Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Pagi Yang Berbahaya
Minggu pagi di pinggiran Helsinki biasanya sunyi, hanya ada suara angin yang menyisir hutan pinus di sekitar mansion. Namun, bagi Atlas, ini adalah waktu favoritnya. Setelah berlari sejauh 10 kilometer menembus udara dingin yang segar, tubuhnya terasa panas dan penuh energi.
Ia masuk ke kamar Kaylee, menemukan sahabatnya itu masih terbungkus selimut tebal seperti kepompong. Kaylee memang sulit bangun jika sedang musim dingin; ia seperti mayat hidup yang enggan berurusan dengan dunia sebelum matahari benar-benar naik.
"Kay, bangun! Bangun!" seru Atlas sambil melompat ke sisi tempat tidur.
Ia mulai menggelitik pinggang Kaylee dengan brutal. Kaylee menggeliat, tertawa tanpa suara karena kehabisan napas, dan mencoba menendang Atlas. "Atlas... stop! Geli!"
"Ayo lari! Udara di luar lagi bagus banget!"
"Nggak mau... dingin..." gumam Kaylee, dan begitu Atlas melepaskannya, ia langsung kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan kembali terlelap dalam hitungan detik.
Atlas hanya menggelengkan kepala melihat tingkah saudaranya itu. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Tiga puluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana cargo hitam. Tubuhnya yang atletis masih menyisakan uap panas dari air mandi, dan rambutnya yang basah meneteskan air ke bahunya.
Melihat Kaylee yang masih tidak bergeming di bawah selimut, sebuah ide jahil muncul. Atlas mendekat, lalu dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, tepat di samping Kaylee.
Ia menyelinap masuk ke bawah selimut, membawa hawa dingin dari sisa air mandinya ke dalam kehangatan tempat tidur Kaylee. Atlas memeluk pinggang Kaylee dari belakang, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kaylee, area yang paling sensitif bagi gadis itu.
"Bangun, Kaylee Lumiere..." bisik Atlas pelan.
Tetesan air dari rambut Atlas jatuh ke kulit leher Kaylee, membuat gadis itu berjengit. Atlas tidak berhenti di situ, ia memberikan kecupan-kecupan kecil yang basah dan hangat di sepanjang garis leher Kaylee, menghirup aroma vanila yang selalu menempel pada tubuh sahabatnya itu.
"At... dingin..." rintih Kaylee, namun ia tidak menjauh. Malah, secara insting, tangannya meraba ke belakang, menyentuh lengan berotot Atlas yang sedang memeluknya.
"Lo wangi banget, Kay. Kenapa lo selalu wangi vanila bahkan pas bangun tidur?" gumam Atlas, suaranya berat dan serak khas orang baru bangun tidur, tepat di telinga Kaylee.
Kaylee membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Atlas bisa merasakannya melalui punggungnya. Kecupan Atlas di lehernya terasa jauh lebih intim dari biasanya. Bagi Atlas, mungkin ini hanya cara ekstrem untuk membangunkan sahabatnya, tapi bagi Kaylee, ini adalah siksaan manis yang membuatnya ingin menangis.
"Udah bangun kan? Ayo, gue udah laper. Masakin gue pancake," pinta Atlas sambil menggigit kecil bahu Kaylee sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang, memamerkan punggung lebarnya yang masih setengah basah.
Kaylee perlahan membuka matanya, menatap punggung itu dengan tatapan hancur yang tersembunyi. "Lo benar-benar menyebalkan, Atlas Theodore."
"Tapi lo sayang, kan?" sahut Atlas sambil menoleh dan mengedipkan sebelah mata, tidak menyadari bahwa candaannya barusan adalah kebenaran paling menyakitkan bagi wanita di belakangnya.
Kaylee menarik napas panjang. Selama tiga tahun, dia adalah pemeran pembantu yang paling penurut dalam naskah hidup Atlas. Tapi pagi ini, di bawah cahaya matahari Helsinki yang pucat dan sisa-sisa kehangatan bibir Atlas di lehernya, sesuatu dalam dirinya patah, atau mungkin, justru tumbuh menjadi sebuah keberanian yang nekat.
"Lo benar, At," gumam Kaylee pelan, suaranya hampir hilang ditelan sunyi kamar.
Atlas yang baru saja hendak berdiri untuk mengambil kaus, menoleh dengan kening berkerut. "Hah? Benar soal apa?"
Kaylee tidak menjawab dengan kata-kata. Dia bergerak cepat, menarik lengan Atlas sebelum pria itu benar-benar menjauh dari ranjang. Dengan sedikit sentakan, dia memaksa Atlas kembali condong ke arahnya. Kali ini, Kaylee tidak menunggu. Dia melingkarkan lengannya di leher Atlas, menarik pria itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Kay? Lo kenapa?" Atlas bertanya, suaranya sedikit tertahan. Ada kilat bingung di matanya, tapi dia tidak menjauh.
"Lo bilang jangan pernah punya pacar, kan?" bisik Kaylee. Matanya menatap tepat ke bibir Atlas, bibir yang baru saja mengeluh tentang betapa hambarnya Clarissa. "Gue bakal turuti. Gue nggak akan punya pacar. Tapi sebagai gantinya..."
Kaylee memajukan wajahnya, membenamkan wajahnya di dada bidang Atlas yang masih lembap, menghirup aroma sabun dan maskulin yang sangat dia hafal. Dia sengaja menggesekkan hidungnya di kulit Atlas, sebuah tindakan yang jauh melampaui batas persahabatan mereka biasanya.
"Sebagai gantinya, jangan pernah kasih perhatian kayak tadi ke cewek lain. Jangan pernah cium leher cewek lain buat bangunin mereka. Jangan pernah kasih mereka tempat seperti di mansion ini," ucap Kaylee dengan nada rendah, posesif yang selama ini dia kubur dalam-dalam kini mencuat ke permukaan.
Atlas mematung. Otot-otot lengannya menegang di bawah jemari Kaylee. Dia bisa merasakan napas Kaylee yang hangat dan sedikit bergetar di dadanya. "Kay... lo sadar apa yang lo omongin?"
Kaylee mendongak, menatap Atlas dengan tatapan yang tidak lagi aman. Dia membiarkan Atlas melihat seluruh luka, kerinduan, dan rasa lapar akan kasih sayang di matanya. "Gue sadar sesadar-sadarnya, Atlas. Selama ini gue selalu dengerin cerita lo tentang Sabina, Elena, sampai Clarissa. Sekarang, giliran lo yang dengerin gue. Gue nggak mau jadi pilihan kedua setelah pacar-pacar lo itu."
Kaylee semakin mendekat, bibirnya hampir menyentuh dagu Atlas. "Gue mau jadi satu-satunya alasan lo pulang ke mansion ini. Bukan karena lo kasihan sama trauma gue, tapi karena lo memang nggak bisa pergi."
Suasana kamar mendadak menjadi sangat panas meski di luar salju sedang turun. Atlas tidak tertawa. Dia tidak mengejek. Dia hanya menatap Kaylee dengan intensitas yang berbeda, seolah baru pertama kali melihat wanita yang selama ini tidur di sampingnya adalah seorang... wanita.
Tangan Atlas yang tadinya berada di samping tubuhnya, perlahan naik, ragu-ragu namun akhirnya mendarat di pinggang ramping Kaylee, meremasnya pelan.
Suasana di kamar itu mendadak kehilangan oksigen. Atlas tidak menjauh, tidak juga tertawa. Tatapannya yang tadi santai kini berubah menjadi gelap dan intens, terpaku pada bibir Kaylee yang masih sedikit gemetar karena keberaniannya sendiri.
Perlahan, Atlas menangkup wajah Kaylee dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Jempolnya mengusap bibir bawah Kaylee dengan lembut, menciptakan desiran yang membuat Kaylee nyaris lupa cara bernapas.
Tanpa peringatan, Atlas menunduk. Bibirnya menyentuh bibir Kaylee, lembut, namun penuh penekanan. Itu bukan sekadar kecupan singkat di puncak kepala. Itu adalah ciuman yang nyata.
Kaylee mematung, dunianya seolah berhenti berputar. Belum sempat ia memproses apa yang terjadi, Atlas menarik diri hanya beberapa milimeter sebelum kembali menciumnya untuk kedua kalinya, kali ini lebih dalam dan menuntut. Lalu sekali lagi, yang ketiga, sebuah ciuman yang terasa sangat posesif hingga memenuhi seluruh rongga dada Kaylee.
Atlas melepaskan tautan bibir mereka, namun tetap menempelkan dahi mereka. Napasnya memburu, menerpa wajah Kaylee. Dengan suara rendah yang sangat serius, ia berbisik.
"Biar ciuman pertama lo sama gue aja, Kay. Jangan pernah kasih ke cowok lain," ucap Atlas, matanya menatap dalam ke netra Kaylee. "Gue janji... gue bakal jagain lo seumur hidup gue. Lo nggak butuh cowok lain selama ada gue."
Kaylee terpaku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit. Ia hampir saja membongkar rahasianya, hampir saja mengatakan Aku mencintaimu. Namun, alarm di otaknya berbunyi. Jika ia melangkah lebih jauh, sandiwara tiga tahun ini akan hancur, dan ia takut Atlas hanya melakukan ini karena insting protektif yang salah sasaran.
Dengan kekuatan yang tersisa, Kaylee mendorong bahu Atlas. Ia memasang wajah cemberut yang paling meyakinkan, menyembunyikan badai perasaan di dadanya dengan amarah palsu.
"Atlas! Lo gila ya?!" teriak Kaylee sambil mengelap bibirnya kasar dengan punggung tangan. "Itu ciuman pertama gue, bego! Gue simpan buat pangeran dari Italia atau mana gitu, malah diambil sama lo yang jelek dan baru bangun tidur gini!"
Atlas berkedip, terkejut dengan perubahan drastis Kaylee. "Hah? Jelek? Lo bilang gue jelek?"
"Iya! Bau keringat lagi! Keluar lo dari kamar gue!" Kaylee menyambar bantal dan melemparkannya tepat ke wajah Atlas.
"Heh, banyak cewek yang antre buat dapet itu ya!" Atlas menangkap bantal itu, mulai terpancing oleh akting Kaylee. Sifat jahilnya kembali muncul. "Sini lo! Berani-beraninya bilang gue jelek!"
Atlas mencoba menangkap Kaylee, namun Kaylee lebih dulu melompat turun dari ranjang dan berlari keluar kamar sambil tertawa kencang, tawa yang ia gunakan untuk menutupi rasa sesak yang membuncah.
"Kejar gue kalau bisa, Tuan Arsitek Gagal!" seru Kaylee dari koridor.
"Awas lo, Kaylee Lumiere!"
Maka terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam mansion mewah itu. Mereka berlari menuruni tangga marmer, melewati ruang makan, hingga berakhir di ruang tengah yang luas. Suara tawa mereka bergema, memecah kesunyian Helsinki yang beku.
Bagi Atlas, ini adalah momen persahabatan mereka yang paling seru. Tapi bagi Kaylee, sambil berlari dan tertawa, ia membatin, kebohongan yang luar biasa kaylee. Ia baru saja mendapatkan ciuman impiannya, namun ia harus berpura-pura membencinya demi menjaga Atlas tetap di sisinya.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍