Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PERANGKAP RAJAWALI
Udara malam di lantai dasar gedung logistik Pelabuhan Utara terasa pekat. Aroma karat besi, oli mesin yang menetes, dan asin laut yang menusuk hidung bercampur menjadi satu, menciptakan rasa sesak yang sulit dijelaskan.
Di bawah temaram lampu sorot darurat yang berkedip lemah setiap tiga detik, Chen berdiri di depan sebuah monitor jinjing tua. Kabel-kabel data berserakan di lantai semen seperti usus baja yang siap meledak. Suara kipas pendingin monitor itu berdengung keras, melawan kesunyian gudang yang sudah lama terbengkalai.
Jemarinya bergerak di atas papan tik. Cepat. Terlalu cepat untuk ukuran seorang bocah tujuh tahun.
Tak, tak, tak, tak!
Suara ketukan ritmis itu memecah keheningan. Baris demi baris kode hijau mengalir deras di layar hitam, memantulkan cahaya ke wajah pucat Chen yang penuh konsentrasi.
Di sudut ruangan, sekitar lima meter dari meja Chen, bayangan tubuh tinggi besar Shen Mo berdiri tegak. Pria itu mengawasi pintu masuk utama tanpa berkedip. Di tangan kanannya, pistol semiotomatis hitam legam tergenggam erat dengan pengaman yang sudah dilepas. Setiap tarikan napasnya memancarkan otoritas dingin yang membuat siapa pun berpikir dua kali untuk mendekat ke gudang ini.
"Sistem keamanan faksi konservatif menggunakan enkripsi lapis ganda dengan kunci dinamis," bisik Chen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Suaranya tenang, namun ada getar amarah yang ia tahan di dalamnya. "Mereka mengira ini aman. Tapi Vane terlalu meremehkan seseorang yang menghabiskan masa kecilnya membaca kode perbankan bawah tanah di dalam pelarian."
Shen Mo melirik sekilas ke arah bocah itu. Ada rasa kagum yang ia sembunyikan dalam-dalam, bercampur dengan rasa bersalah yang begitu besar hingga menyesakkan dadanya.
Selama tujuh tahun terakhir, ia sudah mencoba melindungi Chen dari jauh. Memberikan uang, memberikan tempat aman, memberikan bayangan perlindungan. Namun ternyata, bayangan itu tidak pernah cukup. Cengkeraman musuh-musuh internal organisasi tetap sampai kepada bocah ini.
Vane dan faksi konservatif melihat keberadaan Chen sebagai duri dalam daging—sebuah anomali jenius yang membahayakan stabilitas takhta mafia yang telah mereka bangun selama dua puluh tahun di Kota Yucheng.
Namun, alih-alih berlari ketakutan atau meminta untuk dipulangkan ke panti asuhan yang aman di pinggiran kota, Chen justru memilih bertahan di sisi Shen Mo malam ini. Bocah itu merancang serangan balik digital paling berbahaya dalam hidupnya, langsung dari sarang musuh.
"Jangan gegabah, Chen," suara Shen Mo terdengar berat. Ada getar tipis yang tidak bisa ia sembunyikan di ujung kalimatnya. "Vane bukan petarung jalanan. Dia adalah pengendali aliran dana logistik pelabuhan. Jika kau salah memasukkan satu baris kode saja, alarm otomatis di markas besar mereka akan berbunyi dalam waktu kurang dari tiga menit. Kita akan terkepung."
"Aku tidak pernah salah menghitung," balas Chen dingin. Matanya menyipit. Pantulan kode hijau di matanya terlihat seperti api kecil yang menyala. Ingatan fotografisnya bekerja seperti mesin pemindai super, merekam setiap celah keamanan server musuh yang pernah ia intip dari dokumen sandi milik Vane tiga hari lalu.
Bagi Chen, malam ini bukan lagi tentang rasa takut kehilangan nyawa. Rasa takut itu sudah mati bersama ibunya di malam berdarah tujuh tahun lalu.
Malam ini adalah tentang keadilan. Tentang membuka tabir rahasia siapa dalang di balik kematian ayah dan ibunya. Tentang membuktikan bahwa dirinya bukan lagi anak kecil lemah yang bisa dipermainkan oleh para petinggi sindikat berjas mahal.
Setiap ketukan jarinya di papan tik adalah deklarasi perang.
Tiba-tiba...
Bip! Bip! Bip!
Layar monitor berkedip dua kali dengan sangat cepat. Sebuah peringatan berwarna merah terang menyala di sudut kanan atas layar, menampilkan simbol tengkorak kecil yang berkedip-kedip—tanda bahwa sistem pertahanan utama Vane mendeteksi adanya intrusi dari luar.
Jantung siapa pun yang melihatnya pasti akan berdegup kencang dan panik. Namun, wajah Chen tetap datar. Bahkan, sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Mereka tahu kita masuk," ucap Chen pelan. Nadanya sarat akan kemenangan kecil yang mengerikan. "Tapi mereka terlambat sepuluh menit menyadari dari mana arah serangan ini datang. Firewall mereka sudah jebol sejak lima menit lalu."
Shen Mo langsung merapat ke sisi meja, postur tubuhnya menegang siaga penuh. Pistolnya terangkat setengah.
"Apa yang kaulakukan?"
Chen akhirnya mendongak. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap langsung ke dalam mata gelap Shen Mo. Ada kilatan kecerdasan yang menakutkan sekaligus menyedihkan di balik manik mata bocah tujuh tahun itu.
"Aku tidak hanya meretas sistem keamanan mereka, Shen Mo," kata Chen dengan suara yang sangat pelan namun jelas. "Aku baru saja mengalihkan seluruh dana operasional gelap Vane, sebesar 800 miliar, ke rekening investigasi independen milik Interpol. Dan dalam sepuluh detik ke depan..."
Chen menekan tombol ENTER dengan keras.
"...semua dokumen penggelapan, video penyelundupan, dan daftar nama pejabat yang disuap Vane selama tiga tahun terakhir akan terkirim otomatis ke seluruh ponsel para petinggi sindikat. Termasuk ke ponsel Dewan Tetua."
Seketika, suasana di dalam gudang mendadak senyap. Suara deru ombak laut di luar seolah lenyap. Hanya tersisa bunyi dengung monitor dan napas berat Shen Mo.
Shen Mo menatap layar. Aliran angka transaksi ilegal berpindah tangan secara masif: 100 miliar... 300 miliar... 800 miliar... terkirim.
Langkah brilian ini tidak hanya melumpuhkan finansial Vane. Langkah ini akan memicu perang saudara di tubuh faksi konservatif dalam sekejap mata. Vane akan diserang oleh anak buahnya sendiri sebelum sempat mengangkat senjata ke arah mereka. Ini adalah hukuman mati untuk Vane.
"Kau... kau gila..." bisik Shen Mo dengan kagum. "Dengan ini, Vane akan menjadi buronan di organisasinya sendiri."
"Dia harus merasakan bagaimana rasanya diburu seperti ibuku dulu," balas Chen dingin.
Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah suara ketukan sepatu bot terdengar menggema dari ujung lorong gelap di dalam gudang.
Tuk... Tuk... Tuk...
Ketukan itu terdengar teratur, lambat, dan penuh dengan keangkuhan yang disengaja, seolah-olah pemilik sepatu itu tidak takut sama sekali.
Shen Mo langsung mengangkat senjatanya, mengarahkannya lurus ke kegelapan lorong. Tangan kirinya dengan sigap menarik pundak Chen ke belakang tubuhnya, melindunginya dari arah tembakan potensial.
"Kau pikir kau bisa menghancurkan kerajaanku semudah itu, anak manis?" sebuah suara parau dan dingin memantul dari dinding-dinding beton yang berlumut.
Dari balik bayangan remang-remang, sesosok pria berbadan tegap dengan setelan jas mahal yang kotor oleh debu pelabuhan melangkah keluar.
Vane.
Wajahnya yang biasanya tampan dan licin kini dipenuhi amarah membara. Urat-urat lehernya menonjol keluar, matanya merah karena kurang tidur dan kebencian. Di belakangnya, tiga orang anak buah bersenjata lengkap mengikuti dengan langkah waspada, masing-masing membawa senapan serbu laras pendek yang diarahkan tepat ke arah kepala Shen Mo dan Chen.
Shen Mo mendengus pelan; senyum sinis tersungging di sudut bibirnya meskipun situasi sangat berbahaya.
"Kau sudah kalah, Vane. Lihat layarmu. Perintah transfer itu sudah keluar. Hartamu, kekuasaanmu, semuanya sudah lenyap. Kau sekarang hanya tikus got yang menunggu dibunuh oleh kawanmu sendiri."
Vane tertawa kecil. Suara tawanya sumbang dan mengerikan di tengah ruang yang luas itu. Ia menghentikan langkahnya tepat sepuluh meter dari posisi mereka.
"Kalian benar-benar naif jika berpikir permainan ini hanya tentang uang dan kode digital," kata Vane dengan nada mengejek. "Kalian bahkan tidak tahu siapa yang benar-benar memegang kendali di atas kami semua. Aku hanyalah pion kecil, Shen Mo."
Mendengar kata-kata itu, alis Chen berkerut dalam. Ada sesuatu yang janggal dalam nada bicara Vane—bukan keputusasaan dari seorang pecundang yang kehilangan 800 miliar, melainkan ketenangan mengerikan dari seseorang yang sengaja dijadikan umpan untuk memancing ikan yang lebih besar.
Pesan terakhir ibunya kembali berdengung di kepala Chen.
Jangan pernah percaya pada siapa pun di lingkaran ini, Chen. Termasuk bayangan yang berdiri di sampingmu.
Vane perlahan mengangkat tangan kanannya—bukan untuk meraih senjata, melainkan untuk menekan sebuah alat pemicu kecil berwarna merah di dalam saku jasnya.
"Bos besar kami tidak akan pernah membiarkan pengkhianat dan bocah sialan sepertimu merusak rencana besar ini. Ia sudah menunggu kalian masuk ke perangkap ini sejak hari pertama. Selamat datang di Perangkap Rajawali, Shen Mo."
"TENGKURAP!"
Bentakan Shen Mo membelah udara sepersekian detik lebih cepat dari gema suara Vane.
Pria itu menerjang ke depan dengan kecepatan yang luar biasa. Ia mendorong tubuh Chen hingga tersungkur jatuh ke balik tumpukan peti kemas besi yang tebal dan berkarat.
DUAR!
Tepat pada detik yang sama, suara dentuman ledakan yang memekakkan telinga meledak dari arah langit-langit gudang. Api besar menjilat atap, menghujani lantai dengan serpihan beton dan percikan api yang menyilaukan mata.
Asap pekat seketika mengepul, menutup pandangan dan menyebarkan bau sulfur yang menyesakkan dada. Alarm kebakaran meraung nyaring.
Di tengah kekacauan dan hujan puing tersebut, suara tawa Vane masih terdengar sayup-sayup menghilang di balik deru api yang mulai berkobar.
Chen terbatuk-batuk keras, meraba lantai yang bergetar hebat akibat runtuhnya struktur bangunan sebelah utara. Di sampingnya, Shen Mo bangkit dengan cepat. Darah segar mengalir di pelipisnya akibat tertimpa serpihan besi, namun pria itu tidak memedulikannya. Ia langsung menarik lengan Chen erat-erat.
"Kita harus keluar dari sini sekarang! Ini jebakan!"
Namun, saat mereka berlari menuju pintu darurat belakang yang masih tertutup api kecil, langkah Chen tiba-tiba terhenti kaku.
Matanya menangkap sebuah benda kecil yang terlempar dari saku jas Vane yang tertinggal di dekat reruntuhan. Benda itu berkilauan terkena pantulan api.
Sebuah lencana perak.
Chen memungutnya dengan tangan gemetar, lalu membersihkan debunya.
Ukiran di atas lencana itu adalah burung rajawali bersayap patah.
Simbol yang sama persis dengan yang ada di dalam dokumen rahasia milik ayahnya tujuh tahun lalu—simbol milik sosok misterius berinisial "X", dalang utama di balik kematian ayah dan ibunya.
Darah di tubuh Chen mendadak membeku.
"X..." bisik Chen dengan suara bergetar.
Di ujung lorong yang terbakar, sebelum Vane benar-benar menghilang di balik pintu besi, pria itu menoleh ke belakang. Ia menatap tepat ke arah Shen Mo yang sedang melindungi Chen.
Dan Vane berteriak dengan tawa kemenangan yang memekakkan telinga.
"KAU MENCARI X, CHEN? X SELAMA INI ADA DI SAMPINGMU! TANYAKAN PADA AYAH ANGKATMU ITU!"
DUAR!
Ledakan kedua yang jauh lebih besar kembali mengguncang seluruh fondasi pelabuhan, memutus sisa jalur pelarian mereka dalam kegelapan total.
Dan di dalam kegelapan itu, Chen perlahan-lahan menoleh. Menatap wajah Shen Mo yang berlumuran darah di sampingnya dengan tatapan yang sepenuhnya berubah.