Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bukan Cuma Tentang Anak
Malam itu café udah tutup.
Anak-anak tidur lebih cepat dari biasanya.
Capek habis kelas literasi kecil-kecilan.
Lampu luar cuma nyala satu.
Aruna lagi duduk di tangga depan, kaki selonjoran, rambutnya diikat asal.
Arka keluar bawa dua gelas teh hangat.
“Nih.”
Aruna nerima tanpa liat dia.
“Thanks.”
Sunyi.
Anginnya pelan. Kota kecil selalu punya cara bikin suasana jadi jujur.
Arka duduk di sebelahnya. Nggak terlalu dekat. Nggak terlalu jauh.
“Capek?”
“Lumayan.”
“Kaget?”
Aruna senyum tipis.
“Banget.”
Sunyi lagi.
Beberapa detik cuma suara jangkrik.
Arka narik napas pelan.
“Run…”
Aruna nengok.
“Hm?”
“Aku nggak mau ini cuma tentang anak-anak.”
Aruna langsung ngerti arah obrolannya.
“Terus?”
“Aku nggak mau kita cuma jadi… orang tua yang kebetulan punya masa lalu.”
Kalimatnya nggak rapi. Tapi jujur.
Aruna ketawa kecil.
“Bahasamu jelek.”
Arka senyum.
“Iya, aku nggak biasa ngomong beginian.”
Aruna mainin gelasnya.
“Kamu takut ya?”
“Takut apa?”
“Kita ulangin yang dulu. Terus gagal lagi.”
Arka diem.
Itu tepat.
“Dulu aku pergi karena aku pikir itu yang terbaik.”
“Dan kamu salah,” jawab Aruna tenang.
“Iya.”
Nggak ada pembelaan.
Nggak ada ego.
Cuma iya.
Itu yang bikin Aruna sedikit goyah.
“Aku bukan cewek lima tahun lalu, Ka.”
“Aku juga bukan cowok yang sama.”
Sunyi.
Aruna nengok ke arahnya.
“Kalau kita coba lagi… ini bukan pacaran lucu-lucuan.”
“Aku tau.”
“Ini tentang status. Tentang anak-anak. Tentang nama.”
Arka geser sedikit lebih dekat.
“Aku nggak peduli soal pencitraan.”
“Aku peduli,” jawab Aruna cepat.
Arka kaget dikit.
“Aku nggak mau anak-anak dikira lahir dari kesalahan.”
Angin lewat.
Kalimat itu berat.
Arka nengok ke depan, rahangnya tegang.
“Mereka bukan kesalahan.”
“Aku tau. Tapi dunia nggak selalu mikir gitu.”
Arka akhirnya ngadep ke dia.
“Makanya aku mau perjelas.”
“Perjelas apa?”
“Kita.”
Sunyi.
Aruna deg-degan, tapi nggak mau keliatan.
“Kamu mau nikah karena tanggung jawab?”
Arka langsung jawab.
“Nggak.”
“Karena tekanan keluarga?”
“Nggak.”
“Karena media?”
“Nggak juga.”
Aruna angkat alis.
“Terus?”
Arka diem sebentar. Nyari kata yang nggak lebay.
“Karena tiap kali aku liat kamu capek sendirian… aku ngerasa bodoh pernah ninggalin.”
Aruna langsung buang muka.
“Itu bukan jawaban romantis.”
“Aku nggak lagi jual puisi.”
Sunyi.
Aruna ketawa kecil tanpa sadar.
Arka lanjut pelan.
“Aku nggak mau cuma jadi ‘Papa’ yang datang pergi. Aku mau jadi suami yang ada. Bukan cuma buat anak-anak. Buat kamu juga.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Nggak dramatis.
Tapi dalem.
Aruna nelen ludah.
“Kamu sadar nggak sih… hidup kamu ribet.”
“Kamu juga.”
“Dunia kamu lebih ribet.”
“Makanya aku mau rumah yang nggak ribet.”
Aruna nengok.
“Kamu pikir aku rumah?”
Arka senyum kecil.
“Selalu.”
Hening.
Beberapa detik panjang.
Aruna narik napas pelan.
“Aku nggak mau nikah cuma buat nutup gosip.”
“Kalau aku mau nikah buat mulai ulang?”
“Mulai ulang apa?”
“Kita.”
Aruna diem.
Hatinya nggak sekeras dulu.
Tapi juga nggak selembut itu.
“Aku nggak mau janji gede-gede.”
“Aku juga nggak.”
“Kalau suatu hari kamu sibuk lagi?”
“Aku pulang.”
“Kalau ada tekanan keluarga?”
“Aku hadapi.”
“Kalau aku marah?”
“Aku diem.”
Aruna langsung ketawa.
“Kenapa kamu yakin aku yang marah?”
“Karena kamu selalu lebih galak.”
Aruna mukul lengannya pelan.
Suasana cair.
Nggak berat lagi.
Arka tiba-tiba ngomong pelan.
“Run… kasih aku kesempatan benerin yang dulu.”
Aruna nggak langsung jawab.
Dia liat ke dalam rumah.
Tiga anak itu tidur di kamar yang sama.
Kecil.
Hangat.
Dan butuh kejelasan.
“Aku nggak mau buru-buru.”
“Aku bisa nunggu.”
“Aku nggak mau pesta besar.”
“Bagus. Aku juga males.”
“Aku nggak mau pindah kota.”
“Kita bisa atur.”
Aruna akhirnya nengok lagi ke dia.
“Kamu yakin mau hidup sama cewek yang keras kepala?”
Arka senyum tipis.
“Aku udah lima tahun nyari yang lain. Nggak ada yang kamu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup.
Aruna nunduk dikit.
“Kalau kita jalan pelan-pelan dulu?”
“Pelan itu bagus.”
“Anak-anak harus tau.”
“Mereka harus setuju.”
Arka senyum.
“Mereka yang paling galak.”
Aruna ikut senyum.
“Besok kita ngomong bareng mereka.”
Arka angguk.
Nggak ada cincin malam itu.
Nggak ada lamaran heboh.
Cuma dua orang yang akhirnya sepakat—
Kalau mau memperjelas status anak-anak mereka,
Mereka juga harus memperjelas status satu sama lain.
Bukan karena malu.
Bukan karena tekanan.
Tapi karena memang mau.
Dan untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu—
Mereka nggak lagi berdiri di dua sisi.
Mereka duduk di tangga yang sama.
Dengan arah yang sama.
---
Aruna belum berdiri.
Arka juga belum masuk.
Dua-duanya kayak sama-sama takut kalau momen itu pecah kalau mereka bergerak duluan.
“Ka,” suara Aruna pelan banget.
“Iya.”
“Kamu pernah nyesel nggak?”
“Nyesel apa?”
“Pergi.”
Arka ketawa kecil, tapi nggak lucu.
“Tiap hari.”
Aruna nengok.
“Tapi kamu tetap pergi.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Arka diem. Lama.
“Karena waktu itu aku pikir aku harus milih.”
“Milih apa?”
“Ambisi atau kamu.”
Aruna senyum tipis, agak pahit.
“Dan kamu milih ambisi.”
“Iya.”
“Sekarang?”
Arka nggak langsung jawab.
Sekarang dia nggak lagi ngomong soal cinta doang.
Dia mikir anak-anak. Nama. Masa depan.
“Sekarang aku ngerti… kalau rumah nggak ganggu ambisi. Justru bikin waras.”
Aruna mainin ujung bajunya.
“Kamu takut sendirian ya?”
Arka senyum tipis.
“Banget.”
Angin lewat lagi.
Aruna sadar satu hal — Arka yang sekarang nggak lagi keras kepala kayak dulu.
Dia lebih tenang. Lebih jujur. Lebih… rendah.
“Kalau kita nikah nanti,” Aruna mulai pelan, “kita harus jelasin ke anak-anak kenapa sekarang.”
Arka angguk.
“Kita nggak boleh bikin mereka ngerasa ini kewajiban.”
“Iya.”
“Kita harus bilang ini pilihan.”
Arka nengok.
“Kamu masih ragu?”
Aruna nggak langsung jawab.
“Aku takut kalau suatu hari kamu berubah.”
“Aku pasti berubah.”
Aruna langsung nengok tajam.
“Maksudnya?”
“Manusia pasti berubah. Tapi arah berubahnya yang penting.”
Sunyi.
Aruna ngeluarin napas panjang.
“Kamu ngomongnya sekarang lebih dewasa.”
“Karena aku pernah kehilangan.”
Kalimat itu bikin dada Aruna anget sekaligus perih.
“Aku juga kehilangan, Ka.”
“Iya. Dan kamu nggak kabur.”
Aruna ketawa kecil.
“Karena aku nggak punya pilihan.”
“Kamu selalu punya pilihan.”
Aruna menggeleng.
“Enggak. Waktu tau aku hamil, pilihanku cuma satu — kuat.”
Arka langsung nengok ke dalam rumah lagi.
Lima tahun.
Dia nggak ada di momen itu.
Nggak ada waktu Aruna muntah sendirian.
Nggak ada waktu Aruna panik mikir biaya.
Nggak ada waktu Aruna ngerasa takut.
“Maaf,” katanya pelan.
Aruna angkat bahu.
“Udah lewat.”
“Tapi bekasnya ada.”
“Iya.”
Sunyi lagi.
Arka geser sedikit lebih dekat.
Kali ini jaraknya bener-bener tipis.
Nggak sentuhan.
Tapi hangatnya kerasa.
“Kalau nanti kita nikah,” Arka ngomong pelan, “aku mau bilang ke semua orang kalau anak-anak itu lahir dari cinta. Bukan kesalahan.”
Aruna senyum kecil.
“Kita dulu memang saling cinta.”
“Sekarang?”
Aruna diem.
Detik itu berat.
“Sekarang… aku lagi belajar lagi.”
Arka nggak maksa.
“Itu cukup.”
Beberapa detik cuma napas mereka.
Aruna akhirnya berdiri pelan.
“Ayo masuk. Dingin.”
Arka ikut berdiri.
Tapi sebelum masuk, dia manggil pelan.
“Run.”
Aruna nengok.
“Aku nggak mau cuma jadi orang yang minta maaf. Aku mau jadi orang yang beneran ada.”
Aruna menatapnya lama.
“Kalau kamu ada… jangan setengah.”
“Nggak akan.”
“Kalau kamu janji… jangan pakai kata nanti.”
Arka senyum.
“Mulai sekarang.”
Aruna akhirnya masuk duluan.
Arka berdiri sebentar di luar.
Dia nggak ngerasa menang.
Nggak ngerasa berhasil.
Tapi dia ngerasa… dikasih kesempatan.
Dan itu lebih berharga dari apa pun.
---
Di dalam rumah, Aruna berhenti di depan kamar anak-anak.
Pintunya sedikit terbuka.
Arven tidur paling pinggir. Tangannya di bawah kepala.
Arkana meluk bantal kecil.
Arsha nyempil di tengah.
Aruna berdiri lama di situ.
Arka datang di belakangnya.
“Kita harus tanya mereka,” bisiknya.
“Iya.”
Aruna nengok pelan.
“Kalau mereka nolak?”
Arka jawab tanpa ragu.
“Kita tetap jalan pelan. Sampai mereka yakin.”
Aruna senyum kecil.
“Kamu siap diuji tiga hakim kecil?”
Arka ketawa pelan.
“Mereka lebih serem dari direksi.”
Aruna akhirnya nutup pintu pelan.
Mereka jalan ke ruang tamu.
Nggak ada sentuhan romantis.
Nggak ada adegan lebay.
Cuma dua orang duduk berdampingan di sofa.
Jaraknya kali ini lebih dekat dari tadi.
“Ka,” Aruna manggil lagi.
“Iya.”
“Kalau nanti kita resmi… aku nggak mau kehilangan diriku.”
Arka langsung jawab.
“Aku jatuh cinta sama kamu yang keras. Jangan berubah cuma karena namaku.”
Kalimat itu bikin Aruna tenang.
“Dan kamu,” Aruna balas pelan, “jangan cuma jadi Arka yang kuat di kantor. Di rumah kamu boleh capek.”
Arka senyum.
“Deal.”
Malam makin sepi.
Tapi untuk pertama kalinya—
Sunyi itu nggak canggung.
Nggak berat.
Nggak penuh luka lama.
Sunyi yang kayak bilang,
“Pelan-pelan aja. Tapi bareng.”
Dan di antara semua kekacauan nama besar, media, warisan, dan tekanan—
Yang paling penting akhirnya bukan status perusahaan.
Bukan struktur ahli waris.
Tapi satu hal sederhana:
Mereka lagi milih satu sama lain.
Bukan karena terpaksa.
Bukan karena malu.
Tapi karena memang mau.
---