NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan Gio

Pagi itu di hotel, cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden tidak membawa kedamaian. Meskipun Dimas sudah disingkirkan, atmosfer di kamar presidential suite itu masih terasa berat oleh sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya. Sasha terbangun dengan kepala yang masih berdenyut, namun ingatan tentang setiap sentuhan Gio dan kekejaman Dimas terekam jelas di benaknya.

Gio tidak lagi berada di tempat tidur. Sasha bangkit, mengenakan jubah mandi sutra putih, dan melangkah menuju ruang tengah. Ia menemukan Gio berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah pelabuhan, membelakanginya. Pria itu sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kuat dan bekas luka kecil di buku jarinya akibat pukulan semalam.

"Kau sudah bangun?" suara Gio terdengar rendah tanpa ia harus menoleh. Sensitivitas pria itu terhadap keberadaan Sasha selalu luar biasa.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sasha pelan, menghampiri dan berdiri di sampingnya.

"Aku sedang memikirkan betapa beruntungnya Dimas karena aku masih menghargai hukum di negara ini," jawab Gio datar. Matanya yang tajam menatap jauh ke cakrawala. "Jika tidak, dia tidak akan pernah sampai ke gudang itu dalam keadaan bernapas."

Sasha menyentuh lengan Gio, merasakan ketegangan yang masih merambat di tubuh pria itu. "Dia sudah kalah, Gio. Dia mencoba menghancurkan kita, tapi dia justru memberi jalan bagi kita untuk menghabisinya secara total."

Ponsel Gio di atas meja marmer bergetar. Sebuah laporan masuk dari tim keamanannya. Dimas sudah berada di lokasi yang ditentukan, dalam pengawasan ketat sebelum diserahkan kembali ke pihak berwenang dengan tumpukan bukti baru yaitu penyerangan, percobaan pemerkosaan, dan penggunaan zat terlarang. Kali ini, tidak akan ada celah hukum yang bisa menyelamatkannya.

Satu jam kemudian, Sasha sudah kembali menjadi sosok wanita tangguh yang dikenal publik. Meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lemas, ia menolak untuk terlihat rapuh. Mereka harus kembali ke Jakarta. Ada dewan direksi yang harus ditenangkan dan investor yang harus dipastikan tetap berada di pihak Wijaya Group.

"Kita berangkat sepuluh menit lagi," ucap Gio sambil merapikan tas kerja Sasha. "Aku sudah menyiapkan jet pribadi. Aku tidak ingin kau berada di ruang publik terlalu lama hari ini."

"Kau terlalu protektif, Gio," Sasha tersenyum tipis, meski ia menikmatinya.

"Setelah apa yang terjadi semalam, aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku bahkan untuk satu detik pun," balas Gio serius.

Perjalanan kembali ke Jakarta berlangsung dalam keheningan yang intim. Di dalam jet, Sasha mencoba fokus pada dokumen di tabletnya, namun pikirannya terus kembali pada momen di mana Gio mendobrak pintu. Kecepatan dan kekuatan pria itu bukan sekadar hasil latihan; itu adalah manifestasi dari rasa kepemilikan yang mendalam.

Sasha baru menyadari bahwa selama ini ia menganggap dirinya sebagai pengendali tunggal di Wijaya Group, namun dalam hal keselamatan dan batinnya, Gio lah yang memegang kendali penuh. Pria yang dulunya ia anggap sebagai 'alat' kini telah menjadi pusat dari dunianya.

Sesampainya di Jakarta, mereka disambut oleh hiruk-pikuk media. Berita tentang keributan di gala luar kota itu mulai tercium, meski tim humas Wijaya Group telah bekerja keras meredamnya. Namun, Gio punya rencana lain. Ia tidak ingin menutupi semuanya. Ia ingin dunia tahu bahwa siapa pun yang mengganggu Sasha Wijaya akan menghadapi kehancuran yang mutlak.

Sore harinya, Gio meminta waktu pribadi. Ia pergi ke tempat di mana Dimas ditahan sementara oleh timnya sebelum penyerahan resmi ke polisi. Tempat itu adalah sebuah kantor tua yang tersembunyi di kawasan industri.

Dimas duduk di kursi besi, wajahnya babak belur, napasnya tersengal. Saat pintu terbuka dan bayangan Gio masuk, tubuh Dimas gemetar secara naluriah. Ketakutan itu nyata.

Gio berjalan perlahan, suara langkah kakinya menggema di ruangan yang dingin itu. Ia menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan Dimas. Tidak ada kemarahan yang meledak, hanya dingin yang menusuk tulang.

"Kau tahu apa kesalahan terbesarmu, Dimas?" tanya Gio sambil mengeluarkan sebatang rokok, namun tidak menyalakannya.

Dimas hanya bisa menatap dengan mata yang bengkak.

"Kesalahanmu bukan karena kau mencoba mengambil perusahaan itu. Kesalahanmu adalah kau berpikir bahwa kau bisa menyentuh Sasha dan tetap hidup untuk menceritakannya," Gio mencondongkan tubuh, suaranya kini menyerupai bisikan maut. "Aku telah menghapus semua akses keuanganmu. Semua orang yang pernah membantumu sudah berpaling. Kau bukan lagi seorang Wijaya, kau bahkan bukan lagi seorang manusia di mata hukum."

Dimas mencoba tertawa, namun yang keluar hanyalah batuk darah. "Kau... kau hanya pengawal. Dia akan bosan padamu..."

"Mungkin," jawab Gio dengan senyum miring yang mengerikan. "Tapi sampai hari itu tiba, aku adalah orang yang akan memastikan kau membusuk di sel paling gelap. Dan jika kau berani menyebut namanya lagi, aku sendiri yang akan memastikan lidahmu tidak akan bisa berfungsi lagi."

Gio berdiri, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Dimas pergi. Penyerahan ke polisi akan dilakukan malam ini dengan bukti-bukti yang tidak bisa dibantah. Dimas Satya telah tamat.

Malam jatuh di kediaman Wijaya. Sasha berdiri di balkon kamarnya, memandangi kerlap-kerlip lampu Jakarta. Suasana sudah jauh lebih tenang. Dimas sudah resmi menjadi tahanan dengan penjagaan ekstra ketat yang dibayar oleh Gio untuk memastikan tidak ada lagi celah hukum'.

Gio masuk ke kamar, membawakan secangkir teh hangat untuk Sasha. Ia memeluk Sasha dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.

"Semuanya sudah berakhir, Sha," bisik Gio.

Sasha memutar tubuhnya dalam dekapan Gio. "Apakah kita benar-benar aman sekarang?"

Gio menatap mata Sasha dalam-dalam. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang bisa melukaimu. Aku sudah membersihkan semuanya."

Sasha tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar sampai ke matanya. Ia merasa lengkap. Perjuangan memperebutkan kekuasaan, pengkhianatan Dimas, dan semua intrik keluarga Wijaya seolah menjadi latar belakang dari cerita cinta yang jauh lebih kuat dan gelap di antara mereka berdua.

Sasha menarik kerah kemeja Gio, membawanya ke dalam ciuman yang lembut namun penuh janji. Mereka tahu bahwa tantangan baru akan muncul, namun malam ini, mereka hanya ingin menjadi sepasang kekasih yang saling memiliki.

"Gio," panggil Sasha di sela napas mereka.

"Ya, Sayang?"

Sasha menatapnya dengan intensitas yang hanya ditunjukkan pada pria ini.

"Kau bilang kau akan menjagaku selamanya. Apakah itu termasuk melindungiku dari dirimu sendiri?"

Gio terkekeh rendah, suara yang maskulin dan menenangkan. Ia menggendong Sasha menuju ranjang, mata hitamnya berkilat dengan gairah yang tidak akan pernah padam.

"Aku bisa melindungimu dari dunia, Sasha. Tapi dari diriku sendiri? Kau tahu benar bahwa kau sudah terperangkap dalam jaringku sejak lama."

Sasha tertawa kecil, melingkarkan lengannya di leher Gio. "Kalau begitu, jangan pernah biarkan aku lepas."

Gio menatapnya dengan sorot kepemilikan yang mutlak sebelum memadamkan lampu kamar.

"Kau adalah napasku, Sasha. Melepaskanmu berarti menghentikan jantungku sendiri."

1
someone47
lnjut kk... Kasihan jg si sasha
Ariany Sudjana
ah gio ga punya power, istrinya dibiarkan sendiri, tanpa pengawalan, malah Dimas yang seorang penjahat, unggul di depan, karena pengawalan juga lemah, gimana sih
Lina Herlina: sabar ya kak, kan Gio sedang terluka... terima kasih komentarnya kak🙏😘 mksh ya kak dah mampir dan salam kenal kk🙏😘😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!