Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di rumah keluarga Falcon, Tuan Falcon duduk berhadapan dengan istri dan anaknya. Evan menunduk tak berani menatap sang ayah yang sedang dilanda emosi.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menatap kami seperti itu?" sengit sang istri tak terima dengan tatapan suaminya.
"Kenapa kalian terburu-buru meresmikan pertunangan dengan Shopia? Kenapa tidak menunggu Hana? Apakah kau benar-benar mencari Hana?" cecar Tuan Falcon menatap anaknya dengan tajam.
Evan mendengus, berdecak kesal dengan sikap ayahnya.
"Kurasa itu tidak ada salahnya. Evan dan Shopia tumbuh bersama, mereka juga saling mencintai sebelum Hana datang. Pertunangan ini memang awalnya milik mereka. Jangan hanya karena Hana kau ingin memisahkan mereka," sengit sang istri tak terima dengan keputusan suaminya.
Tuan Falcon melirik sang istri, kemudian menatap Evan yang tertunduk. Ia bisa melihat senyum tipis tersirat di bibir anaknya itu.
"Kau tahu status Shopia? Dia hanya anak angkat dan tidak diakui oleh nyonya tua Haysa. Artinya Shopia tidak memiliki tempat di keluarga itu meskipun mereka sangat menyayanginya. Aku tidak ingin Evan menikah dengan perempuan yang tidak jelas asal-usulnya itu. Hana lebih baik meskipun datang dari desa, dan kau ... apa kalian tidak melihat karakter keluarga itu? Mereka lebih menyayangi anak angkat dari pada anak kandung mereka," ujar Tuan Falcon gemas dengan sikap anak dan istrinya.
Evan mengangkat wajah, menatap sang ayah dengan berani.
"Tapi aku tidak menyukai Hana, Ayah. Aku menyukai Shopia. Dia gadis yang baik hati dan lembut. Aku tahu bagaimana karakternya karena kami tumbuh bersama. Aku tidak bisa bertunangan dengan seseorang yang belum aku kenal," ucap Evan.
Tuan Falcon mendengus, jika alasannya memang seperti itu maka ia tidak bisa berbuat apa-apa. Laki-laki itu bangkit dari sofa dan meninggalkan mereka berdua.
"Sudahlah. Ayahmu hanya marah sesaat. Dia pasti akan mengerti. Sekarang kau pikirkan bagaimana agar Shopia mendapatkan villa warisan itu. Itu juga bagus untuk kehidupan kalian nanti," ucap Nyonya Falcon menenangkan anaknya.
Evan tersenyum, menganggukkan kepala patuh.
Tentu saja aku harus membantu Shopia mendapatkan villa itu. Villa senilai miliaran rupiah tidak boleh jatuh ke tangan gadis desa seperti Hana. Shopia lebih cocok tinggal di sana.
"Ibu tenang saja. Tuan Haysa sudah berjanji akan memberikan villa itu kepada Shopia. Ibu juga tahu betul, Tuan Haysa tidak pernah mengingkari janjinya. Apapun akan dia berikan kepada Shopia," ucap Evan membayangkan villa itu akan menjadi milik mereka.
"Ibu harap semuanya berjalan lancar," katanya.
Mereka tersenyum jahat, keluarga yang licik. Saling memanfaatkan satu sama lain.
*****
Di perkebunan teh, di luar gerbang villa Hana. Orang-orang Alan berdatangan menjelang subuh. Mereka berpencar mengepung bangunan itu, mencari tahu siapa yang berani mengancam majikan mereka. Menyusuri hutan pinus mencari jejak para pemburu.
Tak ada jejak apapun sampai pencarian mereka mencapai batas hutan pinus. Hanya hamparan perkebunan teh yang selanjutnya mereka lihat. Tempat itu tidak cocok untuk dijadikan tempat berburu hewan karena tak ada hewan apapun di sana selain tupai.
Di dalam villa, Hana berdiri di jendela besar mengawasi. Ia mengernyit saat banyak orang berseragam hitam mengepung villa nya. Ia berbalik dan hendak turun ke lantai bawah. Dahinya mengernyit melihat para pelayan mengintip di tirai jendela.
"Bi, ada apa?" Suara Hana membubarkan mereka.
Bi Sum dan semua pelayan berbalik menyapa Hana dengan kepala tertunduk. Kepala pelayan itu maju ke depan, menghadap Hana.
"Nona, tuan Alan mengerahkan orang-orangnya mengepung villa ini. Apa yang harus kita lakukan?" ucap Bi Sum.
Oh!
Hana menatap jauh ke depan, berpikir bagaimana cara menghadapi kakak pertamanya itu.
"Bi, apakah di sini ada senjata lain?" tanya Hana membuat semua pelayan mendongak mendengar itu.
"Ada, Nona. Sebentar saya ambilkan," ucap Bi Sum seraya pergi ke kamar penyimpanan.
Ia kembali dengan membawa senjata laras panjang yang diambilnya dari ruang penyimpanan.
"Ini, Nona. Ini digunakan tuan tua untuk berburu," katanya seraya memberikan senjata itu kepada Hana.
Hana mengambil senjata tersebut, menelisik dengan dahi mengernyit.
Senjata apa ini? Apakah Hana bisa menggunakan senjata ini? Tapi sesuai ingatannya dia memang bisa mengunakannya. Baguslah!
"Nona, apa yang akan Anda lakukan dengan senjata ini?" tanya Bi Sum cemas.
Hana tersenyum sinis, meletakkan senjata itu di bahunya.
"Ikut aku!" katanya seraya berjalan memimpin di depan.
Dengan jaket kulit hitam dan celana kulit selutut yang senada, ia melangkah keluar villa untuk berhadapan dengan Alan. Diikuti para pelayan di villa yang semuanya adalah perempuan. Mereka seperti sebuah pasukan kecil yang dipimpin oleh Hana. Para pelayan itu berbaris di belakang Hana saat ia berhenti di dekat gerbang.
Dua kubu bertemu, terhalang gerbang besi yang kokoh.
"Hana!" Alan menatap sedih adiknya, tapi Hana justru memancarkan kebencian.
Dor!
hai jalang gk tau diri lo