NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

: Gema yang Menggetarkan Dada

Malam di Blok B selalu memiliki simfoni kesedihannya sendiri. Suara batuk kering dari sel ujung, gumaman igauan narapidana yang rindu rumah, dan bunyi gesekan sandal penjaga yang berpatroli secara berkala. Di sel nomor tiga belas, Alek berbaring menyamping, menghadap ke dinding semen yang dingin. Di bawah bantal tipisnya yang sudah kempes, ia menyembunyikan sebuah buku saku kecil bersampul hijau pudar—Tuntunan Shalat Lengkap—yang ia selundupkan dari perpustakaan tadi sore atas izin bisu Syekh Mansyur.

Alek menunggu hingga lampu sel dimatikan. Saat kegelapan menyergap, hanya menyisakan bias lampu neon koridor yang masuk melalui celah jeruji, ia mulai bergerak pelan. Ia menarik selimut lusuhnya hingga menutupi kepala, menciptakan sebuah tenda kecil yang pengap namun privat. Dengan tangan gemetar, ia membuka buku itu. Cahaya yang masuk sangat minim, namun cukup bagi mata Alek yang sudah terbiasa dengan remang-remang untuk mengeja huruf demi huruf.

Ia tidak melihat huruf Arabnya—ia belum bisa membacanya. Matanya langsung tertuju pada tulisan latin dan terjemahannya.

"Al-Fatihah," bisik Alek pelan, suaranya nyaris terkubur oleh suara dengkur narapidana di sampingnya.

Ia mulai membaca artinya dalam hati. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Alek terhenti sejenak. Kata "Pengasih" dan "Penyayang" terasa sangat asing di telinganya yang selama bertahun-tahun hanya terbiasa mendengar makian, instruksi tawuran, dan bentakan ayahnya yang keras. Di dunianya, kasih sayang adalah kelemahan. Di Venom Crew, kau dihargai karena kau kejam, bukan karena kau penyayang.

Ia melanjutkan bacaannya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

"Tuhan semesta alam..." Alek bergumam lagi. "Apakah Tuhan yang ini juga Tuhannya Bagas? Apakah Dia melihat saat aku menghantamkan rak itu?"

Pikiran Alek berkecamuk. Ia teringat khotbah ayahnya, Pendeta Daniel, tentang dosa waris dan hukuman api neraka yang tak kunjung padam bagi mereka yang tersesat. Ayahnya selalu menekankan bahwa Tuhan adalah Hakim yang keras. Namun, di buku kecil ini, kata pertama yang muncul justru tentang Kasih dan Sayang.

Tiba-tiba, suara kasur di sampingnya berderit. Alek membeku, menahan napas di balik selimut.

"Belum tidur, Lex?" suara parau itu milik Salim, narapidana kasus pencurian ternak yang sering dibantu Alek menulis surat.

Alek menurunkan selimutnya sedikit, menoleh ke arah Salim yang sedang menatap langit-langit. "Gelisah, Lim. Panas."

Salim terkekeh pelan, kepalanya menoleh ke arah Alek. "Bukan panas udaranya itu, Lex. Panas pikirannya. Kamu lagi baca apa di balik selimut? Kelihatan ada cahaya kecil dari tadi."

Alek ragu sejenak. Ia tidak ingin rahasianya terbongkar, tapi Salim adalah orang yang jujur. Ia mengeluarkan sedikit ujung buku hijau itu. "Buku dari Syekh. Cuma pengen tahu kenapa kalian shalat terus."

Salim tersenyum, gigi depannya yang ompong terlihat di balik kegelapan. "Oalah... mau belajar shalat toh? Bagus itu. Daripada ngelamun terus kayak orang hilang nyawa."

"Aku cuma baca artinya, Lim," sela Alek cepat, seolah membela diri. "Aku cuma mau tahu kenapa ada bagian 'Tunjukkanlah kami jalan yang lurus'. Memangnya jalan kita selama ini semiring apa sampai harus minta ditunjukkan jalan lurus setiap hari?"

Salim menghela napas panjang, mengubah posisi duduknya hingga bersandar pada tembok. "Lex, jalan kita ini bukan cuma miring, tapi sudah masuk jurang. Masuk penjara ini tandanya kita sudah tersesat jauh sekali. Aku shalat itu bukan karena aku merasa suci, tapi karena aku takut kalau aku nggak pegangan sama doa itu, aku bakal gila di sini."

Alek terdiam, mencerna kata-kata Salim. "Tapi aku... aku bukan orang Muslim, Lim. Ayahku pendeta. Kalau dia tahu aku baca ini, mungkin dia bakal coret namaku dari kartu keluarga beneran."

"Tuhan nggak minta kartu keluarga, Lex," jawab Salim enteng. "Tuhan cuma minta hatimu. Kamu tahu nggak arti ayat itu? Ihdinash shirathal mustaqim. Itu artinya kita ini sadar kalau kita bodoh, nggak tahu arah, jadi kita minta dituntun sama yang punya dunia. Kayak kamu kalau lagi di hutan gelap, terus ada orang bawa obor, kamu pasti ikut di belakangnya, kan?"

Alek menatap buku hijau di tangannya. "Obor, ya?"

"Iya. Dan buat orang kayak kita, obor itu ya doa. Coba kamu baca terus artinya. Jangan dipaksa hapal Arabnya dulu, rasa saja maknanya."

Salim kembali berbaring, meninggalkan Alek dalam keheningan yang lebih berat. Alek menarik kembali selimutnya. Ia membuka halaman tentang bacaan rukuk dan sujud.

Subhaana rabbiyal 'azhiimi wa bihamdihi. (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya).

Alek mengulang kalimat itu dalam hati. Ia membayangkan dirinya sedang bersujud di samping Syekh Mansyur. Ia membayangkan keningnya yang penuh keringat menyentuh lantai.

"Maha Agung..." bisik Alek. "Kalau Engkau memang Agung, kenapa Engkau biarkan aku sehancur ini?"

Tiba-tiba ia teringat perkataan Syekh Mansyur di perpustakaan: Tuhan tidak menunggu kesempurnaanmu untuk mengizinkanmu bersujud. Justru karena kau hancur, kau butuh sujud untuk menyatukan kembali kepingan jiwamu.

Alek merasakan matanya memanas. Di bawah selimut yang pengap itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alek tidak memanggil nama Khansa saat ia merasa sedih. Ia tidak memanggil nama ayahnya saat ia merasa takut. Ia hanya menatap kata-kata di buku itu, mencoba merasakan getaran yang aneh di dadanya.

Ia mulai mengeja bacaan Ihdinash shirathal mustaqim berulang-ulang. Lidahnya yang kasar, yang biasa mengeluarkan perintah untuk menghajar orang, kini mencoba melafalkan doa minta petunjuk. Setiap kali ia mengucapkannya, ada rasa hangat yang menjalar dari tenggorokannya ke dadanya, seolah-olah ada es yang mulai mencair di dalam sana.

"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus..." Alek berbisik hingga ia kelelahan.

Ia menutup buku itu, mendekapnya di dada seperti memeluk harta karun yang paling berharga. Sebelum ia jatuh terlelap, ia sempat melihat bayangan Khansa di balik kelopak matanya—Khansa yang sedang tersenyum sambil memegang tasbih, seolah-olah gadis itu sedang menunggunya di ujung jalan lurus yang baru saja ia tanyakan alamatnya pada Tuhan.

Alek tertidur dengan buku hijau itu masih di pelukannya. Ia tidak tahu bahwa besok pagi, ketenangan yang baru saja ia bangun di bawah selimut akan diuji oleh kekerasan nyata di lapangan lapas. Ia tidak tahu bahwa dunia tidak akan membiarkannya berubah semudah membalik telapak tangan.

Matahari siang itu serasa tepat berada di atas kepala, membakar lapangan semen Lapas yang kering dan retak. Ini adalah jam bebas, waktu di mana hierarki penjara terlihat paling jelas. Di pojok lapangan, Alek duduk sendirian di bawah bayangan pohon kersen yang meranggas. Di tangannya, buku catatan biru pemberian Khansa terbuka lebar. Ia sedang menuliskan kembali potongan-potongan arti doa yang ia pelajari di balik selimut semalam, mencoba meresapi setiap kata melalui goresan pensilnya.

"Khansa, aku baru tahu arti dari 'Jalan yang Lurus'. Selama ini aku mengira jalan lurus adalah tentang tidak masuk penjara. Ternyata bukan. Jalan lurus adalah tentang hati yang tidak lagi mendidih saat dihina, dan tangan yang tidak lagi mengepal saat disakiti. Tapi jujur, Khansa, di tempat ini, jalan lurus itu terasa sangat licin..."

Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari di atas kertasnya. Sebelum Alek sempat mendongak, sebuah tangan kasar menyambar buku itu dengan sentakan kuat.

"Wah, wah... lihat siapa yang sedang asyik menulis surat cinta," suara serak itu tidak salah lagi. Si Macan berdiri di depan Alek, dikelilingi oleh empat orang anak buahnya yang menyeringai.

Alek berdiri perlahan. Jantungnya mulai berdegup kencang, refleks lamanya sebagai pemimpin geng mulai bangkit. Otot-otot lengannya menegang. "Kembalikan bukunya, Macan. Itu bukan urusanmu."

Si Macan tertawa, suaranya parau dan mengejek. Ia membuka halaman-halaman buku itu dengan kasar, hampir merobek kertasnya yang halus. "Bukan urusanku? Apa pun yang masuk ke Blok B adalah urusanku, Alexander. Apalagi kalau isinya sampah cengeng seperti ini."

Si Macan mulai membaca dengan suara lantang agar didengar narapidana lain yang mulai berkumpul melingkar. "'Tunjukkanlah kami jalan yang lurus'... Hahaha! Kalian dengar itu? Mesin tempur Venom Crew sekarang mau jadi ustadz! Lo mau tobat, Lex? Atau lo cuma mau cari muka supaya Syekh Mansyur kasih lo ilmu sakti?"

"Kembalikan," ulang Alek, suaranya rendah dan dalam, mengandung ancaman yang biasanya membuat orang gemetar.

"Kalau nggak gue balikin, lo mau apa?" si Macan melangkah maju, menempelkan dada bidangnya ke dada Alek. "Lo mau pukul gue? Ayo! Tunjukkan pada anak-anak di sini kalau lo masih punya taji. Atau jangan-jangan doa-doa ini sudah bikin tangan lo jadi lembek seperti perempuan?"

Darah Alek mendidih. Ia bisa merasakan adrenalin yang membakar pembuluh darahnya. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan satu pukulan uppercut tepat di rahang si Macan yang akan menjatuhkan pria itu seketika. Seluruh egonya, harga diri sebagai Alexander Panjaitan yang ditakuti di jalanan, berteriak meminta pembalasan.

Namun, di tengah badai amarah itu, sebuah memori muncul. Ia teringat dinginnya air wudhu yang membasuh wajahnya semalam. Ia teringat suara lembut Syekh Mansyur: "Sujud adalah tentang meletakkan tempat berpikir di bawah tempat merasa."

Alek memejamkan matanya sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba memadamkan api yang berkobar di dadanya dengan bayangan air yang mengalir.

"Ambil saja bukunya kalau itu memang bisa membuatmu merasa lebih hebat dari beton ini, Macan," kata Alek pelan. Suaranya tidak lagi bergetar karena marah, melainkan karena sebuah ketenangan yang dipaksakan.

Si Macan tertegun. Ia mengharapkan sebuah pukulan, sebuah ledakan amarah yang bisa ia gunakan sebagai alasan untuk mengeroyok Alek. Namun, ia justru mendapatkan kekosongan. "Lo... lo nggak mau lawan gue?"

"Aku sudah capek berkelahi untuk hal-hal yang tidak ada gunanya," sahut Alek sambil menatap mata si Macan dengan pandangan yang jernih dan dalam. "Buku itu berharga bagiku karena yang memberikannya adalah orang baik. Tapi kalau kau ingin merobeknya, silakan. Kau bisa merobek kertasnya, tapi kau tidak bisa merobek apa yang sudah aku tulis di dalam kepalaku."

Si Macan tampak bingung. Di dunia mereka, diam adalah tanda menyerah, tapi diamnya Alek saat ini justru terasa seperti sebuah serangan balik yang tidak ia pahami. Ia merasa kecil di bawah tatapan tenang Alek. Karena merasa malu dilihat oleh anak buahnya, si Macan melemparkan buku biru itu ke tanah, tepat di atas genangan air sisa pembuangan.

"Sampah!" ludah si Macan. "Lo sudah mati bagi kami, Lex. Lo bukan lagi Alexander yang dulu. Lo cuma pengecut yang bersembunyi di balik ketiak orang tua berpakaian putih itu!"

Si Macan dan gerombolannya pergi meninggalkan lapangan, namun narapidana lain yang menonton tidak mengejek Alek. Mereka justru menatap Alek dengan rasa hormat yang baru. Mereka melihat seorang pria yang biasanya meledak, kini mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Alek berlutut di tanah. Ia mengambil buku biru yang kini kotor terkena air genangan. Ia mengusap sampulnya dengan lengan bajunya, mencoba membersihkan lumpur yang menempel. Hatinya perih melihat pemberian Khansa dinistakan, namun ada rasa kemenangan yang aneh di dadanya.

Ia baru saja memenangkan pertarungan terbesar dalam hidupnya: bertarung melawan dirinya sendiri.

Salim mendekat, membantu Alek berdiri. "Kamu hebat, Lex. Kalau tadi kamu pukul dia, kamu bakal masuk sel isolasi dan semua prosesmu sama Syekh bakal berhenti. Kamu sudah mulai menemukan 'jalan lurus' itu."

Alek hanya tersenyum tipis. Ia berjalan menuju keran air di pinggir lapangan, bukan untuk berwudhu, tapi untuk mencuci buku biru itu dengan hati-hati. Ia menyadari satu hal; di penjara ini, otot mungkin bisa melindungimu dari pukulan, tapi hanya ketenangan jiwa yang bisa melindungimu dari kehancuran.

Malamnya, Alek menulis di halaman yang masih kering, menggunakan sisa tenaga dan emosinya yang terkuras.

"Khansa, hari ini aku hampir kehilangan kendali. Tapi aku ingat wajahmu dan nasihat Syekh. Buku pemberianmu kotor, Khansa... maafkan aku. Tapi anehnya, meski bukunya kotor, aku merasa batin daku hari ini sedikit lebih bersih. Aku baru sadar, menjadi kuat tidak selalu berarti menghancurkan orang lain. Terkadang, kekuatan terbesar adalah saat kita memilih untuk tidak menghancurkan, meski kita mampu."

Alek menutup bukunya. Di kejauhan, ia melihat Syekh Mansyur berdiri di depan masjid, tersenyum kecil ke arahnya. Syekh tidak perlu bertanya apa yang terjadi; di tempat ini, berita tentang "Alexander yang tidak membalas" sudah menyebar lebih cepat daripada jatah makan siang.

orang hebat bukan lah orang yang kuat

dalam bertarung

Tapi

orang hebat itu adalah orang yang mampu bersabar ketika dia mampu

untuk membalas

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!