NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kursi Kosong di Ujung Meja

Rani menjahit dua gaun malam dalam tiga hari, dan Alya masih tidak mengerti bagaimana kakaknya melakukannya tanpa tidur. Gaun Alya berwarna biru malam, potongannya sederhana, lengannya panjang sampai pergelangan dengan satu garis bordir perak tipis di ujungnya, motif dua bunga yang saling melilit, versi kecil dari yang akan menghiasi gaun pernikahannya. Gaun Rani identik, hanya bordirnya emas. Sarah, yang tidak punya baju pesta selain jas dokter dan kemeja lusuh, akhirnya dipinjami blazer hitam milik Raze yang digulung di lengan, dan dia mengenakannya dengan wajah seorang pasien yang menyerah pada nasib.

"Berdiri tegak," Rani memerintah, menepuk bahu Alya untuk terakhir kalinya di depan cermin. "Dan jangan senyum kalau nggak lucu. Orang kaya suka mengira senyum itu tanda setuju."

"Kamu juga jangan ngomong kalau nggak ditanya," Alya membalas.

"Aku?" Rani mengerjap, pura-pura tersinggung. "Aku selalu diplomatis."

"Kamu pernah bilang ke Raze dia tidur kayak orang dikubur," Sarah menyahut dari sofa, tanpa menoleh.

Raze menunggu di ruang tamu dengan jas hitam dan dasi gelap, wajahnya sudah sepenuhnya terkunci dalam versi dr. Raze Aldevar yang dikenal seisi rumah sakit. Tapi begitu Alya melangkah keluar dari kamar, topeng itu retak sedikit di sudut mata. Dia berdiri, mendekat tanpa suara, dan sebelum Alya sempat bicara, dia sudah meraih tangan kirinya, memeriksa cincin di jari manisnya seperti dokter memeriksa luka.

"Masih di tempatnya," katanya rendah.

"Kamu nanya tiap lima menit."

"Aku akan bertanya tiap lima menit sampai kita pulang." Dia menyelipkan jari ke bawah dagunya, mengangkat wajahnya sedikit. "Di meja itu, tanganku akan di tanganmu. Kau tidak melepaskannya, tidak untuk mengambil gelas, tidak untuk apa pun. Kalau aku menekan dua kali, kau diam. Kalau tiga kali, kita pergi."

"Raze—"

"Jangan bantah aku malam ini." Suaranya turun, nyaris bisikan. "Apa pun yang kau lakukan di sana, lakukan dengan aku di sampingmu."

Alya menatapnya, lalu berjinjit dan mengecup sudut bibirnya, singkat dan hangat, tepat di depan tiga perempuan lain yang langsung sibuk memandangi langit-langit. "Dua kali diam, tiga kali pergi," katanya. "Paham, Dokter."

Rumah itu berdiri di punggung bukit di pinggir kota, bangunan kolonial berpagar tinggi dengan taman yang terlalu terawat untuk terasa hidup. Dari beranda depan, Alya bisa melihat lampu kota menyebar di bawah seperti pecahan kaca. Surya menyambut mereka di pintu dengan jas abu-abu dan senyum yang masih sama, sopan, hampir ramah, dan membimbing mereka melewati lorong panjang berlantai marmer yang menggemakan setiap langkah. Damar mengikuti di belakang. Ketika mereka sampai di ruang makan, Surya sendiri yang mempersilakan Damar duduk di meja kecil dekat pintu, persis seperti yang sudah mereka rencanakan, seolah ada yang sudah mengirim denah aturan itu lebih dulu.

Di sepanjang lorong itu, Alya menghitung langkahnya tanpa sadar, seperti dulu dia menghitung detik bel pasien. Dua puluh tujuh langkah dari pintu depan sampai ruang makan. Telapak tangan Raze bertengger hangat di punggung bawahnya sepanjang jalan, tidak menekan, hanya ada, seolah dia sedang menandai wilayah kecil yang tidak boleh disentuh siapa pun malam ini. Di belakang mereka, Rani berbisik, "Aku nggak suka rumah yang nggak ada bau masakannya," dan tidak ada yang menyuruhnya diam.

Meja makan itu bundar, besar, ditutupi taplak putih, dengan lilin-lilin tinggi dan sembilan kursi. Di salah satu kursi, di sisi yang menghadap pintu, duduk seorang wanita tua dengan rambut putih yang digelung rendah dan gaun hitam sederhana yang terlihat lebih mahal daripada seluruh isi rumah Alya di kampung.

"Selamat datang, anak-anakku," katanya, suaranya pelan, hangat, nyaris keibuan. "Saya Ratri. Duduklah. Makanannya akan dingin kalau dibiarkan menunggu."

Mereka duduk dengan urutan yang sudah ditentukan. Raze di samping Alya, Rani di sisi lainnya, Sarah dan Hartono berseberangan, satu kursi kosong di ujung meja yang sengaja dibiarkan tidak dihiasi apa pun. Surya menuang air putih ke setiap gelas di depan mata mereka, satu per satu, dengan gerakan yang terlalu rapi untuk tidak disengaja. Alya memperhatikan itu, lalu memperhatikan sesuatu yang lain: tangan kanan Nyonya Ratri yang terselip di bawah serbet di pangkuannya, dan sedikit getaran halus di ujung jari tangan kirinya ketika dia mengangkat sendok. Getaran yang hanya akan dikenali oleh seseorang yang sudah menghabiskan bertahun-tahun merawat pasien di bangsal saraf.

"Ibu minum obat sebelum makan?" Alya bertanya pelan, dan seluruh meja menoleh.

Nyonya Ratri berhenti, lalu tertawa, tawa kecil yang tulus. "Kau suster," katanya. "Tentu saja. Ya, Nak, saya minum obat tiga kali sehari. Tanganku sudah tidak sehebat dulu. Tidak banyak orang yang berani menyebutnya di meja ini."

"Maaf, saya refleks."

"Jangan minta maaf. Itu kebiasaan baik." Dia menatap Alya lama, dan sesuatu di matanya yang kelabu dan jernih membuat tengkuk Alya dingin. "Kau mirip ibumu."

"Ibu saya?"

"Kau mirip salah satu dari mereka yang pernah saya lihat sekilas, dulu sekali," Nyonya Ratri menjawab, lembut, menghindari pertanyaan itu dengan cara yang sangat halus. "Mari makan."

Hidangan pembuka datang dengan keheningan yang tidak nyaman. Sarah memecahnya lebih dulu dengan menanyakan asal-usul garam di sup, dan Hartono, yang duduk kaku dengan serbet terlipat di lutut, menjawab pertanyaan itu terlalu cepat, seperti orang yang bersyukur ada yang bisa dibicarakan. Rani menahan diri selama sepuluh menit penuh. Pada menit kesebelas, dia meletakkan sendoknya.

"Bu," katanya, jernih, tanpa basa-basi. "Gelang bayi itu. Ibu simpan dua puluh tahun. Buat apa?"

Surya menegang di belakang kursi tuannya. Nyonya Ratri justru tersenyum, seolah menunggu pertanyaan itu sejak tadi.

"Barang yang hilang yang dikembalikan pada pemiliknya," katanya, "adalah cara paling sopan untuk memulai perundingan. Dan perundingan lebih mudah kalau yang diajak bicara sudah merasa dihormati."

"Dihormati," Rani mengulang datar. "Kalian simpan gelangnya rapi banget, tapi kayaknya nggak ada yang pernah nyimpen satu kartu ucapan maaf."

Meja itu terdiam. Di bawah taplak, Raze menekan tangan Alya dua kali, pelan, isyarat tenang. Alya menekan balik, dan melihat sudut bibir Hartono berkedut menahan sesuatu yang bukan senyum.

"Kau berani," Nyonya Ratri berkata akhirnya, dan nada suaranya tidak marah, hanya mencatat. "Ayahmu, siapa pun dia, pasti seorang pria yang pandai mengajarkan keberanian."

"Ayah saya penjahit kapal dan nelayan," Rani menjawab. "Dua-duanya orang yang ngajarin saya nggak boleh nunduk sama orang yang nggak ngasih makan."

Hidangan utama belum disentuh ketika Nyonya Ratri akhirnya meletakkan sendoknya dan menatap Raze dengan seluruh perhatiannya.

"Dokter Aldevar," katanya. "Kursi di ujung meja itu kosong sejak lima tahun lalu. Kursi ayah angkatmu."

Alya merasakan tubuh Raze tidak bergerak sama sekali.

"Dewan butuh delapan kursi terisi," Nyonya Ratri melanjutkan, nadanya tenang, seperti membahas jadwal arisan. "Baskara adalah salah satu yang paling setia. Dia memang membuat kesalahan, kesalahan yang saya akui terlalu besar, tapi dia adalah orang yang selalu menjaga garis keluarga ini. Saya ingin kamu duduk di sana. Kamu sudah memiliki sepuluh perusahaan yang berjalan lebih baik dari yang pernah dia bangun. Kamu pantas."

"Dan syaratnya?" Raze bertanya, datar.

"Tidak banyak. Serahkan salinan asli daftar pasien itu. Minta Dokter Sarah menandatangani surat bahwa semua yang ia ketahui hanyalah kesalahan ingatan seorang wanita muda yang dulu stres. Dan lupakan malam kecelakaan itu." Dia menatap Rani, lalu Alya, dengan kehangatan yang nyaris sempurna. "Sebagai gantinya, tidak seorang pun dari keluarga ini, tidak istri Anda, tidak kakaknya, tidak anak muda bernama Dimas yang sangat polos, akan pernah merasa takut lagi. Saya menjamin itu dengan seluruh nama saya."

Di seberang meja, Hartono meletakkan gelasnya dengan bunyi yang terlalu keras. Wajahnya memucat sampai bibirnya hampir sewarna taplak. "Dewan tidak pernah menyebut nama anak-anak," katanya pelan, lebih kepada piringnya sendiri, "kecuali untuk satu alasan." Sarah, tanpa menoleh, menyentuh punggung tangannya di atas meja, sebentar, cukup untuk membuat napasnya kembali, dan Alya mengerti bahwa itulah arti sebenarnya dari tawaran tadi: bukan janji perlindungan, tapi daftar siapa saja yang bisa disentuh jika Raze menolak.

Di bawah taplak, tangan Raze menegang. Satu tekanan. Dua. Alya menekan balik, dan kali ini dia melakukan hal lain: dia menggerakkan jempolnya perlahan mengusap punggung tangan itu, lagi dan lagi, sampai ketegangannya sedikit mengendur.

"Saya tidak mewarisi kursi orang yang membunuh keluarga istri saya," kata Raze akhirnya, suaranya rendah dan sangat jelas.

"Itu bukan pembunuhan, Nak," Nyonya Ratri menjawab lembut. "Itu salah paham dengan korban yang tidak diinginkan."

"Salah paham," Alya mengulang, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, tenang dan sangat dingin, suara yang belum pernah dia dengar dari dirinya. "Salah paham yang bikin Bapak saya tutup mulut. Salah paham yang bikin dua anak dipisah dua puluh tahun. Salah paham yang bikin ibu saya nyanyiin lagu nina bobok sendirian di kamar yang cuma ada satu bantal kecil."

Hening. Lilin berkedip. Nyonya Ratri menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya, senyum keibuan itu goyah.

"Kau memang mirip mereka," bisiknya.

Sarah mengelap sudut bibirnya dengan serbet, melipatnya rapi di sisi piring, lalu berbicara untuk pertama kalinya sejak hidangan utama, tanpa meninggikan suara sedikit pun. "Saya tidak akan menandatangani apa pun, Bu," katanya. "Saya sudah sepuluh tahun hidup tanpa nama. Kertas itu tidak bisa membeli apa pun yang belum saya miliki."

"Setiap orang punya harga, Dokter," Nyonya Ratri menjawab ramah.

"Mungkin," Sarah membalas, setengah tersenyum. "Tapi harga saya sudah dibayar orang lain di gunung. Dia tidak sempat sampai ke atas."

Untuk pertama kalinya, tidak ada yang punya jawaban di sisi meja itu.

Malam itu berakhir dengan sopan seperti dimulai. Nyonya Ratri mengangkat tangannya yang gemetar, dan Surya langsung maju membantunya berdiri.

"Saya beri kalian waktu sampai purnama bulan depan," katanya, tenang. "Tidak ada yang akan menyentuh kalian sebelum itu. Itu janji saya. Pikirkan baik-baik, Dokter. Kursi itu tidak akan menunggu selamanya."

Raze berdiri, menarik kursi Alya, menggenggam tangannya erat. Mereka sudah hampir sampai di pintu ketika suara tua itu memanggil lagi dari belakang, sangat pelan, sangat jelas.

"Dokter. Sebelum Anda menjawab, bacalah surat yang dibawa istri Anda dari kampung. Pria yang menulisnya tahu betul siapa yang akan membacanya."

Raze berhenti. Seluruh tubuhnya berhenti. Alya merasakan genggaman di tangannya mengeras sampai nyeri, satu tekanan, dua, tiga.

Tiga kali. Kita pergi.

Tidak ada seorang pun di luar keluarga mereka yang tahu soal amplop itu. Tidak Hartono. Tidak Sarah. Alya bahkan belum menceritakannya pada Wulan. Dari sudut matanya, dia melihat Raze menoleh sepersekian detik ke arah pintu tempat Damar berdiri, lalu cepat-cepat memalingkan wajah, seolah menghukum dirinya sendiri karena sempat berpikir.

Di dalam mobil, di jalan menuruni bukit yang gelap, tidak ada yang bicara sampai lampu kota kembali menyala di kejauhan. Rani, Sarah, dan Hartono yang menumpang di mobil kedua, sudah jauh di belakang. Raze menyetir dengan satu tangan, buku-buku jarinya yang lain memutih di setir. Alya menyentuh lengannya dengan ujung jari.

"Berhenti," katanya. "Minggir. Sekarang."

Raze menepikan mobil di bahu jalan tanpa membantah. Alya melepas sabuk pengamannya, berpindah ke pangkuannya begitu saja, kedua tangannya menangkup wajahnya, dan dia melihat seorang pria yang sudah menahan napas selama tiga jam.

"Kamu hebat," bisiknya. "Kamu nggak ngangguk, nggak nolak, nggak ngancem. Kamu cuma bilang yang bener."

"Aku hampir berdiri dan menghancurkan meja itu."

"Aku tahu. Aku merasakannya di tanganmu." Dia mencium keningnya, lama, lalu pelipisnya, lalu pipinya yang dingin. "Tapi kamu tetap duduk. Itu kekuatan."

Raze memejamkan mata, melingkarkan kedua lengannya di punggung Alya, wajahnya terbenam di bahunya, dan suaranya yang keluar dari sana nyaris tidak terdengar. "Siapa yang memberi tahu mereka, Alya?"

Alya tidak menjawab. Dia hanya menarik kepalanya lebih dekat, mengusap tengkuknya perlahan, sementara di luar kaca mobil, jalan menurun itu terus gelap dan diam, menyimpan pertanyaan yang belum seorang pun berani menyebut namanya.

Di lantai dua puluh dua, menjelang fajar, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang nyaris tidak terbaca.

Kursi Baskara. Aku disuruh memilih antara menjadi bagian dari mesin yang menghancurkan hidup Alya, atau melawan mesin itu dengan tangan yang masih terikat pada namanya. Aku tidak akan memilih malam ini. Tapi aku tahu pilihanku tidak akan sama kalau aku sendirian.

Surat itu hanya diketahui sedikit orang: Alya, ibunya, Mbak Wati, sopir yang menjemput mereka, dan aku. Seseorang di lingkaran kami berbicara. Aku menolak menyebut namanya, bahkan di halaman ini. Mungkin karena aku sudah mengenal rasa dikhianati terlalu baik untuk ingin mempercayainya lagi, dan mungkin karena aku takut, ketika akhirnya kutemukan siapa orangnya, aku akan kehilangan lebih dari sekadar rasa percaya.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!