NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUH

"Amara... Jangan menyendiri terus di sini. Cari pasangan dong!"

Sebuah tepukan mendarat di bahunya. Yunda, mahasiswi tingkat dua dari jurusan sebelah, tiba-tiba sudah berdiri di samping Amara. Tangannya memegang dua gelas minuman berwarna merah pekat yang menggiurkan.

"Kamu lihat Erin dan Dinda tidak?" tanya Yunda sembari melongokkan kepalanya ke arah kerumunan.

Amara menunjuk ke arah barisan paling depan di dekat panggung. "Oh, mereka tadi lari ke depan panggung. Kakak tingkat pujaan mereka sedang tampil menyanyi di sana."

Yunda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ckckck, mereka berdua ini benar-benar ya. Terang-terangan sekali kalau sedang naksir orang. Oh iya, Amara, aku titip dua gelas minuman ini sebentar ya di mejamu. Tapi ingat, awas jangan diminum! Bahaya."

Amara mengerutkan alisnya, menatap dua gelas cairan merah itu curiga. "Ini apa? Kelihatannya cuma sirup biasa."

Yunda memajukan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Amara lalu berbisik sangat pelan, "Sssttt... Ini minuman khusus yang sudah dicampur obat perangsang dosis sedang."

Mata Amara membelalak sempurna. Ia menatap Yunda dengan raut tak percaya. "Kamu gila, Yunda? Jangan sembarangan membawa barang seperti ini ke lingkungan kampus!"

"Tenang saja, kenapa kamu yang panik?" bisik Yunda santai, mengibaskan tangannya di udara. "Aku sebenarnya sudah jadian sama Vano, dan kami berencana mau ehem-ehem malam ini setelah acara selesai. Lagipula aku sudah pernah melakukannya waktu SMA dulu dengan mantanku. Tenang saja, aku sudah profesional soal begini."

"Tapi kenapa harus pakai minuman racikan seperti ini?" celetuk Amara cemas. "Kamu berniat menjebak Vano?"

"No! Tentu saja tidak," sahut Yunda cepat. "Minuman ini hanya untuk menambah semangat kami berdua nanti malam, supaya permainannya makin panas dan hot. Sudah ya, jangan diusik! Awas, ingat pesanku, jangan sampai kamu minum loh! Aku mau mencari Vano dulu di belakang panggung. Sudah tidak tahan ini," tambah Yunda berbisik liar sebelum tertawa pelan.

"Dasar sinting!" umpat Amara geleng-geleng kepala saat melihat Yunda menghilang di balik kerumunan orang.

Amara menghela napas panjang, kembali mengalihkan perhatiannya pada panggung utama. Namun, hawa dingin dari AC gedung serbaguna yang teramat kencang perlahan mulai menusuk kulitnya. Ditambah lagi, rasa kantuk yang teramat sangat mendadak menyerang matanya tanpa kompromi. Kelopak matanya terasa seberat timah, sulit untuk dipertahankan tetap terbuka.

Tenggorokan Amara terasa sangat kering dan haus luar biasa. Tanpa memikirkan apa-apa lagi karena kesadarannya yang sudah setengah kabur oleh kantuk berat, Amara menyambar gelas minuman di dekat tangannya dan meneguk cairan di dalamnya hingga tandas tak bersisa.

Rasa manis buah beradu dengan sedikit rasa samar yang agak aneh di tenggorokannya, tetapi Amara tidak memedulikannya. Ia sama sekali tidak berniat untuk pulang ke rumah malam ini. Amara sangat malas jika harus berhadapan dan melihat wajah suaminya, pria yang di dalam hatinya dijuluki sebagai sang penguasa gudang es balok.

Namun, tidak sampai lima menit berlalu, ada sesuatu yang salah.

Tubuh Amara mendadak bergetar halus. Rasa panas yang membakar tiba-tiba menyebar dari dalam dadanya, menjalar cepat ke seluruh pembuluh darah hingga membuat permukaan kulitnya memerah dan berkeringat dingin. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, memicu rasa gelisah yang teramat sangat di dalam perutnya.

"Aneh... Kenapa rasanya panas sekali?" gumam Amara pada dirinya sendiri. Pandangannya mulai memburam dan bergoyang. "Aku... aku mau ke toilet saja. Di sini sangat gerah. Aku mau cuci muka."

Dengan langkah kaki yang sudah sempoyongan dan tidak stabil, Amara menyeret tubuhnya keluar dari area keramaian, berjalan menyusuri lorong remang di belakang panggung yang menuju ke arah toilet khusus.

Di lorong sepi itu, kesadaran Amara berada di ambang batasnya. Pandangannya berkunang-kunang hebat. Ia terhuyung dan terpaksa menyandarkan tubuhnya yang lunglai pada dinding tembok yang dingin.

"Kok... kok pintu toiletnya ada dua?" rancau Amara lirih, matanya mengerjap-ngerjap tak fokus. Panas yang membakar di dalam tubuhnya kian tak tertahankan. "Gerah sekali... Panas..."

Jemari Amara yang gemetar mulai bergerak ke bagian dada gaunnya. Dengan gerakan tidak sadar, ia melepaskan kancing pertama gaun biru malamnya, lalu berlanjut melonggarkan kancing kedua hingga bagian dadanya agak terbuka.

"Amara! Apa yang kamu lakukan?!"

Sebuah bentakan rendah yang sarat akan kepanikan mendadak memotong sunyinya lorong. Sesosok tubuh tinggi tegap bergerak cepat mendekatinya dari arah depan.

Amara menghentikan jemarinya, mengangkat wajahnya yang merona merah padam dengan mata yang layu. Saat tangan pria itu terulur untuk menahan kedua pergelangan tangannya, Amara meliukkan tubuhnya berusaha memberontak.

"Lepaskan!" jerit Amara serak, suaranya terdengar tidak stabil. "Kamu siapa?! Jangan pegang-pegang aku! Aku ini... aku ini sudah menikah, tahu!"

Pria itu, Zain mengetatkan cengkeramannya pada jemari Amara, raut wajahnya yang biasanya sedingin es kini nampak sangat panik dan tegang. "Amara, ini saya. Ayo pulang sekarang!"

"Lepaskan!" seru Amara lagi, terkekeh pelan di tengah kesadarannya yang terkikis habis oleh pengaruh obat perangsang yang ia minum. "Ka-kamu kok mirip sekali dengan suamiku? Si penguasa gudang es itu!"

Zain membeku, matanya membelalak menatap Amara. Penguasa gudang es? julukan macam apa itu.

Amara mengibaskan tangannya yang terkunci, mencoba mendorong dada Zain. "Jangan pegang-pegang aku! Nanti tangan kamu kotor! Badan aku ini banyak kumannya, tahu!"

Amara tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar sangat menyayat hati di dalam lorong sepi tersebut.

"Suamiku saja sangat jijik padaku!" igau Amara dengan mata berair, menatap lurus ke dalam manik mata Zain yang bergetar hebat. "Kalau tak sengaja bersentuhan denganku, dia langsung lari ke wastafel... Cuci tangan pakai sabun banyak-banyak sampai kulitnya merah-merah! Hahaha! Gila kebersihan sekali, kan? Dia benci sekali padaku!"

Zain merasa seperti ada belati tak terlihat yang dihantamkan tepat ke tengah dadanya. Napas pria itu tertahan, matanya menatap Amara dengan penyesalan yang membakar batinnya.

"Amara, diamlah," bisik Zain, suaranya bergetar hebat yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Kamu... kamu minum alkohol?"

"Tidak! Aku cuma minum jus stroberi! Tetapi menang sedikit agak aneh rasanya," bentak Amara manja sekaligus frustrasi, meremas kerah baju Zain karena tubuhnya terasa makin terbakar dari dalam. "Tapi kenapa gerah sekali sih?! Panas! Aku mau buka bajuku saja!"

Jemari Amara kembali bergerak hendak merobek sisa kancing gaunnya.

"Amara, stop!"

Tanpa berpikir dua kali, Zain dengan cekatan melepas jas hitam mewahnya. Dengan gerakan melindung yang protektif, Zain membungkuskan jas tebal itu ke sekeliling tubuh Amara, menutup rapat bagian dada gadis itu yang sempat terbuka.

Zain mendekap tubuh Amara yang gemetar dan panas itu erat-erat ke dalam dadanya, tidak peduli lagi pada benteng kebersihan atau batasan yang selama ini ia bangun.

Ia terpaksa membawa Amara pergi dan keluar dari gedung ini sebelum acara selesai. Jika ada orang lain yang melihat Amara dalam kondisi terpengaruh obat gila ini di tempat umum, reputasi dan masa depan gadis itu akan hancur seketika.

"Lepaskan... Panas, Kak Zain! Lepaskan!" racau Amara yang mulai lemas di dalam dekapan erat Zain, kepalanya terkulai lemah di dada bidang pria itu.

"Tahan sebentar, Amara," bisik Zain tepat di pelipis Amara yang hangat, suaranya sangat dalam dan penuh kecemasan. "Saya ada di sini. Kita pulang sekarang."

Zain menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Amara dan tangan lainnya menopang punggung gadis itu. Dengan satu gerakan mantap, Zain menyapu tubuh Amara ke dalam gendongannya.

Namun, tepat saat Zain berbalik hendak melangkah kencang menuju pintu keluar privat belakang gedung, Amara yang kepalanya berada tepat di dekat leher Zain mendadak membeku.

Cup. Cup.

"Wangi, manis! Amara suka! Suka sekali!"

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
astagaaaaa serius Zain apa yang kau tanyakan pada dokter Weni itu masak pak Jaya yang hamil Amara istrimu berbadan dua akibat perbuatanmu kelesss🤭🤣🤣😛
Sri Murtini
prof istrimu hamil , jaga baik" dong klu perlu cuti dulu kuliahnya😍😍😍
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
kenapa mesti takut namanya juga suami istri pasti suatu saat hamil entah sekarang atau nanti Zain berhak tahu jangan menyimpulkan sendiri Amara berfikir positif aja
Muft Smoker
zain berhak tau kehamilan mu ,, meski km kecewa ,, km gx bisa menghilangkan status suami pd diri zain ,,
Sri Murtini
jangan takut mara biar suami mu menyelesaikan masalah dan tahu akan kehamilan mu
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
loh Amara gimana sihhhh kok gak boleh ngasih tau kehamilan kamu kok memutuskan sendiri ini gimnaaaaa🤔😌
Diaz¹⁷
aduh.. kok hamil... abis ini pasti ada konflik berat
ᴍɪss_dew: lagi hamil jangan di kasih yg berat2 😭😭😭
total 1 replies
soni Estrada
Bagus. nggak banyak konflik.
ᴍɪss_dew: terimakasih bang..🥰
total 1 replies
Sri Murtini
amara kau hamil nak🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
jgn2 Amara hamil???🤭
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Silvia ini benar benar tak malu sudah ditolak masih saja mau mengambil kesempatan terus 😏😌
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain sama Amara kok punya gejala yang sama apakah Amara sedang hamil 🤔
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
nah kan itu Tari cemburu lihat Bayu sama Amara padahal tidak ada hubungan antara mereka berdua tapi entahlah kalo Bayu dia sepertinya yang suka sama Anara🤔🤭
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Amara sudah terlalu kecewa makanya tak peduli dengan suara batin Zain lagi salahmu itu Zain 🤔🤭
Muft Smoker
Dy gx tau pawang ny Amara kulkas 12 pintu 😒😒😒
Sri Murtini
nggk mempan prof rayuan mu🤣🤣🤣
Muft Smoker
percuma gema batin mu begitu peduli ma Amara ,, tp selebih ny km selalu bersikap dingin dan bodo amat dg Amara ,, 😒😒😒😒
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain dan Arbara kalian berdua harus menjelaskan semuanya dengan jujur resiko kalian berdua kan yang buat kejadian Zain dan Amara annuh🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
pasti nyesek sedih kalo seumpama memang Arbara kakaknya sendiri yang menjebak Amara sama Zain di malam kelulusan Amara saat itu 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!