Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: TAWARAN BERACUN
Matahari Surabaya terasa lebih menyengat daripada biasanya ketika Jonatan kembali menginjakkan kaki di pelataran kampus untuk mengurus beberapa dokumen administratif yayasannya. Aroma oli dan bau tanah sabana NTT seolah masih melekat di pori-pori kulitnya, membuatnya merasa seperti orang asing di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang sibuk dengan ponsel pintar dan gaya hidup perkotaan.
Namun, kejutan sebenarnya tidak datang dari cuaca, melainkan dari sebuah pesan singkat yang ia terima sesaat setelah ia keluar dari ruang dekanat. Sebuah undangan pertemuan di sebuah kafe mewah di pusat kota, bukan dari Pak Johan, melainkan dari perwakilan PT Tirta Abadi—perusahaan yang "serigala-serigalanya" sempat mengintai di Nekmese minggu lalu.
Jonatan datang dengan kemeja flanel yang sikutnya sudah menipis dan sepatu bot yang masih menyisakan sedikit lumpur kering Nekmese di sela-selanya. Kafe itu dingin, terlalu dingin, dengan alunan musik jazz yang pelan dan aroma kopi mahal yang terasa asing di hidungnya. Di sudut ruangan, pria yang kemarin ia temui di Nekmese, Pak Adrian, sudah duduk menunggu bersama seorang pria lain yang lebih tua, berpakaian setelan jas tanpa dasi yang harganya mungkin setara dengan sepuluh panel surya Jonatan.
"Silakan duduk, Insinyur Jonatan. Kami sangat senang Anda bersedia meluangkan waktu," ucap Pak Adrian dengan senyum yang terlalu lebar, terlalu simetris.
Pria tua di sampingnya diperkenalkan sebagai Pak Haris, Direktur Pengembangan Strategis. "Kami sudah melihat kinerjamu, Jonatan. Sangat impresif. Seorang lulusan baru yang mampu menggerakkan massa desa dan membangun infrastruktur air secara swadaya. Itu adalah bakat yang langka."
Jonatan hanya mengangguk kecil, ia tidak menyentuh gelas air mineral yang disuguhkan. "Terima kasih. Tapi saya rasa ketertarikan Anda bukan sekadar pada bakat saya."
Pak Haris terkekeh, suaranya berat dan terdengar seperti gesekan kertas uang. "Langsung ke poinnya. Saya suka itu. Begini, Jonatan. Kami ingin 'Oetimu Mandiri' menjadi bagian dari payung besar PT Tirta Abadi. Kami akan mengakuisisi teknologi pompamu, mematenkannya secara internasional atas namamu—tentu saja dengan perusahaan sebagai sponsor utama—dan kami akan memberikan modal yang tidak terbatas."
Ia mengeluarkan selembar dokumen dari tas kulitnya yang mengkilap. "Gaji bulanan yang sangat besar, mobil operasional, dan yang terpenting, posisi Direktur Teknis untuk divisi Pengembangan Pedesaan. Kau tidak perlu lagi tidur di bengkel berdebu atau turun ke dalam sumur gelap. Kau cukup merancang, biar kami yang mengeksekusi."
Jonatan menatap angka yang tertera di dokumen itu. Nolnya begitu banyak, seolah-olah sedang mengejek segala penderitaannya selama empat tahun kuliah. Dengan uang itu, ia bisa membelikan rumah permanen untuk orang tuanya, mengirim adik-adiknya sekolah ke luar negeri, dan tidak pernah lagi harus memikirkan harga sepotong roti.
"Dan apa timbal baliknya?" tanya Jonatan, suaranya tetap datar.
"Sederhana. Kami akan menerapkan sistem meteran air di setiap desa yang kami bangun. Bisnis harus berkelanjutan, bukan? Warga akan membayar biaya langganan yang terjangkau. Kami yang mengelola teknisnya, kau yang menjadi wajah dari kemanusiaan kami," jawab Pak Haris dengan nada yang seolah-olah ia sedang menawarkan kunci surga.
Jonatan terdiam. Ia membayangkan wajah Pak Berto yang bangga saat memotong pita kuning. Ia membayangkan warga Nekmese yang mandi di bawah kucuran air dengan tawa yang lepas. Jika ia menerima tawaran ini, air yang tadinya adalah hak dasar warga akan berubah menjadi komoditas. Tuan Markus mungkin pergi, tapi dia akan digantikan oleh mesin korporasi yang jauh lebih rapi, lebih sopan, namun tetap menghisap darah mereka lewat tagihan bulanan.
"Maaf, Pak Haris," Jonatan menggeser kembali dokumen itu. "Air di Oetimu dan Nekmese adalah milik tanah itu sendiri. Kami membangun yayasan ini agar warga berdaulat, bukan agar mereka menjadi pelanggan baru bagi perusahaan Anda."
Senyum Pak Haris tidak hilang, tapi matanya mendingin. "Jonatan, kau masih muda. Kau penuh dengan idealisme yang romantis. Tapi dengar, tanpa kami, kau akan terus berhadapan dengan birokrasi, sabotase seperti yang dilakukan Markus, dan keterbatasan dana. Jika kau menolak kami, kau bukan hanya menolak uang, tapi kau sedang menutup jalan bagi desa-desa lain untuk mendapatkan air dengan cepat."
"Saya lebih baik terlambat tapi mereka merdeka, daripada cepat tapi mereka terbelenggu," jawab Jonatan tegas. Ia berdiri, merasa ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat sempit.
"Pikirkan lagi, Jonatan," sela Pak Adrian. "Dunia luar lebih keras daripada sumur Nekmese. Jika kau tidak menjadi mitra kami, kau mungkin akan dianggap sebagai pesaing yang mengganggu iklim investasi daerah. Dan kami punya banyak cara untuk 'menertibkan' gangguan."
Ancaman itu tersamar dengan sangat halus, namun Jonatan bisa merasakannya seperti hawa dingin yang menusuk tengkuknya. Ia keluar dari kafe itu tanpa menoleh lagi.
Malamnya, Jonatan menemui Pak Johan di laboratorium. Laboratorium itu kini terasa seperti benteng perlindungan terakhirnya. Ia menceritakan tawaran itu dengan nada yang masih bergetar karena amarah.
Pak Johan melepas kacamatanya, mengusap wajahnya yang lelah. "Serigala itu selalu tahu kapan domba mulai punya padang rumput yang hijau, Jon. Tirta Abadi bukan perusahaan sembarangan. Mereka punya kaki di kementerian. Jika kau menolak mereka, mereka akan mulai menyerang lewat jalur regulasi yang lebih tinggi. Mungkin soal izin pengambilan air tanah, atau standar keamanan yang baru saja mereka 'pesan' ke pemerintah."
"Lalu saya harus bagaimana, Pak? Saya tidak mau mengkhianati warga," ucap Jonatan, ia duduk di kursi kayu lamanya, merasa kecil kembali.
"Kau harus membangun perisai, Jon. Bukan cuma kabel dan baut, tapi perisai opini publik. Kau butuh Sarah lebih dari sebelumnya. Hukum dan media adalah satu-satunya cara membuat serigala itu takut untuk menggigitmu di depan umum," Pak Johan menunjuk ke sebuah map di mejanya. "Besok, ada konferensi nasional tentang inovasi desa. Aku sudah mendaftarkan namamu. Bicara di sana. Biar seluruh negeri tahu apa yang terjadi di Oetimu. Semakin kau terlihat oleh publik, semakin sulit bagi mereka untuk menghilangkannya secara diam-diam."
Namun, serangan pertama Tirta Abadi datang lebih cepat dari yang diduga. Keesokan paginya, sebuah berita di koran lokal dan portal berita online muncul dengan judul provokatif: "Instalasi Air Ilegal di Nekmese Diduga Cemari Lingkungan, Pemerintah Diminta Bertindak."
Di bawah berita itu, tercantum komentar dari "pengamat lingkungan" anonim yang menyebutkan bahwa pompa tenaga surya milik Jonatan bisa merusak struktur geologi karst dan menyebabkan kekeringan jangka panjang di desa sekitarnya. Itu adalah kebohongan yang dirancang dengan sangat profesional.
Jonatan mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ini adalah "tawaran beracun" yang mulai bekerja. Jika ia tidak meminum racunnya (uang akuisisi), maka mereka akan menyiramkan racun itu ke nama baiknya.
Ia mengambil ponselnya, menelpon Matheus di Oetimu. "Theus, jaga bengkel baik-baik. Jangan biarkan orang asing masuk dengan alasan 'penelitian lingkungan'. Dan satu lagi... kumpulkan warga. Bilang pada mereka, ada orang-orang kota yang mau mematikan air kita lagi dengan kata-kata bohong."
"Siap, Jon. Kami di sini sudah siap parang kalau mereka macam-macam," jawab Matheus dengan suara yang berapi-api.
"Jangan parang, Theus. Simpan parangmu. Kita akan pakai cara lain," Jonatan menutup teleponnya.
Ia menatap foto Bu Maria di layar ponselnya. Ia teringat rasa air dari botol plastik ayahnya. Tawaran beracun itu mungkin terlihat manis bagi orang yang sedang haus akan kekayaan, tapi bagi Jonatan, rasa haus akan keadilan jauh lebih membakar jiwanya.
Bab 25 ditutup dengan Jonatan yang berdiri di depan cermin, merapikan kemeja tenunnya. Besok adalah konferensi nasional itu. Panggung yang bisa menjadi penyelamatnya, atau justru menjadi tiang gantungan bagi impiannya.
"Kalian punya uang dan kekuasaan," bisik Jonatan pada bayangannya sendiri. "Tapi aku punya kebenaran yang akarnya sudah menghujam ke dalam tanah Oetimu. Kita lihat siapa yang akan tumbang lebih dulu."
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian