Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ternyata kesaktian Warok Gondosupit memang setingkat berada di atas Ki Martanu. Lontaran ilmunya yang dahsyat menghantam lima keris yang melesat bagai kilat. Bukan hanya mampu menahan, tenaga gaib itu justru membalikkan arah kelima pusaka tersebut.
Udara seakan membeku.
Mata Ki Martanu terbelalak. Ia menyaksikan keris-kerisnya sendiri berputar di angkasa, lalu melesat kembali ke arahnya dengan kecepatan yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Dalam sekejap ia mengerti—itulah akhir perjalanannya.
Tubuhnya telah lemah lunglai. Tenaga dalamnya terkuras habis oleh jurus lawan. Tak ada lagi daya untuk menghindar. Waktu seakan berjalan lambat.
Di ambang kematian, bayangan wajah istrinya melintas di pelupuk mata. Senyum lembut itu, tatapan penuh harap itu—semuanya terbayang begitu nyata. Sesuatu yang hangat menggenang di sudut matanya. Setitik air bening jatuh menyusuri pipinya yang berlumur debu dan darah.
Namun lima keris itu tak mengenal belas kasihan.
Dengan sisa kekuatan, Ki Martanu hanya mampu menyilangkan kedua tangannya di depan dada—gerakan naluriah yang bahkan ia tahu takkan mampu menahan pusaka sakti miliknya sendiri.
“Clab! Clab! Clab!”
Tiga keris menembus tubuhnya hampir bersamaan. Dua lainnya meleset tipis,
“Arghhhhhh…!”
Jeritan parau itu menggema di tengah hutan belantara.
Tubuh Ki Martanu bergetar hebat. Tiga lubang menganga di dada dan lambungnya, darah mengucur deras membasahi tanah. Lututnya goyah, lalu perlahan ia jatuh berlutut. Napasnya tersengal. Matanya masih terbuka lebar, menatap kosong ke arah langit malam yang kelam.
Beberapa detik kemudian, tubuh perkasa sang tumenggung roboh ke depan. Ia terjerembab tertelungkup di tanah yang mulai merah oleh darahnya sendiri.
Hening menyelimuti medan laga.
Angin malam berdesir pelan, seakan turut mengantarkan kepergian seorang ksatria yang gugur demi mempertahankan kehormatannya
Namun nahas tak dapat dielakkan.
Dua keris yang tersisa masih melesat liar ke arah pedati, bagai anak panah tak bertuan yang haus darah. Warok Gondosupit terbelalak. Ia baru menyadari kesalahannya—ilmu pantulannya terlalu sempurna, terlalu buas.
“Celaka…!” desisnya.
Tanpa berpikir panjang ia berkelebat, tubuhnya melesat secepat bayangan, berusaha menyusul dua pusaka yang meluncur bagai kilat biru di udara malam. Namun jarak telah terlampaui. Kecepatan keris-keris itu berada di luar kendalinya.
Semuanya terlambat.
Pekik histeris Nyai Raras dari dalam pedati membelah kesunyian hutan.
Jeritan itu singkat… namun cukup untuk membuat dada Warok terasa dihantam palu godam.
“Oh, sial…!” napasnya tercekat.
Ia mendarat di samping pedati dengan wajah menegang. Tangannya gemetar saat membuka pintu kayu yang berderit pelan. Bau anyir darah langsung menyergap hidungnya.
Pemandangan di dalam membuat Warok terpaku.
Nyai Raras terkulai di sudut pedati. Dua lubang menganga di dadanya. Keris-keris itu menancap menembus tubuhnya, darah mengalir membasahi kain yang dikenakannya. Wajahnya pucat, mata terpejam, seolah tertidur dalam keheningan yang abadi.
Tak ada lagi napas.
Tak ada lagi harapan.
“Brakkk!”
Dengan amarah bercampur penyesalan, Warok menendang roda pedati. Kayu keras itu retak dan hancur, pecah berserakan di tanah.
“Benar-benar malam yang terkutuk…” geramnya pelan, suara yang kini tak lagi dipenuhi kesombongan, melainkan kegelisahan. “Apa yang akan kukatakan pada Ki Respada nanti…?”
Dua anak buahnya segera mendekat, wajah mereka masih berlumur darah para pengawal.
“Ada apa, Ki?” tanya salah seorang dengan nada hati-hati.
Warok memandangi mereka dengan sorot mata yang tak lagi garang. Ada bayang penyesalan di sana—sesuatu yang jarang terlihat dari seorang jagal aliran hitam.
“Yang kita cari… telah mati,” ucapnya berat. “Bayi itu… dan ibunya… semuanya telah binasa. Malam ini… kita benar-benar sial.”
Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan hutan Tambak Baya. Di antara sunyi dan bau darah, Warok Gondosupit berdiri membeku—menyadari bahwa ambisinya telah berubah menjadi petaka.
Namun ia tak tahu…
Bahwa tak semua takdir berakhir di sana.
Kedua anak buah Warok itu segera membuka pintu pedati. Begitu pandangan mereka jatuh pada tubuh Nyai Raras yang telah tak bernyawa, wajah keduanya langsung memucat. Tenggorokan mereka terasa kering.
Mereka tahu betul… Ki Respada bukan orang yang bisa menerima kegagalan. Terlebih kegagalan sebesar ini.
“Lalu… apa yang akan kita lakukan, Ki?” tanya salah seorang dengan suara bergetar.
Warok menarik napas panjang, menahan amarah dan kegelisahan yang bergolak di dadanya.
“Apalagi?” jawabnya dingin. “Tak ada lagi yang kita butuhkan di sini. Semuanya telah menjadi mayat. Kita tinggalkan tempat terkutuk ini.”
Tanpa menoleh lagi, Warok berkelebat. Tubuhnya lenyap di antara pepohonan gelap. Kedua anak buahnya segera menyusul, dan dalam sekejap mereka telah hilang ditelan lebatnya hutan Tambak Baya.
Waktu terus merangkak.
Malam semakin larut. Tempat pembantaian itu kini tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak kaku, darah menghitam di tanah yang dingin.
Hanya suara alam yang terdengar.
Suara burung hantu bersahut-sahutan. Jengkrik berderik tanpa henti. Di kejauhan, lolongan serigala menggema panjang, seakan meratapi tragedi yang baru saja terjadi. Di langit, bulan sabit berwarna kemerahan menggantung redup, cahayanya menyapu hutan dengan nuansa ganjil yang membuat suasana semakin angker.
Tiba-tiba—
Di antara irama alam itu, terdengar suara semak belukar tersibak.
Kresek… kresek…
Lalu disusul bunyi yang aneh. Seperti bilah-bilah bambu saling beradu cepat, bercampur desisan panjang yang menusuk telinga.
“Trak… tak… tak… tak… Shhhhhhhh…”
Dari kegelapan hutan, muncul sebuah bayangan hitam besar. Bayangan itu merayap perlahan, tubuhnya panjang meliuk-liuk mengikuti kontur tanah. Gerakannya berat namun pasti, meninggalkan jejak di tanah yang basah oleh darah.
Sepasang mata menyala kehijauan di antara gelap.
Makhluk itu mendekat.
Dan ketika tubuhnya keluar dari balik pepohonan lalu tersiram cahaya bulan sabit yang kemerahan, wujudnya terlihat jelas.
Seekor kelabang raksasa.
Tubuhnya berwarna hijau lumut pekat, berkilau samar di bawah sinar rembulan. Puluhan kaki-kakinya bergerak serempak, menimbulkan suara beradu yang mengerikan. Sepasang sungut panjangnya bergetar, mengendus aroma darah yang memenuhi udara.
Makhluk itu berhenti di tengah medan pembantaian.
Matanya yang kehijauan menyapu tubuh-tubuh yang tergeletak.
Dan perlahan… ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, seakan tengah mencari sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar bangkai.