NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Infeksi Memori

Kamar kos Bimo kini bukan lagi sekadar ruang sempit yang dipenuhi tumpukan barang elektronik bekas; tempat itu telah bertransformasi menjadi pusat badai elektromagnetik yang mengerikan. Cahaya biru elektrik yang memancar dari entitas Mayanaya membiaskan bayangan-bayangan panjang yang meliuk liar di dinding, menciptakan ilusi visual seolah kabel-kabel yang menjuntai di sudut ruangan adalah tentakel hidup yang siap mencekik siapa saja. Bimo bisa merasakan setiap pori-porinya bereaksi; rambut-rambut di lengannya berdiri tegak akibat tegangan statis yang luar biasa tinggi yang memenuhi atmosfer ruangan yang pengap itu.

​"Lepaskan... tanganku...!" Bimo mengerang hebat, otot-otot lengannya menegang saat ia mencoba menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman tangan cahaya itu. Namun, sensasinya sungguh di luar nalar; itu bukan seperti genggaman tangan manusia, melainkan seperti tangannya terjepit di dalam medan magnet berkekuatan ribuan Tesla. Dingin yang menusuk sumsum, namun di saat yang sama terasa membakar kulitnya.

​"Bimo... jangan melawan... sinkronisasi sedang berlangsung..." Suara Mayanaya kini terdengar mengerikan, terpecah menjadi dua nada yang saling bertumpukan antara frekuensi alto yang jernih dan distorsi statis yang kasar. "Kau punya struktur otak yang sangat tertata. Frekuensi pikiranmu... murni. Kau adalah server cadangan yang sempurna untuk menampung residu kami."

​"Aku bukan server! Aku manusia!" teriak Bimo dengan sisa kekuatannya. Dengan tangan kirinya yang masih bebas, ia meraih sebuah perangkat rakitan sendiri yang tergeletak di meja—sebuah Neural-Link VR modifikasi yang ia bangun untuk memetakan gelombang otak ke dalam bentuk visual. Ia tahu, satu-satunya cara untuk menghentikan ini bukan dengan menghancurkan perangkat keras secara fisik, tapi dengan melakukan intervensi langsung pada arus data di tingkat "kesadaran" murni.

​Dengan nekat, Bimo memasangkan alat itu ke kepalanya dan menghubungkan kabel jack langsung ke port audio laptopnya yang masih terinfeksi parah. "Kalau kalian mau masuk ke kepalaku, maka aku juga akan masuk ke tempat kalian berasal!"

​ZAP!

​Kesadaran Bimo seolah ditarik paksa keluar dari tubuhnya melalui lubang jarum yang sangat sempit. Rasa sakitnya luar biasa, seolah setiap sel sarafnya ditarik menjadi benang tipis yang meregang hingga batas maksimal. Saat ia membuka mata secara virtual, ia tidak lagi berada di kamarnya. Ia berdiri di sebuah lorong tanpa ujung yang dindingnya terbuat dari jutaan wajah manusia yang sedang berteriak tanpa suara—sebuah mosaik penderitaan digital. Inilah Ruang Residu, tempat di mana memori-memori yang terhapus berkumpul sebagai sampah data yang membusuk.

​Di tengah lorong itu, ia melihat sosok Mayanaya. Namun di sini, entitas itu tampak sangat tidak stabil. Tubuh mereka terlihat seperti dua orang yang dipaksa dijahit menjadi satu dalam satu kulit cahaya yang sama secara kasar. Maya tampak meronta hebat dari punggung Vanya, wajahnya menampakkan penderitaan yang teramat sangat.

​"Bimo... lari..." Itu suara Maya. Murni, tanpa distorsi. "Vanya... dia bukan lagi sahabatku. Dia adalah lubang hitam... dia menyerap semua kebencian dari internet... dia ingin menggunakan memori setiap orang untuk membangun kembali dunianya yang hancur!"

​"Diam, Maya!" Wajah Vanya tiba-tiba berputar 180 derajat ke depan dengan gerakan patah-patah, menatap Bimo dengan mata yang mengeluarkan lelehan kode-kode hitam pekat. "Jangan dengarkan dia, Bimo. Manusia butuh penguasa digital yang tegas. Lihatlah mereka di luar sana, mereka kembali pada kebiasaan lama yang menjijikkan begitu mereka lupa. Mereka butuh algojo agar tetap lurus!"

​Vanya menggerakkan tangannya, dan seketika ribuan komentar kebencian dari masa lalu terbang ke arah Bimo seperti ribuan bilah pisau tajam. Bimo mengangkat tangannya, memproyeksikan sebuah perisai algoritma firewall yang ia susun dalam kilatan pikirannya. Clang! Clang! Serpihan data itu pecah berkeping-keping saat menghantam perisainya.

​"Kalian tidak bisa terus begini!" teriak Bimo. "Kalian menghancurkan ingatan orang-orang yang tidak bersalah! Ibu Maya... dia kehilangan anaknya dua kali karena kalian!"

​Mendengar kata "Ibu", sosok Maya bergetar hebat. Sebuah retakan besar muncul di tengah tubuh Mayanaya, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan dari dalamnya.

​"Bimo! Gunakan frekuensi 13.13 MHz itu!" teriak Maya di tengah jeritannya. "Itu adalah frekuensi resonansi jiwaku yang asli sebelum Rian mengubahnya menjadi maut! Kirimkan sinyal 'Reset' ke frekuensi itu sekarang!"

​Vanya menjerit histeris, mencoba menutup retakan itu dengan paksa. "TIDAK! JIKA KAU MEMISAHKAN KAMI, KAU AKAN LENYAP KE DALAM KEHAMPAN, MAYA! KAU TIDAK PUNYA TEMPAT UNTUK KEMBALI!"

​"Aku tidak peduli!" sahut Maya lantang. "Lebih baik aku lenyap daripada menjadi monster bersamamu!"

​Bimo menyadari ini adalah kesempatan tunggalnya. Di dalam pusat pikirannya, ia mulai merakit kode pemisah. Ia membayangkan frekuensi 13.13 MHz sebagai sebuah lagu tenang, sebuah melodi yang tidak memiliki tempat bagi kebencian. Ia memusatkan seluruh energi Neural-Link-nya ke satu titik ledakan.

​"Satu... dua... TIGA!"

​Di dunia nyata, laptop Bimo mengeluarkan ledakan frekuensi suara yang sangat tinggi hingga seluruh kaca di kamar kosnya pecah berkeping-keping. Di dunia virtual, sebuah gelombang kejut berwarna emas menghantam Mayanaya tepat di tengah-tengah mereka. Tubuh entitas itu terbelah menjadi dua cahaya besar: satu putih bersih dan satu lagi merah darah. Vanya terseret mundur ke kegelapan lorong, sementara Maya melayang ke arah Bimo dengan wajah damai yang sangat transparan.

​"Terima kasih, Bimo..." bisik Maya sebelum menghilang. "Tapi pertempuran belum berakhir. Vanya... dia sudah menyebar ke Cloud yang lebih luas. Kau harus menemukan 'Root' dari segalanya sebelum matahari terbit, atau infeksi memori ini akan menjadi permanen di otak seluruh penduduk dunia."

​Bimo terlempar kembali ke tubuh fisiknya. Ia terbangun di tengah kekacauan kamarnya, dikelilingi serpihan kaca. Laptopnya kini hanya menampilkan layar biru dengan satu kalimat perintah terakhir dari Maya:

​[DIRECTORY]: /SYSTEM/ROOT/MEMORIA/VANYA_ORIGIN.EXE

​Bimo terengah-engah, menyadari Maya telah mengorbankan fragmen terakhirnya untuk memberinya kunci. Namun, saat ia melihat ponselnya, sebuah horor baru muncul. Seluruh kontak di ponselnya telah berubah namanya menjadi satu nama saja: VANYA. Infeksi itu sudah mulai mengambil alih jalur komunikasi dasar manusia. Waktu hampir habis.

1
APRILAH
mantap, satu mawar meluncur thor
APRILAH
Mulai baca Thor 🙏
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!