Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyergapan
Aris memarkir mobil miliknya beberapa puluh meter dari rumah nomor 42. Malam telah larut, dan kompleks perumahan suburban itu terasa sunyi senyap di bawah lampu jalanan. Garis polisi berwarna kuning masih terpasang, berkibar tertiup angin malam yang dingin.
Aris melewati garis pembatas tersebut, membiarkan Januar berjaga di luar dekat mobil. Dengan menggunakan senter National miliknya, Aris menyelinap masuk melalui pintu belakang yang kacanya sudah pecah akibat insiden sebelumnya.
Saat dia melangkah kembali ke ruang makan. Meja makan tempat Ratna dan Dani tewas masih berdiri di tempatnya.
"Jika Anwar belum menemukan buku kas itu, artinya Ratna menyembunyikannya di tempat yang tidak terduga oleh orang kota," gumam Aris, mengarahkan cahaya senternya ke seluruh penjuru ruangan.
Aris mulai menggeledah area yang paling intim dari rumah tersebut. Dia membongkar lemari pakaian daster milik Ratna, memeriksa tumpukan beras di dapur, hingga meraba bagian belakang bingkai foto keluarga di ruang tamu, Nihil.
Anwar pasti sudah memeriksa tempat-tempat umum seperti itu saat dia menyusup ke sini. Aris kembali ke ruang makan. Dia merangkak ke bawah kolong meja tempat ditemukannya boneka jerami.
Matanya menyusuri lantai ubin semen di bawah sana. Tepat di sudut dekat kaki meja, cahaya senternya menangkap, sebilah ubin semen yang retak bentuk garis kotak sempurna, dengan semen sambungan yang tampak lebih bersih dan baru dibandingkan ubin lainnya.
Aris mengeluarkan pisau saku miliknya. Dia menusukkan ujung pisau ke sela ubin tersebut, lalu mencungkilnya perlahan dengan memanfaatkan kekuatan lengannya.
Krieeek...Ubin itu terangkat. Di bawah rongga lantai yang sengaja digali tersebut, kotak kaleng bekas wafer biskuit Kong Guan.
Aris mengambil kotak kaleng itu dengan hati-hati. Begitu tutup kaleng dibuka, di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kas bersampul kain tebal yang dipenuhi noda tinta hitam, lengkap dengan tulisan tahun 1959 di halaman depannya.
Saat Aris membuka lembar pertama, sebaris nama pejabat tinggi balai kota Marunda saat ini terpampang jelas di samping nominal angka suap pembebasan lahan Desa Talas.
Ini adalah hulu ledak yang bisa meruntuhkan seluruh tatanan kekuasaan di kota ini. Dari arah luar rumah, suara gesekan ranting pohon yang patah diikuti oleh bayangan seseorang yang melintas di depan jendela ruang makan. diam-diam telah membuntuti Aris kembali ke tempat kejadian perkara ini.
Aris mematikan senter. Ruang makan, dalam kegelapan total, Aris mendekap buku kas itu, di balik jaket kulitnya, sementara tangan kanannya mencabut dari pinggang. Napasnya diatur sehalus mungkin.
Di tengah keheningan malam, telinga tajamnya menangkap suara gesekan kain yang melintasi pintu belakang yang rusak. Sosok misterius itu masuk tanpa menyalakan lampu, bergerak sangat pelan.
Saat tubuh sosok itu melintas tepat di samping meja makan, Aris bergerak cepat. Dia menerjang dari balik mencengkeram lengan sosok tersebut, lalu memutarnya ke belakang hingga tubuh orang itu menghantam permukaan meja makan. BRAK!
"Jangan bergerak atau peluru ini menembus kepalamu!" gertak Aris, menekan revolvernya tepat di sosok tersebut. Orang itu mengerang kesakitan, alih-alih ketakutan, sebuah kekehan tenang justru terdengar dari balik napasnya yang tersengal.
"Kau selalu bergerak cepat, Aris," ucap sebuah
Tangan kirinya meraba saku, menyalakan kembali senter dan menyorotkan cahayanya langsung ke wajah pria yang terjepit di atas meja.
Dia adalah Bramantyo, wartawan senior yang kemarin membantunya mengekspos kasus keluarga Hadiningrat di koran pagi.
"Bram?! Apa yang kau lakukan di sini?!" tuntut Aris tanpa menurunkan senjatanya, tetap waspada karena tahu jurnalis ini seharusnya berada di kantor redaksi atau tempat aman.
Bramantyo meringis menahan sakit di lengannya. "Lepaskan dulu, Ris. Aku ke sini justru untuk menyelamatkan nyawamu. Koran yang kita terbitkan pagi tadi... telah memicu kepanikan massal di balai kota.
Beberapa orang berkuasa yang namanya belum sempat tertulis di artikel sedang menyewa pembunuh bayaran kota untuk memusnahkan sisa bukti asli di rumah ini!"
Bramantyo menunjuk ke arah luar jendela dengan dagunya. "Aku datang untuk memperingatkanmu. Mereka sudah berada di area kompleks ini, Aris. Dan mereka tidak menggunakan cara mistis, mereka membawa senapan otomatis."