Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan dan Bayang yang Kembali
Lima tahun setelah kelahiran Bhaskara, puncak Merapi terasa lebih damai dari sebelumnya. Kawah yang dulu menggeram seperti naga marah kini hanya berdenyut pelan, lava di dasarnya seperti darah dunia yang tenang setelah badai panjang. Sarang batu vulkanik raksasa yang Arka bentuk kini menjadi tempat tinggal keluarga kecil yang penuh kehangatan—dinding tinggi melengkung seperti benteng alami, lubang tengah masih terhubung ke lava mengalir, tapi kini dikelilingi taman kecil yang Sari tanam dengan tangannya sendiri: bunga api yang tahan panas, rumput hijau yang tumbuh di batu vulkanik, dan pohon kecil yang daunnya berwarna merah keemasan seperti sisik Arka.
Arka berdiri di tepi sarang, dalam bentuk naga penuh—tubuh raksasa 30 meter panjangnya, sayap membentang lebar seperti awan api, sisik merahnya berkilau di bawah matahari senja. Di punggungnya, Bhaskara kecil—naga bayi berusia lima tahun—berdiri tegak, sayap kecilnya mengibas gembira, sisik merah keemasan miliknya berkilau seperti matahari terbit. Bhaskara tertawa—tawa kecil yang seperti hembusan api riang, membuat lava di bawah bergoyang pelan seperti ikut bermain.
Sari berdiri di samping Arka, tangannya menyentuh sisik besar di leher Arka. Jubah merah tipisnya mengalir ditiup angin panas, rambut hitam merahnya berkibar seperti api yang hidup. Matanya hijau zamrud memandang Arka dan Bhaskara dengan cinta yang tak pernah pudar.
“Kau sudah jadi ayah yang luar biasa,” kata Sari pelan. “Lihat dia… ia tidak takut pada api-nya sendiri. Ia bangga.”
Arka menunduk, kepala besarnya menyentuh dahi Sari dengan lembut. “Itu karena kau. Kau yang ajari dia bahwa api bukan untuk ditakuti, tapi untuk diarahkan. Kau yang ajari dia cinta sebelum kekuatan.”
Bhaskara melompat dari punggung Arka, mendarat di samping Sari dengan lompatan kecil yang sudah mulai terampil. Ia berubah ke bentuk manusia kecil—anak laki-laki berusia lima tahun dengan kulit keemasan, rambut hitam merah pendek, dan mata merah-hijau yang berkilau seperti permata api. Ia memeluk kaki Sari.
“Ibu… kapan aku bisa terbang seperti Ayah?” tanyanya, suaranya kecil tapi penuh semangat.
Sari berlutut, memeluk Bhaskara erat. “Segera, sayang. Ayah akan ajari kau. Tapi ingat… terbang bukan hanya sayap. Terbang adalah percaya pada api di dalam hatimu.”
Bhaskara mengangguk serius—gerakan yang lucu untuk anak kecil. “Aku percaya. Karena Ibu dan Ayah bilang aku adalah matahari kecil.”
Arka berubah ke bentuk manusia, berlutut di samping mereka. Ia mengangkat Bhaskara ke pangkuannya, mencium kening anaknya. “Kau lebih dari matahari kecil. Kau adalah harapan yang kami ciptakan bersama. Dan suatu hari… kau akan jadi cahaya yang menerangi dunia.”
Bhaskara tersenyum lebar. “Aku mau jadi raja seperti Ayah. Raja yang melindungi semua orang.”
Arka dan Sari saling pandang—mata merah lava bertemu mata hijau zamrud. Mereka tahu: Bhaskara bukan hanya anak mereka. Ia adalah bukti bahwa api dan cahaya bisa bersatu tanpa menghancurkan satu sama lain. Ia adalah warisan baru—naga kelima yang lahir dari cinta, bukan kutukan.
Mereka bertiga berdiri di tepi sarang, memandang dunia di bawah. Merapi diam, langit cerah, angin hangat membawa aroma bunga liar dan lava yang tenang.
Arka memeluk Sari dari belakang, tangannya melingkar di pinggang Sari, dagunya bersandar di bahu Sari. Bhaskara berdiri di antara mereka, tangan kecilnya memegang tangan Sari dan Arka.
“Kita sudah melewati banyak,” kata Arka pelan. “Klan yang takut, kegelapan yang mengintai, serangan yang hampir merenggut kita. Tapi kita masih di sini. Bersama.”
Sari mengangguk, tangannya menyentuh tangan Arka di perutnya. “Dan kita akan terus bersama. Untuk Bhaskara. Untuk dunia yang pernah takut pada kita… tapi sekarang mulai melihat kita sebagai harapan.”
Bhaskara menoleh ke atas. “Ayah… Ibu… kalau kegelapan datang lagi… apa kita bisa lawan?”
Arka tersenyum. “Kita tidak akan lawan sendirian. Kita punya satu sama lain. Dan kita punya kau—matahari kecil yang akan menerangi kegelapan.”
Sari menambahkan, “Dan kita punya api yang tidak pernah padam. Api yang lahir dari cinta.”
Mereka diam sejenak, hanya menikmati angin hangat dan detak jantung satu sama lain.
Tapi di ufuk timur, di balik awan tipis yang mulai gelap, bayang hitam kecil itu muncul lagi—bayang yang lebih gelap, lebih luas, lebih dingin dari sebelumnya. Ia tidak menyerang. Ia hanya mengamati.
“Kalian pikir api dan cahaya cukup untuk mengusirku?” suara itu berbisik samar, seperti angin yang datang dari celah dunia. “Aku lahir sebelum kalian. Dan aku akan datang lagi… saat kalian lengah.”
Arka merasakan bayang itu. Matanya menyipit, api di dadanya menyala pelan.
Sari juga merasakan. Ia memeluk Bhaskara lebih erat.
Tapi mereka tidak takut.
Karena mereka tahu: api yang lahir dari cinta tidak pernah benar-benar padam.
Dan Bhaskara—matahari kecil mereka—akan menjadi cahaya yang lebih terang dari kegelapan apa pun.
Arka menatap Sari dan Bhaskara.
“Kita siap,” katanya pelan. “Apa pun yang datang… kita hadapi bersama.”
Sari tersenyum. “Bersama.”
Bhaskara mengangguk kecil, tangan kecilnya mengepal. “Bersama!”
Dan di puncak Merapi, api mereka bertiga menyala pelan—api yang tidak lagi takut pada bayang.
Karena cahaya yang lahir dari cinta… selalu lebih kuat dari kegelapan yang lahir dari iri.