Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Undangan
Seluruh kantor cabang hari ini mendapatkan undangan dari pemilik perusahaan. Undangan pernikahan yang cukup mewah itu menjadi pembicaraan dalam seisi kantor.
Dalam undangan itu tertulis kalau Tuan muda putra sang pemilik kantor cabang ini akan menikah dalam waktu yang dekat. Untuk pengantin wanitanya masih menjadi pertanyaan karena dalam undangan tersebut tidak ditulis secara lengkap nama kedua mempelai melainkan hanya ditulis dengan inisial, R & M.
"Bikin penasaran juga gak sih, Siapa calon istri Tuan Rayyan.. Ya, Karena kan dia gak pernah terdengar dekat sama cewek, Gak pernah kena sksndal juga.. Eh, Ini malah udah mau nikah aja.." Ucap salah satu karyawan, Rayyan memang tidak pernah terdengar dekat dengan wanita sekalinya dekat langsung menikah.
"Tuan Rayyan itu yang dulu pernah kesini itu kan? Yang ganteng..
"Ya, Jelas ganteng lah.. Papanya aja ganteng banget. Padahal usianya udah gak muda lagi.. Gak tau kalau Mamanya..
"Lah, Emang Mamanya gak pernah ke spil gitu..
"Mamanya pakai cadar.. Kan cucunya Kiyai.. Tapi jelas cantik lah, Orang adek kembarnya itu cantiknya Masha Allah..." Pujian demi pujian pun terlontar. Lagipula siapa yang tidak kenal keluarga Pangestu.
Papa Damian dan Mama Adiba saja sudah mereka kenal sejak lama. Asal usul keduanya orang-orang juga tahu bahwa seorang pendosa seperti Papa Damian bisa mendapatkan wanita yang sholeha spek bidadari seperti Mama Adiba..
Semua memang sudah takdir bukan?
"Kalau orangtuanya cantik dan ganteng pastilah anak-anaknya nurun kan?
"Hooh bener..."
Obrolah mereka berhenti setelah seseorang datang bergabung dengan mereka yang tengah makan dikantin. Orang itu adalah Tania, Dia baru saja datang.
"Eh, Tania dari mana?
"Iya.. Anak-anak yang lain udah pada makan siang kan, Kamu dari mana?"
"Pakek tanya, Jelas makan siang dong sama pak manager.." Tania tersenyum malu. Hubungan Tania dan Raski semua orang sudah tahu. Sebelum bekerja dikantor keduanya sudah saling mengenal satu sama lain.
Tania sendiri pindah kerja karena Raski. Maka dari itu, Jabatan Raski lebih tinggi dari Tania yang masih terbilang karyawan biasa sementara Raski sudah menduduki kursi manager.
"Iya.. Sekalian nih, Aku sama Mas Raski ambil undangan.." Tania mengambil beberapa undangan dari dalam tasnya lalu menyerahkan pada tiga teman wanitanya itu.
"Kalian udah mau nikah? Gak usah tunangan berarti ya?" Tania tersenyum...
"Ngapain juga tunangan kalau kita udah saling cocok.. Datang ya.." Hubungan Raski dan Marwa memang tidak tersorot oleh teman-teman kantor karena memang sengaja disembunyikan. Jelas saja mereka lebih mengenal hubungan Raski dan Tania yang terjalin sebagai sepasang kekasih.
"Eh, Lihat deh.. Kok tanggal pernikahannya barengan sama Tuan Rayyan sih?" Salah satu dari mereka melihat lebih dulu isi undangan milik Tania.
"Hah? Serius?" Mereka mulai melihat tanggal, Hari, Bulan dan tahunnya.
"Iya ih.. Tania, Hari pernikahan kamu barengan sama nikahan Tuan Rayyan.." Dahi Tania mengkerut..
"Pernikahan Tuan Rayyan? Putra pemilik kantor ya?
"Iya.. Gimana dong..
"Masa sih?" Tania kembali merebut undangan dari Rayyan itu lalu melihatnya. Melihat undangan itu, Tania langsung merasa insecure. Jelas karena memang kalah. Undangan dari Rayyan adalah undangan mewah premium yang satuannya mencapai dengan harga yang cukup mahal.
Tania melihat undangan itu. Dia belum mendapatkannya karena saat jam istirahat ia langsung pergi bersama Raski. Sementara yang lainnya sudah mendapatkannya.
"Iya.. Kok bisa samaan ya?
"Yah, Kamu dan pak Raski gak jadi ikut dong datang kepernikahan Tuan Rayyan. Padahal pasti mewah banget dan pastinya seru.." Tania meletakkan undangan dari Rayyan diatas meja.
"Emang kalian gak mau datang ke pernikahan aku sama Mas Raski? Tuan Rayyan jauh.. Kalian kalau datang kepernikahannya pasti harus keluarga biaya banyak kan? Mending datang kepernikahan aku aja.. Orang sama-sama mewah kok.." Tiga wanita itu hanya saling pandang satu sama lain.
"Okey.. Kita pasti datang kok.." Tania tersenyum senang..
"Aku tunggu ya.." Tania pun pergi dari sana dan mulai menyebarkan undangan kepada yang lainnya.
"Ih, Kok bilang kita mau datang sih? Mending kita datang kepernikahan Tuan Rayyan.. Jalan-jalan ke ibu kota, Semuanya udah ditanggung sama Tuan rumah. Sekalian liburan. ." Gerutu salah satu dari mereka.
"Ya biar dia senang lah.. Lagian siapa juga yang mau datang.. Mending kita datang kepernikahan Tuan Rayyan.. Sekalian jalan-jalan makan sama tidur udah ditanggung kan?
"Hm, Betul.. "
Tiga karyawan itu terus membicarakan Tania. Karena sebenarnya Tania memang kurang disukai. Wanita itu selalu saja pamer atas hubungannya dengan Raski. Dan itulah yang membuat dari mereka malas.
Tania sendiri tidak menyadari atas sikapnya itu. Ia merasa kalau dirinya paling hebat daripada yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa? Kok dilihat mulu itu undangan?" Raski meletakkan undangan mewah dari Rayyan itu diatas meja ruang tamu rumah Tania. Karena posisinya saat ini pria itu berada rumah tersebut karena sedang mengantarkan Tania pulang.
"Makanya jangan terlalu cepet ngatur tanggal.. Gini kan? Hari pernikahan kita barengan.." Ucap Raski dengan kesal. Disaat yang lainnya datang dan bersenang-senang di ibu kota, Raski dan Tania tidak bisa ikut.
"Terus kenapa kalau hari pernikahan kita barengan? Lagian juga anak-anak kantor gak bakal ada yang datang ke pernikahan si Tuan muda itu...Jauh, Ada di ibu kota.. Pasti mereka bakal datang kepernikahan kita.. " Tania begitu yakin sekali kalau para karyawan kantor akan lebih memilih untuk datang kepernikahannya.
"Dulu aku juga ikut pergi ke pernikahan Adik Tuan Rayyan.. Kita semua di biayain kesananya.. Ya, Pasti mereka bakal di biayain juga nanti.." Tania memutar bola matanya malas.
"Emang mereka sekaya apa sih Mas bisa ngebiayain orang segitu banyaknya.. Palingan juga pestanya dirayakan hotel biasa.. Rugi Mas rugi...!" Tania terus ngeyel. Bahkan wanita itu meremehkan kekayaan keluarga Pangestu..
"Sebelum kamu kerja di kantor aku udah lebih dulu kerja.. Jadi aku tahu. Kita lihat aja, Apakah mereka akan datang atau enggak.." Sepasang kekasih yang selalu manis diawal itu terus saja berdebat tentang pernikahan mereka yang bersamaan dengan hari pernikahan sang pemilik kantor.
Tidak tahu saja Tania, Melihat dari undangannya saja dia sudah kalah. Ini malah menganggap kalau Rayyan tidak kaya.
"Kamu mau kemana?
"Mau pulang. Capek aku.." Raski beranjak dan pamit untuk pulang. Sepertinya pria itu sudah merasa muak dan kesal sekali.
"Nyebelin banget sih...
"Ada apa? Dari tadi didengerin kok malah ribut.." Dartik muncul usai Raski pulang. Tania pun mulai bercerita tentang hari pernikahannya yang ternyata sama dengan hari pernikahan Rayyan.
"Hallah.. Sekaya-kayanya orang gak bakal nge biayain orang segitu banyaknya.. Palingan juga lebih mewah pernikahan kamu.. Rata-rata orang kaya itu pelit.. Gak mau keluar biaya.." Kata Dartik yakin. Dan Tania pun membenarkan ucapan ibunya.
Tidak tahu saja dia, Kalau undangan yang diterima itu adalah undangan pernikahan keponakannnya yang dia sia-siakan...
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,