bekerja di sebuah perusahaan besar tentunya sebuah keinginan setiap orang. bekerja dengan nyaman, lingkungan kerja yang baik dan mempunyai atasan yang baik juga.
tapi siapa sangka, salah satu sorangan karyawan malah jadi incaran Atasannya sendiri.
apakah karyawan tersebut akan menghindar dari atasan nya tersebut atau malah merasa senang karena di dekati dan disukai oleh Atasannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Empat Belas
***
Laudya sedang menunggu Maxim yang katanya mau Makan Malam di luar, Dari tadi Laudya sudah siap dengan pakaian santai nya.
Karena sekarang lagi musim dingin, Jadi Laudya memakai Sweater agak tebal dan celana jeans panjang.
Lagian Mereka Juga hanya akan Makan di Restoran dekat Hotel, Bahkan Kata Maxim cukup dengan jalan kaki.
Sebenarnya bisa saja mereka Makan di Restoran yang ada diHotel, tapi katanya Maxim ingin sekalian jalan-jalan Malam.
Laudya berdiri di depan pintu kamarnya, sesekali melirik jam yang ada di layar ponselnya.
“Mau di ketuk tapi gak berani, kirim pesan aja lah.” Gumam Laudya.
Laudya : “Pak saya sudah di luar.”
Tidak ada balasan dari Maxim membuat Laudya khawatir, tapi disatu sisi ia juga takutnya Maxim malah ketiduran.
“Ok, kita tunggu sepuluh menit. kalau masih gak di balas, coba telepon.” Ucapnya.
Sambil menghilangkan rasa bosan, Laudya memainkan ponselnya. dan ia berharap tidak ada orang lewat.
Dan sudah sepuluh menit tapi Maxim belum membaca pesan darinya, sehingga Laudya memutuskan untuk menghubungkan nya.
Terhubung, tapi tidak di angkat-angkat. Sampai terputus sendiri dan di coba lagi, sampai ada empat kali.
Dan kelima kali nya baru panggilan nya terjawab.
Maxim : “Hallo”
Laudya mengernyitkan keningnya, suara Maxim itu persis seperti orang yang baru bangun tidur.
Laudya : “Mas baru bangun tidur ?”
Maxim : “Iya.”
Laudya : “Pantas dari tadi gak keluar-keluar kamar, katanya mau makan malam di luar jam tujuh. Ini udah mau jam delapan loh.”
Maxim : “Tunggu sebentar.”
Tutt tuttt
Panggilannya terputus begitu saja, Laudya hanya bisa menghela nafasnya.
Sementara di dalam kamar, Maxim begitu terkejut saat Laudya mengatakan soal Makan Malam.
“Bisa-bisanya Gue ketiduran.” Gumam Maxim.
Karena tadi sore sudah mandi, jadi sekarang Maxim hanya mencuci Wajah nya dan menggosok Gigi. Ia tidak mengganti pakaian nya hanya ditambah dengan pakaian hangat saja luarnya.
Maxim mengambil Dompet dan Hp nya sebelum keluar kamar, saat keluar ia bisa melihat Laudya sudah berada di sana sedang menunggunya.
“Maaf ya, saya tadi ketiduran pas habis Mandi.” Ucap Maxim.
“Iya gak papa Mas.” Balas Laudya.
“Kalau gitu ayo kita berangkat sekarang, keburu Malam.” Ajak Maxim.
“Ini juga sudah Malam, Mas.” Ucap Laudya.
“Maksudnya takut keburu tutup Restoran nya.” Lanjut Maxim.
.
Ternyata Restoran yang di pilih Maxim lumayan dekat, kalau jalan kaki dari Hotel ke sana itu tidak sampai lima Menit.
Mereka memesan beberapa Menu, dan memilih tempat di dekat jendela agar bisa sekalian menikmati suasana Malam hari.
Apalagi terlihat seperti nya Sebentar lagi akan turun salju, dan Laudya akan mengabdikan Moment tersebut.
Bahkan Laudya sengaja menaruh Hp nya dengan posisi kamera menghadap ke jendela, Maxim hanya melihat sambil geleng-geleng kepala.
“Nanti hasilnya kirim ke saya ya, soalnya mau pamer ke Seina.” Pinta Maxim.
“Udah kaya anak kecil aja.” Kekeh Laudya.
Mereka menikmati Makan Malamnya sambil menikmati salju turun dengan cuaca yang sangat dingin, apalagi bagi mereka yang biasanya tinggal di negara tropis.
Karena cuaca semakin dingin, dan mereka berdua juga tidak Memakai pakaian yang sangat tebal. Jadi saat makanan habis langsung kembali ke Hotel.
“Mau di foto gak?” Tanya Maxim.
“Kapan-kapan aja, ini udah keburu dingin pengen cepat-cepat ke kamar.” Jawab Laudya.
Maxim hanya mengangguk-angguk saja, mereka melanjutkan langkah kaki nya menuju Hotel.
Dan mereka terpisah saat sudah sampai di depan pintu kamar mereka masing-masing, tidak ada kata ucapan selamat tidur.
Yang di ucapkan Maxim sebelum membuka pintunya hanya sekedar mengatakan soal, Laudya jangan sampai lupa mempersiapkan Materi untuk besok saat bertemu dengan klien.
Maxim menutup Pintu kamarnya, ia menghela nafasnya panjang.
“Nih mulut kenapa sih, perasaan tadi Gue udah niat mau bilang selamat tidur, jangan begadang. Tapi yang keluar bukan itu.” Maxim sampai memukul pelan bibirnya karena merasa gemas sekaligus kesal kepada bibirnya itu.
*
DI jadwal tertera kalau Laudya dan Maxim akan Pergi ke bertemu dengan Klien itu sekitaran jam Sembilan Waktu setempat di Hotel yang mereka tempati. Sementara untuk besoknya baru akan melakukan pertemuan di luar.
Dan sekarang sedang turun salju lumayan lebar, baru saja Laudya mendapatkan telepon dari Asisten Pribadi klien nya itu kalau pertemuan nya kemungkinan akan di undur siang atau sore.
“Harus di telepon sekarang, takutnya Keburu ngetuk pintu.” Ucap Laudya.
Maxim : “Tunggu, saya mau pakai Jas dulu.”
Laudya : “Bukan mau berangkat sekarang Mas, tapi ini barusan dapat kabar katanya pertemuan nya di tunda. Nanti akan di kabari lagi, soalnya pihak sananya belum bisa berangkat, jalan yang menuju kesininya terhalang Salju.”
Maxim : “Yaudah kalau gitu, Nanti kasih tahu Mas lagi kalau mereka sudah sampai.”
Lagi-lagi setiap Mereka melakukan panggilan telepon, pasti Maxim akan yang mulai memutuskan nya.
Sambil menunggu kabar terbaru, Laudya memutuskan untuk mengecek kembali materi yang akan di bahas nanti.
Ini pertama kalinya ia menemani Maxim bertemu dengan Klien, apalagi dari negara orang.
Bersyukur nya ia bisa berbicara dengan menggunakan Bahasa Jepang, jadi nantinya tidak akan terlalu Gugup.
Tok tok tok
“Siapa ya?” Gumam Laudya.
Sebelum membuka Pintu kamarnya, Laudya Lebih dulu melihat dari lubang kecil untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata Maxim.
Ckelk
“Ada Apa, Mas?” Tanya Laudya.
“Numpang duduk.” Jawab Maxim, tanpa menunggu persetujuan dari Laudya. Maxim masuk begitu saja dan duduk di atas sofa.
Laudya menutup kembali pintu, dan berjalan menghampiri Maxim.
“Mau minum yang angat-angat?”
“Boleh, Memangnya kamu punya Apa?” Tanya Balik Maxim.
“Ya cuma ada Air putih Panas, Teh sama Coklat Panas, Mas mau yang mana?”
“Coklat panas aja.” Jawab Maxim.
Laudya membuat dua Gelas Coklat Panas, disana ada mini bar, jadi Laudya bisa memanfaatkan nya.
“Kamu punya Itu semua dari mana?” Tanya Maxim.
“Tadi Pagi pas belum terlalu lebat turun saljunya, Saya pergi ke minimarket bawah.” Jawab Laudya.
“Kan udah di kasih tahu, kalau mau kemana-mana harus sama saya. Jangan sendiri.” Ucap Maxim.
“Cuma ke bawah kok, Mau minta antar sama Mas takut belum bangun.” Balas Laudya.
“Lain kali kalau butuh sesuatu bilang sama saya.”
“Iya, Mas.”
Laudya sudah selesai menyeduh Coklat Panas nya, kemudian memberikan satu Gelas kepada Maxim.
Mereka duduk saling bersampingan tapi tidak begitu dekat, karena memang Sofanya hanya satu dan itu Juga hanya muat untuk tiga Orang.
.
Pertemuan dengan Klien berlangsung selama hampir tiga Jam, dan di mulai dari jam Satu siang waktu setempat.
Setelah selesai, Mereka di lanjutkan Makan siang bersama. Dan Laudya perempuan satu-satunya yang berada di sana.
Rasanya Laudya ingin segera keluar dari ruangan tersebut, walaupun dari pembicaraan mereka benar-benar membahas soal pekerjaan.
Saat Baru datang saja, tidak ada basa-basi yang di bahas. langsung ke inti.