"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Ballroom utama penuh sebelum sesi dimulai.
Beberapa orang masuk karena memang tertarik pada terapi gen. Beberapa masuk karena nama Dr. Sari Anggraini muncul lagi setelah bertahun-tahun. Sisanya masuk karena melihat keributan di lobi dan ingin tahu perempuan seperti apa yang membuat akses Clara Larasati berubah menjadi bahan bisik-bisik satu hotel.
Naira berdiri di balik panggung kecil.
Di tangannya ada remote presentasi. Di layar laptop, slide pertama hanya menampilkan satu judul.
Data Tidak Berbohong. Manusia Bisa.
Prof. Hadi berdiri di sampingnya. "Kamu bisa mulai dari bagian aman."
"Saya tahu."
"Kalau ada yang menyerang nama Sari..."
"Mereka akan menyerang."
Prof. Hadi menatapnya. "Kamu terdengar sangat siap."
"Saya tidak siap." Naira menatap layar. "Tapi saya sudah lelah menunggu siap."
Pemandu acara memanggil namanya.
Tepuk tangan terdengar.
Naira berjalan ke tengah panggung.
Lampu menyorotnya. Untuk sesaat, ia melihat wajah-wajah di depan seperti pecahan kaca. Dimas duduk di baris sponsor, wajahnya tegang. Clara berdiri di sisi belakang ruangan, tanpa ID presenter, tetapi masih berhasil masuk sebagai peserta umum setelah dipaksa mengganti kartu. Raka tidak duduk di depan. Ia berdiri dekat pintu samping, posisi yang membuatnya bisa melihat seluruh ruangan.
Naira menghadap audiens.
"Selamat pagi. Nama saya Naira Salsabila Atmadja."
Bisik-bisik kecil terdengar saat nama Atmadja disebut.
"Hari ini saya tidak datang untuk menjual keajaiban. Saya datang untuk menunjukkan data, batas data, dan alasan kenapa etika tidak boleh dipisahkan dari ambisi ilmiah."
Slide berganti.
Grafik respons sel target muncul.
Naira mulai menjelaskan dengan bahasa yang cukup ilmiah untuk para dokter, tetapi cukup jelas agar media tidak memotong sembarangan. Ia menunjukkan model koreksi genetik, kegagalan sampel, perbedaan respons, dan kenapa angka tinggi tidak boleh dipakai sebagai klaim klinis.
Sepuluh menit pertama, ruangan benar-benar diam.
Bukan diam karena bosan.
Diam karena mereka mengikuti.
Clara membenci itu.
Ia berdiri di dekat pintu belakang, menggenggam map Cakradinata di tasnya. Setelah dipermalukan di registrasi, ia hampir pulang. Tapi pria Cakradinata mengirim pesan.
Tetap di dalam. Tunggu bagian Sari.
Maka ia bertahan.
Di panggung, Naira membuka slide baru. Foto lama Dr. Sari muncul. Tidak ada filter, tidak ada efek dramatis. Hanya seorang perempuan berjas putih, berdiri di puskesmas sederhana, memegang map pasien.
"Sebelas tahun lalu, penelitian ini dipimpin oleh Dr. Sari Anggraini. Ia menemukan pola terapi yang menjanjikan untuk kelainan vaskular-genetik langka."
Suara Naira tetap stabil.
"Tiga minggu setelah ia mengajukan keberatan etik terhadap sponsor uji klinik, ia hilang. Nama baiknya dihancurkan dengan tuduhan manipulasi data dan penggelapan dana."
Ruangan bergerak.
Beberapa dokter senior menunduk.
Dimas menatap foto itu.
Ia pernah mendengar nama Sari dari mulut Bu Ratna sebagai hinaan. Perempuan skandal. Perempuan yang kabur. Ibu yang tidak jelas.
Sekarang foto itu berdiri di layar kongres nasional.
Dan Naira berdiri di bawahnya.
"Saya tidak akan meminta Anda percaya karena saya anaknya."
Kalimat itu membuat Dimas mengangkat wajah.
Clara juga.
Anaknya?
Beberapa orang berbisik lebih keras.
Naira tidak menunggu ruangan tenang. "Ya. Dr. Sari Anggraini adalah ibu kandung saya."
Kali ini suara ruangan benar-benar pecah.
Pemandu acara tampak panik, tetapi Prof. Hadi memberi isyarat agar tidak memotong.
Naira melanjutkan.
"Karena itu, saya punya konflik kepentingan emosional. Saya tidak akan menyembunyikannya. Justru karena itu, semua dokumen yang saya tampilkan hari ini akan melewati komite independen, BPOM, dan jalur hukum yang berlaku."
Slide berganti.
Surat keberatan etik Sari muncul dengan beberapa bagian disamarkan.
"Ini bukan pembelaan anak kepada ibunya. Ini permintaan seorang dokter agar arsip yang dikubur dibaca ulang."
Seorang pria dari barisan sponsor berdiri. "Dr. Naira, apakah Anda menuduh sponsor lama melakukan pelanggaran?"
Naira menatapnya. "Saya menunjukkan dokumen keberatan etik."
"Tapi Anda menyebut sponsor."
"Saya belum menyebut nama sponsor di panggung ini."
Pria itu terdiam.
Naira menambahkan, "Kalau Anda merasa disebut, mungkin ada alasan."
Tawa tertahan muncul di beberapa sudut, tetapi cepat padam.
Clara melihat peluang. Ia mengangkat tangan.
Pemandu acara ragu, tetapi Naira menatapnya. "Silakan."
Clara berdiri. Suaranya dibuat cukup bergetar.
"Dr. Naira, saya menghormati perjuangan Anda. Tapi bukankah ada kemungkinan Anda terlalu emosional? Anda melanjutkan riset ibu Anda, membuka nama beliau, dan sekarang meminta semua orang percaya bahwa tuduhan lama salah. Bagaimana kami tahu Anda tidak hanya mengambil karya Dr. Sari lalu membungkusnya dengan nama Anda sendiri?"
Ruangan menahan napas.
Dimas langsung menoleh kepada Clara.
Raka bergerak setengah langkah dari pintu.
Naira tetap diam beberapa detik.
Lalu ia berkata, "Pertanyaan bagus."
Clara tidak menyangka itu.
Naira menekan remote. Slide berikutnya menampilkan tabel kontribusi penelitian. Kolom pertama: Dr. Sari Anggraini. Kolom kedua: Tim asli. Kolom ketiga: Replikasi dan koreksi ulang oleh Naira Salsabila Atmadja. Kolom keempat: bagian yang belum boleh diklaim.
"Inilah bedanya mencuri dan melanjutkan. Saya tidak menghapus nama ibu saya. Saya juga tidak menaruh nama saya di bagian yang bukan pekerjaan saya."
Ia menatap Clara.
"Kalau seseorang terbiasa memakai undangan, akses, atau karya orang lain, mungkin sulit memahami perbedaannya."
Beberapa orang langsung menoleh kepada Clara.
Wajah Clara memerah.
Naira tidak berhenti.
"Semua raw data, termasuk kegagalan, akan tersedia untuk panel independen. Kalau ada satu bagian yang tidak bisa diverifikasi, bagian itu tidak akan dipakai. Saya tidak butuh legenda. Saya butuh kebenaran."
Tepuk tangan pertama datang dari Prof. Hadi.
Lalu Arman.
Lalu dokter lain.
Dalam beberapa detik, seluruh ruangan bertepuk tangan.
Clara duduk perlahan, wajahnya putih.
Dimas tidak bertepuk tangan lebih dulu. Ia hanya menatap Naira, seperti seseorang yang baru memahami bahwa selama ini ia bukan menikahi perempuan biasa yang menyembunyikan diri.
Ia menikahi perempuan yang menurunkan dirinya sendiri agar rumahnya tidak runtuh.
Dan ia tetap membiarkan rumah itu menginjaknya.
Setelah sesi berakhir, wartawan medis berebut bertanya.
"Dr. Naira, apakah Anda akan menuntut pihak yang dulu merusak nama Dr. Sari?"
"Jika bukti cukup, iya."
"Apakah ini terkait perceraian Anda dengan Dimas Mahendra?"
Naira menatap wartawan itu.
"Ibu saya hilang sebelas tahun lalu. Pernikahan saya bukan pusat dunia."
Jawaban itu tersebar lebih cepat daripada slide ilmiahnya.
Di belakang ruangan, Clara membaca pesan dari Cakradinata.
Kamu gagal mematahkan dia.
Pesan kedua masuk.
Gunakan foto Aruna Timur. Mulai dari Dimas.
Clara menatap Dimas yang masih duduk di baris sponsor, wajahnya hancur oleh penyesalan.
Ia menggenggam tasnya.
Jika Dimas tidak bisa ditarik dengan cinta, mungkin ia bisa ditarik dengan rasa takut.
Di belakang panggung, Naira akhirnya duduk.
Tangannya baru terasa dingin setelah semua selesai. Saat bicara di depan orang, ia tidak sempat takut. Ketika ruangan kosong dari tepuk tangan, suara ibunya di ingatan datang lagi.
Naira kecil, kalau kamu benar, jangan takut data dibaca orang.
Ia menunduk.
Prof. Hadi masuk membawa dua gelas air.
"Kamu membuat setengah ruangan ingin meminta maaf kepada ibumu."
"Maaf tidak mengembalikan sebelas tahun."
"Tidak."
Prof. Hadi meletakkan gelas di sampingnya. "Tapi bisa membuka pintu yang dulu mereka tutup."
Naira memegang gelas itu, tetapi tidak minum.
"Clara akan bergerak lagi."
"Aku tahu."
"Dimas?"
Naira menatap pintu yang tertutup. "Dia mulai melihat. Tapi melihat bukan berarti paham."
Prof. Hadi tersenyum kecil. "Kamu keras."
"Saya hidup karena itu."
Di luar, Raka berdiri dekat pintu, mendengar kalimat terakhir tanpa masuk. Ia menunduk sebentar, lalu memberi isyarat kepada Hanif untuk menjauhkan media dari koridor.
Untuk sekali ini, ia menjaga tanpa perlu dilihat.
Di dalam ruangan kecil, Naira akhirnya minum seteguk air.
Tangannya sudah tidak sedingin tadi.
"Sesi berikutnya soal pendanaan," kata Prof. Hadi.
"Saya tahu."
"Mereka akan menyeret nama Raka dan Dimas."
Naira meletakkan gelas. "Biarkan. Saya sudah bosan menjadi lampiran dari nama laki-laki."
Prof. Hadi tersenyum. "Kalimat itu sebaiknya kamu simpan untuk panggung."
"Tidak. Di panggung saya pakai angka."