17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selai Stroberi & Frekuensi Statis
Angin di Dago Pakar bertiup semakin kencang, membawa aroma getah pinus yang tajam.
Lian masih memegang Walkman-nya dengan tangan kaku.
Pengakuan Kara menggantung di udara, berat dan menakutkan, namun anehnya... membebaskan.
"Lo aneh," kata Lian akhirnya. Itu respons pertama yang keluar dari mulutnya.
Kara menunduk, memainkan ujung kemeja seragamnya yang kotor terkena debu tanah. "Aku tahu."
"Lo suka sama cowok yang setiap sore berdiri di pinggir gedung?" Lian menggeleng tak percaya. Dia menekan tombol stop di kaset itu, seolah ingin menyudahi kegilaan ini. "Itu bukan tipe ideal, Ra. Itu kasus psikologis."
Kara tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti lonceng pecah—sedikit sumbang, tapi nyata.
"Siapa bilang aku cari yang ideal? Aku cuma bilang aku lihat Kakak. Benar-benar lihat."
Lian terdiam. Dia menyimpan Walkman itu kembali ke saku jaket denim-nya (yang dia pakai rangkap di atas seragam). Dia merasa telanjang. Depresi membuatnya merasa tak terlihat selama bertahun-tahun, menyembunyikan diri di balik topeng prestasi. Tapi gadis ini... dia melihat retakan di topeng itu dan memutuskan untuk menyukainya.
Lian menghela napas panjang, lalu mengalihkan topik. Mekanisme pertahanannya aktif.
"Lo laper nggak? Kita bolos belum bawa bekal."
Kara mendongak, matanya masih basah tapi berbinar geli. "Kak Lian mau nraktir di hutan gini? Emang ada warung?"
"Ada roti di tas gue. Roti jatah panitia upacara tadi pagi yang gue colong," aku Lian tanpa rasa bersalah.
...----------------...
Mereka duduk bersila di atas batang pohon tumbang yang cukup besar.
Di pangkuan Lian, ada sebungkus roti tawar kupas merk lokal dan sebotol kecil selai stroberi.
"Selai stroberi?" Kara menaikkan alisnya.
"Gue suka manis. Masalah?" Lian membuka toples kaca selai itu. Plup. Bunyi tutupnya terbuka terdengar memuaskan.
Dia mengoleskan selai merah pekat itu ke atas lembaran roti putih dengan jari telunjuknya (karena tidak ada sendok/pisau). Jorok, tapi mereka sudah terlanjur menjadi kriminal sekolah hari ini.
Lian menyodorkan roti yang sudah belepotan selai itu ke Kara.
"Nih. Makan. Biar lo nggak pingsan pas dimarahin BK besok—eh, maksud gue nanti."
Kara menerimanya dengan senyum tertahan. Dia menggigit ujung roti itu. Selai merah menempel di sudut bibirnya.
Lian membuat satu lagi untuk dirinya sendiri.
Dia menggigit roti itu.
Kunyah.
Telan.
Lian terhenti. Matanya membelalak sedikit.
Rasa manis yang meledak di lidahnya... itu terasa
Benar-benar terasa.
Selama berbulan-bulan, depresi membuat lidah Lian seolah mati rasa. Nasi goreng ibunya terasa seperti kertas. Kopi ayahnya terasa seperti air comberan. Semuanya hambar.
Tapi hari ini... di tengah hutan, ditemani gadis yang baru saja bilang suka padanya... rasa stroberi artifisial ini terasa seperti makanan paling enak di dunia.
"Kenapa, Kak?" tanya Kara dengan pipi menggembung penuh roti.
Lian menelan ludah, menatap sisa roti di tangannya dengan takjub.
Warna selai itu merah menyala. Bukan abu-abu tua.
Rasa manisnya tajam.
"Enak," gumam Lian pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Rasanya manis, Ra."
Kara berhenti mengunyah. Dia menatap Lian lekat-lekat, menyadari perubahan di wajah cowok itu. Mata Lian yang biasanya redup kini sedikit berkaca-kaca karena takjub pada sensasi rasa sederhana.
"Iya," jawab Kara lembut. "Emang manis."
Kara mengerti. Dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya menggeser duduknya sedikit lebih dekat, hingga bahu mereka bersentuhan.
Seketika, hutan pinus itu meledak dalam spektrum warna yang sempurna.
Langit biru di atas celah pepohonan.
Lumut hijau neon di batang kayu.
Sepatu Converse hitam Kara yang talinya putih kusam.
Bahkan remah-remah roti di celana abu-abu Lian terlihat detail.
Mereka makan dalam diam. Hanya suara angin dan kunyahan roti.
Lian merasa... tenang.
Suara berisik di kepalanya yang biasanya berteriak 'Mati saja, nggak ada gunanya hidup' kini teredam. Digantikan oleh suara napas Kara yang teratur di sampingnya.
Setelah roti habis, Lian mengeluarkan satu buah earphone. Kabelnya kusut parah.
"Satu sisi buat lo," Lian menyodorkan earphone sebelah kiri (bertanda L). Dia memasang yang kanan (R) ke telinganya sendiri.
Dia memasang kembali Walkman itu, tapi kali ini dia memutar Side A.
Lagu instrumental aneh buatan Kara.
PLAY.
Alunan gitar akustik yang lo-fi dan suara rintik hujan memenuhi telinga mereka berdua.
Kepala Kara perlahan—sangat pelan dan ragu-ragu—jatuh ke bahu Lian.
Lian menegang sedetik. Tapi dia tidak menjauh.
Dia membiarkannya.
Dia bahkan memiringkan kepalanya sedikit, menyandarkannya di atas kepala Kara.
Waktu seolah berhenti. Bukan karena sihir Loop, tapi karena mereka ingin momen ini abadi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Time Loop tanggal 17 Agustus 1996 ini... Lian tidak ingin hari berakhir.
"Ra," panggil Lian di tengah lagu.
"Hm?" Kara menjawab dengan mata terpejam, menikmati sandaran di bahu kokoh Lian.
"Gue nggak mau mati hari ini," bisik Lian.
Kara membuka matanya seketika. Tubuhnya menegak. Dia menoleh menatap Lian.
Wajah Lian terlihat serius, tapi rapuh.
"Gue mau tau rasa roti selai ini besok pagi. Gue mau tau apa warna langit pas mendung besok siang." Lian menatap Kara. "Gue mau tau... lo besok masih inget gue atau nggak."
Kara tersenyum sedih. Dia mengangkat tangannya, memberanikan diri menyentuh punggung tangan Lian yang besar dan kasar.
"Kita usaha, ya? Kita cari cara biar pitanya nggak rewind."
Lian mengangguk. Ada tekad baru di matanya.
"Kita pulang. Gue anter lo balik sebelum jam 5 sore. Gue mau coba sesuatu pas pergantian hari."
...----------------...
Jalan Pulang, Pukul 16:45 WIB.
Matahari mulai condong ke barat. Warna langit berubah menjadi jingga keunguan. Golden hour.
Lian memacu motornya lebih cepat menuruni bukit Dago.
Setiap kilometer yang mereka lalui mendekati kota, Lian merasakan perubahan.
Saat motor menjauh dari area hutan yang tenang dan masuk ke hiruk-pikuk kota yang macet, warna-warni dunia mulai berkedip (flickering).
Kadang jadi abu-abu.
Kadang berwarna lagi.
Dada Lian mulai sesak lagi.
Sensasi glitch itu kembali. Rasa mual Time Loop.
Rasanya seperti ditarik paksa oleh tangan tak kasat mata ke belakang lehernya.
"Kak! Pelan-pelan!" Kara berteriak sambil memeluk pinggang Lian erat.
Lian melihat spion. Wajah Kara di spion terlihat cemas.
Lian melihat jam tangan digital di tangan kirinya.
16:50:35
Kurang dari sepuluh menit sebelum waktu kematiannya di timeline asli.
Kurang dari sepuluh menit sebelum lagu di Side A habis.
Mereka sampai di depan gang rumah Kara. Sebuah gang kecil yang rimbun di daerah Cikutra.
Lian mengerem mendadak. Motor berhenti.
Kara turun tergesa-gesa. Dia melepas helm, rambutnya berantakan.
"Kak, jangan pergi ke rooftop," pinta Kara memohon, mencengkeram lengan jaket Lian. "Plis. Pulang ke rumah aja. Tidur. Jangan ke sekolah."
Lian menatap jam lagi.
16:55:00
Kepalanya sakit luar biasa. Suara statis radio rusak mulai berdengung kencang di telinganya.
Ngiiiiinggg....
"Gue bakal coba tidur, Ra. Gue janji," kata Lian sambil meringis menahan sakit kepala.
Kara menatapnya tidak yakin. Tapi dia tahu dia tidak bisa menahan Lian di sini. Orang tuanya pasti sudah menunggu di rumah dan akan curiga kalau ada cowok asing.
"Besok..." Kara menggantung kalimatnya. "Besok pagi, aku bakal nunggu di mading jam 6:30. Kalau Kakak dateng... berarti kita berhasil ke tanggal 18."
Lian mengangguk lemah. Pandangannya mulai buram. Warna merah di pipi Kara mulai memudar menjadi abu-abu.
Efek obatnya habis karena jarak fisik mereka akan terpisah.
"Mading. Jam 6:30," ulang Lian seperti mantra.
"Janji?" Kara mengacungkan kelingkingnya.
Lian menatap jari kecil itu.
Di tengah distorsi pandangannya yang makin parah, dia mengaitkan kelingkingnya.
"Janji."
Lian menarik gas motornya, meninggalkan Kara berdiri sendirian di depan gang.
Saat Lian memacu motor menjauh... dunia runtuh kembali menjadi hitam-putih total.
Rasa dingin menusuk tulangnya lagi.
Keinginan mati itu datang lagi, menerjang seperti ombak pasang. Lebih kuat dari sebelumnya.
Pikiran 'Untuk apa hidup?' menghantamnya.
Rotinya tidak lagi terasa manis di memori. Hanya rasa basi.
Lian menggeram, memukul stang motornya. Dia bertarung dengan isi kepalanya sendiri.
Dia sudah janji pada Kara. Dia tidak akan ke rooftop. Dia akan pulang.
Tapi motornya... tangan Lian seolah bergerak sendiri.
Di pertigaan lampu merah, alih-alih belok kiri ke arah rumahnya, Lian berbelok kanan.
Ke arah sekolah.
Sial, batin Lian panik. Tubuh gue nggak mau nurut!
Ini bukan kehendaknya.
Ini adalah skrip.
Skrip kematian yang harus dijalankan. Narasi Tragic Hero yang tak bisa diubah semudah makan roti.
Motor Astrea Grand itu berhenti di gerbang sekolah yang sudah sepi.
Lian turun dengan gerakan kaku seperti zombie.
Jam menunjukkan pukul 16:58.
Langkahnya gontai menuju tangga gedung lama.
"JANGAN!" teriak batin Lian. "GUE UDAH JANJI SAMA KARA!"
Tapi kakinya terus melangkah naik. Satu anak tangga. Dua anak tangga.
Menuju rooftop.
Menuju tombol Reset.