NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebenaran yang terungkap

Cavin menyandarkan punggungnya pada kursi kerja . Matanya terpaku pada sebuah flashdrive yang tergeletak di atas meja benda kecil yang baru saja diperiksa oleh ayahnya.

Sebuah senyum tipis, hampir tak kentara, terukir di sudut bibirnya.

"Apakah masa pensiun begitu membosankan bagi papa? Sampai-sampai di dokumen digital ini pun kau telah di periksa satu per satu," gumamnya lirih, memecah keheningan ruang kerja yang hanya dihiasi detak jam dinding yang monoton.

Lamunannya terputus saat sebuah notifikasi surat elektronik muncul di layar monitor. Itu dari Nino, asisten setianya. Isinya adalah rekaman CCTV—sebuah kepingan bukti dari malam yang mengubah garis hidupnya beberapa bulan lalu. Malam terkutuk yang membuatnya tertangkap basah oleh sang mama dan rombongan sosialitanya, tidur terlelap dalam pelukan seorang gadis.

Malam itu, langit kota seolah terbakar oleh euforia perayaan jabatan salah satu sahabatnya.

entah kebetulan atau memang takdir yang memang berpihak pada mereka, lingkaran pertemanan mereka semua adalah calon penerus perusahaan keluarga.

Cavin, yang biasanya terkendali, membiarkan cairan ambar mengalir ke tenggorokannya tanpa jeda.

Besok adalah hari libur, pikirnya. Ia ingin tenggelam sejenak dari hiruk-pikuk korporasi

Di antara lampu remang-remang lounge, ia melihat sosok itu. Gadisnya. Kekasih yang berbulan-bulan terpisah oleh ego dan kesibukan.

 Keduanya sama-sama rapuh, sama-sama kehilangan arah dalam dekapan alkohol. Saat fajar hampir menyapa, Cavin memutuskan membawa gadis itu ke apartemen pribadinya,

 membiarkan asistennya membawa pulang mobilnya karena Nino tidak ikut pesta , sedang kan dia tidak mungkin membawa mobil karena sudah berpikir akan mabuk malam ini, untuk pulang dia akan memesan taksi online

" silahkan tuan" ucap sopir taxi online setelah sampai di alamat yang dituju Cavin yang sempoyongan memapah tubuh mungil itu.

"apa perlu saya mengantar ke atas tuan"

"Pergilah. Istirahatlah kau," usir Cavin dengan suara berat yang serak.

"Tapi, Tuan—"

"Ambil ini, dan hilanglah dari pandanganku!" Cavin menyodorkan beberapa lembar uang dengan kasar.

Amarahnya yang tak beralasan meluap, bahkan satpam apartemen pun menjadi sasaran tatapan tajamnya yang menusuk.

Di depan pintu lift yang memantulkan bayangan mereka yang berantakan, Cavin menurunkan gadis itu sejenak.

Jemarinya yang gemetar mencoba menekan tombol lift di dinding. Gadis itu terkulai, rambutnya yang acak-acakan menutupi wajahnya yang pucat.

"Na... ayo pulang. Kepalaku ingin pecah, aku ingin tidur..." igau gadis itu, suaranya parau, nyaris seperti bisikan angin.

"Iya, Sayang. Kita sudah di rumah," jawab Cavin, meski pandangannya sendiri mulai berbayang.

Pintu lift terbuka dengan denting halus. Dengan sisa tenaga yang memudar, Cavin kembali merengkuh tubuh itu, membawanya masuk ke dalam kamar yang ia sangka aman.

 Ia membaringkan gadis itu di atas sprei sutra miliknya, sebelum akhirnya kegelapan total menjemput kesadarannya hingga pagi harinya, jeritan histeris sang mama meruntuhkan seluruh dunianya.

Cavin mematikan rekaman video itu.

ternyata kekasih nya lah yang menyodorkan Thalia ke dekapan nya saat ia mabuk waktu itu, dan Thalia juga mabuk sehingga begitu menurut di bawah oleh nya.

 Jemarinya mengetuk meja, teringat ucapan seorang kawan tentang jejak digital Alula di media sosial.

 Ia segera menghubungi Sardhi.

"Halo, Sardhi. Kirimkan forward story Alula yang pernah kau perlihatkan padaku waktu itu," ujar Cavin, suaranya kini dingin seperti es yang membeku.

"Oke, tunggu sebentar. Semoga belum kuhapus," jawab suara di seberang.

Tak lama setelah panggilan berakhir, sebuah pesan masuk. Bukan dari Sardhi, melainkan dari wanita yang selama ini ia sebut kekasih.

"Sayang, apa kabar? Jemput aku di bandara, ya..."

Belum sempat ia membalas, ponselnya bergetar hebat. Panggilan masuk.

"Halo, Sayang! Aku sudah di bandara, jemput aku sekarang, ya?" Suara di seberang sana terdengar riang, seolah tak ada dosa yang menggantung di antara mereka.

Cavin memejamkan mata, merasakan mual yang mendalam. "Aku sedang di luar kota. Ada pertemuan penting dengan klien."dusta nya.

"Huuu... padahal aku pulang untukmu. Kau tahu kan, aku pergi sejauh ini hanya untuk menenangkan pikiran karena berita pernikahanmu itu?" rengek wanita itu.

Cavin tersenyum getir. Menenangkan pikiran? Atau merayakan pernikahan rahasia dengan pria lain? Respek yang pernah ia miliki kini telah menguap, berganti dengan rasa muak yang tak bertepi.

 "Aku harus menutup teleponnya. Rapat akan dimulai."

"Ya sudah, aku naik taksi saja. Bye, Sayang!"

"Hati-hati," ucap Cavin pelan. Begitu sambungan terputus, ia membisikkan kata-kata yang lebih mirip sebuah vonis, "Hati-hatilah, karena sebentar lagi kebohongan mu akan terbongkar"

tok tok tok

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya

" maaf den tukang urut nya sudah datang " ucap salah satu Art nya

" baik bi " jawab nya dari dalam

Tangannya menjadi sasaran empuk sang istri ketika kaki nya di urut,bahkan ada bekas gigi sang istri yang menancap di lengan nya ,

Setelah selesai ia kembali ke ruang kerja mencoba kembali fokus pada tumpukan dokumen. Sedangkan istrinya sudah ia suruh istirahat.

Ia ingin segera menyelesaikannya sebelum berangkat ke kantor. Namun, sebuah pesan singkat dari sang mama mendarat, memerintahkannya untuk menjaga Thalia dan lilo sang anak kecil cucu dari sahabat Mama nya hingga beliau pulang.

Rencana ke kantor pun buyar. Ia harus bekerja dari rumah, karena harus menjaga dua anak kecil sekaligus karena jika ia tinggal ia tidak yakin istri nya bisa menjaga

Sebenar nya dia bisa saja enggak berangkat ke kantor tapi demi menjadi teladan bagi calon bawahan, belum lagi beberapa bulan kedepan ia akan di lantik jadi ia harus disiplin agar para petinggi dan yang lain nya bisa menilai

Lelah yang merayap di pundaknya membuat Cavin memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamarnya. Ia mendambakan keheningan dan aroma aromaterapi yang menenangkan.

Namun, saat pintu kamar itu terbuka, pemandangan di depannya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Kamar yang biasanya tertata dengan presisi

 kini berubah menjadi medan perang. Bantal-bantal berserakan, kertas-kertas penting terbang tak tentu arah, dan kekacauan meluas hingga ke sudut-sudut ruangan.

"Apa yang kalian lakukan?!" serunya, suaranya menggelegar di antara puing-puing kerapian yang kini sirna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!