NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Matahari sore baru saja meredup, menyisakan bias jingga yang muram di langit kota ketika ponsel di dalam saku mantel Aurelia berdering nyaring. Suara itu memecah keheningan di dalam kamar gadis itu, tempat di mana ia baru saja mencoba menenangkan pikiran setelah insiden menegangkan di sekolah tadi siang.

Dengan jemari yang masih sedikit gemetar sisa sisa adrenalin, Aurelia merogoh ponselnya dan melihat nama ibunya tertera di layar. Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan tombol hijau.

"Halo, Ma?" sapa Aurelia cepat, mencoba menyembunyikan nada serak bekas tangisannya.

Namun, yang menyambut telinganya bukanlah suara lembut Lila, melainkan isak tangis tertahan yang langsung meremukkan hatinya seketika. Suara napas ibunya terdengar putus-putus, bergetar hebat di ujung sambungan.

“Aurelia... Ya Allah, Nak...” rintih Lila di seberang sana.

Jantung Aurelia seolah berhenti berdetak. Seluruh darahnya mendadak dingin. "Ma? Ada apa? Kenapa Ibu nangis? Papa mana?!" teriak Aurelia panik, berdiri dari tepi tempat tidurnya hingga kursi kamarnya terdorong ke belakang dan terjatuh ke lantai.

“P-Papa, Nak... Papa kecelakaan di jalan raya dekat simpang empat. Mobil kantor Papa ditabrak truk dari samping. Sekarang... sekarang Papa dilarikan ke Rumah Sakit Medika Utama dalam kondisi kritis... Kita harus ke sana sekarang, Aurelia!”

Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Aurelia berdiri mematung di tengah kamarnya. Dunianya seolah runtuh dalam sepersekian detik. Tas ransel yang baru saja ia letakkan jatuh begitu saja ke lantai. Tanpa mempedulikan penampilannya yang berantakan, ia menyambar jaket dan kunci rumah, lalu berlari keluar kamar menembus senja dengan air mata yang kembali tumpah membasahi pipinya.

Suasana di IGD Rumah Sakit Medika Utama terasa begitu pekat oleh aroma disinfektan dan keputusasaan. Aurelia berlari kencang menyusuri koridor putih yang panjang, hingga ia menemukan sosok ibunya duduk terduduk lemas di kursi tunggu dengan pakaian yang berantakan dan tatapan kosong nan basah oleh air mata.

"Ma!" seru Aurelia histeris, langsung menerjang dan memeluk tubuh ibunya yang bergetar hebat. "Ma, gimana keadaan Papa? Papa di dalam... Papa nggak apa-apa kan?"

Lila menggeleng lemah dalam pelukan putrinya, menangis sejadi-jadinya. "Dokter... dokter bilang kondisi Papa kritis, Li... Benturan di kepalanya terlalu keras, dan... dan mereka butuh tindakan operasi darurat secepatnya..."

Aurelia merenggangkan pelukan, menatap ibunya dengan mata membelalak penuh horor. "Ya udah! Suruh dokternya operasi sekarang, Ma! Kenapa belum ditindak?!"

Wajah Lila semakin pucat pasi, air matanya tumpah semakin deras. Ia menggenggam tangan Aurelia yang dingin dengan erat. "Biayanya, Nak... Pihak rumah sakit minta uang muka operasi dan administrasi awal sebesar delapan puluh juta rupiah tunai malam ini juga... Asuransi kantor Papa belum bisa cair malam ini, dan tabungan kita... tabungan kita nggak sampai setengah dari jumlah itu..."

Delapan puluh juta rupiah. Angka itu bagaikan palu berat yang menghantam kepala Aurelia hingga berdengung. Di tengah situasi hidup dan mati sang ayah tercinta, uang dalam jumlah besar itu menjadi tembok pemisah yang kejam antara keselamatan nyawa ayahnya dan jurang maut.

"Ya Allah... dari mana kita cari uang sebanyak itu dalam waktu singkat..." gerisik Aurelia putus asa. Ia melangkah limbung ke arah meja resepsionis rumah sakit, memohon dengan suara bergetar kepada perawat jaga agar operasi suaminya bisa segera dilakukan sambil jaminan rumah atau apa pun yang mereka miliki diserahkan.

Namun, prosedur rumah sakit tetaplah dingin dan kaku: tidak ada uang muka, tidak ada tindakan.

Aurelia terduduk lemas di lantai koridor rumah sakit yang dingin. Lututnya melemah, kepalanya pusing, dan isak tangisnya tertahan di dalam tenggorokan. Ia merasa begitu kecil, tak berdaya, dan hancur lebur melihat kenyataan bahwa nyawa ayahnya sedang dihitung dalam detik-detik berharga sementara ia hanya bisa duduk meratap tanpa bisa berbuat apa-apa.

"Butuh bantuan?"

Sebuah suara bariton yang sangat ia kenal—suara yang selama ini menjadi sumber ketakutan sekaligus bayangan terkelam dalam hidupnya—tiba-tiba menggema di atas kepalanya.

Aurelia mendongak dengan napas tersengal.

Di bawah cahaya lampu neon koridor rumah sakit yang putih menyilaukan, berdiri sosok Grayson Balindra. Pemuda itu tidak mengenakan seragam sekolah lagi; ia memakai mantel hitam panjang dengan kemeja gelap di baliknya, memancarkan aura dominasi yang begitu mutlak dan berbahaya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara manik mata amber-nya menatap lurus ke arah Aurelia yang terduduk di lantai dengan sorot mata yang sulit diartikan—dingin, penuh perhitungan, namun menyiratkan kepuasan seorang penguasa.

"G-Grayson...?" cicit Aurelia lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat. "B-bagaimana kamu bisa... apa yang kamu lakukan di sini?"

Grayson tidak langsung menjawab. Pemuda itu melangkah mendekat, lalu berjongkok menyamakan ketinggiannya dengan Aurelia yang terduduk lemas. Jemari kokohnya terulur, menyentuh dagu Aurelia dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya.

"Aku tahu semuanya, Sweetheart," bisik Grayson tenang, suaranya terdengar begitu menghanyutkan di tengah kekacauan rumah sakit. "Ayahmu mengalami kecelakaan parah. Dan rumah sakit ini menolak melakukan operasi darurat karena administrasi delapan puluh juta rupiah yang belum dibayar, benar?"

Aurelia menelan ludahnya yang terasa kelat. Air matanya kembali tumpah semakin deras. Jika ada manusia di dunia ini yang bisa mengetahui detail kehidupannya secepat kilat, itu pastilah pemuda di hadapannya ini.

"Tolong aku, Grayson..." rintih Aurelia, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia mencengkeram ujung mantel Grayson dengan jari-jarinya yang gemetar hebat, membuang jauh-jauh rasa ego dan harga diri yang kemarin ia bela setengah mati. "Aku mohon... selamatkan Papa aku... Lakukan apa saja, pinjami aku uang itu... Kumohon..."

Melihat gadis yang selama ini keras kepala dan menentangnya kini bersimpuh memohon di hadapannya, sudut bibir Grayson terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Senyuman kemenangan yang telah lama ia nantikan.

Dengan gerakan tenang, Grayson mengeluarkan sebuah ponsel pintar dari saku mantelnya, menekan beberapa tombol, lalu menyerahkannya pada seorang pria berjas rapi—yang ternyata adalah asisten atau anak buah pribadinya—yang berdiri tidak jauh di belakangnya.

"Selesaikan administrasi di bagian keuangan sekarang juga. Pastikan dokter spesialis terbaik langsung masuk ke ruang operasi untuk Tuan Bayu," perintah Grayson mutlak kepada bawahannya.

"Baik, Tuan Muda," jawab pria berjas itu singkat, lalu segera bergegas pergi menuju bagian administrasi rumah sakit.

Aurelia terpaku. Dalam kurun waktu kurang dari lima menit, masalah finansial sebesar delapan puluh juta rupiah yang sedari tadi mencekik leher keluarganya diselesaikan begitu saja hanya dengan sebuah titah ringan dari seorang Grayson Balindra.

Beberapa suster dan dokter bedah yang tadinya berdiri kaku di depan ruang IGD mendadak bergerak cepat, mempersiapkan peralatan medis dan mendorong brankar darurat untuk segera memindahkan Bayu ke ruang operasi.

Lila, yang melihat suaminya akhirnya mendapatkan penanganan medis yang selama ini dipersulit, langsung terduduk lemas sambil mengucap syukur di lantai, memeluk lututnya dengan air mata kelegaan.

Aurelia bangkit dari duduknya dengan kaki yang masih gemetar. Ia menatap Grayson yang kini berdiri tegak di hadapannya, merapikan kerah mantel pemuda itu dengan perasaan berkecamuk antara rasa terima kasih yang teramat besar dan rasa takut yang teramat kelam.

"Grayson... terima kasih... terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawa Papa..." ucap Aurelia tulus, suaranya parau karena menangis. "Aku... aku akan bayar semua uang itu. Aku akan kerja paruh waktu, aku akan cicil berapapun lamanya... Asalkan kamu bantu aku..."

Mendengar kata-kata itu, Grayson justru terkekeh pelan. Tawa rendah yang terdengar begitu merdu di telinga Aurelia, namun sukses membuat bulu kuduk gadis itu merinding seketika.

"Membayar?" ulangi Grayson dengan nada geli. Pemuda itu melangkah maju selangkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga aroma maskulin dan dingin khas tubuh Grayson kembali menguasai indra penciuman Aurelia. "Aurelia, Sweetheart... uang delapan puluh juta itu bukan apa-apa buat aku. Itu cuma pecahan kecil uang kembalian di dompetku."

Aurelia mengerjap bingung, manik matanya menatap tajam penuh tanda tanya. "Lalu... apa yang kamu mau dariku? Kalau bukan uang..."

Grayson menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di dekat telinga Aurelia. Jemari tangan pemuda itu terulur, menyelipkan beberapa helai rambut hitam panjang Aurelia ke belakang telinganya dengan sentuhan yang begitu posesif, seolah gadis itu adalah barang berharga miliknya yang paling suci.

"Aku tidak butuh uangmu, Aurelia," bisik Grayson rendah, penuh penekanan di setiap suku katanya. "Yang aku mau... adalah dirimu."

Tubuh Aurelia membeku seketika. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Mulai malam ini, detik ini juga, setelah operasi ayahmu selesai dan dia selamat..." lanjut Grayson dengan suara dingin yang mutlak dan tak terbantahkan, "...kamu resmi menjadi milikku seutuhnya. Pindahkan seluruh barang-barangmu ke rumah peristirahatan milik keluargamu di pinggir kota, atau langsung ke apartemen pribadiku. Kita akan tinggal bersama."

Deg!

Dunia Aurelia seolah berhenti berputar. Udara di koridor rumah sakit mendadak habis terserap ke dalam paru-parunya. Tinggal bersama? Menjadi miliknya seutuhnya?! Itu bukan sekadar bantuan kemanusiaan; itu adalah sebuah transaksi iblis. Grayson membeli nyawa ayahnya dengan harga kebebasan dan seluruh masa depan Aurelia.

"Nggak... nggak mungkin..." cicit Aurelia mundur selangkah dengan mata membelalak horor, air matanya kembali tumpah dengan deras. "Kamu gila, Grayson! Itu namanya pemerasan! Kamu nggak bisa jadikan nyawa Papa aku sebagai alat tawar untuk mengurung aku!"

Alih-alih marah mendengar penolakan itu, Grayson justru tersenyum semakin lebar. Seringai dingin seorang predator yang telah berhasil menjebak mangsanya ke dalam perangkap terdalam.

"Pemerasan? Silakan sebut apa saja yang kamu mau, Aurelia," balas Grayson tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan putus asa sang gadis. "Kamu punya dua pilihan sekarang: biarkan ayahmu mati di atas meja operasi karena tidak ada biaya, atau ambil tanganku, serahkan hidupmu padaku, dan saksikan ayahmu hidup sehat kembali esok hari."

Pilihan yang kejam. Pilihan tanpa celah. Grayson telah memperhitungkan semuanya dengan sangat cermat, meninggalkan Aurelia di atas jurang keputusasaan yang paling dalam.

Di kejauhan, pintu ruang operasi mendadak tertutup rapat. Lampu merah penanda operasi dimulai menyala terang di atas pintu. Di dalam sana, nyawa ayahnya sedang dipertaruhkan. Di luar sini, masa depan dan kebebasan Aurelia sedang direnggut oleh pemuda bermata amber yang berdiri di hadapannya bagaikan malaikat pencabut nyawa berbalut topeng pahlawan.

Aurelia menatap wajah Grayson yang tampan namun mengerikan itu. Kakinya lemas, dunia di sekelilingnya berputar hebat. Ia tahu, ia telah kalah telak. Tidak ada jalan keluar lain. Demi ayahnya, demi keselamatan keluarganya, ia harus merelakan dirinya sendiri untuk masuk ke dalam sangkar emas kegelapan yang telah disiapkan oleh sang pemuda psikopat.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya, Aurelia perlahan menutup matanya, menelan seluruh kepedihan dan harga dirinya yang hancur berkeping-keping, lalu mengangkat tangannya untuk membiarkan jari-jarinya digenggam oleh telapak tangan Grayson yang hangat—sebuah awal dari ikatan gelap yang selamanya akan mengubah jalan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!