Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Pengkhianat di Tengah kita
Fen, murid yang biasa-biasa saja yang hampir tidak pernah berbicara, kini berdiri dengan postur yang sama sekali berbeda. Bahunya tegak, matanya bersinar dengan cahaya ungu redup, dan senyuman di wajahnya penuh dengan keangkuhan yang tidak wajar. Energi gelap yang sebelumnya samar kini memancar darinya—energi korup yang mirip dengan parasit di Batu Langit, tetapi lebih terkendali, lebih disengaja.
"Seorang agen Ordo Penghapusan," gumam Lin Xia, suaranya dingin seperti es. "Tersembunyi di antara kita selama ini."
Para elder bergerak cepat, membentuk formasi pengepungan di sekeliling Fen. Tapi Fen—atau siapa pun dia sekarang—hanya tertawa. Suaranya berubah, menjadi lebih dalam dan bergema.
"Kalian pikir kalian aman di dalam tembok batu ini? Ordo ada di mana-mana. Di setiap sekte, di setiap marga. Kami mengawasi." Matanya yang ungu menyapu kerumunan, berhenti sejenak di Kaelen sebelum melanjutkan. "Dan kami menemukan apa yang kami cari."
Elder Wen melangkah maju, aura Core Formation-nya memenuhi lapangan. "Serahkan dirimu, dan kamu akan diadili dengan adil."
"Diadili? Oleh siapa? Oleh kalian yang buta terhadap kebenaran?" Fen menggeleng. "Jiwa Terpecah adalah penyakit. Mereka menarik Pemakan Kosmos seperti lalat menarik bangkai. Kami hanya membersihkan infeksi."
Dia mengangkat tangannya, dan sebuah segel gelap muncul di tangannya. "Tapi hari ini bukan hari untuk penangkapan. Hari ini adalah hari untuk pesan."
Dia menghancurkan segel itu. Ledakan energi gelap kecil, tetapi diikuti oleh sesuatu yang lebih menakutkan—formasi ritual yang telah diaktifkan oleh elder tiba-tiba berubah warna, dari biru menjadi ungu kehitaman. Pola formasi berubah, dan dari pusat altar, sebuah proyeksi holografik muncul: gambar seorang wanita tua dengan mata tertutup, mengenakan jubah dengan simbol Ordo.
"Elder Sekte Azure Cloud," kata wanita itu, suaranya dingin dan tanpa emosi. "Kami adalah Ordo Penghapusan. Kami telah memperingatkan dunia tentang bahaya Jiwa Terpecah selama berabad-abad. Kini, salah satu dari penyakit itu ada di antara kalian. Serahkan dia, atau kami akan mengambilnya sendiri—dan menghancurkan semua yang menghalangi."
Proyeksi itu menghilang. Fen, si agen, tersenyum lalu tubuhnya mulai memudar, seperti bayangan yang tersapu cahaya.
"Jangan biarkan dia kabur!" teriak Elder Wen.
Lin Xia dan elder lainnya menyerang, tetapi sudah terlambat. Fen telah menggunakan artefak teleportasi jarak jauh—sebuah barang langka dan mahal. Dia menghilang, meninggalkan hanya bau ozon dan rasa pahit di udara.
Ritual Bulan Baru berakhir dengan kekacauan. Para elder segera mengadakan pertemuan darurat. Murid-murid diperintahkan kembali ke asrama mereka dengan penjagaan ketat. Kaelen, dengan hati berdebar, berbalik untuk pergi ketika tangan mendarat di bahunya.
"Kaelen. Ikut aku." Itu Lin Xia, wajahnya tidak terbaca.
Dia membawa Kaelen ke ruang kerja pribadinya di Menara Formasi dan mengaktifkan semua formasi penyekatan. "Duduk."
Kaelen mematuhi. "Senior, aku—"
"Dia melihatmu," potong Lin Xia. "Saat dia memindai kerumunan, dia berhenti padamu. Kenapa?"
Kaelen menarik napas dalam-dalam. Ini adalah titik kritis. Dia bisa berbohong, tetapi Lin Xia sudah terlalu banyak tahu. Atau dia bisa memberikan sebagian kebenaran. "Aku... aku memang memiliki sesuatu yang tidak biasa dengan jiwaku. Sejak aku masih kecil, aku memiliki mimpi aneh. Penglihatan. Tapi aku tidak tahu apa itu Jiwa Terpecah, aku—"
"Tenang," kata Lin Xia, suaranya sedikit lebih lembut. "Aku tidak menuduhmu. Tapi kau harus memahami—Ordo sekarang tahu kau ada di sini. Mereka mungkin tidak yakin, tetapi mereka akan mencurigai. Dan mereka tidak akan berhenti."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
Lin Xia berjalan ke jendela, memandang ke arah pegunungan yang gelap. "Ada dua pilihan. Pertama, kau bisa melarikan diri. Aku bisa membantumu menghilang. Tapi itu akan membuatmu menjadi buronan selamanya, dan Ordo akan terus memburumu. Kedua..." Dia berbalik. "Kau tetap di sini, tetapi kau harus menjadi sangat kuat, sangat cepat, sehingga ketika mereka datang, kau bisa bertahan—atau bahkan melawan."
"Bagaimana caranya?"
"Kompetisi Turnamen Murid Antar-Sekte akan diadakan dalam enam bulan," kata Lin Xia. "Pemenangnya tidak hanya mendapat hadiah langka, tetapi juga mendapat kesempatan untuk masuk ke 'Ruang Warisan' sekte—tempat di mana teknik dan artefak terkuat disimpan. Jika kau bisa masuk ke sana, kau bisa menemukan cara untuk melindungi dirimu, atau bahkan memahami kondisimu dengan lebih baik."
Kaelen mengangguk perlahan. "Tapi aku hanya murid luar Lapis Kedua. Turnamen itu untuk yang terbaik dari murid inti."
"Kau punya lima bulan untuk mencapai setidaknya Lapis Keempat, dan mempelajari teknik yang cukup untuk bersaing." Lin Xia menatapnya. "Dan kau punya satu keuntungan: akses ke Menara Formasi dan bimbinganku. Tapi itu akan datang dengan harga. Kau harus sepenuhnya berkomitmen. Tidak ada hari libur, tidak ada kelonggaran. Latihan yang akan kau jalani akan lebih keras daripada apa pun yang pernah kau alami."
Kaelen tidak ragu. Dia sudah melalui rimba belantara, menghadapi binatang buas, dan melawan parasit spiritual. Latihan keras tidak menakutkannya. "Aku setuju."
"Baik," kata Lin Xia. "Besok, kita mulai. Tapi pertama..." Dia membuka laci di mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya ada sebuah jimat perak berbentuk tetesan air. "Ini adalah 'Penjaga Mimpi'. Pasang di bawah bantalm saat kau tidur. Ini akan melindungi pikiranmu dari penyusupan spiritual dan mimpi buruk. Ordo dikenal menggunakan serangan psikis."
Kaelen menerimanya, rasa terima kasih yang mendalam di hatinya. Lin Xia mungkin keras, tetapi dia adalah sekutu yang berharga.
Malam itu, kembali ke asrama, Kaelen menemukan suasana yang tegang. Semua murid membicarakan insiden Fen. Beberapa ketakutan, beberapa marah, beberapa mencurigai satu sama lain. Arlan, khususnya, tampak terguncang—dia telah berteman dengan Fen, meski hanya sekadar kenalan.
"Kau," kata Arlan saat melihat Kaelen masuk. Matanya merah. "Apa kau tahu tentang ini? Tentang Ordo ini?"
"Tidak lebih darimu," jawab Kaelen dengan tenang.
"Tapi dia melihatmu. Aku melihat itu. Dia berhenti padamu. Kenapa?"
Kaelen menghela napas. "Aku tidak tahu. Mungkin karena aku orang baru. Atau mungkin karena aku berbeda. Tapi aku bukan agen Ordo, Arlan. Aku korban seperti kalian."
Arlan memandangnya untuk waktu yang lama, lalu mengangguk perlahan. "Baik. Tapi jika aku menemukan kau berbohong..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, berbalik dan pergi ke kamarnya.
Kaelen pergi ke kamarnya sendiri, di mana Jek, teman sekamarnya, sedang duduk di tempat tidur dengan wajah pucat.
"Apakah kita dalam bahaya, Kaelen?" tanya Jek dengan suara kecil.
"Kita selalu dalam bahaya, Jek. Tapi kita lebih aman di sini daripada di luar." Kaelen meletakkan Jimat Penjaga Mimpi di bawah bantalnya. "Cobalah tidur. Besok akan menjadi hari yang panjang."
Tapi sebelum tidur, Kaelen melakukan sesuatu. Dia duduk bersila di tempat tidurnya dan mengalihkan kesadarannya ke dalam, ke fragmen-fragmen dalam dirinya. Dua fragmen—yang dari Batu Langit dan yang dari Istana Es—berada di sana, sumber kekuatan dan ingatan yang samar. Dia mencoba berkomunikasi, seperti yang dia lakukan dalam mimpi.
Apakah kalian di sana? pikirnya, memusatkan perhatian pada cahaya biru lembut dalam dirinya.
Untuk pertama kalinya, dia mendapat jawaban yang jelas. Bukan kata-kata, tapi perasaan—dua kehadiran yang berbeda. Yang satu hangat dan stabil (fragmen pertama), yang lain dingin dan tajam (fragmen kedua). Dan sebuah gambaran muncul di pikirannya: sebuah peta dengan tujuh titik cahaya, satu di sekte ini (dia), satu di suatu tempat di utara (mungkin di Gunung Naga Tidur), dan lima lainnya tersebar sangat jauh, di dunia yang berbeda.
Kita harus bersatu, terasa seperti desakan mendesak dari kedua fragmen. Sebelum Ordo menghancurkan kita, atau sebelum yang lain menemukan kita.
"Yang lain?" Kaelen bergumam. Tapi tidak ada jawaban lebih lanjut.
Dia berbaring, matanya menatap langit-langit. Lima bulan untuk mencapai Lapis Keempat dan mempersiapkan turnamen. Lima bulan sebelum dia mungkin harus menghadapi agen Ordo secara langsung. Dan di suatu tempat di luar, ada lima fragmen lagi yang menunggu, dan ancaman yang bahkan lebih besar dari Ordo.
Dia menutup matanya, tekad mengeras. Dia akan menjadi kuat. Dia harus.