NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Ancaman Puluhan Miliar dan Rencana Kabur yang Konyol

Bimo melangkah mundur satu tindak, matanya membelalak lebar mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Dewa. Udara malam di dalam kamar kontrakan terasa makin memikat ketegangan di antara mereka berdua.

"Ngancam?!" seru Bimo dengan suara tertahan, kerutan di dahinya makin dalam. "Ngancam gimana maksud lu, Wa? Dia tahu lu itu bukan gue, terus mau laporin ke polisi gara-gara penipuan?"

"Bukan, Bim! Justru dia sama sekali enggak tahu kalau gue ini cuma pengganti lu!" sahut Dewa cepat seraya mengibaskan tangannya di udara. "Dia ngancam bakal mutusin seluruh kerja sama bisnis Nugroho Group sama Wira Perkasa Group!"

Bimo tersentak, wajahnya yang tadinya memerah emosi mendadak pucat seketika. "M-maksud lu... tiga proyek manufaktur terbesar milik Papa?"

"Iya, persis!" tegas Dewa, matanya menatap Bimo lurus-lurus. "Dia bilang kalau detik itu juga gue nolak tanda tangan, besok pagi tim hukumnya langsung ngirimin surat pembatalan investasi sepihak. Denda penaltinya puluhan miliar, Bim! Dia bilang perusahaan bokap lu bakal langsung bangkrut dalam hitungan hari!"

Bimo terduduk lemas di atas kursi plastik tua dekat meja kompor. Kedua tangannya gemetar hebat membayangkan kehancuran finansial keluarga yang selama ini menopang hidupnya. Ia tahu betul betapa rapuhnya posisi keuangan Wira Perkasa Group jika Nugroho Group menarik seluruh dananya secara mendadak.

"Gila... Nadia bener-bener gila..." bisik Bimo parau, memegangi kepalanya yang mendadak pening parah. "Jadi... lu tanda tangan berkas kontrak itu demi nyelamatin bokap gue?"

Dewa mengangguk pelan, menghela napas panjang yang terasa sangat berat. "Ya menurut lu gimana? Gue enggak punya pilihan lain, Bim. Lu sahabat terbaik gue dari SMA, keluarga lu udah kaya keluarga gue sendiri. Masa gue tega ngeliat bokap lu serangan jantung gara-gara perusahaannya hancur? Gue terpaksa tanda tangan atas nama lu!"

Bimo meraup wajahnya kasar. Rasa marah yang tadi membakar dadanya kini menguap seluruhnya, berganti menjadi rasa panik yang merayap hingga ke tulang hitam.

"Amsyong... Lu niatnya nolongin gue, tapi ini malah bikin gue makin kelimpungan, Dewa!" keluh Bimo dengan nada frustrasi luar biasa. "Bokap sama Nyokap gue udah siapin semua berkas pernikahan! Besok pagi perancang busana sama pengurus katering mau datang ke rumah buat ukur baju gue! Berkas nikah di RT sama RW juga udah disiapin Papa malam ini juga!"

Dewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ikut meringis membayangkan situasi Bimo di rumah. "Waduh... Cepat amat pergerakan bokap lu. Terus sekarang gimana?"

"Ya mana gue tahu! Makanya gue kelimpungan gini!" jerit Bimo menatap langit-langit kontrakan dengan pandangan hampa. "Gue belum mau nikah, Wa! Umur gue baru berapa, gue masih mau menikmati hidup, masih mau main-main! Mana nikahnya sama CEO dingin yang tega ngancam mau ngebangkrutin orang lagi!"

Dewa bangkit dari kasur lipatnya, melangkah mendekati Bimo lalu menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu dengan gaya sok bijak.

"Tenang, Bim. Selalu ada jalan keluar buat orang sabar. Gimana kalau lu pakai rencana ekstrem?" celetuk Dewa dengan mata berbinar-binar.

Bimo menoleh pelan, menatap Dewa dengan penuh curiga. "Rencana ekstrem apaan? Jangan aneh-aneh ya lu."

"Gini, kan besok perancang busana mau datang ukur badan lu kan?" Dewa memajukan tubuhnya, berbisik misterius. "Lu pura-pura gila aja pas diukur bajunya! Lu acak-acak rambut, ngomong sendiri sama tembok, terus makan kain meteran perancang busananya. Pasti ortu lu kaget terus nunda nikahan!"

Bimo menatap Dewa datar selama tiga detik, lalu menepis tangan Dewa dari pundaknya kasar. "Otak lu geser ya, Wa?! Yang ada gue langsung diseret Papa ke rumah sakit jiwa, bukan ditunda nikahannya!"

"Elah, itu namanya pengorbanan, Bim!" kekeh Dewa. "Oke, kalau itu terlalu berisiko, gue punya ide yang kedua. Gimana kalau lu kabur aja malam ini juga?"

"Kabur kemana, Pinter?!" cecar Bimo makin gemas.

"Ke luar kota! Lu sembunyi di kampung di pelosok Jawa Tengah atau di Kalimantan ke, kan di sana enggak ada sinyal tuh, karena rumahnya dekat hutan. Lu tinggal di sana tiga bulan, ntar pas lu balik, pasti acara nikahannya udah batal gara-gara pengantin prianya hilang!" ceracau Dewa polos tanpa rasa bersalah.

Bimo menepuk jidatnya sendiri keras-keras hingga menimbulkan suara plak yang lumayan nyaring.

"Dewa... Lu pikir ini sinetron sore-sore apa pakai acara kabur ke hutan segala?!" omel Bimo dengan nada suara tinggi. "Kalau gue kabur, Nadia pasti langsung ngeksekusi ancamannya! Dia bakal anggap keluarga gue main-main, terus perusahaan Papa tetap bangkrut! Otak lu dipake dong, Wa!"

Dewa menyeringai canggung, menyadari kecacatan logika dari ide konyolnya sendiri. "Oh iya ya... Lupa gue kalau ada ancaman puluhan miliar itu. Hehehe."

"Malah ketawa lagi lu!" semprot Bimo panik. "Aduh, gimana ini... Gue bener-bener mati langkah, Wa! Mau nolak, perusahaan Papa hancur. Mau kabur, makin hancur. Tapi kalau gue ikutan nikah minggu depan... masa depan gue yang hancur!"

Dewa mendesah pasrah, menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja kayu kecil tempat kompor gasnya berada. Keheningan mendadak menyelimuti kontrakan sempit itu. Hanya suara derik jangkrik dari luar dan dengungan kipas angin tua di sudut ruangan yang terdengar bersahutan.

"Tapi jujur ya, Bim," buka Dewa sesudah hening beberapa saat. "Nadia itu pas ngomong soal nikah kontrak, dia bilang pernikahan ini cuma di atas kertas selama satu tahun. Habis itu kalian cerai baik-baik tanpa nuntut apa-apa. Kakeknya cuma butuh liat dia nikah gara-gara sering sakit-sakitan."

Bimo menatap Dewa dengan sorot mata tak percaya. "Tetap aja itu statusnya nikah resmi di mata hukum sama agama, Dewa! Masa gue harus jadi duda di umur muda cuma gara-gara sandiwara kakek-kakek sakit?!"

"Ya daripada bokap lu bangkrut terus masuk rumah sakit?" balas Dewa tajam, memberi sudut pandang realistis yang menohok dada Bimo.

Bimo mengusap mukanya dengan kedua telapak tangan, meratapi nasibnya yang mendadak menjadi begitu rumit dalam sekejap mata.

"Kenapa sih hidup gue harus sedramatis ini?" keluh Bimo parau. "Gue cuma minta lu datang ke kafe buat bikin dia ilfil... Kenapa ujung-ujungnya malah jadi lubang buaya begini?"

Dewa menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap sahabatnya yang tampak sangat menyedihkan itu. "Ya lu salah milih lawan, Bim. Cewek yang di jodohin sama bokap lu itu bukan cewek biasa, tapi CEO berdarah dingin. Rencana matang kita dari awal jadi amburadul begitu ketemu orang modelan kaya dia."

"Terus sekarang kita harus ngapain, Wa?" tanya Bimo lirih, menatap Dewa dengan pandangan penuh keputusasaan. "Besok pagi Papa pasti udah nanya-nanya berkas. Baju pengantin mau diukur. Gue bener-bener enggak tahu harus melangkah ke mana lagi."

Dewa menghembuskan napas berat, menggelengkan kepalanya perlahan. Keberanian dan rasa percaya diri yang biasanya selalu melingkupi dirinya kini menguap tak berbekas. Kebohongan yang mereka ciptakan telah berkembang menjadi gulungan bola salju yang terlalu besar untuk dihentikan begitu saja.

"Gue juga bingung, Bim..." aku Dewa jujur dengan suara pelan. "Gue udah terlanjur tanda tangan atas nama lu di atas materai. Kalau kita jujur sekarang, Nadia pasti murka dan langsung hancurin perusahaan bokap lu. Tapi kalau lu yang maju nikah minggu depan... lu yang enggak sanggup."

Kedua pemuda itu saling bertatapan dalam kebingungan yang teramat sangat. Di dalam ruangan kontrakan yang makin terasa menyempit itu, Bimo dan Dewa hanya bisa terpaku membisu, tak menemukan satu pun jalan keluar yang aman dari jaring tebal yang mengurung mereka.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!