Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Mobil berhenti tepat di depan gedung Instalasi Gawat Darurat. Belum sempat mesin benar-benar mati, Ara sudah membuka pintu lebih dulu.
"Ayo cepat!" Serunya.
Elang dan Alya langsung menyusul dari belakang. Mereka bertiga berlari memasuki rumah sakit yang masih cukup ramai meskipun malam telah larut. Langkah kaki mereka menggema di lantai keramik.
Ara langsung menuju meja resepsionis.
"Permisi!"
Seorang perawat yang sedang bertugas menoleh.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Pasien atas nama Theo Anderson." Ucap Ara cepat.
Perawat itu segera memeriksa data di komputer.
Beberapa detik kemudian ia mengangguk.
"Pasien baru saja selesai pemeriksaan awal."
"Di mana?" Tanya Ara.
Perawat menunjuk salah satu lorong.
"Ruang observasi nomor tujuh."
"Terima kasih." Ara bahkan tidak menunggu lebih lama. Ia langsung berjalan cepat mengikuti arah yang ditunjukkan. Elang dan Alya mengekor di belakangnya.
Semakin dekat ke ruang observasi, langkah Ara justru semakin cepat. Namun, di balik wajah tegasnya, dadanya sedang berdebar tidak karuan. Ia terus berusaha terlihat tenang. Tidak ingin Elang dan Alya ikut panik. Tetapi sebenarnya pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
'Bagaimana kalau Theo mengalami cedera serius? Bagaimana kalau kepalanya terbentur? Bagaimana kalau kakinya patah? Bagaimana kalau...' Ara langsung menghentikan pikirannya sendiri.
'Jangan berpikir macam-macam. Tidak akan terjadi apa-apa. Bocah itu keras kepala sekali. Pasti baik-baik saja.'
Namun, semakin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin kuat rasa cemas itu muncul. Tak lama kemudian mereka tiba di depan ruang observasi nomor tujuh.
Pintu putih itu tertutup rapat. Lampu di atasnya masih menyala. Ara mengembuskan napas panjang. Lalu mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Seseorang menahan pergelangan tangannya.
Ara langsung menoleh. Elang, pemuda itu berdiri di sampingnya. Wajahnya terlihat serius.
Kening Ara langsung berkerut.
"Ada apa?" Tanya Ara.
Elang tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser ke pintu di depan mereka. Lalu kembali pada Ara. Alya yang berdiri di belakang ikut menahan napas. Ia penasaran apa yang akan dikatakan kakaknya.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya Elang membuka mulut.
"Nanti..." Ucapnya pelan.
Ara menunggu, Elang menghela napas.
"Theo memang salah."
Ara mengernyit.
"Tapi..." Suara Elang semakin pelan. "Jangan marahi dia sekarang."
Keheningan langsung menyelimuti lorong rumah sakit.
Alya membelalak. Ia tidak menyangka Elang akan mengatakan itu. Ara sendiri terlihat sedikit terkejut. Elang jarang membela Theo secara terang-terangan. Apalagi meminta sesuatu pada Ara. Pemuda itu menundukkan pandangannya sesaat.
"Kita nggak tahu seberapa parah kondisinya." Lanjutnya.
"Kalau dia sadar nanti..." Elang terdiam sejenak. "Jangan marahi dia dulu."
Ara menatap Elang tanpa berkedip. Ia bisa melihat kecemasan di wajah pemuda itu. Kecemasan seorang kakak yang khawatir pada adiknya.
Beberapa saat kemudian ia menghela napas panjang.
"Elang..." Panggilnya pelan.
"Hm?"
"Aku datang ke sini bukan untuk marah." Suara Ara terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya.
"Aku cuma mau memastikan Theo baik-baik saja."
Untuk sesaat Elang terdiam. Entah kenapa dadanya terasa sedikit lega mendengar jawaban itu. Sementara Ara kembali menatap pintu ruang observasi. Tangannya perlahan meraih gagang pintu.
Pintu ruang observasi perlahan terbuka. Ara melangkah masuk lebih dulu. Diikuti Elang dan Alya dari belakang.
Namun, sebelum mereka sempat melihat kondisi Theo, suara tawa dua orang pemuda terdengar cukup keras dari dalam ruangan.
"Hahaha! Muka lo tadi lucu banget, Theo!"
"Untung cuma lecet, kalau nggak habis lo!" Tawa itu langsung terhenti begitu mereka melihat siapa yang baru masuk.
Ruangan mendadak sunyi. Ken yang sedang duduk di kursi langsung membeku. Almond yang sedang memegang minuman bahkan hampir menjatuhkan botolnya. Keduanya menatap Ara seperti melihat hantu.
"W-Wanita itu..." Gumam Ken.
keren banget sih alur ceritanya....
terharu sama ide2 menulis author ini... keren banget😍
ini othor nya juga rada Laen kalau bukan novel
kesel tapi ngangenin🤣🤣🤣
lagi ngapa Thor.
kok berasa dikit amet saking ketawa Mulu tiap paragraf 🤣🤣