Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sayembara Pahlawan dan Ujian Kekuatan
Matahari Benua Tengah terbit dengan warna emas yang tajam, menyinari alun-alun Kota Angin Puyuh yang kini telah berubah menjadi lautan manusia. Ribuan kultivator dari berbagai penjuru berkumpul, menciptakan simfoni aura yang tumpang tindih. Di tengah alun-alun, sebuah panggung raksasa dari batu meteorit telah didirikan, dijaga oleh barisan murid elit Sekte Pedang Suci yang berdiri tegak seperti pedang yang tertancap di bumi.
Lu Chen berjalan menembus kerumunan, kini mengenakan jubah sutra berwarna biru tua dengan sulaman perak yang elegan—identitas barunya sebagai Tuan Muda Lin, pewaris klan terasing yang diatur oleh Gu Hai. Di belakangnya, Yue Bing tampil sebagai pengawal pribadi yang dingin, sementara Gu Hai berjalan di samping mereka sambil terus mengipasi dirinya, matanya yang licin mengamati setiap pergerakan.
"Lihatlah mereka," bisik Gu Hai sambil menunjuk ke arah tribun kehormatan. "Itu adalah Pedang Pertama, Han Xiao. Di usianya yang baru dua puluh lima, dia sudah mencapai Tahap Nascent Soul Level 1. Dia adalah penanggung jawab seleksi ini."
Lu Chen mendongak. Di atas tribun, seorang pemuda dengan rambut putih panjang dan pedang besar di punggungnya duduk dengan mata terpejam. Aura yang terpancar darinya setajam silet, memotong energi spiritual di sekitarnya.
[Ding! Analisis Target Terdeteksi.]
[Nama: Han Xiao. Kultivasi: Nascent Soul - Level 1.]
[Kekuatan Tempur: Tinggi. Catatan: Memiliki 'Hati Pedang Tanpa Cela'.]
"Hati pedang, ya?" gumam Lu Chen. "Menarik. Tapi masih terlalu dangkal untuk disebut ahli."
Seleksi dimulai dengan kejam. Ujian pertama adalah "Tekanan Pedang Langit". Sebuah formasi raksasa diaktifkan, melepaskan tekanan spiritual yang setara dengan berat sebuah gunung kepada semua peserta di alun-alun.
Brak! Brak!
Ratusan kultivator tingkat rendah langsung jatuh berlutut, memuntahkan darah karena organ dalam mereka tidak kuat menahan beban tersebut. Mereka yang gagal segera diseret keluar oleh penjaga tanpa belas kasihan. Namun, Lu Chen berdiri tegak. Baginya, tekanan ini tidak lebih dari hembusan angin sepoi-sepoi. Ia bahkan tidak perlu mengaktifkan Divine Core-nya; kekuatan fisiknya yang telah ditempa oleh sistem sudah lebih dari cukup.
"Oh? Lihat pemuda berbaju biru itu," Han Xiao membuka matanya sedikit, menatap ke arah Lu Chen. "Dia bahkan tidak berkeringat di bawah formasi tingkat lima ini."
Setelah ujian tekanan, peserta yang tersisa—hanya sekitar lima puluh orang—dipanggil ke atas panggung untuk ujian kedua: "Sentuhan Prasasti Naga". Sebuah batu hitam besar dengan ukiran naga kuno diletakkan di tengah panggung. Ini adalah bagian dari 'Kompas Jiwa' yang diceritakan Gu Hai.
"Siapa pun yang bisa membuat prasasti ini bercahaya hingga warna ungu akan langsung masuk ke tim inti ekspedisi," seru seorang tetua sekte.
Satu per satu jenius dari sekte lain mencoba. Sebagian besar hanya mampu membangkitkan warna kuning atau hijau. Bahkan seorang jenius dari Sekte Api menyala hanya mampu mencapai warna biru tua.
Kini giliran Lu Chen. Saat ia melangkah maju, bisikan-bisikan mulai terdengar. "Siapa dia? Tidak ada lencana sekte di bajunya. Paling-paling hanya warna hijau."
Lu Chen meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu yang dingin. Di dalam saku jubahnya, Ignis yang masih dalam kepompong spiritual tiba-tiba berdenyut kencang.
"Lu Chen... berikan aku sedikit celah. Aku ingin mencicipi rasa prasasti ini..."
"Hanya sedikit, Ignis. Jangan hancurkan tempat ini," balas Lu Chen.
Lu Chen mengalirkan setitik kecil energi Divine Core yang telah bercampur dengan esensi naga biru. Seketika, getaran hebat merambat dari batu tersebut ke seluruh alun-alun.
WUUUSSSHHH!
Cahaya dari prasasti itu meledak. Warna kuning berubah menjadi hijau, biru, merah, dan dalam sekejap mata... warna ungu yang sangat pekat menyelimuti seluruh panggung, bahkan berubah menjadi hitam pekat dengan kilatan petir emas.
Seluruh alun-alun terdiam. Bahkan Han Xiao kini berdiri tegak, matanya membelalak tidak percaya.
"Cahaya Hitam?! Itu adalah resonansi tingkat 'Sovereign'!" teriak sang tetua sekte, tangannya gemetar hebat. "Mustahil! Terakhir kali warna ini muncul adalah seribu tahun yang lalu!"
Lu Chen menarik tangannya kembali, wajahnya tetap datar seolah tidak terjadi apa-apa. "Apakah ini cukup untuk masuk ke tim inti?"
Han Xiao melompat turun dari tribun, mendarat tepat di depan Lu Chen. Aura pedangnya meledak, mencoba mengintimidasi Lu Chen secara langsung. "Siapa kau sebenarnya, Tuan Muda Lin? Klan terasing mana yang mampu melahirkan monster sepertimu?"
Lu Chen menatap balik mata Han Xiao tanpa rasa takut sedikit pun. "Klan yang sudah dilupakan oleh orang-orang sombong sepertimu, Tuan Muda Han. Apakah kau ingin mengujiku lebih jauh, atau kita bisa berhenti membuang-buang waktu di sini?"
Ketegangan di panggung begitu kental hingga udara seolah-olah akan meledak. Gu Hai di kejauhan hanya bisa menyeringai lebar, menyadari bahwa ia baru saja mempertaruhkan chip-nya pada naga sungguhan.
[Ding! Reputasi di Benua Tengah meningkat pesat: 'Jenius Tak Terpahami'.]
[Hubungan dengan Sekte Pedang Suci: Diwaspadai dan Dihormati.]
"Menarik," Han Xiao akhirnya menarik auranya dan tersenyum tipis, meski matanya tetap penuh kewaspadaan. "Selamat bergabung dalam Tim Inti, Tuan Muda Lin. Makam Naga akan sangat membutuhkan kekuatanmu... atau mungkin, kau adalah alasan kenapa makam itu harus tetap tertutup."
Lu Chen hanya berlalu, diikuti oleh Yue Bing yang menatap para murid sekte dengan bangga. Di dalam hatinya, Lu Chen tahu bahwa permainan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sekte Pedang Suci telah membukakan gerbang untuknya, dan mereka tidak sadar bahwa mereka baru saja mengundang badai yang akan menghancurkan fondasi mereka sendiri.