NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Sidang Pertama

Suara mesin truk besar meraung di depan rumah kontrakan yang sempit itu, memecah keheningan sore yang menyesakkan. Bagas, Ibu Melati, dan Siska tersentak dari lamunan mereka, berlari ke ambang pintu untuk melihat apa yang terjadi. Sebuah truk pengangkut barang berhenti tepat di depan gerbang besi yang berkarat, disusul oleh sebuah sedan hitam yang tampak sangat kontras dengan lingkungan kumuh tersebut.

Pak Hendra turun dari mobil dengan langkah mantap, membetulkan letak kacamatanya yang berkilat terkena sinar matahari. Di belakangnya, tiga orang petugas berseragam biru turun dengan sigap, membawa surat perintah yang terlipat rapi di dalam sebuah map kulit. Mereka tidak membuang waktu, segera berjalan menuju pintu kontrakan di mana keluarga Bagas sudah berdiri dengan wajah pucat.

"Selamat sore, Bapak Bagas," sapa Pak Hendra dengan nada formal yang dingin, tanpa ada sedikit pun rasa ramah di wajahnya.

Bagas menelan ludah, tenggorokannya terasa kering saat melihat pengacara itu. Ia masih ingat betul bagaimana Pak Hendra mempermalukannya di persidangan beberapa waktu lalu dengan bukti-bukti yang sangat telak.

"Untuk apa Anda datang lagi ke sini, Pak Hendra?" tanya Bagas dengan suara yang berusaha ditegaskan, meski kakinya terasa lemas.

"Saya datang untuk menjalankan tugas eksekusi sisa aset yang masih tertahan," jawab Pak Hendra sambil menyerahkan lembaran kertas kepada Bagas. "Gugatan sudah disahkan, dan hari ini kami akan mengambil sisa barang-barang yang masih terdaftar atas nama Nyonya Larasati."

Ibu Melati maju satu langkah, matanya membelalak penuh amarah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Ia menunjuk wajah Pak Hendra dengan jari yang bergetar hebat.

"Ini keterlaluan! Kami sudah tidak punya apa-apa lagi di dalam sana!" teriak Ibu Melati dengan suara melengking. "Apakah Laras ingin kami tidur di atas tanah? Apa dia benar-benar tidak punya nurani sedikit pun?"

Pak Hendra tetap tenang, tidak sedikit pun terusik dengan caci maki yang dilontarkan wanita tua itu. Ia hanya melirik jam tangannya, lalu memberi isyarat kepada petugas di belakangnya untuk segera masuk ke dalam rumah.

"Silakan lakukan pekerjaan kalian," perintah Pak Hendra kepada petugas pengangkut barang.

Para petugas itu mulai melangkah masuk melewati Bagas yang tertegun di ambang pintu. Mereka mengabaikan keberadaan Bagas, langsung menuju ke sudut ruangan di mana tersisa beberapa barang pribadi yang mungkin masih bernilai.

"Tunggu! Jangan sentuh barang-barang itu!" seru Siska panik, ia mencoba menghalangi langkah salah satu petugas.

Siska menarik lengan petugas tersebut dengan kasar, namun petugas itu dengan mudah melepaskan cengkeramannya. Wajah Siska memerah padam, air matanya mulai mengalir karena rasa malu yang tidak tertahankan saat tetangga mulai keluar dari rumah masing-masing untuk menonton kejadian tersebut.

"Ini hak klien saya," ujar petugas itu dengan nada datar, suaranya terdengar begitu final. "Kami hanya menjalankan perintah pengadilan, Nona. Mohon jangan mempersulit pekerjaan kami."

Bagas merasa dunia seolah runtuh tepat di depan matanya saat melihat petugas mengangkat kotak-kotak berisi baju dan beberapa peralatan dapur yang masih tersisa. Ia berdiri mematung, dadanya terasa sesak seolah kehabisan napas.

"Bagas! Lakukan sesuatu!" teriak Ibu Melati sambil memukul lengan putranya dengan kepalan tangannya. "Kenapa kamu diam saja seperti orang bodoh? Mereka merampas segalanya dari kita!"

Bagas menatap Pak Hendra dengan pandangan nanar, sebuah campuran antara dendam dan keputusasaan. Ia merasa begitu tidak berdaya, tidak mampu melindungi keluarganya dari serangan hukum yang telah disusun rapi oleh mantan istrinya.

"Pak Hendra, tolong sampaikan pada Laras," ucap Bagas dengan nada yang sangat rendah. "Katakan padanya bahwa aku akan membalas semua ini. Dia tidak bisa menghancurkan hidupku selamanya."

Pak Hendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bagi Bagas terasa seperti penghinaan yang luar biasa. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan menyelipkannya ke kantong baju Bagas.

"Sampaikan sendiri padanya jika Anda sanggup, Bagas," sahut Pak Hendra dengan nada sinis. "Namun perlu saya ingatkan, klien saya sudah tidak ingin mendengar suara Anda lagi. Fokuslah pada utang-utang yang masih menumpuk, daripada memikirkan balas dendam yang tidak akan ada gunanya."

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Pak Hendra berbalik dan berjalan kembali menuju mobilnya. Ia meninggalkan keluarga itu di ambang pintu yang terbuka, di tengah debu jalanan yang beterbangan akibat langkah kaki para petugas.

Siska jatuh terduduk di lantai semen yang dingin, wajahnya terkubur di antara kedua lututnya. Ia tidak mampu lagi menahan isak tangis yang meledak hebat, meratapi betapa cepatnya hidup mereka berubah menjadi neraka.

Ibu Melati masih berdiri mematung di ambang pintu, matanya menatap tajam ke arah mobil Pak Hendra yang mulai melaju menjauh. Ia masih tidak percaya bahwa semuanya telah benar-benar hilang dari genggaman mereka.

"Lihatlah, Bagas," bisik Ibu Melati dengan suara yang penuh racun kebencian. "Ini adalah hasil dari tindakan istrimu yang sok suci itu. Dia membiarkan kita membusuk di tempat seperti ini."

Bagas tidak menjawab, ia hanya menatap kosong ke arah ruangan yang kini benar-benar kosong melompong. Tidak ada lagi furnitur, tidak ada lagi perabotan, hanya dinding retak yang tampak kusam dan kotor.

Ia berjalan masuk ke dalam, menutup pintu kayu dengan bantingan yang cukup keras hingga membuat debu berjatuhan dari plafon. Ia tidak peduli lagi pada Siska yang masih terisak atau ibunya yang terus mengomel.

Bagas duduk di lantai, melipat kakinya, dan memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa mencium aroma debu dan lembap yang mulai terasa sangat menyesakkan di hidungnya.

"Aku butuh uang," gumam Bagas pada dirinya sendiri, suaranya pecah dan penuh kehancuran. "Aku tidak boleh mati di tempat ini."

Di luar sana, suara teriakan tetangga yang penasaran masih terdengar samar-samar, menambah bising di dalam kepala Bagas yang sudah hampir meledak. Mereka adalah saksi hidup dari keruntuhan harga diri keluarga Pratama yang dulu selalu dibanggakan.

Siska akhirnya berhenti menangis, ia mengangkat wajahnya yang sembap dan menatap kakaknya dengan tatapan yang penuh tuntutan. Namun, Bagas tidak menoleh, ia tetap memaku pandangannya ke dinding di depannya yang kosong.

"Apa kita akan tidur di lantai malam ini, Kak?" tanya Siska dengan nada yang lebih tenang namun penuh kepahitan. "Kita tidak punya tikar, tidak punya bantal, bahkan selimut pun mereka ambil."

Bagas tidak menjawab, ia hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. Malam perlahan turun, menyelimuti kontrakan itu dalam kegelapan yang semakin pekat seiring dengan hilangnya sisa cahaya matahari di ufuk barat.

Mereka bertiga terdiam di dalam kegelapan, terjebak dalam penyesalan yang terlambat. Di kejauhan, Laras mungkin sedang menikmati kenyamanan apartemennya, sementara di sini, mereka harus berjuang hanya untuk bertahan hidup hingga pagi menjelang.

Bagas meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi yang membuncah. Ia tahu bahwa mulai saat ini, setiap detik adalah perjuangan untuk tidak menyerah pada nasib yang begitu kejam menghantam mereka.

Siska perlahan mendekat ke arah Bagas, mencoba mencari perlindungan dari kakaknya meski ia tahu saat ini pun Bagas tidak bisa memberikan apa-apa. Mereka hanya saling berdekatan dalam kesunyian yang mencekam, menunggu pagi yang tidak menjanjikan keajaiban apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!