Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Ayat Ayat Yang Di Bakar Jin Kafir
Aku masih di kamar Rania versi gaib di Surabaya.
Dinding kamar dari tulang putih berderak, langit-langit merah darah, lantai basah darah hujan. Di tengah kamar, Bu Wiwik Ibu Angkatku tergeletak, perutnya membesar seperti hamil sembilan bulan, padahal dia tidak hamil. Di dalam perutnya bergerak-gerak, ada tanduk kerbau kecil menonjol-nonjol dari dalam kulit perutnya.
Bu Wiwik menangis, tapi suaranya bukan suaranya, suaranya berat seperti suara kerbau, "Arga... perut Ibumu panas... ada yang bakar dari dalam..."
Di pojok kamar, Rania adikku berdiri, pegang pecahan cermin, matanya putih semua, mulutnya buka, dari mulutnya keluar asap hitam yang bentuknya kepala kerbau empat meter. Itu Banaspati, Raja Iblis yang kepalanya kerbau.
Banaspati tertawa lewat mulut Rania, "Penjaga baru, selamat datang di Surabaya! Kau masuk lewat retakan masjid ke cermin, sekarang kau terjebak di kamarku! Di sini semua ayat tidak berlaku! Di sini aku yang bakar ayat!"
Aku angkat tongkat cendana yang patah ujungnya, sisa kayunya masih ada cahaya putih sedikit. Aku bacakan ayat kursi, keras, "Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum..."
Begitu aku baca, dinding tulang kamar ini langsung bergetar. Tulisan ayat kursi yang keluar dari mulutku jadi cahaya putih, melayang di udara, menempel di dinding tulang.
Tapi Banaspati dari mulut Rania tiup asap hitam ke tulisan cahaya itu. Asap hitam itu seperti api hitam. Api hitam itu bakar tulisan ayat kursi ku.
Cesss! Tulisan ayat kursi ku terbakar, jadi abu hitam, jatuh ke lantai.
Bu Wiwik menjerit, perutnya makin besar, tanduk di dalam perutnya makin jelas.
Banaspati tertawa lagi, "Lihat! Di alamku, di kamar gaib Surabaya ini, ayat-ayatmu bisa aku bakar! Setiap ayat yang kau baca, aku bakar, dan setiap ayat yang terbakar, perut Ibu Angkatmu makin besar, anakku makin jadi!ucap Banaspati.
Aku coba lagi, aku baca surat Al Ikhlas, "Qul huwallahu ahad..."
Tulisan Al Ikhlas jadi cahaya putih lagi di udara. Langsung dibakar lagi sama api hitam Banaspati. Terbakar jadi abu.
Setiap ayat terbakar, Rania yang di pojok makin kejang, hidungnya keluar darah.
Aku paham. Ini bukan perang fisik. Ini perang ayat. Kalau aku terus baca ayat dengan mulut, ayat itu akan dibakar terus, dan Bu Wiwik akan melahirkan anak Banaspati.
Aku harus ganti cara. Ayat tidak boleh dibaca lewat mulut saja, harus ditulis pakai darah.
Aku ingat pesan Ibu kandungku Mira yang setengah badan di retakan masjid, dia bilang, darah penjaga bisa jadi tinta yang tidak bisa dibakar Jin Kafir.
Aku sobek telapak tanganku pakai pecahan cermin di lantai. Darah segar keluar banyak.
Aku tidak baca ayat lagi, aku tulis ayat di lantai tulang kamar ini pakai darahku sendiri.
Aku tulis besar di lantai, sekeliling tubuh Bu Wiwik yang perutnya besar, aku tulis ayat kursi pakai darah, melingkar, "Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum..."
Darahku bercahaya putih, bukan merah biasa. Tulisan darah itu menyala.
Banaspati lihat tulisan darah itu, dia marah, dia tiup api hitam lagi dan mencoba bakar tulisan darah itu.
Api hitam kena tulisan darah, tapi tulisan darah itu tidak terbakar. Malah api hitam itu padam kena darah.
Banaspati jerit lewat mulut Rania, "Darah penjaga! Darah penjaga sah!"
Benar. Ayat yang ditulis pakai mulut bisa dibakar, tapi ayat yang ditulis pakai darah penjaga sah tidak bisa dibakar Jin Kafir.
Tulisan ayat kursi dari darahku yang melingkar di sekeliling Bu Wiwik langsung menyala terang, masuk ke dalam perut Bu Wiwik yang besar.
Perut Bu Wiwik yang besar bergetar keras. Dari dalam perutnya keluar suara jeritan bayi kerbau, "Moooo..."
Bu Wiwik menjerit paling keras malam itu, dia pegang perutnya, "Arga! Keluar! Dia mau keluar!"
Aku tulis lagi, aku tulis surat Al Fatihah pakai darah di dahi Bu Wiwik, aku tulis surat Al Ikhlas pakai darah di dahi Rania.
Begitu dua tulisan darah itu selesai, Rania yang matanya putih langsung jatuh pingsan, tapi pingsannya normal, matanya kembali hitam normal, dia sadar sedikit, "
"Kak Arga..."ucap Rania.
Bu Wiwik juga, perutnya yang besar tadi mengempis pelan-pelan, tanduk yang menonjol di dalam perutnya hilang, asap hitam keluar dari mulut Bu Wiwik, terbang ke atas langit-langit merah.
Asap hitam itu membentuk kepala kerbau, dan menjerit, "Ayat darah! Kau bakar balik ayatku!"
Tulisan darah ayat kursi yang melingkar di lantai tadi meledakkan cahaya putih, cahaya itu bakar asap hitam Banaspati dari bawah.
Api putih dari ayat darah membakar Jin Kafir, bukan Jin Kafir bakar ayat.
Asap hitam Banaspati terbakar, jeritannya keras, "Aku akan kembali! Aku akan bakar semua kitab di masjid Krajan! Kalau di sini ayatmu tidak bisa aku bakar, di masjid sana kitab kalian akan aku bakar! Ucap Banaspati.
Asap itu hilang, masuk lagi ke pecahan cermin.
Kamar tulang gaib ini retak, dinding tulang runtuh, lantai darah kering.
Aku peluk Bu Wiwik Ibu Angkatku dan Rania adikku yang sudah pingsan. Tubuh mereka dingin tapi perut Bu Wiwik sudah kempes normal.
Di bawah lantai kamar, muncul retakan dua meter bercahaya putih lagi, jalan pulang ke masjid.
Aku gendong Rania dan Bu Wiwik, aku loncat masuk ke retakan cahaya itu.
Aku buka mata, aku sudah kembali di dalam masjid Dusun Krajan. Ibu kandungku Mira masih setengah badan di retakan, Malik dan Kiai Jirji dan 300 Jin Islam terkejut melihat aku kembali membawa Bu Wiwik dan Rania.
Bu Wiwik Ibu Angkatku Yang asli di Surabaya? Di video call HP, dia sudah sadar, perutnya normal, dia peluk Rania yang asli yang juga sudah sadar di kasur Surabaya.
Yang aku bawa dari alam gaib tadi bukan tubuh asli, tapi sukma mereka yang hampir jadi mangsa.
Malik lihat tongkat cendana di tanganku, tongkat itu sekarang hitam semua, tidak bercahaya lagi, karena semua darahku sudah aku pakai buat tulis ayat.
"Tongkatmu mati, Arga, karena kau pakai darahmu untuk lawan bakar ayat. Besok kau tidak punya senjata..."ucap Malik.
Ibu kandungku Mira berbisik dari retakan, "Tongkat mati tidak apa, ayat darahmu hidup, tapi Banaspati bilang dia akan bakar kitab di masjid, kalau kitab Mbah Suro Joyo terbakar, 300 Jin Islam akan lemah dan retakan dua meter ini akan jebol lagi."
Aku lihat ke sudut masjid, di lemari kayu tua, ada kitab kulit kerbau Mbah Suro Joyo, kitab yang dari tadi jadi panduan sumpah.
Dari balik lemari itu, keluar asap hitam kecil, belum besar, tapi sudah coba bakar ujung kitab.
Ayat-ayat yang dibakar Jin Kafir baru mulai, dan yang mau dibakar sekarang bukan ayat di udara, tapi kitab asli di masjid.