NovelToon NovelToon
Sistem Peningkatan Kekayaan

Sistem Peningkatan Kekayaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Harem / Kaya Raya
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.

Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.

Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Kecelakaan yang Ditutup

Malam telah lewat pukul dua puluh dua ketika Gu Yanqing diizinkan masuk ke ruang rawat.

Lampu redup. Tirai setengah tertutup. Suara mesin monitor berdetak pelan, stabil namun rapuh. Li Shumin terbaring miring, wajahnya pucat, napasnya masih bergantung pada alat bantu. Tubuhnya terlihat lebih kecil dari yang ia ingat.

Gu Yanqing berdiri di sisi ranjang tanpa berkata apa-apa.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

“Yanqing,” suara Li Shumin terdengar pelan, serak, seolah setiap kata harus ditarik keluar dengan tenaga ekstra.

“Ibu,” jawab Gu Yanqing singkat.

Li Shumin membuka mata sedikit lebih lebar. Tatapannya buram, tetapi masih mengenalinya. “Kau… tidak kerja hari ini?”

Gu Yanqing tidak langsung menjawab. “Aku cuti.”

Li Shumin terdiam sejenak. Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia terlalu lelah untuk menggali alasan, dan terlalu terbiasa menerima jawaban setengah.

Sunyi kembali turun.

Beberapa menit kemudian, Li Shumin berbicara lagi, suaranya lebih rendah. “Dokter bilang… biayanya besar.”

“Urusi saja penyembuhan,” kata Gu Yanqing. “Urusan lain aku yang tanggung.”

Li Shumin menatap langit-langit. “Ayahmu dulu juga begitu.”

Kalimat itu meluncur tanpa tekanan, tetapi beratnya terasa jelas.

Gu Yanqing menoleh sedikit. “Maksud ibu?”

Li Shumin menarik napas perlahan. “Waktu kecelakaan itu… mereka bilang akan bertanggung jawab.”

Kata mereka diucapkan tanpa nama, tetapi Gu Yanqing tahu persis siapa yang dimaksud.

Dongkou Port.

“Ayahmu jatuh saat bekerja malam,” lanjut Li Shumin. “Katanya rantai pengikat longgar. Barang berat. Tidak ada peringatan.”

Gu Yanqing mengangguk. Ia tahu versi itu. Ia telah mendengarnya berkali-kali.

“Mandor datang ke rumah sakit,” suara Li Shumin melemah. “Bilang jangan ribut. Katanya akan ada kompensasi kalau tidak dibawa ke luar.”

“Kompensasi apa?” tanya Gu Yanqing.

Li Shumin tersenyum tipis, pahit. “Janji.”

Gu Yanqing diam.

“Ayahmu meninggal tiga hari kemudian,” lanjutnya. “Tidak ada surat. Tidak ada laporan yang kami pegang. Hanya uang pemakaman sedikit.”

Ia menoleh ke arah Gu Yanqing. “Ibu dulu tidak mengerti hukum. Tidak tahu harus ke mana. Mereka bilang kalau melawan, kau akan sulit cari kerja di pelabuhan.”

Gu Yanqing menatap wajah ibunya dengan saksama.

Ancaman itu sederhana. Efektif. Dan bekerja.

“Setelah itu,” kata Li Shumin, “kasusnya seperti tidak pernah ada.”

Tidak pernah ada.

Gu Yanqing mengulangi kalimat itu dalam hati.

Ia mencoba menyusun ulang jalur administratifnya.

Kecelakaan kerja seharusnya dilaporkan ke unit keselamatan.

Ada berita acara.

Ada laporan medis.

Ada catatan kehadiran kerja.

Namun yang tersisa hanyalah ingatan keluarga.

Tidak ada arsip.

Tidak ada nomor perkara.

Tidak ada tindak lanjut hukum.

“Ayahmu bukan orang yang suka ribut,” kata Li Shumin lirih. “Dia bilang… yang penting kau bisa terus sekolah.”

Gu Yanqing menunduk sedikit. Dadanya terasa berat, tetapi pikirannya tetap dingin.

Ia memahami sekarang.

Kasus itu tidak pernah benar-benar diproses.

Ia dihentikan sebelum masuk sistem hukum.

Diputus secara sepihak.

Dikubur rapi.

Li Shumin memejamkan mata. Energinya habis. Napasnya kembali teratur oleh mesin.

Gu Yanqing berdiri lebih lama, lalu merapikan selimut ibunya dengan gerakan pelan dan terkontrol.

Saat ia melangkah keluar dari ruang rawat, koridor kembali menyambut dengan cahaya dingin dan sunyi panjang.

Ingatan keluarga telah berbicara.

Sekarang, yang tersisa adalah mengecek realitas hukum yang telah disensor bertahun-tahun.

...

Lorong RS Linhai No.2 kembali sunyi.

Jam dinding menunjukkan pukul 23.11. Suara langkah kaki nyaris tidak ada. Hanya dengung mesin pendingin dan bunyi jauh dari lift yang sesekali bergerak. Ruang publik berubah menjadi ruang netral, tempat pikiran bisa bekerja tanpa gangguan.

Gu Yanqing berdiri di dekat jendela ujung lorong.

Cerita ibunya tidak mengandung kejutan. Justru kekosongan di dalamnya yang terasa paling tajam. Tidak ada dokumen. Tidak ada surat resmi. Tidak ada satu pun bukti fisik yang tersisa di tangan keluarga.

Ia menghubungkan potongan-potongan itu dengan kerangka yang telah ia pahami.

Kecelakaan kerja tanpa laporan resmi berarti kasus tidak pernah masuk jalur hukum.

Janji kompensasi tanpa kontrak berarti tidak pernah ada kewajiban.

Ancaman sosial berarti intimidasi berjalan lebih efektif daripada hukum.

Itu bukan kelalaian administratif.

Itu penutupan yang disengaja.

Kesadarannya bergerak dari narasi keluarga menuju perhitungan yang lebih dingin. Jika ia ingin menuntut, ia tidak bisa bertumpu pada cerita. Ia membutuhkan dasar yang bisa diuji.

Di hadapannya, panel sistem muncul kembali—tanpa suara, tanpa efek berlebihan. Tampilan bersih, seperti ringkasan analisis.

[ Wealth Ascension System ]

Status Analisis: Gugatan Kecelakaan Kerja

Objek: Dongkou Port — Unit Manajemen Operasional

Legal Probability: 23%

Angka itu berdiri sendiri.

Gu Yanqing menatapnya beberapa detik. Tidak ada perubahan ekspresi. Dua puluh tiga persen bukan peluang. Itu peringatan.

Maknanya jelas.

Bukti lemah.

Dokumen tidak lengkap.

Saksi tidak tercatat.

Risiko kalah tinggi.

Sistem tidak menjelaskan lebih jauh. Tidak ada saran langkah demi langkah. Tidak ada janji perbaikan peluang. Ia hanya menampilkan realitas sebagaimana adanya.

Gu Yanqing menerimanya.

Ia tidak membutuhkan sistem untuk menghibur. Ia membutuhkan sistem untuk berkata jujur.

Jika peluang hanya dua puluh tiga persen, maka setiap persen harus direbut secara manual. Dengan usaha. Dengan risiko. Dengan tekanan yang nyata.

Panel berubah sekali lagi, singkat.

[ Petunjuk Non-Eksekutif ]

Cari saksi hidup.

Hanya satu baris.

Tidak ada nama. Tidak ada lokasi. Tidak ada jaminan bahwa saksi itu masih bersedia berbicara.

Panel memudar, kembali pasif.

Gu Yanqing memandang keluar jendela. Kota Linhai terbentang di bawah cahaya malam—gedung-gedung tinggi, jalan raya berlapis cahaya, dan arus manusia yang tidak pernah berhenti. Di balik terang itu, ada lapisan lain yang bekerja diam-diam: kesepakatan, tekanan, dan kebungkaman.

Jika dokumen bisa dihapus, maka ingatan manusia menjadi ancaman terakhir.

Jika arsip dibersihkan, maka saksi adalah celah yang belum tertutup.

Gu Yanqing merasakan tekadnya mengeras.

Ia tidak lagi sekadar membutuhkan uang untuk bertahan.

Ia ingin membuka sesuatu yang sengaja dikubur.

Bukan dengan emosi.

Bukan dengan teriakan.

Dengan hukum. Dengan proses. Dengan tekanan yang terukur.

Ia berdiri tegak, menatap malam kota Linhai tanpa ragu.

Masih ada orang yang tahu kebenaran.

Dan ia akan menemukannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!