Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH SAKIT
Handoko menyadari ada yang tidak beres dengan mobil yang dikendarainya, namun ia berusaha untuk tetap terlihat tenang, karena jika ia panik maka sang istri akan lebih panik. Sepanjang perjalanan Handoko sengaja untuk tetap berada dikiri tidak ngebut atau pun menyalip.
Ani merasakan keanehan pada sang suami, hingga membuatnya berpikir cemas.
“Ayah, kenapa kok pelan sekali. Ini kita kapan nyampe nya si.” Tegur Ani.
“Tidak apa-apa, kita bisa bersantai-santai dulu.” Jawab Handoko tenang.
Belum ada beberapa menit setelah Handoko menjawab pertanyaan sang istri, sebuah kendaraan besar dari arah yang belawanan melaju cepat ke arah mereka. Awalnya handoko mengira kendaraan itu hanya akan berapasan dengan mereka, namun semakin lama, kendaraan itu semakin mepet ke arah mobil mereka. Berkali-kali Handoko membunyikan klakson untuk memberi peringatan pada kendaraan tersebut. Namun tak indahkan, bahkan semakin melaju kencang.
“Ayah, itu yah.” Tunjuk Ani yang mulai diselimuti kepanikan.
“Tenang bu, jangan panik.” Handoko berusaha untuk menenangkan sang istri di tengah kepanikan itu.
“Ayaaah, itu semakin mepet pada kita.” Ani kembali berucap dengan nada berteriak.
Handoko yang fokus pada kemudinya melirik ke kiri sekilas, tak ada waktu lagi di tengah kepanikan itu. Kendaraan besar itu semakin mengikis jarak dengan mereka sedangkan Handoko harus berpikir cepat jika ingin selamat.
Hingga akhirnya dia mebanting stir ke kiri dengan cepat dan kecepatan yang sengaja di tambah. Saat yang bersamaan mobil tersebut mengalami rem blong, dan menghantam tiang Listrik di bahu jalan.
Asap mengepul dari depan mobil mewah itu, sedangkan dua penumpangnya mengalami luka dan tak sadarkan diri. Sementara kendaraaan besar yang hampir menghantam mereka kembali melaju di jalurnya dengan santai tanpa menghiraukan kejadian tersebut.
Orang-orang yang berada di sekitar segera menuju tempat kejadian, beberapa orang mengenali penumpang mobil. Segera membantu untuk keluar dari mobil dan menghubungi ambulance.
Kabar kedua mertuanya mengalami laka lantas tersiar di televisi, dan di moment itu Deya sedang memperhatikan televisi kantornya. Hingga tanpa pikir panjang ia berlari keluar kantor dan menuju rumah sakit, tak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya pada rekan-rekan kantornya, namun beberapa dari mereka alasan dari perginya Deya. Sepanjang jalan Deya tak henti-henti berdoa untuk keselamatan kedua mertuanya. Tanpa sadar setetes air mata jatuh dipipinya yang masih dipoles make up.
“Permisi. Pasien atas nama pak Handoko dan ibu Ani di rawat diruang mana ?” Tanyanya pada resepsionis.
Petugas yang sedang berjaga melihat kepanikan Deya dan mengenalinya langsung menunjukkan ruang rawat inap sang mertua. Tanpa pikir panjang ia segera membawa kaki jenjangnya berlari. Tak peduli lagi suara ketukan ujung sepatunya yang memenuhi ruangan, yang ada dipikirannya saat ini hanya keadaan Handoko dan Ani.
Di dalam ruangan VVIP itu Deya melihat kedua mertuanya berdampingan dengan beberapa jarum infus melekat ditubuh mereka. Ani yang tak sadarkan diri harus menggunakan tabung oksigen membuat lutut Deya seketika tak bertulang.
“Ayah, Ibu.” Panggilnya lirih.
Di usapkannya pelipis Handoko yang terbalut perban, dan di elusnya lembut lengan Ani yang tertancap jarum infus. Perempuan itu duduk diantara brangkar kedua mertuanya. Ia menarik nafas dalam, hingga sebuah sentuhan lembut mendarat di lengannya.
“Ayah, apa yang sakit yah ?” Tanya Deya dengan panik.
Handoko hanya menggeleng pelan, “Jangan beri tahu suami mu ya nak.” Cegah Handoko.
Deya hanya mengangguk paham, dan mengelus lembut lengan sang mertua. Ia membenarkan selimut Handoko dan menatapnya lembut. Handoko yang di tatap dengan penuh kasih oleh sang menantu seketika merasakan damai hatinya. “Bagaimana Rico tidak jatuh cinta padamu De, ayah tahu sedari kecil dia begitu menaruh hati pada mu bahkan saat pertama kali melihat senyum dan tatapan teduhmu.” Ucap Handoko dalam hatinya.
Samar-samar ia mendengar suara lemah memanggilnya, “Deyaaa.” Dan menyentuh punggungnya.
“Ibu,ibu sudah sadar ? Alhamdulillah.” Syukurnya penuh haru.
Ani hanya tersenyum lembut dan memperhatikan Deya yang masih menggunakan seragam kerjanya.
“Kami tidak apa-apa nak, kamu sampai masih berpakaian kerja kesini.” Tutur Ani dengan suara lemah.
“Tidak apa-apa bagaimana bu, ayah sama ibu dirawat di rumah sakit begini.” Jelasnya dan menekan alarm tertempel di tembok.
“Jangan beri tahu suami mu ya nak.”Pinta Ani sama dengan Handoko.
Deya kembali mengangguk, setelah itu seorang dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan itu. Ani yang baru saja sadar langsung menjalani pengecekan, beruntung tidak ada cidera yang serius. Ani mengalami cidera bagian kaki sedangkan Handoko di bagian pelipisnya.
Dokter tersebut menjelaskan beberapa hal yang penting pada Deya, serta saran untuk melakukan pengecekan menyuruh untuk kedua mertuanya.
“Lakukan apapun yang terbaik untuk kedua orang tua saya dok.” Ucap Deya diakhir perbincangan mereka.
Seketika hati Ani menghangat ketika mendengar Deya tak menyebutnya mertua tapi orang tua. Wanita paruh baya itu mulai berpikir bahwa mungkin Rico tak salah pilih istri.
***
Kabar kecelakan itu sontak membuat orang yang mengenal Handoko berduyun-duyun ke rumah sakit. Termasuk Samsu dan Kia yang telah diberi tahu lebih dulu, Diana yang mengetahui setelah di telepon oleh Deya kini tak henti-henti menangis di samping brangkar kedua orang tuanya.
“Pokoknya Ana nggak mau tau, kasus ini harus di usut sampai tuntas.” Peringatnya pada Handoko sang ayah. Seketika ia langsung menelpon orang-orang kepercayaan keluarganya.
Handoko hanya memandang lemah sang putri, ia tahu betul Diana tak mungkin tinggal diam dengan kejadian ini. Handoko tak ingin mempermasalahkan kejadian ini, bisa saja ini murni kecelakaan. Sedangkan bagi Diana ini adalah sebuah rencana dan tak mungkin murni kecelakaan.
Deya yang sibuk dengan para tamu yang menjenguk kedua mertuanya hanya bisa menampilkan senyum semanis mungkin saat di puji, saat beberapa orang menganggap Rico sangat pintar mencari istri. Padahal sebenarnya ia sungguh bosan dan jengah dengan basa-basi seperti itu.
Malam semakin larut, beberapa orang telah berpamitan sedari tadi. Hingga Samsu dan Kia yang terakhir berada bersama mereka.
“Han.” Panggil Samsu yang menatap sahabat sekaligus besannya iba. “Ada-ada saja yang ingin diperbuat orang padamu Han.” Samsu mengusap betis sang kawan.
“Musibah Sam. Aku tidak bisa berkata apa-apa.” Jawabnya pasrah.
“Rico sudah tau ?’ Kia membuka Suara.
“Jangan sampai dia tahu Ki.” Tutur Ani yang sedang bersender di tempat tidurnya. “Tolong jangan beri tahu dia sampai kapanpun itu.” Jelasnya lagi, Kia dan yang lain hanya mengganguk paham.
“Ana, tolong hubungi mereka dan suruh mereka cabut laporan yang dibuat itu.” Perintah Ani pada sang putri.
Diana tak menjawab apapun, namun segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan panjang untuk seseorang. Sementara itu, ponsel Deya yang entah dimana letaknya sedang menampilkan panggilan video dari seseroang.
Deya mengikuti asal suara tersebut, dan betapa terkejutnya. Seseorang itu adalah Rico yang sedang menunggu panggilan videonya tersambung.
Deya berusaha mencari posisi yang pas agar Rico tak curiga. Sesaat setelah panggilan itu tersambung, keduanya sama-sama tersenyum manis sebagai pembuka percakapan.