NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Tamat
Popularitas:363.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESTA TEH

Dua hari berlalu dengan cepat, hari yang dinanti-nantikan oleh Aleta pun tiba, pesta teh yang diadakan oleh Lady Serra berlangsung di sebuah paviliun taman bergaya klasik yang dikelilingi oleh bunga-bunga musim semi bermekaran.

Suasana di tempat itu tampak elegan namun penuh dengan intrik terselubung.

Para nyonya dan Nona muda bangsawan berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling berbisik sambil menyeruput teh mereka.

Di salah satu sudut meja panjang, Serra duduk dengan dagu terangkat tinggi, mengenakan gaun berwarna ungu pastel berenda tebal yang mencolok.

Wajahnya dihiasi senyuman penuh kemenangan, sementara matanya tak lepas memandangi gerbang masuk paviliun.

"Tenang saja, Nona Serra, berdasarkan informasi yang saya dapat, wanita buangan itu pasti akan datang dan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan para bangsawan ibu kota," bisik salah satu teman sosialita Serra sambil terkikik geli.

Serra mendengus pelan, menyesap tehnya dengan anggun.

"Baguslah, aku sudah tidak sabar melihat bagaimana ekspresi wanita murahan itu saat sadar gaun dan perhiasannya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan milik kita," ucap Serra penuh percaya diri.

Tak berselang lama, suara langkah kaki yang tenang terdengar mendekati area paviliun.

Seluruh kepala bangsawan yang hadir mendadak mengalihkan perhatian secara bersamaan ke arah pintu masuk.

Deg

Mereka semua terpaku pada sosok yang baru saja melangkah masuk dengan anggun.

Aleta berdiri di ambang pintu paviliun dengan anggun.

Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna hijau zamrud berpotongan modern yang elegan.

Rambut panjangnya digelung setengah ke belakang dengan hiasan jepit mutiara sederhana namun berkelas, sementara wajahnya dipoles tipis yang justru menonjolkan kecantikan alaminya.

Tidak ada perhiasan berlebihan yang melekat di tubuhnya, namun aura percaya diri dan dingin yang menguar dari dirinya membuat siapa pun yang melihat langsung terpesona sekaligus ciut.

"Wah... siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya di lingkaran sosialita kita?" bisik seorang istri baron dengan mata melotot kagum.

"Jangan bilang, itu adalah istri Jendral Liam Volis?" ucap bangsawan lainnya dengan nada terkejut.

Serra yang duduk di kursi utama mendadak bangkit berdiri, cangkir teh di tangannya hampir tumpah karena rasa terkejut yang luar biasa.

Dia tidak menyangka wanita buangan yang selama ini diejeknya akan tampil begitu memukau dan berkelas.

Wajah Serra langsung memerah karena kesal, namun ia segera memasang senyuman meremehkan untuk menutupi rasa malunya.

"Oh, lihat siapa yang akhirnya datang membawa diri ke tempat terhormat ini," sindir Serra dengan suara nyaring, sengaja menarik perhatian seluruh orang di paviliun.

Serra melangkah mendekati Aleta dengan gaya angkuhnya, melirik dari ujung kaki hingga ujung kepala istri sang jendral.

"Kupikir kamu tidak punya keberanian untuk datang, mengingat asal-usul mu yang cuma anak buangan dari kerajaan musuh," ejek Serra terang-terangan di depan para tamu.

Aleta sama sekali tidak menunjukkan emosi marah sedikit pun, dia justru menyunggingkan senyuman miring yang begitu khas, menatap Serra seolah-olah ia sedang melihat seekor badut jalanan yang sedang melucu.

"Apa begini cara kelurga Duke menyambut tamu nya, tatakrama yang sangat buruk," ucap Aleta santai, suaranya terdengar jernih dan menusuk sampai ke tulang.

"Hati-hati, Nona Serra, teriak terlalu keras di pagi hari bisa membuat urat lehermu putus, kasihan kan make-up tebal itu jadi sia-sia," lanjut Aleta tersenyum mengejek.

Seketika beberapa nyonya bangsawan di sekitar mereka menahan tawa, menutup mulut nya menyembunyikan kekehan geli.

Sementara wajah Serra sudah berubah merah padam menahan malu dan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Lancang sekali mulutmu!" bentak Serra murka, kehilangan kendali di hadapan para tamu undangan.

"Jangan mentang-mentang kamu dinikahi oleh Jendral Liam, kamu bisa bersikap sombong di sini! Semua orang juga tahu kalau kamu itu cuma tumbal perdamaian yang tidak dicintai oleh suamimu sendiri!" maki Serra dengan napas memburu.

Aleta mendengus pelan, melangkah maju perlahan hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal saja.

Aura dingin dan senyuman psikopat tipis yang terukir di bibir Aleta seketika membuat bulu kuduk Serra merinding hebat.

"Tumbal katamu?" bisik Aleta tepat di dekat telinga Serra dengan nada rendah yang sangat mematikan.

"Setidaknya, suamiku lebih memilih memelukku setiap malam daripada harus melirik wanita murahan sepertimu," lanjut Aleta, sengaja memanas-manasi Serra.

Para tamu bangsawan di sekitar mulai berbisik-bisik riuh, menatap Serra dengan pandangan mengejek karena wanita sombong itu baru saja dipermalukan di kandangnya sendiri.

Aleta memutar bola matanya malas, lalu melambaikan tangan kecilnya seolah mengusir debu di udara.

"Permisi, Nona Serra, udara di sini mulai bau busuk karena bau iri hati yang terlalu pekat," ucap Aleta santai, lalu berjalan melewati Serra begitu saja menuju kursi kosong di dekat meja hidangan.

Serra mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga hiasan kuku palsunya patah dan hampir menancap ke kulit telapak tangannya sendiri.

Napas wanita muda itu memburu tidak beraturan, matanya melotot tajam menatap punggung Aleta yang berjalan santai menuju kursi kosong tanpa sedikit pun beban.

"Sialan... perempuan kampungan itu benar-benar cari mati!" desis Serra tertahan di balik gigi yang terkatup rapat, dengan wajah penuh kebencian.

Pelayan pribadi Serra yang melihat nyonya mudanya hampir meledak langsung buru-buru mendekat dengan langkah panik.

"Nona muda, sabar, tolong kendalikan emosi Anda, banyak mata bangsawan lain yang sedang memperhatikan kita sekarang," bisik pelayan itu ketakutan sambil menarik pelan lengan gaun Serra.

Serra menghempaskan tangan pelayannya dengan kasar, membuat sang pelayan terperanjat mundur.

"Diam kamu! Aku tidak peduli!" bentak Serra tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.

"Dia sudah mempermalukan aku di depan semua orang! Aku pastikan hari ini dia pulang dengan air mata darah!" lanjutnya dengan suara bergetar penuh amarah.

Di seberang meja, Aleta sama sekali tidak terusik oleh ancaman murahan itu, dia mendudukkan dirinya di salah satu kursi, lalu mengambil sebuah piring kecil dan memilih beberapa kue pastri stroberi yang tertata rapi.

"Hmm, kuenya lumayan enak juga, meskipun yang punya acara punya kepribadian mirip comberan," gumam Aleta pelan sambil mencicipi kuenya dengan santai.

Beberapa nyonya bangsawan yang duduk di dekat Aleta saling berpandangan sejenak sebelum seorang wanita paruh baya bergaun biru tua memberanikan diri untuk membuka suara.

"Ehem... Marchiones Volis, Anda benar-benar memiliki keberanian yang luar biasa," bisik wanita itu dengan nada kagum bercampur ngeri.

"Tidak banyak orang yang berani membalas perkataan Lady Serra separah itu di wilayah kekuasaannya sendiri," lanjut nya, pelan.

Aleta menoleh, menyunggingkan senyuman ramah namun tetap mempertahankan auranya yang berkelas.

1
kookie🐰
itu msih untung jendral, krna biasanya si aleta tdur brg sma julian/Facepalm//Facepalm/
kookie🐰
ini novel lanjutan kah? baru buka udah lngsung masuk di raga ini soalnya/Doubt/
kookie🐰
padahal sma² gila nya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
mana yg komen di atas ora iling blas mneh/Applaud/
kookie🐰
untung bukan org kita yg adat² kental mesti di saurii huss saru ora ilok kalo jawa kalo lainnya tau artinya gk bisa bilangnya/Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
kookie🐰
aturan di ancam "akan ku tingalkan dirimu" kalo di cekik mah blm apa² baru di deketin udah susah nafas sendiri/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
kookie🐰
wahhh ininih yg tangguh² dan badas fav bgt/Proud/
kookie🐰
mampirr ya thorr, saya masih suka yg ber bau² kuno gini/Determined/,, gasss smngt thorr/Rose/
mamayot
ijin promo kak. KU PANCING NALURI CEO TAMPAN YANG DINGIN
Osie
pasangan yg spektakuler luar biasa👍👍👍👍👍😍😍😍😍
Markinyo
dimana pasukannya? pasukan raja d biarkan masuk, jenderal d biarkan berperang sendiri..
Meike Halim
👍
Syalari sholeh
tapi td Jason sdh mati
Syalari sholeh
nah gitu
Syalari sholeh
krn gk kau penggal
Syalari sholeh
istri d bentak,d panggil jalang tp Liam gk bertindak
Syalari sholeh
lama x menggalnya td ngancam prajurit skrg gk jd menggal,gk tegas juga
Syalari sholeh
rumah gk da satpam kah?
Syalari sholeh
tapi td mangkuk strawbery sdh di bawa keluar sma aleta
Siti Solikah
wah pasangan yang sangat serasi
Siti Solikah
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!