NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Bayangan Masa Lalu dan Ketakutan yang Mengikat

Malam hari di kota Bandung terasa lebih sejuk dari biasanya. Udara yang segar dari arah pegunungan membawa aroma bunga kamboja yang tumbuh di halaman rumah Rina, sahabat terbaik Rania yang telah mengenalnya sejak masa SMA. Kedua wanita itu sedang duduk di teras rumah Rina yang diberlakukan dengan kursi kayu dan meja kecil yang penuh dengan berbagai camilan khas Bandung—dari tahu isi hingga kue cucur yang masih hangat.

Lampu taman yang lembut menerangi wajah Rania yang tampak sedikit gelisah. Ia sudah beberapa kali membuka mulut seolah ingin berkata apa-apa, tapi kemudian menutupnya kembali sambil mengambil tegukan kecil dari cangkir teh jahe yang Rina seduh khusus untuknya. Rina yang sudah mengenal Rania sejak lama langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggukan pikiran sahabatnya.

“Kamu sudah tiga kali mengocok gelasmu tanpa menyentuhnya, Ran,” ucap Rina dengan suara lembut namun penuh perhatian. “Apa yang terjadi? Bukankah kamu bilang ingin cerita sesuatu padaku malam ini?”

Rania menghela napas dalam-dalam, matanya menatap jauh ke arah langit yang sudah mulai muncul bintang-bintangnya. “Aku memang punya sesuatu yang ingin cerita, Rin. Tapi aku sangat takut dan tidak tahu harus bagaimana. Ini tentang kakakku Alex.”

Mendengar nama kakaknya, Rina langsung menjadi lebih fokus. Alex Wijaya adalah kakak sulung dari Rania yang sangat menjaganya sejak kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat lima tahun yang lalu. Alex yang bekerja sebagai pengusaha sukses di bidang properti di Jakarta selalu menganggap dirinya sebagai wali bagi Rania dan adik bungsunya yang masih kuliah di Surabaya. Hubungan mereka sangat erat, namun pernah mengalami masa sulit ketika Rania memutuskan untuk menikahi Arga.

“Kenapa ada hubungan dengan kakakmu?” tanya Rina sambil mendekatkan kursinya ke arah Rania. “Apa terjadi dengan kakakmu? Apakah dia tidak setuju dengan keputusanmu yang baru saja mengambil alih rumah makan keluarga Arga ataukah ada masalah lain?”

Rania menggeleng perlahan, tangannya mulai sedikit gemetar. Ia mengambil sepotong kue cucur dan menggigitnya dengan pelan, seolah sedang mencari kekuatan dari makanan yang hangat itu. “Tidak, masalahnya bukan itu. Kakakku bahkan belum tahu tentang putusan pengadilan dan semua yang terjadi dengan Arga. Dan itu adalah masalahnya, Rin. Aku takut untuk memberitahunya.”

Rina sedikit terkejut. Ia tahu bahwa Alex selalu ingin mengetahui setiap perkembangan dalam kehidupan Rania. Bahkan ketika mereka berselisih tentang Arga, Alex tetap selalu mengirimkan pesan atau menelepon untuk memastikan bahwa Rania dalam kondisi baik. “Kenapa kamu tidak memberitahunya? Bukankah kakakmu selalu bilang bahwa dia akan selalu ada untukmu?”

Rania mengangguk, namun ekspresi wajahnya tetap penuh kesedihan dan ketakutan. “Ya, dia bilang itu. Tapi kamu tahu kan bagaimana ketika aku pertama kali bilang bahwa aku ingin menikahi Arga? Kakakku sangat menentangnya. Dia bahkan datang kesini dari Jakarta hanya untuk membujukku agar tidak melanjutkan hubungan dengan Arga. Dia bilang bahwa dia merasa ada sesuatu yang tidak benar dengan Arga, bahwa pria itu tidak akan bisa membuatku bahagia.”

Ingatan tentang hari itu muncul dengan jelas di benak Rania. Saat itu musim kemarau yang panjang di Bandung, dan udara terasa sangat panas meskipun sudah malam hari. Alex datang dengan wajah yang tegas dan penuh kekhawatiran ke rumah Rania yang saat itu masih tinggal bersama Arga dalam rumah kontrakan kecil.

“Rania, kamu harus berpikir ulang tentang hubunganmu dengan Arga,” ujar Alex dengan suara yang tegas namun penuh kasih sayang. “Aku sudah melakukan sedikit penyelidikan tentang dia dan keluarganya. Ayahnya adalah pengusaha yang pernah terlibat dalam kasus korupsi kecil, dan Arga sendiri tidak punya pekerjaan tetap yang bisa menjamin kehidupanmu. Kamu punya perusahaan yang sudah dibangun oleh orang tua kita dengan susah payah. Kamu tidak bisa menyerahkan segalanya pada seorang pria yang belum terbukti bisa dipercaya.”

Namun Rania yang saat itu sedang terpikat cinta dengan Arga tidak mau mendengar kata-kata kakaknya. Ia merasa bahwa Alex hanya ingin menguasai kehidupannya dan tidak mengerti tentang perasaan cintanya. “Kakak tidak mengerti apa-apa! Arga mencintaiku dengan tulus dan dia mengerti tentang impianku untuk mengembangkan perusahaan. Dia bahkan sudah membantu aku dalam beberapa keputusan penting untuk perusahaan. Kakak hanya ingin aku hidup sesuai dengan keinginan kakak saja!”

Percakapan itu kemudian berkembang menjadi perdebatan yang sangat panas. Rania bahkan berkata kata-kata yang sangat menyakitkan kepada Alex, menyatakan bahwa dia sudah besar dan bisa mengambil keputusan sendiri tanpa campur tangan kakaknya. Akhirnya Alex pergi dengan hati yang patah dan berkata bahwa dia akan selalu mencintai Rania, namun jika suatu hari nanti Rania merasa menyesal, dia harus siap untuk menghadapinya sendiri.

“Sejak saat itu,” ujar Rania dengan suara yang sudah mulai tercekik, “aku tidak pernah lagi berbicara dengan kakakku tentang masalah pribadiku. Aku merasa sangat malu karena telah berkata kata-kata yang kasar padanya, dan aku juga takut bahwa dia akan bilang ‘Aku sudah bilang kan padamu’ ketika mengetahui bahwa semua yang dia khawatirkan benar-benar terjadi.”

Rina mengambil tangan Rania dan memegangnya erat. “Kamu tahu kan bahwa kakakmu tidak akan berkata seperti itu padamu, kan? Dia mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini. Dia hanya ingin kamu bahagia dan terlindungi.”

“Ya, aku tahu itu,” jawab Rania dengan mata yang berkaca-kaca. “Tapi itu justru membuat aku semakin takut. Aku sudah membuat kesalahan besar dengan memilih mempercayai Arga. Aku tidak hanya merusak kehidupanku sendiri, tapi juga membuat perusahaan yang diwariskan orang tua kita berada dalam bahaya karena Arga menyalahgunakan uang perusahaan untuk memenuhi keinginan keluarganya dan juga untuk membayar hutang Maya Sari. Jika kakakku tahu bahwa aku telah membuat kesalahan yang begitu besar, apa dia akan bisa memaafkanku? Apakah dia akan merasa kecewa dan tidak ingin mengakui aku sebagai adiknya lagi?”

Rania kemudian mulai menceritakan semua yang telah terjadi sejak dia mengetahui perselingkuhan Arga dengan Maya, hingga proses hukum yang panjang dan akhirnya putusan pengadilan yang menguntungkan dirinya. Ia juga menceritakan tentang bagaimana Arga telah menyalahgunakan kepercayaannya dengan mengambil uang dari perusahaan untuk membeli rumah bagi orang tuanya, mobil untuk adiknya, dan modal untuk membuka rumah makan yang kini sudah diambil alih olehnya.

“Selama ini aku merasa seperti aku harus mengatasi semua masalah ini sendirian,” ujar Rania sambil mengusap air mata yang mulai menetes ke pipinya. “Aku merasa bahwa ini adalah hukuman bagiku karena telah tidak mendengarkan kata-kata bijak kakakku dulu. Aku merasa bahwa aku tidak berhak untuk meminta bantuan atau dukungan dari siapapun, termasuk dari kakakku yang selalu mencoba melindungiku.”

Rina mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati. Ia tahu betul betapa beratnya beban yang harus dibawa oleh Rania selama ini. Setelah Rania selesai bercerita, Rina mengambil cangkir teh jahe dan memberikannya kepada Rania.

“Kamu harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Ran,” ujar Rina dengan suara lembut namun tegas. “Setiap orang bisa membuat kesalahan, terutama ketika sedang dalam cinta. Kamu tidak bisa tahu bahwa Arga akan menjadi orang yang berbeda setelah menikah denganmu. Yang paling penting adalah kamu punya keberanian untuk menghadapi masalah tersebut dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperbaikinya.”

Ia kemudian mengambil sepotong tahu isi dan memberikannya kepada Rania. “Dan tentang kakakmu Alex, kamu harus memberitahunya semua ini. Kau tahu kan bahwa dia telah selalu mencintaimu dan mengkhawatirkannya, bahkan ketika kamu sedang berselisih dengannya. Dia mungkin akan sedikit marah atau kecewa pada awalnya, tapi dia pasti akan memahami dan akan membantu kamu dalam setiap cara yang dia bisa.”

Rania terdiam sejenak, memikirkan kata-kata sahabatnya. Ia tahu bahwa Rina benar, tapi rasa takut untuk menghadapi kakaknya masih sangat besar dalam hatinya. “Tapi bagaimana jika dia benar-benar kecewa padaku, Rin? Bagaimana jika dia merasa bahwa aku telah mengecewakannya dan orang tua kita yang telah mempercayakan perusahaan padaku?”

“Kakakmu adalah orang yang sangat cerdas dan pengalaman, Ran,” jawab Rina dengan penuh keyakinan. “Dia akan tahu bahwa kamu telah melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Selain itu, perusahaanmu sekarang sudah kembali pada jalur yang benar dan bahkan akan mengembangkan cabang baru di Jakarta. Itu adalah bukti bahwa kamu adalah seorang pemimpin yang baik dan mampu mengatasi kesulitan dengan bijaksana.”

Rania mengangguk perlahan, rasa lega mulai sedikit meresap dalam hatinya setelah bisa berbagi masalah dengan sahabatnya. Ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. “Kamu benar, Rin. Aku harus memberitahu semuanya kepada kakakku. Tapi aku tidak punya keberanian untuk menghubunginya melalui telepon atau pesan singkat. Aku merasa bahwa ini adalah hal yang sangat penting dan harus aku katakan secara langsung padanya.”

“Maka kamu harus pergi ke Jakarta untuk bertemu dengannya,” ujar Rina dengan senyum mendukung. “Aku bisa menyertaimu jika kamu mau. Kamu tidak perlu menghadapi ini sendirian, Ran. Kita adalah sahabat, dan sahabat selalu ada untuk satu sama lain dalam suka maupun duka.”

Rania merasa hatinya menjadi lebih hangat mendengar kata-kata sahabatnya. Ia mengambil tangan Rina dan memeluknya erat. “Terima kasih banyak, Rin. Tanpamu aku tidak akan bisa melalui semua ini. Aku akan memesan tiket pesawat besok pagi dan pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan kakakku. Aku akan memberitahunya semua yang telah terjadi dan meminta maaf karena tidak pernah memberitahunya lebih awal dan juga karena telah berkata kata-kata yang kasar padanya dulu.”

Setelah itu, kedua sahabat itu terus berbincang hingga larut malam. Mereka berbicara tentang masa depan perusahaan Rania, tentang rencana pengembangan cabang baru di Jakarta, dan juga tentang bagaimana Rania bisa memulai hidup baru dengan hati yang lebih kuat dan penuh harapan. Rina juga memberi beberapa nasihat tentang bagaimana cara menghadapi Alex dan bagaimana menyampaikan semua cerita dengan cara yang paling baik.

“Kamu harus ingat bahwa kakakmu mencintaimu lebih dari apa pun, Ran,” ujar Rina sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk istirahat. “Jangan biarkan rasa takut menghalangi kamu untuk mendapatkan dukungan dan cinta yang kamu butuhkan dari keluarga sendiri. Kadang kala meminta maaf dan memberitahu kebenaran adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan, tapi itu juga hal yang paling penting untuk bisa melangkah maju ke masa depan.”

Rania mengangguk dengan penuh keyakinan. Ia merasa bahwa beban yang selama ini menghantui dirinya mulai sedikit berkurang setelah bisa berbagi dengan sahabatnya. Meskipun rasa takut masih ada dalam hatinya, kini ia memiliki keberanian untuk menghadapi kakaknya dan memberitahu semua yang telah terjadi. Ia tahu bahwa ini adalah langkah penting yang harus dia lakukan untuk bisa benar-benar memulai hidup baru dan memperbaiki hubungan dengan orang yang paling dicintainya di dunia ini.

Di kamar tamu yang disediakan oleh Rina, Rania tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus merenungkan semua yang akan dia katakan kepada kakaknya besok. Ada rasa cemas yang besar dalam hatinya, namun juga ada rasa harapan bahwa setelah memberitahu semua yang terjadi, hubungan mereka akan kembali seperti dulu—bahkan mungkin lebih kuat dari sebelumnya karena mereka bisa saling memahami dengan lebih baik.

Ia mengambil foto keluarga kecil yang selalu dibawanya kemana-mana. Di foto itu, dia, Alex, dan kedua orang tua mereka sedang tersenyum bahagia di taman kota saat liburan beberapa tahun yang lalu. Melihat wajah kakaknya yang penuh cinta dalam foto itu membuatnya semakin yakin bahwa dia sedang melakukan hal yang benar dengan memutuskan untuk memberitahu semua yang telah terjadi.

“Esok pagi,” gumam Rania dengan lembut sambil menutup matanya, “aku akan memberitahu semuanya padamu, Kakak. Semoga kamu bisa memahami dan memaafkan aku.”

Dengan harapan dan sedikit rasa takut yang masih ada dalam hatinya, Rania akhirnya tertidur dengan harapan bahwa besok akan menjadi hari yang membawa kebaikan dan kedamaian bagi dirinya dan keluarga yang dicintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!