Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasrat Biologis
Jika Estevan hanya bermain-main dengannya, Beatrice pasti akan menyesalinya seumur hidup.
Ayah Estevan adalah saudara kandung Kaisar yang berkuasa, dianugerahi gelar Grand Duke dan memimpin Grand Duchy di wilayah Northern. Estevan sebagai satu-satunya garis keturunan, merupakan pewaris tunggal.
Karena alasan itu, Beatrice lebih suka mempertahankan pertunangan lisan ini. Jika tidak, entah kapan ia bisa menemukan pria luar biasa seperti Estevan.
“Tidak perlu terburu-buru untuk bertunangan,” kata Estevan sambil menghentikan godaannya.
Awalnya ia hanya berniat menakut-nakuti gadis itu. Siapa sangka Beatrice justru menerima semuanya dengan sukarela. Dia seorang pria normal setelah semua—tentu saja ia merasakan perubahan dalam dirinya sendiri.
“Baiklah. Sesuai keinginanmu. Aku akan memenuhi kontrak pertunangan besok dan mengirim proposal pernikahan kepada Kaisar.”
Estevan meraih sehelai rambut panjang Beatrice, menghirup samar aroma segarnya. Lalu ia menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Tubuh Beatrice yang kecil dan ringan sangan mudah dipeluk. Membuat siapa pun ingin menjaganya.
Untuk meredam dorongan dalam dirinya, Estevan hanya berani menempelkan bibirnya di leher halus gadis itu, mencuri beberapa kecupan lembut yang nyaris membuatnya kehilangan kendali.
Beatrice merasakan geli dan hangat merambat di lehernya—hingga seluruh tubuhnya lemas dalam pelukan Estevan. Nafasnya tak beraturan, seperti ada arus pendek yang berlari liar di tulang ekornya.
“Grand Duke …” Suaranya terdengar manis sekaligus menggoda, cukup membuat telinga Estevan terasa panas.
Ia tidak menunggu lebih lama. Bibirnya segera menutup bibir kecil gadis itu. Ciuman yang dalam namun hati-hati—aneh bagi dua orang yang belum pernah saling mencium sebelumnya, tetapi terasa seolah-olah keduanya sudah saling mengenali sejak lama.
Beatrice tanpa sadar memeluk lehernya. Tak lama saat keduanya larut dalam rasa manis bibir satu sama lain, ia bisa merasakan perubahan samar pada tubuh bagian bawah pria itu.
Estevan memutuskan ciuman itu sambil menarik napas panjang. “Kembalilah ke dalam dan beristirahat,” katanya yang nyaris bergetar.
Untuk pertama kali dalam dua puluh delapan tahun hidupnya, seorang gadis membuatnya kehilangan kendali. Jika ini adalah jebakan dari musuh, ia pasti sudah mati konyol sejak awal.
“Yang Mulia Grand Duke,” kata Beatrice lembut. “Kenapa tidak membiarkan saya membantu … meredakannya? Menahan terlalu lama tidak baik untuk kesehatan.”
Estevan terkekeh pelan meski terdengar samar antara pasrah dan bingung. “Kamu benar-benar gadis yang berani.”
“Bukankah itu reaksi normal?” Beatrice berkata jujur. “Senang rasanya Anda bergairah karena saya.”
Tanpa menunggu persetujuan pria itu, Beatrice lebih dulu mengambil langkah selanjutnya.
Estevan melihat apa yang dilakukan Beatrice, tubuhnya sedikit kaku. Rona merah samar terlihat di wajah tampannya. Terutama saat tubuh bagian bawahnya semakin mengencang seakan mencoba keluar dari sangkarnya.
Ia menangkap tangan gadis itu. “Jika benar-benar tidak keberatan, gunakan tanganmu saja. Itu sudah cukup,” ucapnya pelan, lebih seperti permohonan daripada perintah.
Dengan tenang, ia membimbing Beatrice untuk membantu meredakan keinginannya yang membara. Membiarkan gadis itu melakukannya sendiri.
Estevan kembali mencium gadis itu sekali lagi, kali ini lebih dalam. Lalu tangannya mencubit pinggang rampingnya. Ia juga meninggalkan tanda kemerahan samar di tulang selangka Beatrice karena naluri untuk menandai wilayahnya.
Dorongan kuat untuk mencapai puncak semakin terasa. Estevan yang tidak sabar kembali membimbing tangan Beatrice untuk menyentuh "itu" dengan cara yang berbeda. Sampai akhirnya desahan tertahan Estevan terdengar.
Napasnya terengah-engah, wajahnya memerah sampai ke daun telinga. Setelah beberapa saat, ia tampak jauh lebih tenang, meski jelas masih terhanyut dalam kabut panas.
Pria itu sama sekali tidak terlihat malu ketika melihat tangan kecil Beatrice yang masih ternodai oleh jejak miliknya. Dengan tenang, ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jas panjangnya lalu membersihkan telapak tangan gadis itu perlahan.
“Kembalilah ke dalam sebelum ada yang menyadarinya. Ini sudah larut,” ucap Estevan lembut. “Aku juga harus pergi.”
Jamuan ulang tahun Duke Vassal pasti hampir selesai sekarang. Ia harus kembali sebelum sepupunya yang riang itu berpikiran liar.
Setelah memastikan tangan Beatrice benar-benar bersih, Estevan menunduk dan mencium punggung tangannya. Ciuman yang dalam dan penuh makna, hampir membuat Beatrice kehilangan pikiran saat pria itu menatapnya.
“Lain kali,” bisiknya dengan suara rendah yang menggetarkan. “Aku yang akan memuaskanmu, gadisku.”
Senyum di bibir pria itu langsung membuat detak jantung Beatrice berdetak kencang. Sebelum suasananya berubah menjadi sesuatu yang tak layak ditonton anak-anak, ia buru-buru berdiri dan berjalan cepat meninggalkan gazebo.
“Tidak perlu, Yang Mulia Grand Duke,” katanya sambil menahan panas di wajahnya. “Saya bisa menahan diri lebih baik daripada Anda.”
Melihat punggung Beatrice menjauh, Estevan menjilat bibirnya yang sedikit kering. “Kita lihat saja nanti,” gumamnya. “Siapa yang akan memohon lebih dulu.”
Estevan mengembuskan napas panjang dan bersandar pada sandaran kursi panjang gazebo. Matanya terpejam sejenak, sapu tangan yang kini ternoda ia remas dalam genggamannya.
“Dasar setan kecil,” gumamnya, hampir terdengar seperti bisikan. Bagaimana bisa gadis kecil itu berhasil meruntuhkan kendalinya tanpa banyak usaha?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesuai janji Estevan, kontrak pertunangan dipenuhi keesokan harinya. Ia bahkan harus bolak-balik tanpa menunggang kuda dari kota pusat ke Duchy Vassal. Bagaimana pun juga, ia memiliki tempat tinggal sementara di setiap kota—untuk beristirahat dari hari kerjanya yang panjang.
Estevan mengunjungi Kastil Vassal untuk menemui Leonidas begitu matahari baru naik. Kini keduanya duduk berhadapan di ruang kerja, masing-masing memegang secangkir teh hangat.
Leonidas jelas terkejut dengan kedatangan Estevan. Ia tidak pernah membayangkan Grand Duke Carlitos akan muncul sepagi ini—apalagi dengan membawa kabar akan memenuhi pertunangan.
“Saya tidak tahu … kenapa Yang Mulia tiba-tiba ingin memenuhi pertunangan lisan?” tanyanya hati-hati Ekspresinya mencoba santai, tapi caranya menggenggam cangkir teh menunjukkan kegugupan yang tidak bisa disembunyikan.
Apalagi pagi ini Beatrice sudah bisa sarapan bersama keluarga tanpa gejala rasa sakit apa pun. Yang membuat mereka semua sangat senang dan bersyukur. Terutama Marionne yang jauh lebih bahagia daripada hari-hari sebelumnya. Leonidas bahkan berencana memanggil dokter keluarga untuk memeriksa kesehatan Beatrice hari ini.
Estevan meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja. Suara porselen yang lembut terdengar jelas di antara keheningan.
“Aku merasa Nona Beatrice sangat berani semalam saat menghadapi Marquis Kyron,” ujarnya tenang. “Dia membela hal yang benar dan tidak mendukung hubungan gelap di balik sebuah pernikahan. Menurutku, putrimu jauh lebih berani dibanding banyak putri bangsawan lainnya.”
Leonidas menunduk sedikit. “Ini … putri saya memang agak tidak sopan semalam. Maaf jika Yang Mulia Grand Duke merasa terganggu.”
Estevan mengangkat sebelah alis, matanya tampak menyiratkan sesuatu.
“Tidak,” katanya datar namun penuh maksud. “Aku sama sekali tidak merasa terganggu.” Ia bahkan tersenyum kecil.