NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 16

Suasana kelas 3-1 mendadak sibuk setelah Pak Guru Biologi mengetuk meja, menginstruksikan seluruh murid untuk membentuk kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang guna menyelesaikan modul praktikum sistem saraf.

Takdir tampaknya sedang senang bermain api, karena berdasarkan pembagian daftar absen, Sasha dan Aria harus berada dalam satu tim. Namun, kejutan sebenarnya datang saat anggota ketiga dipanggil untuk bergabung.

Yudas melangkah mendekat dengan langkah ragu, membawa kursinya menuju meja Sasha dan Aria. Wajah atletisnya tampak sangat tidak nyaman.

"Kenapa harus kau yang kemari?" cetus Sasha ketus, matanya menatap tajam seolah ingin menguliti Yudas hidup-hidup.

Yudas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu duduk dengan canggung di sisi meja. "Yah, mau bagaimana lagi? Absenku jatuh di kelompok ini. Dan soal tadi pagi... aku benar-benar minta maaf lagi. Aku tidak bermaksud mencelakai kalian."

Aria menghela napas, mencoba menengahi sebelum Sasha meledak lagi. "Sudahlah, Yudas. Tidak apa-apa, yang penting tidak ada luka serius. Sekarang lebih baik kita fokus pada soal-soal ini. Waktunya tidak banyak."

Sasha mendengus, namun ia akhirnya membuka buku paketnya. "Cepat kerjakan. Aku tidak mau berlama-lama melihat wajahmu."

Drama sesungguhnya pun dimulai saat mereka mulai membaca soal.

Di atas kertas, tertulis pertanyaan rumit tentang mekanisme gerak refleks dan sinapsis.

Sasha menatap kertas itu seolah-olah itu adalah bahasa alien, sementara Yudas hanya bengong sambil memutar-mutar pulpennya. Keduanya benar-benar tidak paham seujung kuku pun tentang Biologi.

Melihat dua rekan setimnya yang hanya bisa melongo, Aria terpaksa mengambil kendali. Dengan sabar, ia mulai menjelaskan poin demi poin, menggambar diagram kecil agar otak otot mereka bisa menangkap maksud soal tersebut.

"Dengar, sinapsis itu celah antarnuron... Sasha, jangan mencoret pinggir kertasnya! Yudas, perhatikan diagram ini!"

Beberapa puluh menit berlalu dengan ketegangan intelektual yang berat.

Aria tampak bekerja keras memandu, sementara Sasha dan Yudas hanya mengangguk-angguk seperti burung pelatuk, berusaha mengikuti logika Aria yang sangat cepat.

Tepat saat soal terakhir diselesaikan, bel istirahat berbunyi dengan nyaring.

Aria merapikan kertas-kertas tersebut dengan wajah sedikit letih karena hampir 80% tugas itu ia yang mengerjakan sementara kedua temannya hanya menjadi penonton aktif.

"Akhirnya selesai juga!" seru Sasha sambil berdiri dan meregangkan otot-ototnya. Ia menoleh ke arah Aria. "Ayo, Tuan Putri. Kita ke kantin. Aku butuh kafein untuk mendinginkan otakku yang mendidih gara-gara sinapsis ini."

Yudas pun ikut berdiri, berharap bisa mencairkan suasana. "Aku ikut ya? Aku berhutang traktiran sebagai permintaan maaf."

Namun, Aria menggeleng sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. "Kalian berdua pergilah dulu. Aku ada rapat OSIS darurat untuk persiapan festival olahraga. Aku tidak bisa ikut ke kantin hari ini."

Sasha mendesah kecewa, namun ia tidak bisa memaksa jika itu menyangkut urusan organisasi. "Ya sudah kalau begitu. Dasar sok sibuk."

Sasha kemudian berbalik dan melangkah keluar kelas tanpa menunggu jawaban Aria. Yudas, yang tidak enak hati jika harus membiarkan Sasha pergi sendirian dengan mood yang tidak stabil, segera mengikuti dari belakang.

Pemandangan aneh itu pun terjadi di koridor sekolah: sang berandalan paling ditakuti dan sang bintang basket paling populer berjalan berdampingan menuju kantin, meninggalkan sang Ketua OSIS yang harus bergelut dengan tumpukan dokumen.

---

Sore itu, koridor sekolah sudah mulai lengang, namun seorang siswi berambut pirang mencolok tampak berlari terengah-engah.

Namanya **Lily**, salah satu anggota staf OSIS. Ia mendekap sebuah kardus besar dengan wajah panik. "Aduh, gawat! Aku terlambat! Kalau sampai tidak terkirim sore ini, bisa tamat riwayatku!" gumamnya berkali-kali.

Di persimpangan koridor, Lily yang tidak memperhatikan jalan menabrak **Yudas** yang baru saja keluar dari ruang ganti klub basket.

*BRAK!*

Lily jatuh terduduk, dan tumpukan berkas di dalam kardusnya berhamburan ke lantai.

"A-aduh, maaf! Maafkan aku!" serunya panik. Ia langsung memunguti kertas-kertas itu dengan gerakan gemetar, seolah sedang dikejar hantu. Yudas yang merasa bersalah segera berjongkok membantunya. "Santai saja, ini salahku juga. Mari kubantu," ucap Yudas ramah.

Setelah semua dirasa masuk ke kardus, Lily langsung berdiri dan kembali berlari tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Yudas menghela napas, namun matanya menangkap selembar kertas yang terselip di bawah loker. "Hei! Tunggu, satu lagi tertinggal!" teriak Yudas,

namun Lily sudah menghilang di belokan. Yudas memungut kertas itu dan menyimpannya di tas. "Ah, sudahlah. Akan kuberikan besok saja."

---

Keesokan paginya, SMA Garuda Bangsa digemparkan oleh keributan di depan kantor OSIS. Murid-murid berkerumun, menciptakan suasana yang mencekam.

Di tengah lingkaran itu, Aria sedang disudutkan oleh **Raka**, Wakil Ketua OSIS yang dikenal sangat ambisius dan bermulut tajam.

"Aria! Jangan main-main! Di mana laporan keuangan dana OSIS untuk festival?!" bentak Raka sambil memukul meja. "Kau bilang sudah menyelesaikannya semalam dan menaruhnya di meja. Tapi kenyataannya, laporannya tidak ada! Dana itu sangat besar, Aria!"

Aria mencoba tetap tenang meskipun tangannya gemetar. "Aku sudah meletakkannya di sana, Raka. Aku mengerjakannya sampai larut. Semalam, yang bertugas membereskan kertas-kertas penting terakhir kali adalah **Lily**."

Raka langsung menoleh ke arah Lily yang berdiri di pojok ruangan dengan wajah pucat. "Lily! Benar kau yang membereskan meja kerja Aria semalam?"

Lily tampak ragu, matanya melirik ke arah lain sebelum menjawab dengan suara kecil. "I-iya, aku yang membereskan semuanya... Tapi, sungguh, aku tidak melihat ada laporan keuangan di atas meja itu. Hanya ada tumpukan proposal biasa."

Aria tertegun, jantungnya serasa berhenti. "Tidak mungkin... Apakah aku meninggalkannya di tempat lain? Tapi aku ingat betul..."

"Jadi bagaimana sekarang?!" potong Raka dengan nada tinggi. "Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan ke pihak sekolah! Jika kau tidak bisa menemukannya, aku terpaksa melaporkan ini sebagai kelalaian fatal Ketua OSIS!"

Kerumunan murid semakin ramai berbisik-bisik, beberapa mulai menyalahkan Aria.

Di saat itulah, Sasha baru saja tiba di sekolah. Ia melihat kerumunan itu dan menghampiri **Indah** yang berdiri di pinggir dengan wajah sangat khawatir.

"Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul seperti sedang melihat sabung ayam?" tanya Sasha dingin.

Indah menoleh dengan cemas. "Kak Sasha! Itu... Kak Aria sedang dalam masalah besar. Laporan keuangan OSIS hilang, dan Kak Raka menyudutkannya habis-habisan."

Melihat Aria yang berdiri sendirian dengan wajah pucat di tengah kepungan tuduhan, mata Sasha berkilat marah.

Ia sudah mengepalkan tangannya dan hendak maju untuk menghajar mulut besar Raka, namun sebuah tangan besar menahan bahunya.

Sasha menoleh dan melihat Yudas berdiri di sana dengan ekspresi serius yang jarang diperlihatkan.

"Jangan campuri ini dengan kekerasan, Sasha. Kau hanya akan memperburuk keadaan," bisik Yudas. "Biar aku yang mengurus ini."

Sasha menatap Yudas dengan curiga, namun ia akhirnya mendengus dan berhenti melangkah, membiarkan Yudas maju menembus kerumunan menuju pusat konflik.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!