NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: PERANG KERTAS DAN AMUK SUNYI

Kantor Dinas Sertifikasi dan Standardisasi Alat itu berdiri kaku di pusat kota kabupaten, sebuah bangunan beton bercat putih yang tampak angkuh di antara pohon-pohon peneduh yang meranggas. Di dalamnya, udara terasa dingin dan berbau kertas lama serta pengharum ruangan jeruk yang tajam. Namun, di luar gerbangnya, pagi itu suasana terasa berbeda. Debu jalanan tidak hanya diterbangkan oleh angin, tapi juga oleh langkah kaki ratusan orang yang datang dengan satu tujuan.

Jonatan berdiri di barisan paling depan. Ia tidak mengenakan toga, tidak pula membawa kunci inggris. Ia mengenakan kemeja kain tenun khas Oetimu yang paling sederhana, dengan sebuah tas ransel berisi tumpukan dokumen yang sudah ia susun bersama Sarah lewat telepon selama tiga malam terakhir. Di belakangnya, warga Desa Oetimu dan Desa Nekmese berbaris diam. Mereka tidak membawa spanduk kemarahan, mereka hanya membawa jerigen-jerigen kosong yang mereka letakkan di aspal sebagai bentuk protes bisu.

"Jon, apa kau yakin mereka akan dengar?" bisik Matheus, tangannya gemetar memegang topi kusamnya.

"Mereka punya telinga, Matheus. Kita hanya perlu memastikan suara kita cukup keras untuk menembus dinding beton itu," jawab Jonatan, matanya menatap lurus ke arah pintu kaca gedung tersebut.

Pintu terbuka. Dua orang petugas yang kemarin mendatangi bengkel keluar dengan wajah yang kaget melihat massa yang berkumpul. Wanita muda yang kemarin mencatat dengan angkuh kini tampak sedikit pucat, tangannya memegang papan klip seperti perisai.

"Apa maksudnya ini, Saudara Jonatan? Kami sudah bilang, alat Anda sedang dalam pengujian. Prosedur ini butuh waktu," teriak pria berseragam safari dari anak tangga teratas.

Jonatan melangkah maju. Suaranya tidak berteriak, namun bergema di halaman yang mendadak sunyi. "Waktu yang Bapak maksud adalah kematian bagi tanaman kami. Pengujian yang Bapak lakukan di laboratorium ber-AC itu tidak akan pernah bisa mensimulasikan rasa haus di Nekmese. Kami ke sini bukan untuk melawan aturan, kami ke sini untuk menagih janji perlindungan."

Jonatan membuka tasnya, mengeluarkan seberkas dokumen tebal. "Ini adalah akta pendirian Yayasan Oetimu Mandiri yang sudah terdaftar di Kemenkumham. Ini adalah hasil uji teknis mandiri yang diawasi oleh Profesor dari universitas di Surabaya. Dan yang terpenting," Jonatan menunjuk ke arah warga, "ini adalah sertifikat keamanan yang paling nyata. Tiga bulan alat kami beroperasi di Oetimu, tidak ada satu pun warga yang tersengat listrik, tidak ada satu pun kebun yang terbakar. Yang ada hanyalah anak-anak yang kini bisa mandi sebelum sekolah."

Petugas itu mencoba tertawa meremehkan. "Dokumen itu bisa saja dibuat-buat. Kami butuh standarisasi SNI, Saudara Jonatan. Jika tidak ada cap resmi dari kantor ini, alat Anda adalah barang ilegal yang berbahaya."

Mendengar kata 'ilegal', Pak Berto yang berdiri di samping Jonatan tidak tahan lagi. Pria tua itu melangkah maju, mengangkat sebuah jerigen kosong yang penyok.

"Bapak-bapak yang terhormat," suara Pak Berto bergetar karena emosi. "Saya tidak tahu apa itu SNI. Saya tidak tahu kertas apa yang kalian butuhkan. Tapi saya tahu rasanya melihat istri saya jatuh pingsan karena memikul air dari jarak lima kilometer. Seumur hidup kami dihisap oleh Tuan Markus karena air. Sekarang, ketika anak kami sendiri membawa air itu ke depan pintu rumah, kalian bilang itu berbahaya?"

Pak Berto membanting jerigen itu ke aspal. Bunyi dentang yang nyaring memecah ketegangan. Satu per satu, warga lain mengikuti. Dentang. Dentang. Dentang. Ratusan jerigen kosong dihantamkan ke tanah, menciptakan suara ritmis yang menakutkan—suara amuk yang sunyi namun menuntut jawaban.

"Jika alat itu berbahaya, biar kami yang menanggungnya! Tapi jika kalian menghentikannya, kalianlah yang membunuh kami!" teriak warga dari barisan belakang.

Wanita muda di tangga itu mundur selangkah, tampak gentar menghadapi tekanan massa yang begitu organik. Di saat itulah, sebuah mobil jip hitam—mobil yang sama yang sering terlihat di rumah Tuan Markus—terparkir di pinggir jalan. Tuan Markus turun, namun ia hanya berdiri di kejauhan, mengamati dengan senyum kecut. Jonatan menyadari bahwa drama birokrasi ini hanyalah perpanjangan tangan dari dendam pribadi pria itu.

"Saudara Jonatan, tolong tertibkan massa Anda!" teriak petugas itu panik.

"Massa saya akan tertib jika Bapak memberikan kepastian," Jonatan menyodorkan satu lembar kertas lagi. "Ini adalah surat permohonan dispensasi operasional riset lapangan yang sudah ditandatangani oleh rektorat universitas saya dan ditembuskan ke Gubernur. Saya hanya butuh tanda tangan Bapak sebagai bukti bahwa kantor ini tidak menghambat inovasi desa."

Perang kertas itu berlangsung sengit. Petugas tersebut tahu bahwa jika ia menolak mentah-mentah di depan kamera ponsel warga yang mulai merekam, posisinya akan terancam. Apalagi nama Gubernur sudah dibawa-bawa.

Setelah diskusi alot selama dua jam di dalam ruang rapat yang pengap—di mana Jonatan harus membedah setiap pasal hukum yang dikirimkan Sarah lewat pesan singkat—petugas itu akhirnya menyerah.

"Baik. Kami akan keluarkan izin operasional sementara di bawah kategori 'Riset Pengembangan Daerah'. Tapi ingat, setiap dua minggu, tim kami akan datang memeriksa," ucap petugas itu sambil membubuhkan stempel di atas dokumen Jonatan. Tangannya sedikit gemetar saat melakukannya.

Jonatan keluar dari gedung itu dengan selembar kertas di tangannya. Ia mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.

"Kita bisa kembali bekerja!" teriaknya.

Warga bersorak, sebuah sorakan yang mengguncang daun-daun mahoni di halaman kantor itu. Mereka mulai mengangkut kembali jerigen-jerigen mereka. Kemenangan ini kecil, hanya selembar kertas, tapi maknanya adalah pengakuan atas martabat mereka.

Namun, saat massa mulai bubar, Jonatan berpapasan dengan Tuan Markus yang masih berdiri di dekat mobilnya.

"Pintar juga kau bermain drama, Jonatan," ucap Tuan Markus, suaranya mengandung ancaman yang dingin. "Kau menang di kantor ini karena ada orang-orang bodoh di belakangmu. Tapi ingat, di lapangan, hukum alam yang berlaku. Kertas itu tidak bisa melindungimu dari kecelakaan yang bisa terjadi kapan saja pada mesinmu."

Jonatan menatap Tuan Markus tepat di matanya. "Kecelakaan tidak akan terjadi jika tidak ada yang menyabotase, Tuan Markus. Dan kali ini, seluruh warga desa menjaga mesin itu. Jika Tuan ingin mencoba lagi, kali ini bukan hanya saya yang akan Tuan hadapi."

Tuan Markus tidak menjawab, ia hanya masuk ke mobilnya dan memacu jipnya hingga debu menutupi pandangan.

Malam itu, bengkel "Oetimu Mandiri" kembali menyala. Suara las dan gerinda terdengar lebih bersemangat. Jonatan duduk di meja kerjanya, menatap surat izin bertanda tangan itu. Ia tahu ini hanya kemenangan sementara. Tuan Markus akan mencari celah lain, mungkin lewat jalur pendanaan atau ketersediaan bahan baku.

Ia mengambil ponselnya, menelpon Sarah.

"Sarah, kita berhasil. Izin sementara sudah di tangan. Tapi Tuan Markus sepertinya punya rencana lain. Aku butuh kau mulai riset tentang bagaimana kita bisa mendapatkan status badan hukum yang lebih kuat untuk koperasi air warga. Kita harus memutus rantai ketergantungan mereka selamanya."

"Aku sudah mengerjakannya, Jon," suara Sarah di ujung telepon terdengar lelah namun bangga. "Aku juga sudah menghubungi beberapa media lokal untuk meliput kegiatanmu. Biar birokrasi tidak berani macam-macam lagi kalau mereka sudah masuk radar publik."

Jonatan menutup telepon, menatap ke arah Matheus dan para pemuda yang sedang bercanda sambil merakit pipa. Ia menyadari bahwa perang ini bukan lagi soal teknologi. Ini adalah soal bagaimana sebuah komunitas merebut kembali hak mereka yang telah lama dirampas.

Ia mengambil botol air dari ayahnya, meminumnya sedikit. Rasa air itu tetap sama: dingin, segar, dan membawa aroma tanah Oetimu. Ia tahu, perjalanan menuju 100 bab ini masih sangat panjang, tapi setiap langkah, sesulit apa pun, membawanya semakin dekat pada fajar kemandirian yang ia impikan.

"Malam ini kita lembur," perintah Jonatan sambil tersenyum. "Desa Nekmese tidak boleh menunggu satu hari lagi."

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!