Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak diakui
Suara deru mesin mobil yang berhenti kasar di garasi memecah keheningan rumah mewah itu tepat saat jarum jam menunjuk angka dua dini hari. Tak lama kemudian, pintu depan terbanting keras. Dinding-dinding rumah seolah ikut bergetar, menyisakan gema yang seketika membuat dada Vivian mencuri napas panik.
Vivian yang sedang duduk bersandar di sudut sofa kamar tamu langsung menegakkan tubuhnya. Tangannya refleks berpindah, memeluk erat perutnya yang masih terasa ngilu pascapulang dari rumah sakit kemarin malam. Selang infus memang sudah dilepas atas permintaannya sendiri karena masalah biaya dan ketakutan akan amarah Radhit, namun tubuhnya masih sangat ringkih. Bibirnya pucat pasi, dan matanya cekung menyimpot rasa lelah yang teramat sangat.
Langkah kaki Radhit terdengar berat dan tidak beraturan melintasi lorong. Pria itu baru saja kembali dari luar kota, namun tidak ada jejak ketenangan di wajahnya. Dasi mewahnya sudah terlepas, kancing kemeja atasnya terbuka acak, dan mukanya memerah padam. Masalah besar dalam proyek investasinya yang mendadak terkendala rugi miliaran rupiah telah menghancurkan penguasaan dirinya.
Dan seperti biasa, tempat pelampiasan paling mudah baginya adalah rumah ini atau lebih tepatnya, sosok wanita yang berada di dalamnya.
Klakk!
Pintu kamar tamu didorong kasar hingga membentur dinding. Radhit berdiri di ambang pintu, menatap Vivian dengan sorot mata yang merah, tajam, dan penuh densitas emosi berbahaya. Bau alkohol yang pekat dan menyengat langsung memenuhi ruangan kecil itu dalam sekejap.
Vivian menahan napas. Jantungnya berdegup kencang secara maraton, dihantam gelombang ketakutan yang membuat seluruh persendiannya gemetar.
"Mas... Mas Radhit..." cicit Vivian dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
Radhit tidak menjawab. Dia melangkah tegap mendekati Vivian, menghimpit jarak hingga bayangan tubuh tingginya mengurung Vivian yang terduduk tak berdaya. Pria itu mencengkeram dagu Vivian dengan sangat keras, memaksa wajah pucat istrinya terangkat mendongak menatapnya.
"Kamu..." suara Radhit terdengar rendah, serak, namun penuh dengan racun penolakan yang begitu kental. "Kamu yang bikin semuanya berantakan, kan?"
Vivian meringis kesakitan. Cengkeraman jari-jari Radhit di rahangnya terasa begitu kuat, seolah ingin meremukkan tulang pipinya. "M-maksud Mas apa? Aku... aku dari kemarin cuma di rumah, Mas..."
"JANGAN BERAKTING SOK POLOS DI DEPAN SAYA!" bentak Radhit tepat di depan wajah Vivian. Napas panas bercampur alkohol menyambar kulit wajah Vivian yang dingin. "SEJAK SAYA MEMBAWA KAMU MASUK RUMAH INI,BISNIS SAYA TIDAK PERNAH TENANG,! Hari ini proyek ratusan miliar saya ditahan! Dan kamu..." Radhit tertawa sumbang, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. "...kamu malah sibuk merengek-rengek telepon saya seperti orang gilani, drama sakit, bikin sial!"
Plak!
Radhit menghempaskan cengkeraman tangannya secara kasar hingga kepala Vivian terlempar ke samping. Vivian tersengal, memegang pipinya yang menyengat panas. Air matanya langsung menetes deras tanpa sanggup ditahan lagi.
Rasa sakit di pipinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran batinnya. Kata bikin sial dan orang gila yang diucapkan dengan begitu mudah oleh suaminya sendiri bagai mata pisau yang memotong-motong sisa harga dirinya hingga tak berbekas.
"Mas... demi Allah, aku nggak ada niat begitu..." isak Vivian, suaranya pecah di tengah tangis yang menyesakkan dada. "Kemarin... kemarin aku benar-benar sakit, Mas. Aku sampai dilarikan ke rumah sakit sendirian... Janin di perut aku terancam, Mas..."
"Janin? Masih mau jualan alasan janin itu lagi?!" Radhit menyela dengan nada memutus yang amat kejam. Pria itu membungkuk, menatap dalam ke mata Vivian yang basah dengan pandangan penuh penderitaan dan keangkuhan mutlak. "Kamu pikir saya peduli dengan janin yang bikin hidup saya makin sempit ini?!"
Deg.
Dunia Vivian serasa berhenti berputar. Udara di dalam paru-parunya seolah mendadak mengkristal menjadi es. Vivian menatap Radhit dengan mata terbelalak, tak percaya dengan barisan kalimat yang baru saja meluncur dari mulut pria yang statusnya adalah ayah dari anak di kandungannya.
"M-mas... kamu bicara apa...?" bisik Vivian di antara tangisnya yang mulai memudar menjadi hening yang menakutkan. "Ini anak kamu, Mas... Darah daging kamu..."
"SAYA ENGGA OERNAH MINTA KAMU HAMIL!" sentak Radhit penuh penegasan yang membakar jiwa Vivian. "Kamu cuma wanita sial yang kebetulan ada di rumah ini karena formalitas keluarga! Jangan pernah merasa status kamu dan anak itu penting dalam hidup saya. Kamu tidak lebih dari sekadar beban!"
Setiap kata yang diucapkan Radhit meluncur lancar tanpa ada sedikit pun rasa penyesalan atau ragu. Pria itu menyapu barang-barang di atas meja samping tempat tidur dengan tangannya membuat gelas kaca dan botol obat Vivian terpelanting hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.
PRANG!
Vivian memeluk perutnya rapat-rapat, meringkuk rapat di sudut sofa sembari menangis histeris tanpa suara. Tubuhnya bergetar begitu hebat. Rasa sakit melilit kembali menyerang rahimnya secara mendadak akibat tekanan trauma emosional yang melampaui batas kemampuannya.
Namun, Radhit sama sekali tidak menoleh lagi. Setelah memuaskan lahar emosinya dan menginjak-injak batin istrinya hingga hancur berkeping-keping, pria itu hanya merapikan kerah kemejanya yang kusut dengan raut wajah yang kembali dingin dan angkuh.
"Malam ini bersihkan kotoran ini," perintah Radhit dengan nada datar, seolah keberadaan Vivian dan tangisannya tak lebih dari sekadar pemandangan mengganggu. "Kalau besok pagi saya masih mendengar kamu menangis atau menunjukkan muka menyedihkan seperti ini lagi, saya pastikan kamu tidak akan pernah melihat pintu rumah ini lagi."
Tanpa sedikit pun iba, Radhit berbalik melangkah keluar dari kamar tamu. Suara langkah kakinya yang berat dan tegas menghilang dan meninggalkan rumah dengan deru mobil yang terdengar, meninggalkan Vivian sendirian dalam kegelapan dan kehancuran yang tak bertepi.
Di atas sofa sempit itu, Vivian meringkuk seperti bola. Jemari tangannya mencengkeram perutnya yang melilit nyeri, sementara air matanya mengalir membasahi kain sofa tanpa henti.
Di tengah dinginnya malam dan serakan kaca yang hancur di lantai, Vivian meraung pelan dalam kesunyian meratapi kenyataan bahwa di mata suaminya sendiri, dia dan calon anaknya tak pernah dianggap lebih dari sekadar benalu pembawa sial.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian