Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Balada janda--duda
Anye dan Desti sudah keluar dari gedung Jilo corp.
Desti benar-benar bersyukur akhirnya bisa keluar dari belenggu iblis bernama Ganesha.
Ia sampai memeluk udara dan helmnya. Padahal dulu, setaunya----sama saja!!! Wajah boleh kembar, tapi Ganesha tidak sekaleng rombeng Sadewa, jauh dari kata menggoda...mantan suami atasannya itu, sejak masih bersama dengan Anye memang terkenal pendiam, tapi tidak sekejam sekarang, dulu lebih ramah, lebih----apa yang harus Desti katakan ya....sebab jarang sekali memiliki interaksi dengan Ganesha selain pada saat lebaran.
Ah iya! Desti sangat ingat. Dalam setahun hidup bersama Anye, menjadi suami Anye, bisa dihitung jari berapa kali Ganesha bertanya tentang keberadaan Anye padanya. Emhhh...sekitar, sekali! Ketika acara keluarga dan Anye terlambat datang.
Motor dibawa Desti menembus jalanan menuju kantor Imaginary agency untuk segera menyusun script dan naskah dialog marketing. Membuat pamflet dan berbagai bentuk periklanan.
Semua bidang ada timnya tersendiri, dan Desti sudah menyerahkan berkas via email pada tim di kantor agensinya itu.
"Kalau sesuai rencana, kita take 3 hari lagi, Bu. Untuk urusan take di lokasi ngga perlu ada pak Ganesha kalii ya, Bu? Bukan apa-apa, masa iyaa...cuma masalah kerjaan harus CEO yang sampe turun tangan ke lapangan. Doi tinggal tunjuk aja bawahan, kelar."
Anyelir mengangguk, apa yang dikatakan Desti benar, setaunya sih begitu cara kerjanya. Yang diketahuinya selama menikah dengan Ganesha, lelaki itu hanya bertemu sebagai kepala dan penentu sisanya tugas lapangan maka nanti akan ada anak buahnya. Toh Jilo corp pun perusahaan besar, tidak mungkin seluruhnya CEO yang mengerjakan, yang benar saja!
"Horayyyy! Akhirnya, seenggaknya bisa nafas dikit lah Bu, waktu kita take nanti. Ngga harus take di bawah pengawasan penjajah."
Anye tertawa kecil diantara helm bogonya di boncengan Desti, berkat Ganesha. Pagi ini ia meninggalkan mobilnya dari hasil harta gono gini. Namun, siapa sangka hal kecil itu pun jadi pertanyaan seorang Ganesha Putra Alvian, "mobil kamu mana?"
Jadi, sekalian saja Anyelir bicara, "kujual." *buat buang sial*!
Alis Ganesha naik sebelah, namun ia kemudian menggerutu, "pihak Jilo corp kan yang minta datang pukul 8 di jam 7 lebih 5 menit, kalau saya datang pakai mobil, kebayang nanti bapak keburu berasap, orang ngga akan bisa bedain, yang mana seorang Ganesha CEO Jilo corp yang mana bapau isi daging Hitler."
Yahya tertawa yang langsung mengatupkan mulutnya, begitupun Desti, *tobat....tobat*!
Peduli setan, sebab kontrak sudah disetujui. Jadi bicara apapun Anye tak peduli lagi. Alih-alih peduli dan marah, Ganesha hanya, ohh, saya kira beneran dijual. Lebih tepatnya, yang benar saja. Harta gono-gini habis dijual? Dipake apa? Ngisi sungai Nil pake receh koin?
Ting!
+628637491046
Ganesha? Ini aku, Afiqah...masih inget kan?
Namun tentu saja pesan itu tak langsung diterima seorang Ganesha yang begitu sibuk, dingin, terlebih dari orang asing baginya, hingga chat itu tertumpuk dan terkubur hidup-hidup, padahal si empunya menunggu balasan.
.
.
Anyelir masih menyusun rangkaian kata, menghafal dan mengingat-ingat semua info penting tentang unit properti yang akan dipasarkan. Kemudian bel rumahnya berbunyi tanda jika ada tamu yang datang.
Namun jelas, ia tak berusaha untuk membuka pintu sebab sedang berada di teras belakang.
Ibu, ia membuka pintu hingga terdengar percakapan ramah nan seru disana.
"Nye, ada Tante Isti." Oke, kali ini ia tak bisa untuk tak peduli. Tante Isti adalah teman ibu, teman sejak bekerja di pabrik dulu yang masih berteman baik sampai sekarang, bahkan suka duka keduanya lewati bersama termasuk ibu yang terkadang meminjam uang untuk biaya kuliah Anyelir pada Tante Isti.
Anyelir menjeda pekerjaannya demi menyapa Tante Isti, "tante."
"Anye...gimana kabarnya?" ia mengusap lengan Anyelir, "baik tante, Tante apa kabar?"
"Baik Alhamdulillah." ada tatap nanar darinya, yang kemudian mengusap kepala Anye, "mungkin belum jodoh, ya. Ngga apa-apa....Allah punya rencana baik buat hamba-nya mungkin Dia, sudah menyiapkan jodoh terbaik nantinya buat Anye."
Sungguh, Anye tak ingin dikasihani oleh siapapun. Tapi entahlah, sepertinya orang-orang itu membuat stigma seorang perempuan yang gagal dalam berumah tangga atau katakanlah seorang janda jadi begitu menyedihkan. Padahal dibandingkan dirinya, masih banyak anak yatim piatu di luar sana atau para orangtua di panti jompo sana yang lebih patut dikasihani.
Anye meringis, dan berkata jujur, "aku oke tante. Ngga apa-apa, buktinya aku sehat wal'afiat, baik-baik aja...."
Tante Isti mengangguk, "keliatan, kamu jadi lebih lega, lebih bebas, ngga ada beban. Jangan kapok buat membuka hati."
Anye mengangguk, nah begitu lebih baik----lebih baik mendo'akannya saja. Rejeki berlimpah, raga yang sehat, jiwa yang kuat, dan perut kenyang, so simple.
Cukup lama tante Isti di rumah, sampai sempat memasak camilan bersama ibu, dan mengobrol ngaler ngidul yang diukur bisa sampai ke ujung Afrika balik lagi ke Citayem.
Hingga sebuah mobil akhirnya berhenti di depan rumah dan menyalakan klaksonnya.
"Nah, itu kayanya Ibas jemput aku, mbak Ayu."
"Suruh masuk dulu, Mbak Is...Suruh ngopi dulu atau nyemil sesuatu, baru pulang kerja udah disuruh jemput mamanya, duhhh solehnya." Ibu beranjak dari duduknya ke arah depan. Sementara Anyelir, ia sudah pindah tempat ke meja makan. Berulang kali menscroll catatan dan menghafalkan script apa saja yang akan dibawakannya nanti.
Ia juga sedang bertukar pesan dengan Desti dan Maulana tentang project Jilo corp ini, memantau semua pergerakan tim, jangan sampai ada yang lepas kontrol atau melakukan kecerobohan dan kesalahan.
Hingga----suara ibu kembali membuyarkan pekerjaan Anye, "Nye, Tante Isti mau pulang nih..."
Mau tak mau Anyelir beranjak lagi dari tempatnya dan menemui Tante Isti, "loh, kok udah pulang lagi Tante, ngga mau nginep aja? Padahal nanti Anye yang anterin pulang..." ucapnya cipika cipiki di pipi sahabat lama ibu ini.
"Ah, jangan. Tante tau Anye sibuk..."
Dan seorang pria berbadan tegap dan rambut pendek cepak messynya itu menghampiri, "Anye?"
"Hey, nah ini....baru ketemu lagi kalian, kan?!"
"Mas," Anye mengangguk, "apa kabar?"
Ia tersenyum menggenggam ponsel, kemeja kuning pastel yang dipakainya itu terlihat digulung dibagian lengan, ujung kemejanya pun sudah keluar, "sudah pulang, Nye?"
Anye kembali mengangguk, "mas Ibas baru pulang kerja?"
"Lembur, kebetulan sambil jemput mama."
Ada senyum usil dari ibu dan Tante Isti yang sudah saling beradu tatap.
"Kapan-kapan kalo libur, sekali-kali kalian jalan deh...berdua, Anye udah lajang kok, Bas...Anye juga..." tatap Tante Isti melirik Anye, "jangan sungkan, Ibas masih single loh..."
Anye tersenyum garing, sementara Ibas hanya terkekeh renyah, "wah, bisa diagendakan ini nanti, ya Nye? Cari hiburan dari kepenatan kantor."
Anye mengangguk-angguk, "boleh mas, agendakan aja. Haha, iya...aku kirain mas Ibas udah nikah, Tante..."
Tante Isti mencubit lengan putranya itu, "iya ihh, belum nih, ngga tau deh kapan! Nunggu Anye kayanya..." goda tante Isti yang membuat semuanya terasa jadi canggung, Anye tak segera masuk, melainkan mengantar tante Isti dan Ibas ke depan pintu pagar bersama ibu, lalu berdadah ria saat Ibas membunyikan klakson.
"Pelan-pelan aja, Nye....kalau cocok atau sudah siap membuka hati lagi, Ibas boleh dicoba, dirasain aja dulu pendekatan." Lirih ibu menatap lurus ke arah hilangnya mobil Ibas, membuat Anye menoleh.
Kembali ia hanya mengulas senyum getir saja, bukan ia tak mau---bukan. Hanya saja, kini ia harus lebih selektif lagi memilih pasangan. Sekelas Ganesha Putra Alvian saja gagal.
Trauma? Jelas....Anye hanya ingin mencoba bebas dulu untuk sekarang, begitu pikirnya.
"Belum kepikiran bu. Masih---" ia ragu dan bingung memilih kata yang cocok untuk menggambarkan kegalauan hatinya.
Ibu mengangguk mengunci pagar, "kepingin sendiri. Ibu paham, tapi jangan kelamaan ya, dulu ibu milih sendiri karena sudah punya Anye...tapi Anye? Ngga punya orang lain, kalo seandainya nanti ibu ngga ada."
.
.
.
Maafkan kami Afiqah sudah berburuk sangka padamu, mana berjamaah pula. ya Allah ya Alloh tolong 🤣🤣🤣
ikut deg"an kepo iihh