! RIZKY PRATAMA?! RIZKY?!"

Di depannya berdiri seorang laki-laki tinggi menjulang sekitar 181cm, sedikit lebih tinggi dari Sean, kulitnya putih bersih terawat, wangi parfum mahal Dior yang menyengat hidung, memakai kemeja biru langit yang lengan atasnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot hasil gym dan jam tangan Rolex mahal yang berkilauan. Rambutnya klimis tertata rapi dengan pomade, wajahnya sangat ganteng, hidung mancung, senyumnya manis sekali dengan lesung pipit, gigi putih rapi. Rizky Pratama, teman satu angkatan, satu jurusan, satu fakultas Alena di kampus dulu. Laki-laki yang paling populer di kampus, kapten tim basket, anak tunggal pengusaha kaya raya, idola para mahasiswi, dan yang paling penting, laki-laki yang dari semester 1 sampai semester 8, selama 4 tahun penuh, terang-terangan, tanpa malu, tanpa lelah, naksir berat, mengejar-ngejar, PDKT, dan menyatakan cinta pada Alena berkali-kali, selalu kirim cokelat mahal, selalu kirim bunga mawar merah, selalu menunggu di parkiran kampus berjam-jam dengan mobil sportnya, tapi selalu, selalu, selalu ditolak dengan halus oleh Alena karena Alena adalah tipe cewek yang tidak mau pacaran dan ingin fokus kuliah dan organisasi dan menjaga diri.

"Ya Allah Alena! Gue kira siapa! Lo makin cantik banget! Parah cantiknya! Gila! Pake hijab gini MasyaAllah cantiknya berkali-kali lipat! Sumpah gue kaget! Jantung gue mau copot lihat lo! Lo kayak bidadari!" Rizky menatap Alena dari atas sampai bawah, dari ujung hijab sampai ujung dress, dengan tatapan kagum, tatapan cinta lama yang belum padam, tatapan seorang laki-laki yang masih menyimpan rasa yang sangat dalam selama 3 tahun.

Alena langsung salah tingkah, wajahnya memerah, ia merapikan hijabnya dengan gugup. "Rizky, apa kabar? Kok bisa ada di sini? Kaget banget aku ketemu kamu di sini!"

"Gue baru balik dari Singapura 2 bulan lalu, Len! Gue S2 di NUS sana! Sekarang gue buka cabang cafe gue yang ketiga di Jakarta Selatan, yang di Senopati, namanya Rizky Coffee Space, cafe hits anak Jaksel! Gila udah 3 tahun gak ketemu sejak lo wisuda duluan! Lo apa kabar? Gue denger dari anak-anak kampus di grup WA angkatan, lo udah nikah? Sumpah pas denger kabar itu hati gue hancur berkeping-keping, Len! Hancur! Gue sampai gak makan 3 hari! Gue sampai mabuk 2 hari! Siapa laki-laki beruntung yang berhasil dapetin bidadari kampus kayak lo?"

Alena tertawa canggung. "Alhamdulillah baik Riz. Iya aku udah nikah 2 tahun lalu."

"Nikah sama siapa? Seberuntung apa laki-laki itu bisa dapetin lo? Pasti dia orang hebat banget bisa bikin lo mau nikah, padahal dulu lo nolak gue terus, nolak semua cowok ganteng yang deketin lo! Lo kan dulu anti pacaran!"

"Aku sendiri kesini, belanja buat anak aku, anak aku lagi belajar UTBK di rumah," jawab Alena cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan yang semakin tidak nyaman.

"Anak? Lo udah punya anak? Secepat itu? Sama suami lo? Wah hebat lo Len, umur 26 sudah jadi ibu, sudah punya anak SMA?"

"Bukan, anak sambung, anak suami aku, umurnya 17 tahun, kelas 12, lagi persiapan UTBK masuk UI," jelas Alena.

Rizky melihat susu di rak paling atas yang tidak terjangkau oleh Alena yang tingginya hanya 160cm. Ia langsung melihat kesempatan emas untuk bisa dekat secara fisik. Ia berdiri di belakang Alena, sangat dekat, hampir menempelkan dadanya ke punggung Alena, dan tangannya yang besar meraih susu di atas sambil tangan kirinya sengaja menyentuh, menggenggam, dan mengelus tangan Alena yang sedang memegang trolley dengan lembut dan mesra.

"Nih, biar gue yang ambilin, lo masih pendek aja kayak dulu ya, imut banget, gak berubah, tetap cantik," bisik Rizky tepat di telinga Alena, suaranya dibuat seromantis dan segoda mungkin, napasnya menerpa hijab Alena, tangannya masih menggenggam tangan Alena dengan erat, tidak mau dilepaskan, bahkan mengelus punggung tangan Alena dengan ibu jarinya dengan gerakan memutar.

"Eh iya makasih ya Riz," Alena kaget bukan main dan langsung menarik tangannya dengan cepat dan kasar, wajahnya memerah padam karena malu dan tidak enak dilihat orang banyak. Ia mendorong trolleynya mundur 2 langkah menjauh dari Rizky.

Dari jarak 10 meter di balik rak besar biskuat cokelat yang tinggi, Rendra yang melihat semua adegan mesra itu dari tadi langsung panas dingin, keringat dingin mengucur deras di dahinya, jantungnya berdegup kencang. Ia merekam semuanya dengan kamera HP dari jarak jauh dengan zoom maksimal 10x. Pegangan tangan yang mesra, jarak dekat yang hampir menempel, bisikan di telinga, semua terekam jelas, HD, tanpa blur, sangat jelas.

Rendra langsung menelpon Aditya dengan tangan gemetar, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul Aditya akan meledak seperti gunung berapi Krakatau jika melihat rekaman ini. Ia hafal betul sifat posesif Aditya.

"Pak Aditya! Gawat Pak! Laporan darurat Pak!"

Di rumah rahasia, Aditya yang sedang mencoba minum kopi hitam pahit untuk menenangkan pikirannya langsung menyemburkan kopinya ke laptop MacBook Pro nya yang seharga 50 juta saat mendengar kata gawat.

"Apa?! Alena kenapa?! Sean kenapa?! Kecelakaan?! Dicopet?! Jatuh?! Ngomong Rendra!"

"Bukan Pak! Ibu Alena bertemu dengan seorang laki-laki di supermarket Pak! Laki-laki muda, sangat ganteng, tinggi 181cm, putih, wangi parfum Dior, pakai kemeja biru mahal, jam Rolex! Seumuran Ibu Alena! Sepertinya teman lama kuliah Ibu! Mereka mengobrol sangat dekat Pak, sangat mesra! Tadi... tadi laki-laki itu memegang dan menggenggam tangan Ibu Alena di rak susu Pak! Lama! Mengelus tangan Ibu! Mesra banget Pak! Dan sekarang laki-laki itu meminta nomor HP Ibu Alena, merayu Ibu Alena dengan kata-kata gombal Pak! Bilang kangen, bilang Alena cantik!"

Diam.

Hening 3 detik yang sangat menegangkan di telepon.

Lalu...

"APAAAAAAAA?! PEGANG TANGAN?! MENGGENGGAM?! MENGELUS?! BERANI DIA PEGANG TANGAN ISTRI SAYA?! BERANI DIA SENTUH ISTRI SAYA?! LAKI-LAKI SIALAN MANA ITU?!" suara Aditya meledak begitu keras, begitu lantang, sampai Rendra harus menjauhkan HP 1 meter dari telinganya dan semua satpam di rumah rahasia kaget. Suara Aditya tidak lagi dingin seperti es di kutub utara, tapi panas membara seperti api neraka jahanam, penuh amarah, penuh cemburu buta, penuh kepanikan yang meledak-ledak. Kursi kantor mahalnya yang seharga 20 juta ia tendang sampai terjatuh dan menggelinding sampai ke ujung ruangan.

"TAMPANGNYA SEPERTI APA LAKI-LAKI SIALAN ITU?! GANTENG SEPERTI APA?! LEBIH GANTENG DARI SAYA?! UMURNYA BERAPA?! KERJANYA APA?! NAMA LENGKAPNYA SIAPA?! ORANG MANA DIA?! JAWAB RENDRA! JANGAN SAMPAI SAYA DATANG KE SANA DAN SAYA BUNUH LAKI-LAKI ITU DI TEMPAT!"

Aditya berjalan mondar-mandir di ruangan 5x5 meter itu seperti singa yang dikurung, lapar, buas, dan melihat mangsanya diambil orang lain. Tangannya mengepal sangat keras sampai buku-buku jarinya putih pucat dan bergetar hebat, napasnya memburu seperti habis lari maraton 10km, matanya merah membara. DADANYA BERGEMURUH KERAS SEKALI. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan, dug dug dug, seperti mau copot dari dadanya, seperti genderang perang. Ia merasa sesak, cemburu, panas, marah, takut kehilangan, semua bercampur jadi satu menjadi satu rasa yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Pikiran CEO super dingin, super logis, super tenang, yang biasanya sangat perhitungan dalam mengambil keputusan bisnis triliunan rupiah tanpa emosi, kini kacau balau, tidak karuan, tidak logis, seperti anak ABG yang sedang cemburu buta, hanya karena istrinya yang selama ini ia anggap tidak ada, yang selama ini ia cuekin, dipegang tangannya oleh laki-laki lain yang lebih ganteng dan lebih muda.

Kenapa Alena diam saja saat dipegang? Kenapa Alena tidak menampar laki-laki itu? Apa Alena suka diperlakukan seperti itu? Apa Alena suka dengan laki-laki itu? Apa laki-laki itu mantannya? Apa Alena masih cinta sama laki-laki itu? Apa Alena menyesal menikah dengannya yang dingin? Apa laki-laki itu lebih ganteng, lebih muda, lebih kaya, lebih romantis dari dia? Apakah Alena akan meninggalkan dia dan Sean yang sudah 17 tahun itu untuk laki-laki itu?

Pertanyaan-pertanyaan bodoh, kekanak-kanakan, dan tidak masuk akal itu berputar-putar dengan sangat cepat di kepala Aditya yang sedang cemburu buta tingkat dewa.

"Rendra, kamu dengar saya baik-baik! Kamu selidiki laki-laki bangsat itu sekarang juga detik ini juga! Saya mau tahu nama lengkapnya, alamat KTPnya, alamat cafe nya, nama orang tuanya, pekerjaan orang tuanya, dia punya pacar berapa, dia punya istri berapa, dia pernah pacaran sama Alena atau tidak, dia pernah tidur sama Alena atau tidak! Saya mau semuanya! Foto KTPnya! Foto keluarganya! Saya mau data lengkap dalam 1 JAM! KIRIM KE EMAIL SAYA! KALAU TIDAK SAYA PECAT KAMU DAN SAYA BLACKLIST KAMU DARI DUNIA KERJA!"

"Siap Pak! Siap Pak!"

"Dan satu lagi! Jangan sampai Alena kasih nomornya! Kalau dia kasih nomornya, kamu tabrak trolley nya! Kamu bilang Sean pingsan di rumah, Sean masuk rumah sakit, Sean diculik, apa saja! Pokoknya jangan sampai nomor itu dikasih! ITU PERINTAH MUTLAK! MENGERTI?!"

Aditya menutup telepon dengan membanting HP iPhone 15 Pro Max nya yang seharga 30 juta ke sofa dengan sangat keras sampai sofanya penyok dan HPnya mental. Ia membuka 2 kancing kemeja mahalnya karena merasa sangat sesak, sangat panas, dan sangat cemburu. Ia meninju dinding marmer rumah rahasianya dengan keras sampai buku jarinya lecet dan berdarah.

"Alena... kamu berani... kamu berani kasih nomor kamu ke laki-laki lain..."

Di supermarket, Rizky masih belum menyerah, masih berusaha keras mendapatkan nomor Alena dengan segala rayuan mautnya. Ia mengeluarkan iPhone 15 Pro Max terbarunya yang berwarna titanium biru dan menyodorkannya ke depan wajah Alena dengan senyum paling manis, paling ganteng, paling memabukkan yang ia punya, senyum yang dulu membuat semua cewek di kampus klepek-klepek kecuali Alena.

"Len, please lah, nomor lo dong yang baru, yang aktif WA, yang bisa gue hubungi. Gue kangen banget sama lo, sumpah mati. Dulu lo satu-satunya cewek yang gak pernah bisa gue dapetin, satu-satunya cewek yang nolak gue dengan halus tapi nyakitin, satu-satunya cewek yang bikin gue penasaran sampai 4 tahun kuliah. Sekarang lo makin cantik, makin anggun, makin keibuan, gue makin gak bisa lupa, Len. Sekali aja, kita catch up di cafe gue, gue traktir kopi terenak se-Jakarta, kopi impor langsung dari Kolombia. Please Len, demi persahabatan kita dulu di kampus, demi tugas kelompok kita dulu."

Alena menghela napas panjang, menatap Rizky yang masih saja memaksa dengan tatapan memelas. Lalu ia menatap Rizky dengan senyum yang sopan tapi sangat tegas, sangat jelas, dan sangat tidak bisa ditawar lagi. Ia teringat wajah dingin Aditya yang selalu cuek padanya, wajah dingin Aditya yang posesif, tapi justru wajah dingin itu ia jadikan tameng terkuat, senjata terampuh, alasan terkuat untuk menolak Rizky dengan halus tapi mematikan.

"Maaf banget ya Riz, aku beneran gak bisa kasih nomor aku. Suami aku orangnya cemburuan banget, posesif banget, galak banget kalau soal aku dekat sama laki-laki lain. Suami aku CEO, dia bisa marah besar kalau tahu aku kasih nomor laki-laki lain tanpa izin dia. Aku gak enak kalau kasih nomor laki-laki lain tanpa izin suami aku. Aku harus jaga perasaan suami aku. Aku gak mau suami aku marah dan cemburu. Suami aku bisa ngamuk dan bisa tutup cafe kamu kalau dia tahu aku kasih nomor ke kamu. Jadi maaf banget ya Riz. Sekali lagi senang banget ketemu kamu hari ini, Rizky. Kamu sukses terus ya cafe nya. Semoga cepat nikah juga. Aku harus pulang sekarang, anak aku yang 17 tahun nunggu di rumah, dia lagi belajar UTBK."

Alena langsung mendorong trolleynya dengan sangat cepat, hampir berlari kecil, pergi meninggalkan Rizky yang berdiri bengong, kaget, dengan wajah kecewa berat, ditolak lagi untuk kesekian kalinya, untuk kesekian kalinya dalam 4 tahun, bahkan setelah Alena sudah menikah dan punya anak 17 tahun pun ia masih ditolak mentah-mentah dengan membawa-bawa nama suami.

Dari jauh, Rendra yang melihat semua itu tersenyum lega luar biasa, napasnya lega, dan langsung menelpon Aditya lagi dengan semangat 45.

"Pak! Laporan terbaru Pak! Kabar baik Pak! Kabar super baik Pak!"

"Apa?! Dia kasih nomornya?! Jawab cepat!"

"Tidak Pak! Tidak dikasih Pak! Ibu Alena menolak dengan sangat tegas Pak! Ibu Alena bilang... suaminya cemburuan banget dan posesif banget, tidak enak kasih nomor laki-laki lain tanpa izin suami, harus jaga perasaan suami, tidak mau suami marah besar dan ngamuk! Ibu Alena pergi meninggalkan laki-laki itu dengan cepat Pak! Ibu Alena sangat setia Pak! Ibu Alena sangat menjaga nama baik Bapak Pak!"

Di rumah rahasia, Aditya yang tadinya uring-uringan, mondar-mandir seperti orang gila, meninju dinding sampai berdarah, membanting HP, langsung berhenti total, mematung seperti patung pancoran.

Napasnya yang tadi memburu seperti kuda pacu, pelan-pelan melambat, menjadi teratur, menjadi tenang.

Dadanya yang tadi bergemuruh karena amarah, karena cemburu buta, karena panas ingin membunuh, kini bergemuruh karena... rasa hangat yang aneh, rasa bangga yang membuncah sampai ke ubun-ubun, rasa bahagia kecil yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, rasa memiliki yang sangat besar.

"Dia... bilang begitu? Suaminya cemburuan? Harus jaga perasaan suaminya? Tidak mau suaminya marah dan ngamuk?" Aditya mengulang dengan suara yang pelan, hampir berbisik, tidak percaya dengan apa yang ia dengar, matanya berkaca-kaca.

"Iya Pak, persis begitu katanya Pak, saya dengar jelas Pak, bahkan Ibu Alena bilang Bapak bisa tutup cafe laki-laki itu kalau Ibu kasih nomor!"

Hening lagi. Lama. Hening selama 10 detik yang terasa seperti 10 jam.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam 3 hari setelah kabur dari rumah, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun menikah dengan Alena, sudut bibir Aditya yang selalu kaku, selalu dingin, selalu datar seperti tembok es di kutub utara, tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan yang indah. Senyum tipis. Senyum langka. Senyum yang hampir tidak pernah dilihat oleh siapapun, bahkan oleh Rendra yang sudah 5 tahun menjadi asisten pribadinya, bahkan oleh Sean anaknya sendiri.

"Bagus... istri pintar... tahu diri dia istri siapa... tahu cara jaga perasaan suami... tahu cara bikin suami bangga..." gumam Aditya pelan, tapi ada nada kepuasan, kebanggaan, dan kebahagiaan yang sangat jelas di sana, sangat tulus. Dadanya masih bergemuruh, tapi kali ini gemuruh yang berbeda, gemuruh cinta.

Tapi 2 detik kemudian, wajahnya yang baru saja tersenyum itu langsung cemberut lagi, uring-uringan lagi, cemburu lagi saat ia teringat tangan Rizky yang tadi memegang dan mengelus tangan Alena dengan mesra dan lama.

"Tetap selidiki laki-laki sialan itu! Saya mau tahu seganteng apa dia berani pegang tangan istri saya! Saya mau lihat mukanya! Kirim foto dia! Dan sekarang kamu ikuti Alena sampai rumah, pastikan dia sampai rumah dengan selamat! Jangan sampai laki-laki gatal itu mengikutinya sampai rumah! Kalau dia ikuti sampai rumah, kamu tabrak mobilnya! Saya gak peduli!"

"Siap Pak!"

Aditya menutup telepon, duduk kembali di kursinya yang tadi ia tendang, tapi sore itu ia tidak bisa kerja sama sekali. Rapat dengan klien Jepang yang super penting ia batalkan. Proyek triliunan ia tunda. Email-email penting ia abaikan. Pikirannya hanya dipenuhi wajah polos Alena, tangan Alena yang dipegang laki-laki lain, dan kalimat Alena yang terus terngiang-ngiang di telinganya seperti kaset rusak "harus jaga perasaan suami aku, gak mau suami aku marah".

Aditya uring-uringan, gelisah, mondar-mandir sepanjang sore di rumah rahasianya yang mewah tapi sepi itu, cemburu buta, tapi di dalam hatinya yang dingin dan beku selama 2 tahun karena ditinggal Riana, ada sebuah bunga kecil yang mulai mekar, mekar perlahan tanpa ia sadari, bunga yang bernama cemburu, bunga yang bernama rasa memiliki, bunga yang bernama cinta yang baru tumbuh untuk Alena, istrinya sendiri.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!