Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Rumah yang Mulai Penuh Suara
Pagi itu Arka benar-benar mencoba hidup seperti orang biasa.
Bukan CEO.
Bukan pemilik perusahaan.
Cuma… calon ayah yang lagi belajar.
Dia lagi bantu Aruna di dapur.
Lebih tepatnya, mengganggu Aruna di dapur.
“Kenapa kamu potong wortel kayak lagi audit laporan keuangan?” Aruna melirik sambil nahan senyum.
Arka berhenti.
“Audit itu detail. Ini juga detail.”
“Itu wortel, bukan saham perusahaan.”
“Aku sedang beradaptasi.”
Aruna akhirnya ketawa kecil.
“Adaptasi itu bukan bikin dapur jadi zona risiko tinggi.”
Arka menaruh pisau.
“Oke. Instruksi.”
Aruna menunjuk kompor.
“Aduk itu. Jangan berhenti.”
Arka mulai mengaduk dengan ekspresi serius banget.
Aruna melirik sebentar lalu geleng kepala.
“Kamu kelihatan kayak lagi tanda tangan kontrak miliaran.”
“Ini lebih menegangkan. Ini melibatkan penilaian langsung.”
Aruna menahan tawa lagi.
Di ruang tamu, suara anak-anak mulai ramai.
Arven masuk duluan.
“Bunda, papa masak?”
Aruna menjawab santai,
“Papa latihan.”
Arkana mendekat ke dapur.
“Kalau papa gagal, kita tetap makan ya?”
Arka menoleh.
“Kalian nggak percaya aku?”
Arsha yang paling tenang ikut bicara,
“Kita percaya… tapi kita juga siap mental.”
Arka menatap mereka lama lalu tertawa.
“Fair.”
---
Setelah sarapan, semua duduk di ruang tamu.
Arka sengaja memulai percakapan lebih panjang.
Bukan pertanyaan singkat.
Bukan janji kosong.
“Aku mau ngobrol serius sedikit. Tapi santai aja. Nggak ada yang harus jawab cepat.”
Arven langsung duduk bersila.
“Serius tapi santai itu gimana?”
Arka berpikir sebentar.
“Kayak kita ngomong jujur, tapi nggak saling takut.”
Arkana mengangguk.
“Boleh.”
Arka menatap mereka satu per satu.
“Aku tahu kalian sudah hidup tanpa aku cukup lama. Aku nggak bisa minta kalian langsung nyaman.”
Arsha menatap lurus.
“Kenapa papa dulu nggak cari kita?”
Arka nggak kaget.
Dia memang menunggu pertanyaan itu.
“Aku nggak tahu kalian ada.”
Arven langsung menyela,
“Tapi setelah tahu?”
Arka menarik napas.
“Aku takut. Dan waktu itu aku masih mikir hidupku cuma tentang kerja.”
Arkana menunduk.
“Berarti kita nggak penting dulu?”
Arka langsung menggeleng.
“Bukan. Aku yang belum siap jadi penting untuk orang lain.”
Sunyi sebentar.
Arsha bicara lagi, lebih pelan.
“Kalau nanti papa sibuk lagi, kita harus ngerti?”
Arka menjawab pelan tapi tegas.
“Kalian boleh ngerti. Tapi kalian juga boleh protes.”
Arven memiringkan kepala.
“Protes gimana?”
“Ngomong langsung. Marah kalau perlu. Tapi jangan diam.”
Arkana memeluk lututnya.
“Aku takut kalau papa pergi lagi.”
Arka mendekat sedikit, masih menjaga jarak.
“Aku nggak janji hidup selalu mudah. Tapi aku janji kalau ada masalah, aku nggak akan hilang tanpa penjelasan.”
Arsha memandangnya lama.
“Janji itu bisa dibuktikan?”
Arka tersenyum kecil.
“Iya. Dengan waktu.”
---
Di dapur, Aruna diam-diam mendengarkan.
Ibunya Arka berdiri di sampingnya.
“Kamu selalu dengar seperti itu?”
Aruna menjawab pelan.
“Iya. Anak-anak jujur sekali.”
Ibunya Arka menatap ruang tamu.
“Mereka tidak mencari ayah sempurna. Mereka mencari ayah yang tinggal.”
Aruna mengangguk.
“Saya tahu.”
Ibunya Arka melanjutkan lebih lembut,
“Kamu membesarkan mereka tanpa sandaran. Itu tidak mudah. Kamu tidak perlu langsung percaya pada perubahan Arka.”
Aruna menatapnya.
“Tapi saya ingin percaya.”
“Percaya boleh pelan.”
---
Di ruang tamu, percakapan belum selesai.
Arven tiba-tiba berkata,
“Kalau papa tinggal di sini beberapa hari seminggu… itu latihan dulu?”
Arka tersenyum.
“Bisa dibilang begitu.”
Arkana langsung menambahkan,
“Kalau papa tinggal, papa harus ikut aturan rumah.”
“Aturannya apa?”
“Tidak boleh kerja saat makan.”
Arsha menambahkan,
“Dan harus dengar cerita sebelum tidur.”
Arven menutup,
“Dan tidak boleh hilang tanpa bilang.”
Arka mengangguk serius.
“Aku setuju.”
Arkana memicingkan mata.
“Serius?”
“Serius.”
Arsha akhirnya tersenyum kecil untuk pertama kalinya.
---
Siang hari, Alden datang menjenguk.
Begitu masuk, dia langsung melihat Arka duduk di lantai main puzzle.
Alden berhenti di pintu.
“Ini CEO perusahaan besar atau babysitter premium?”
Arka tanpa menoleh menjawab,
“Ini pelatihan kepemimpinan tingkat lanjut.”
Arven menyela,
“Om, papa kalah.”
Alden tertawa.
“Bagus. Berarti dia manusia.”
Aruna keluar membawa minuman.
Alden menatap Aruna lebih santai dari biasanya.
“Gimana suasana rumah? Sudah lebih damai?”
Aruna menjawab jujur,
“Damai, tapi masih hati-hati.”
Alden mengangguk.
“Itu sehat.”
Ayah Arka datang menyusul beberapa waktu kemudian.
Dia duduk di kursi, melihat semuanya tanpa komentar panjang.
Lalu berkata tenang,
“Rumah yang hidup selalu sedikit berisik.”
Arka menatap ayahnya.
“Dulu rumah kita sunyi.”
Ayahnya menjawab,
“Karena kita terlalu sibuk menjaga citra.”
Aruna mendengar itu dan sedikit terdiam.
Ayah Arka lalu menatap Aruna langsung.
“Kamu tidak perlu berubah untuk masuk ke keluarga kami.”
Aruna menjawab pelan,
“Saya juga tidak ingin keluarga berubah hanya karena saya.”
Ayah Arka tersenyum tipis.
“Berarti kita sama-sama belajar menyesuaikan.”
---
Malam menjelang.
Anak-anak sudah tidur.
Aruna dan Arka duduk di teras.
Percakapan mereka kali ini panjang. Tidak terburu-buru.
“Kamu kelihatan lelah,” kata Aruna pelan.
“Lelah yang baik.”
“Apa bedanya?”
“Lelah karena membangun, bukan mengejar.”
Aruna menatap jalan sepi di depan rumah.
“Aku masih takut suatu hari semua ini terasa terlalu baik lalu runtuh.”
Arka tidak menyangkal.
“Aku juga takut.”
“Kamu?”
“Iya. Tapi dulu aku lari dari takut. Sekarang aku tetap di tempat.”
Aruna diam sebentar lalu bertanya,
“Kalau nanti anak-anak benar-benar menerima kamu… kamu siap jadi ayah sepenuhnya?”
Arka menjawab tanpa ragu,
“Ayah itu bukan status. Itu kehadiran. Aku sedang belajar hadir.”
Aruna memandangnya lama.
“Aku nggak butuh kamu sempurna.”
“Aku juga nggak butuh kamu kuat terus.”
Mereka duduk lebih dekat, tapi tetap tanpa sentuhan.
Sunyi yang terasa dewasa.
---
Di kamar anak-anak, Arven berbisik pelan,
“Menurut kalian papa beneran berubah?”
Arkana menjawab setengah mengantuk,
“Dia nggak kelihatan mau pergi.”
Arsha menatap langit-langit.
“Kalau dia tetap tinggal… mungkin kita bisa mulai percaya sedikit.”
Arven menutup mata.
“Sedikit dulu.”
---
Bab ini bukan tentang keputusan besar.
Tapi tentang percakapan panjang yang akhirnya terjadi.
Bukan lagi asumsi.
Bukan lagi ketakutan diam-diam.
Semua orang mulai bicara.
Mulai menjelaskan.
Mulai mendengar.
Dan rumah kecil itu…
Semakin penuh suara.
Tinggal pilih arah emosi berikutnya.