"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Melihat ada mobil mewah memasuki kawasan desa. Para warga desa pun keluar dari rumah mereka masing-masing.
Mobil berhenti di sebuah rumah sederhana milik Kiandra. Para warga pun berbondong-bondong mendatangi rumah Kiandra.
"Eh Nak Kiandra sudah pulang," kata salah wanita di desa ini.
"Iya Bu, aku pulang sebentar untuk berziarah ke makam nenek," ucap Kiandra.
Pandangan mereka tertuju pada Dexter yang terlihat tampan dan gagah. Lalu salah satu dari mereka pun bertanya.
"Siapa pemuda tampan itu?"
"Kenalkan ibu-ibu, pemuda tampan ini adalah suamiku," jawab Kiandra sambil menyentuh lengan bagian atas Dexter. "Namanya Dexter," imbuh Kiandra.
Para warga saling pandang. Baru beberapa hari Kiandra ke kota, ternyata pulang-pulang membawa suami.
Dan lebih mengejutkan lagi, ternyata suaminya Kiandra bukan cuma terlihat tampan, tapi juga kaya.
Itu dapat dilihat dari penampilannya dan mobil yang digunakan. Sebuah mobil mewah yang tidak dimiliki sembarangan orang.
Dexter hanya tersenyum tipis menanggapi kekaguman para wanita di depannya itu. Dan beberapa gadis di desa ini juga kepincut dengan ketampanan Dexter.
Tapi mereka hanya mampu berangan-angan, karena pemuda yang mereka kagumi sudah milik orang lain.
"Maaf ya ibu-ibu dan bapak-bapak semua, aku dan suamiku mau istirahat," kata Kiandra.
Mereka pun tidak ingin mengganggu Kiandra dan suaminya. Mereka juga berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Ternyata warga di sini cukup ramah juga," kata Dexter.
"Iya, warga di sini memang ramah," ucap Kiandra.
Kiandra dan Dexter pun masuk, terlihat di dalam rumah cukup kotor. Kiandra pun tersipu karena tempat tinggalnya harus dibersihkan terlebih dahulu.
"Maaf ya, keadaannya seperti ini," kata Kiandra.
"Tidak masalah, aku ngerti kok. Ayo, sekarang kita bersihkan terlebih dahulu," kata Dexter.
Kiandra tertegun. Dia berpikir Dexter akan merasa jijik dengan keadaan seperti ini. Ternyata, Dexter malah terlihat antusias untuk membantu membersihkan rumah.
"Benar-benar suami idaman. Suamiku, i'm falling in love," pekik Kiandra dalam hati.
"Kok bengong, ayo." Dexter menarik tangan Kiandra pelan.
Kiandra seolah baru tersadar dari lamunannya pun segera mengambil perlengkapan untuk membersihkan rumah.
Saat mereka sedang membersihkan rumah, beberapa orang ibu-ibu kembali datang dengan membawa bahan makanan mentah. Seperti sembako dan sayuran.
Walaupun tidak banyak, tapi Kiandra dan Dexter cukup senang karenanya. Dexter tidak menyangka jika warga di sini memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi.
"Terima kasih ibu-ibu, bikin repot aja," kata Kiandra.
"Eeh Nak Kiandra, kayak sama siapa aja. Lagipula Nak Kiandra selalu membantu kami para warga desa," ucap salah satu dari mereka.
"Terima kasih banyak Bu," ucap Dexter.
"Iya Abang ganteng, sama-sama," ucap ibu-ibu secara bersamaan. Mereka tersenyum tersipu melihat Dexter tersenyum kepada mereka.
Bahkan beberapa orang gadis yang melihat dari kejauhan pun menjadi salah tingkah melihat senyum manis seorang Dexter.
"Kamu tidak cemburu sayang?" tanya Dexter setelah ibu-ibu pamit pulang.
"Untuk apa cemburu? Lagian saingan ku hanya ibu-ibu. Tidak mungkin, kan, kamu menyukai ibu-ibu?"
Dexter tersenyum, kemudian dia memeluk Kiandra. Terlihat oleh mereka, karena Kiandra dan Dexter masih di depan pintu.
"Jangan di sini. Meskipun kita sudah menikah, tidak elok jika dilihat oleh warga," ucap Kiandra.
Dexter mengerti, kemudian mengajak Kiandra untuk masuk sambil membawa bahan makanan yang diberikan oleh ibu-ibu tadi.
"Hari sudah sore, kita terpaksa menginap di sini," kata Kiandra.
"Tidak masalah, malah lebih bagus," ujar Dexter.
"Di sini ada warung, tapi warga malah memberi kita bahan makanan," kata Kiandra.
"Biarkan saja sayang. Kita terima saja niat baik mereka. Nanti kita bisa kirim bahan makanan atau apapun yang bisa mereka gunakan untuk keperluan warga desa," kata Dexter.
Kiandra pun tersenyum. Dia merasa senang karena Dexter begitu perduli pada orang lain, terutama kepada warga desa sini.
Mereka pun melanjutkan membersihkan rumah. Setelah selesai, Kiandra meminta Dexter untuk mandi. Sementara Kiandra ingin memasak terlebih dahulu.
"Kamu bisa masak sayang?"
"Bisa, meskipun tidak sehebat koki restoran hotel berbintang."
Dexter pun masuk ke dalam kamar mandi. Seperti kamar mandi di desa pada umumnya. Kamar mandi berdekatan dengan dapur. Dan harus menggunakan gayung.
Beruntung Dexter bukan dari keluarga manja. Walaupun hidup mewah, tapi bisa mandiri jika situasi seperti ini.
Selesai mandi dan berganti pakaian lengkap, Dexter pun menghampiri Kiandra yang sedang memasak.
"Hmm harum sekali aromanya," kata Dexter mencium aroma masakan Kiandra.
"Hanya makanan sederhana, tidak apa-apa, kan?" tanya Kiandra. Dexter menggeleng dan mengatakan jika dia sudah terbiasa.
Kiandra tidak tahu, jika keluarga Henderson lebih menyukai makanan pinggir jalan daripada restoran mewah.
Kiandra berpikir, keluarga kaya pasti lebih memilih makanan dari restoran mewah yang lebih higienis.
"Oh iya, nanti aku akan bawa kamu ke warung makan pinggir jalan langganan kami. Sejak dulu hingga sekarang, kami masih berkunjung ke sana. Walaupun tidak setiap hari," kata Dexter.
Kiandra tertegun, lalu menatap wajah Dexter dalam-dalam. Apalagi mendengar warung makan pinggir jalan, Kiandra pun dibuat melongo.
"Kenapa? Nggak percaya?" tanya Dexter.
Kiandra tidak menjawab, dia pun melanjutkan memasak untuk mereka makan malam. Seandainya tidak ada halangan saat di perjalanan. Mungkin mereka tidak akan menginap di sini.
Tapi, Kiandra dan Dexter memang membawa pakaian ganti untuk mereka. Sama ada mereka menginap atau tidak, mereka tetap membawa bekal, terutama pakaian ganti.
"Bagaimana dengan mobil kita?" tanya Kiandra.
"Sudah diurus oleh keluargaku, tenang saja, mereka tidak akan keberatan kok," jawab Dexter.
Setelah selesai memasak. Kiandra membuat minuman untuk Dexter. Yaitu kopi hitam kesukaan Dexter.
"Aku lebih suka kurang manis, karena bibir mu sudah manis," kata Dexter.
Kiandra tersipu. Sungguh. Kiandra tidak menyangka jika Dexter bisa bicara manis begitu. Seolah Dexter sudah terbiasa merayu para cewek.
Kiandra pun pamit untuk mandi, setelah membuat minuman untuk Dexter. Dexter tersenyum melihat Kiandra tersipu saat dirayunya.
Tidak butuh waktu lama, Kiandra pun selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
Kemudian seseorang mengetuk pintu rumah Kiandra. Dexter pun segera membuka pintu, yang ternyata adalah kepala desa.
"Assalamualaikum," ucap kepala desa.
"Waalaikumsalam, cari Kiandra ya Pak?" tanya Dexter.
"Maaf mengganggu, saya hanya ingin memastikan omongan warga, katanya Kiandra datang bersama suaminya. Boleh lihat buku nikah kalian?"
"Sebentar ya Pak. Oh iya Pak, silakan masuk dulu."
Bapak kepala desa pun masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari rotan. Tidak berapa lama Dexter kembali dengan secangkir kopi hitam dan buku nikah milik mereka.