Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Aroma bedak bayi dan minyak telon yang menenangkan memenuhi kamar bayi pagi itu. Jasmine, dengan gerakan yang semakin luwes, memakaikan baju kutung berwarna putih pada Shaka yang baru saja selesai mandi. Bayi mungil itu tampak segar, tangan dan kaki kecilnya bergerak aktif di atas kasur empuk.
"Anak Bunda wangi banget ya..." bisik Jasmine sambil mencium pipi gembul Shaka.
Saking asyiknya mengurus Shaka—mulai dari memandikan, menjemur, hingga menimang-nimang agar sang buah hati tidak rewel—Jasmine lupa satu hal penting: dirinya sendiri. Sejak pagi buta ia belum menyentuh makanan sedikit pun. Segelas air putih yang disiapkan Suster Lastri pun hanya diminumnya dua teguk.
Begitu ia hendak berdiri untuk menaruh handuk basah ke keranjang, dunia di sekelilingnya tiba-tiba berputar. Perutnya terasa seperti diremas dengan tangan besi, sangat perih dan panas. Cairan asam lambung seolah naik ke tenggorokannya.
"Ugh..." Jasmine menutup mulutnya, wajahnya yang semula segar berubah pucat pasi dalam hitungan detik.
Ia segera berlari menuju kamar mandi di dalam kamar Shaka. Suara muntahan yang tertahan terdengar dari balik pintu. Jasmine memuntahkan cairan kuning bening—karena memang tidak ada makanan yang masuk—berulang kali hingga tubuhnya lemas dan bersandar di dinding wastafel yang dingin.
Awan, yang baru saja hendak masuk untuk mengecek keponakannya sebelum berangkat ke kantor, terhenti tepat di ambang pintu. Ia tidak mendengar tawa kecil Jasmine seperti biasanya. Yang ia dengar justru suara orang muntah-muntah dari arah kamar mandi.
Awan langsung menerjang masuk. "Jasmine?! Lo kenapa?!"
Ia menemukan Jasmine sedang terduduk di lantai kamar mandi, kepalanya terkulai di pinggiran wastafel, napasnya tersengal-sengal.
"Gue kan udah bilang kalau sakit ngomong!" bentak Awan. Suaranya menggelegar, penuh dengan nada panik yang ia tutupi dengan kemarahan. Ia segera berlutut dan membantu Jasmine berdiri, menyangga tubuh perempuan itu dengan lengannya yang kokoh.
"Aku... cuma mual dikit, Kak..." rintih Jasmine. Begitu ia mencoba bicara, rasa perih di ulu hatinya kembali menyerang, membuatnya kembali muntah di wastafel.
Awan memijat tengkuk Jasmine dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang bahu Jasmine agar tidak jatuh. Wajahnya mengeras, rahangnya menonjol menahan emosi. "Mual dikit pala lo peyang! Muka lo udah kayak mayat begini! Lo belum makan kan dari pagi? Jawab gue!"
Jasmine hanya bisa mengangguk lemah sambil memejamkan mata.
"Sialan! Lo mau bunuh diri perlahan atau gimana? Lo pikir lo superwoman yang nggak butuh makan?!" omel Awan tanpa henti. Meskipun mulutnya terus mengeluarkan kalimat pedas, gerakannya sangat hati-hati saat membimbing Jasmine kembali ke tempat tidur.
Awan membaringkan Jasmine, lalu berteriak memanggil Suster Lastri untuk menjaga Shaka. Ia sendiri kemudian berlari ke dapur dan kembali membawa segelas air hangat dan obat mag cair.
"Minum!" perintah Awan sambil menyodorkan sendok berisi obat.
Jasmine meminumnya dengan susah payah. Rasa perih di lambungnya perlahan mulai mereda, namun tubuhnya masih terasa sangat lemas. Ia menatap Awan yang kini sedang mengusap wajahnya dengan kasar, tampak sangat frustrasi.
"Maaf, Kak... aku tadi cuma keasikan liat Shaka main..."
"Keasikan sampe lupa nyawa sendiri?" potong Awan tajam. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Jasmine dengan mata yang berkilat amarah namun juga penuh luka. "Kalau lo pingsan pas lagi gendong Shaka gimana? Kalau lo kenapa-kenapa di rumah ini, siapa yang bakal jagain anak Hero? Gue nggak bisa sendirian, Jasmine! Jangan bikin gue gila karena kecerobohan lo!"
Keheningan menyelimuti kamar itu setelah ledakan emosi Awan. Jasmine tertegun melihat bagaimana Awan sangat peduli padanya, meskipun caranya selalu kasar dan judes. Ia melihat tangan Awan yang sedikit gemetar saat meletakkan gelas di nakas.
Awan menyadari Jasmine memperhatikannya. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya. "Gue bikinin bubur. Jangan berani-berani turun dari kasur sebelum bubur itu abis."
Sepuluh menit kemudian, Awan kembali dengan semangkuk bubur ayam hangat. Ia tidak memberikannya pada Jasmine, melainkan meniup sesendok bubur itu lalu menyodorkannya ke depan mulut Jasmine.
"Kak... aku bisa sendiri," ucap Jasmine malu-malu.
"Banyak bacot. Buka mulut lo," balas Awan singkat.
Jasmine akhirnya menurut. Setiap suapan yang diberikan Awan terasa sangat hangat di perutnya, namun ada perasaan lain yang lebih hangat mulai menjalar di dadanya. Ia memperhatikan wajah Awan dari dekat. Mata pria itu yang biasanya tajam kini tampak letih, namun ada kelembutan yang tersembunyi di balik garis wajahnya yang tegas.
Tanpa sengaja, ujung jari Awan menyentuh sudut bibir Jasmine untuk membersihkan sisa bubur. Gerakan itu berlangsung hanya beberapa detik, namun waktu seolah berhenti bagi keduanya.
Mata mereka bertemu. Ada sebuah getaran aneh yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata—sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa kasihan atau tanggung jawab terhadap warisan Hero. Ada rasa nyaman yang mulai tumbuh, sebuah koneksi yang mulai terjalin di atas puing-puing kesedihan mereka.
Awan segera menarik tangannya, seolah baru saja tersengat listrik. Ia membuang muka ke arah jendela.
"Inget ya, Jas. Gue lakuin ini biar lo cepet sembuh dan bisa jaga Shaka lagi. Jangan GR," ketus Awan. Suaranya sedikit bergetar, pertanda ia pun merasa canggung dengan suasana barusan.
Jasmine tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Iya, Kak. Makasih."
Setelah bubur itu habis, Awan menyelimuti Jasmine. Ia berdiri di dekat pintu, tangannya memegang gagang pintu namun ia tak kunjung keluar.
"Jas..." panggil Awan pelan, tanpa berbalik.
"Ya, Kak?"
"Lo itu berharga. Bukan cuma karena lo ibunya Shaka, tapi karena... ya karena lo. Jadi tolong, jaga diri lo baik-baik. Kalau lo sakit, rumah ini rasanya... beda."
Awan langsung keluar dan menutup pintu dengan sedikit keras sebelum Jasmine sempat membalas. Di koridor, Awan bersandar di pintu sambil memegang dadanya yang berdetak tidak keruan.
"Bego lo, Wan! Lo ngomong apaan barusan?" batinnya merutuki diri sendiri.
Di dalam kamar, Jasmine menyentuh bibirnya yang tadi sempat tersentuh jemari Awan. Ia tahu, Hero akan selalu menjadi cinta pertamanya, namun Awan... Awan adalah pria yang membangunkannya dari kegelapan, pria yang menjadi gunung karang tempatnya bersandar saat dunia mencoba merobohkannya.
Ada perasaan aneh yang mulai menjalar di antara keduanya—perasaan yang mungkin salah menurut paman dan tantenya, namun terasa begitu benar di hati mereka yang terluka.