NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

BAB 21: Ketukan Palu Terakhir

Udara di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri itu terasa seperti beton yang menghimpit dada. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma keringat dari puluhan orang yang berjejalan di kursi kayu panjang. Di luar, matahari Bandung bersinar terik, namun di dalam sini, semuanya terasa dingin dan pucat.

Alek duduk di kursi pesakitan. Rompi oranye bertuliskan "Tahanan Kejaksaan" itu terasa berat di bahunya, lebih berat dari beban dosa apapun yang pernah ia pikul saat masih memimpin Venom Crew. Rambutnya yang dulu acak-acakan kini tercukur rapi, memperlihatkan rahangnya yang mengeras. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu siapa saja yang ada di sana: Ibunya yang hancur, ayahnya yang membatu, dan jemaat gereja yang menatapnya dengan campuran rasa kasihan dan penghakiman.

Namun, di barisan paling belakang, ada satu sosok yang kehadirannya ia rasakan melalui detak jantungnya sendiri. Khansa. Gadis itu duduk bersanding dengan Ustadzah Halimah, wajahnya tertutup cadar hitam, namun Alek tahu matanya sembab. Khansa adalah satu-satunya alasan kenapa Alek masih bisa duduk tegak di sana.

"Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," suara Ketua Hakim bergema, diikuti ketukan palu yang memecah kesunyian.

Selama dua jam berikutnya, Alek merasa seperti sedang menonton film tentang hidup orang lain. Jaksa Penuntut Umum membacakan tuntutan dengan nada yang monoton namun mematikan. Mereka berbicara tentang hilangnya nyawa Bagas Pratama, seorang pemuda yang disebut sebagai "harapan keluarga". Mereka menampilkan foto-foto TKP—lantai semen yang berlumuran darah, rak besi yang bengkok, dan wajah Bagas yang pucat.

Pak Sutrisno, ayah Bagas, terisak keras di kursi pengunjung. "Pembunuh! Anak saya bukan binatang!" teriaknya tiba-tiba sebelum ditegur oleh petugas keamanan.

Alek memejamkan mata. Setiap teriakan itu terasa seperti belati yang baru. Namun, saat pengacaranya, Pak Hendrik, mulai berbicara, narasi itu mulai bergeser.

"Yang Mulia," ujar Pak Hendrik dengan suara bariton yang tenang. "Kita tidak sedang menyidang seorang pembunuh berdarah dingin. Kita sedang melihat seorang pemuda yang terpojok. Kesaksian Saudara Dimas telah jelas: Korban, Bagas Pratama, membawa senjata tajam. Korban memiliki niat jahat sejak awal untuk mencelakai terdakwa. Apa yang terjadi malam itu adalah sebuah tragedi, namun itu adalah puncak dari sebuah serangan yang dimulai oleh korban sendiri."

Dimas, yang duduk di baris saksi sebelumnya, tetap teguh pada ceritanya. Dia tidak mengkhianati Alek. Dia menceritakan tentang belati Bagas, tentang obsesi Bagas pada Khansa, dan bagaimana Alek sebenarnya mencoba melerai sebelum situasi menjadi liar.

Saat tiba waktunya bagi hakim untuk membacakan pertimbangan, ruangan itu menjadi begitu sunyi hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti suara guntur.

Hakim Ketua berkacamata itu menatap Alek melewati bingkai lensa tebalnya. "Terdakwa Alexander Panjaitan. Majelis Hakim telah mempertimbangkan fakta-fakta di persidangan. Kami melihat bahwa ada unsur provokasi yang kuat dari pihak korban. Kami juga mempertimbangkan bahwa terdakwa tidak memiliki niat awal untuk membunuh, melainkan untuk melindungi kehormatan seorang saksi yang identitasnya dirahasiakan dalam persidangan ini demi keselamatan yang bersangkutan."

Alek melirik sekilas ke arah Khansa. Gadis itu menunduk, bahunya bergetar. Alek telah meminta pengacaranya untuk tidak menyebut nama Khansa secara gamblang agar gadis itu tidak terseret dalam stigma media. Alek rela menelan semuanya sendiri.

"Namun," lanjut Hakim, dan kata 'namun' itu terasa seperti vonis mati. "Majelis Hakim berpendapat bahwa tindakan terdakwa menggunakan kekuatan fisik yang berlebihan hingga mengakibatkan kematian tetap tidak dapat dibenarkan secara hukum. Terdakwa telah melampaui batas pembelaan diri yang wajar."

Alek menarik napas panjang. Ia sudah tahu ini akan datang.

"Menimbang hal tersebut, Majelis Hakim menjatuhkan vonis kepada terdakwa Alexander Panjaitan dengan pidana penjara selama empat tahun, dikurangi masa tahanan yang telah dijalani."

DOK! DOK! DOK!

Palu itu diketuk. Empat tahun.

Ibu Alek menjerit pelan sebelum jatuh pingsan di pelukan kerabatnya. Pak Sutrisno berdiri dan memaki, menganggap hukuman itu terlalu ringan. Sementara itu, Pendeta Daniel hanya berdiri, merapikan jasnya, dan keluar dari ruang sidang tanpa menoleh sedikit pun ke arah anaknya.

Petugas kejaksaan mendekati Alek, memasangkan borgol baja di pergelangan tangannya. Bunyi klik dari borgol itu adalah bunyi yang akan menghantuinya selama bertahun-tahun ke depan.

Saat ia digiring keluar menuju mobil tahanan, barisan pengunjung terbelah. Di lorong sempit itu, ia berpapasan dengan Khansa. Petugas memberinya waktu tiga detik untuk berhenti.

"Mas..." bisik Khansa. Suaranya pecah, tersedak oleh tangis yang sudah ia tahan sejak awal sidang.

Alek menatap mata gadis itu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Bahwa ia tidak menyesal. Bahwa ia lebih suka dipenjara daripada melihat foto Khansa disebarkan. Bahwa ia... mungkin mencintainya dengan cara yang paling menyakitkan.

"Jangan menangis," kata Alek, suaranya parau namun stabil. "Lanjutkan sekolahmu. Jadilah orang hebat. Jangan biarkan tempat ini, atau aku, menjadi alasan kamu berhenti."

"Ini salahku, Mas... ini semua salahku," isak Khansa.

"Nggak," Alek menggeleng. "Ini pilihanku. Dan aku akan melakukannya lagi seribu kali kalau itu berarti kamu aman. Jaga dirimu, Khansa."

Petugas menarik bahu Alek. "Ayo, jalan."

Alek berjalan menjauh. Ia tidak menoleh lagi. Ia tahu jika ia menoleh, keberaniannya akan runtuh.

Mobil tahanan itu membawa Alek melewati jalanan Bandung yang sibuk. Dari jendela kecil berjeruji, ia melihat anak-anak SMA tertawa di pinggir jalan, melihat pasangan kekasih yang berboncengan motor, melihat dunia yang terus berputar tanpa peduli bahwa hidupnya baru saja berhenti.

Sesampainya di Lapas, prosedur itu terasa merendahkan martabat. Ia diminta menanggalkan seluruh pakaiannya untuk diperiksa, diganti dengan seragam penjara berwarna biru kusam. Namanya kini digantikan oleh deretan angka.

Ia digiring menuju Blok B. Bau sel itu khas: campuran asap rokok, keringat manusia, dan aroma pesing yang samar. Saat pintu besi sel berdentang menutup—suara dentuman yang mengguncang tulang belakangnya—Alek menyadari satu hal.

Dia sendirian.

Dia duduk di dipan semen yang keras, beralaskan kasur tipis yang bau apek. Di pojok sel, seorang narapidana bertato macan menatapnya dengan pandangan mengancam. Alek tidak peduli. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang dingin.

Ia teringat ayat yang sering dikutip ayahnya: Kebenaran akan memerdekakan kamu.

Alek tersenyum pahit. Kebenaran tidak memerdekakannya secara fisik. Kebenaran justru menjebloskannya ke dalam kotak beton berukuran tiga kali empat meter ini. Namun, di dalam hatinya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan geng, Alek merasa... bersih.

Ia telah membayar hutangnya pada dunia. Ia telah melindungi satu hal yang paling murni yang pernah ia temui dalam hidupnya.

Malam itu, di bawah cahaya lampu neon sel yang berkedip, Alek melipat tangannya. Ia tidak tahu harus berdoa kepada siapa atau bagaimana, mengingat hubungan dengan ayahnya yang hancur. Namun ia berbisik dalam hati:

"Tuhan, kalau Kau memang ada... jaga dia. Biarkan tembok ini hanya memisahkan tubuh kami, bukan doa kami."

Di luar sana, di bawah langit yang sama, Khansa bersujud di atas sajadahnya, mendoakan hal yang sama untuk pria yang kini terpisah oleh dinding agama dan jeruji penjara.

BERSAMBUNG KE BAB 22...

Catatan untuk Pengembangan:

🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Para pembaca setia author akan update cepat

Asalkan ada saran dan kritikan yang masuk ke kolam komentar, dan jangan lupa like

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!