Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5.Jadikan dia pelayan ku.
Malam mulai turun, menyelimuti kediaman besar Keluarga Zhang dengan keheningan yang tenang. Di ruang makan utama yang luas, lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat ke setiap sudut meja panjang yang tertata rapi, dipenuhi hidangan lezat yang aromanya semerbak memenuhi ruangan. Tuan Besar Zhang duduk di ujung meja, di sebelahnya Nyonya Zhang, lalu Zhang Mo Chen, dan di sisi lain — Li Hua. Hanya satu kursi yang kosong, di tempat yang biasanya disediakan untuk Shi Yin.
Suasana terasa canggung dan gelisah. Sesekali mereka saling melirik ke arah pintu masuk, seakan menunggu sosok yang belum muncul itu. Li Hua sendiri duduk dengan tenang, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menunggu dengan wajah yang damai. Di dalam hatinya, ia tahu persis mengapa saudara kembarnya itu tidak datang — wajahnya yang bengkak dan penuh lebam tak akan siap dipamerkan malam ini.
"Di mana Nona Pertama?" tanya Tuan Besar Zhang akhirnya, suaranya terdengar cemas. "Mengapa belum turun juga?"
Seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu melangkah maju dengan takut-takut, menunduk hormat. "Mohon maaf, Tuan Besar... Nona Pertama merasa tidak enak badan. Beliau berpesan agar Tuan dan Nyonya tidak perlu menunggunya untuk makan malam."
Wajah Nyonya Zhang segera berkerut cemas. "Tidak enak badan? Sejak tadi pagi sehat saja..."
"Panggil Tabib Fang sekarang juga," perintah Tuan Zhang tegas. "Suruh dia memeriksa keadaan Shi Yin. Jangan sampai ada yang disembunyikan dari kami."
"Baik, Tuan Besar." Pelayan itu segera mundur melaksanakan perintah.
"Sudahlah..." Tuan Zhang menghela napas panjang, lalu melambaikan tangan. "Mari kita makan. Jangan biarkan makanan ini mendingin."
Li Hua tidak menunggu dipanggil kedua. Begitu piring di depannya terisi, ia mulai makan dengan lahap, tanpa rasa canggung sedikit pun. Ia tahu betul apa yang terjadi, dan rasa bersalah yang tadi sempat muncul kini tergantikan oleh keteguhan hati — ia harus bertindak cerdik demi keselamatan semua orang, termasuk dirinya sendiri.
Di seberang meja, Zhang Mo Chen memperhatikannya sejenak, lalu menaruh sendoknya pelan.
"Kau begitu santai, adikku..." ucapnya dengan nada mengejek namun juga ingin tahu. "Tidakkah kau khawatir dengan keadaan Shi Yin?"
Li Hua mengangkat bahu pelan, menelan makanannya dulu sebelum menjawab. "Jika dia sakit, tentu akan segera sembuh. Tabib sudah dipanggil, bukan?"
Mo Chen tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Ngomong-ngomong... tentang Shi Yin... tadi siang dia memerintahkan sesuatu kepada para pelayan. Terkait Pangeran Li Yun."
Tangan Li Hua yang memegang sumpit berhenti sejenak, namun ia tetap tenang. "Apa yang terjadi?"
"Shi Yin menyatakan bahwa Pangeran Li Yun berusaha mencelakai dirinya," kata Mo Chen pelan namun tegas. "Maka dia menghukum pangeran itu, mengurungnya di gudang belakang kediamannya."
Li Hua menelan ludah. Jadi benar... batinnya perih. Li Yun disiksa lagi, dan semuanya karena aku.
Tuan Zhang mengangguk pelan, suaranya terdengar dingin dan tak peduli. "Biarkan saja. Pangeran terbuang itu adalah tawanan kita. Silakan kalian menghukumnya sesuka hati — ingat, jangan sampai membunuhnya. Itu saja syaratnya." Ia menoleh ke arah Li Hua, menatapnya lekat-lekat. "Dan kau juga, Li Hua. Kau boleh memperlakukan pangeran itu sesukamu. Jika dia berani tidak sopan, hukumlah dia. Tidak perlu ragu."
Piring di depan Li Hua tiba-tiba terasa berat. Jika ia diam saja, Li Yun akan semakin membenci Keluarga Zhang. Semakin dalam luka yang ia terima, semakin dalam pula kebencian yang akan tumbuh. Dan pada akhirnya... seluruh keluarga ini akan hancur, termasuk dirinya.
Perlahan Li Hua berdiri dari kursinya. Napasnya ditarik dalam-dalam, menegakkan punggungnya setinggi mungkin. Semua mata di meja itu tertuju padanya — heran, bingung, menunggu.
"Ayah..." suaranya jernih dan tegas, memotong keheningan ruangan.
Tuan Zhang mengerutkan kening. "Ada apa, Nak? Mengapa menatap kami seperti itu?"
Nyonya Zhang ikut cemas. "Iya, Li Hua... ada apa? Katakanlah."
Li Hua menarik napas panjang, lalu menatap mereka satu per satu — ayahnya yang berwibawa, ibunya yang lembut, kakaknya yang penuh tanda tanya.
"Aku punya permintaan," ucapnya mantap.
"Katakan saja," jawab Tuan Zhang pelan. "Selama masih dalam batas kemampuan Ayah..."
"Biarkan Pangeran Li Yun menjadi pelayan pribadiku."
Ruangan itu hening seketika. Mo Chen melongo, Nyonya Zhang menutup mulutnya dengan tangan, dan Tuan Zhang sendiri tertegun tak percaya.
"Apa maksudmu?" tanya Mo Chen duluan, suaranya meninggi. "Pangeran itu... pelayanmu?"
Li Hua menatapnya tanpa ragu, lalu menyunggingkan senyum yang dibuat-buat — sedikit nakal, sedikit manja, persis seperti yang diharapkan dari gadis yang baru pulang ke rumah kaya.
"Aku dengar..." ucapnya pelan, sengaja merendahkan suaranya, "Pangeran terbuang itu tampan sekali. Matanya tajam, wajahnya rupawan... Kakak boleh menikmati keindahannya, masa aku tidak?"
Mo Chen ternganga sesaat, lalu tawa rendah meledak dari mulutnya. Ia menepuk meja pelan, menatap adiknya dengan pandangan baru.
"Dasar gadis nakal..." ucapnya sambil tersenyum lebar. "Aku kira kau pendiam dan penurut, ternyata punya sisi yang menyenangkan juga. Kau memang layak menjadi saudaraku."
Nyonya Zhang tersenyum tipis, seakan lega melihat anaknya bisa berbicara begitu terbuka. Tuan Zhang sendiri mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Baiklah..." ucapnya akhirnya. "Jika itu keinginanmu, maka begitulah. Mulai sekarang, Pangeran Li Yun menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya. Kau boleh membawanya ke kediamanmu, mengatur apa saja yang akan ia lakukan. Tidak ada yang boleh menyentuhnya tanpa izinmu."
"Terima kasih, Ayah! Terima kasih, Ibu!" Li Hua tersenyum tulus kali ini, meski hatinya berdebar kencang bukan karena gembira, melainkan karena lega — ia berhasil.
Ia duduk kembali di kursinya, mengangkat sumpitnya kembali, namun kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Jika aku tidak menjadikannya pelayanku, batinnya, mereka akan terus menyiksanya. Kebenciannya akan tumbuh semakin besar, dan pada hari ia bangkit... tidak ada satu pun dari keluarga ini yang selamat. Termasuk aku.
Setelah makan malam usai, Li Hua tidak menunda. Ia segera mengajak Qiao'er, bersama beberapa pelayan pria yang diperintahkan ayahnya, bergegas menuju bangunan kecil di bagian paling belakang kediaman — tempat Li Yun dikurung.
Angin malam bertiup dingin, membawa bau tanah lembap dan dedaunan kering. Langit gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang samar. Sesampainya di depan pintu ruangan batu itu, jantung Li Hua berdegup kencang.
"Bukakan pintunya," perintahnya pelan.
Salah satu pelayan mendorong pintu berat itu terbuka. Suasana di dalamnya hening, bau yang tidak sedap — bau sengatan, darah, dan kepedihan — langsung menyambut mereka. Di lantai batu yang dingin, tergeletak sosok yang membuat napas Li Hua tertahan.
Li Yun berbaring diam di sudut ruangan. Tubuhnya penuh luka, beberapa masih meneteskan darah, kulitnya bengkak di banyak tempat, dan di sekelilingnya tergeletak banyak bangkai lebah. Ia tidak bergerak, seakan tidak sadarkan diri.
"Pangeran!" Qiao'er mendekat perlahan, suaranya bergetar.
Li Hua mendekat, berlutut di sampingnya. Wajah Li Yun pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya yang masih berdarah. Napasnya lemah namun masih terasa di ujung jari Li Hua.
"Angkat dia ke pundak kalian," perintahnya tegas kepada para pelayan. "Bawa ke kediamanku. Hati-hati, jangan sampai lukanya bertambah parah."
Mereka segera mengangkat tubuh pemuda itu dengan lembut namun mantap. Li Hua berjalan di samping mereka, menatap sosok yang terbaring lemah itu dengan perasaan yang campur aduk. Rasa bersalah, takut, dan juga tekad yang kuat bercampur menjadi satu.
"Qiao'er..." panggilnya pelan saat mereka berjalan menjauh dari tempat itu.
"Ya, Nona?"
"Pergilah panggil Tabib Fang sekarang juga. Katakan padanya ada seseorang yang terluka parah di kediamanku, dan ia harus datang secepatnya."
"Baik, Nona. Hamba pergi sekarang." Qiao'er segera berlari menjauh.
Li Hua menatap ke depan, menuju kediamannya yang masih jauh. Ia tahu, sejak saat ini semuanya akan berubah. Ia tidak lagi sekadar penonton yang takut pada nasibnya sendiri. Ia berdiri di tengah cerita ini, dan ia akan menulis jalannya sendiri — bahkan jika harus mengubah akhir yang sudah tertulis.
Di pundak pelayan, Li Yun bergerak pelan, matanya terbuka sedikit — samar, kabur, namun ia menangkap satu sosok yang berjalan di sampingnya, menjaganya agar tidak terjatuh. Bibirnya bergerak pelan, hampir tak terdengar.
"Kau..."