NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak mendung, seolah-olah awan turut merasakan ketegangan yang menyelimuti halaman Pengadilan Agama. Dua buah mobil mewah berhenti di area parkir yang berbeda.

Dari sedan hitam mengkilap, Hana turun dengan langkah mantap. Ia mengenakan setelan celana formal berwarna putih gading, melambangkan kebersihan hati sekaligus awal yang baru.

Di sampingnya, Adrian Gavriel berdiri tegak, memberikan anggukan kecil sebagai dukungan moral sebelum Hana melangkah masuk ke dalam gedung.

Tak jauh dari sana, SUV putih milik Arlan terparkir kasar. Arlan turun dengan wajah yang nampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh kacamata hitam yang ia kenakan.

Ia menatap Hana dari kejauhan, menatap wanita yang dulu adalah rumahnya, namun kini tampak seperti orang asing yang tak tersentuh.

Proses persidangan awal berlangsung sangat kaku. Di dalam ruang sidang yang sunyi, hanya suara hakim yang terdengar membacakan prosedur.

Atmosfer terasa sangat berat saat kedua belah pihak menyatakan keinginan mereka yang bertolak belakang. Hana yang bersikeras untuk berpisah, dan Arlan yang mati-matian menolak dengan dalih masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangga.

"Mengingat adanya perbedaan keinginan yang sangat tajam, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, kami mewajibkan kedua belah pihak untuk menempuh proses mediasi terlebih dahulu," ujar Hakim Ketua sambil mengetukkan palu satu kali.

Hana dan Arlan diarahkan menuju sebuah ruangan kecil yang lebih privat. Di sana, hanya ada mereka berdua bersama seorang hakim mediator yang bertugas di sudut ruangan, namun memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara secara pribadi.

Pintu tertutup rapat. Bayang-bayang Adrian yang menunggu di luar dan sosok Maura yang menangis di rumah seolah lenyap seketika. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Arlan dan Hana berada dalam satu jangkauan napas tanpa ada interupsi.

Arlan tidak bisa lagi menahan diri. Begitu mediator memberi isyarat untuk memulai, ia langsung menggeser kursinya mendekati Hana.

"Hana ..." suara Arlan pecah. Itu bukan suara CEO yang angkuh, melainkan suara seorang pria yang baru saja menyadari bahwa dunianya sedang runtuh.

Hana tetap diam. Ia duduk dengan punggung tegak, jemarinya tertaut di atas pangkuan. Matanya menatap lurus ke arah dinding, menghindari kontak mata yang bisa membangkitkan memori-memori menyakitkan.

"Han, tolong lihat aku," pinta Arlan dengan nada memelas. "Lihat bagaimana hancurnya aku sejak kamu pergi. Rumah itu... rumah itu bukan lagi rumah. Itu hanya sebuah bangunan kosong yang penuh dengan kebisingan yang tidak aku inginkan."

Hana akhirnya menoleh. Tatapannya jernih, namun sangat dingin. "Kau yang memilih kebisingan itu, Mas. Kau yang membawa wanita itu ke sana. Kau yang meruntuhkan atapnya sendiri, jadi jangan mengeluh jika sekarang kau kedinginan."

Mendengar itu, Arlan merasa seolah jantungnya diremas. Ia tiba-tiba menjatuhkan diri dari kursinya, berlutut di depan Hana, sebuah tindakan yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya.

Dengan gerakan cepat dan putus asa, ia menyambar kedua tangan Hana, menggenggamnya dengan sangat erat seolah jika ia melepaskannya, Hana akan menghilang menjadi debu.

"Aku salah, Hana! Aku mengakuinya!" Arlan mulai terisak di atas punggung tangan Hana. "Aku buta karena ego. Aku pikir aku bisa memiliki segalanya, kekuasaan, keturunan, dan kamu. Aku bodoh karena menganggap kehadiranmu adalah sesuatu yang sudah seharusnya ada tanpa perlu aku jaga."

Hana mencoba menarik tangannya, namun Arlan justru semakin mempererat genggamannya. "Lepaskan, Mas Arlan. Ini tidak ada gunanya."

"Tolong, Han! Jangan ajukan gugatan ini. Cabut semuanya. Kita pulang," Arlan menatap Hana dengan mata yang memerah dan basah. "Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan membelikanmu rumah baru jika kamu tidak ingin tinggal bersama Mama dan Maura. Aku akan berbuat adil, aku bersumpah! Aku akan membagi waktuku, aku akan memberikan semua aset yang kamu inginkan, asalkan kamu tetap menjadi istriku."

Hana tertawa kecil, namun itu adalah tawa paling pahit yang pernah Arlan dengar. "Adil? Kau bicara soal keadilan?"

Hana menunduk, menatap wajah Arlan yang berlutut di depannya. "Bagaimana kau bisa berbuat adil jika hatimu saja tidak tahu di mana tempatnya harus berlabuh? Kau menginginkan aku hanya karena kau rindu dilayani. Kau rindu hidupmu yang teratur. Kau tidak merindukan aku, Arlan. Kau merindukan kenyamanan yang aku berikan."

"Bukan begitu, Han! Aku mencintaimu!"

"Cinta tidak membawa wanita lain ke tempat tidur istrinya, Mas. Cinta tidak menghina istrinya mandul hanya karena egonya terluka," suara Hana bergetar karena emosi yang mulai meluap. "Kau bilang kau akan adil antara aku dan Maura? Itu artinya kau memintaku untuk terus berbagi suami? Kau memintaku untuk terus menelan luka setiap kali kau pergi ke kamarnya? Apakah itu yang kau sebut memperbaiki semuanya?"

Arlan terdiam sejenak, tenggorokannya tercekat. "Tapi dia sedang hamil, Hana... Bayi itu tidak salah. Tapi kamu tetap yang utama, aku bersumpah."

Hana menarik tangannya dengan satu sentakan keras hingga terlepas dari genggaman Arlan. Ia berdiri, menatap Arlan dari atas dengan penuh keberanian.

"Itulah masalahmu. Kau pikir semua hal bisa diselesaikan dengan janji-janji pembagian waktu dan materi. Kau tidak pernah mengerti bahwa yang aku inginkan selama lima tahun ini hanyalah dihargai sebagai manusia tunggal di hidupmu, bukan salah satu dari koleksimu."

Arlan kembali mencoba meraih ujung blazer Hana. "Hana, kumohon... beri aku satu kesempatan terakhir. Satu saja. Aku akan membuktikan kalau aku bisa berubah."

Hana mundur satu langkah, menciptakan jarak yang sangat nyata. "Kesempatan itu sudah habis di malam kau membawa Maura masuk ke rumah kita, Mas. Di ruang mediasi ini, kau memohon karena kau takut kehilangan kontrol. Tapi aku... aku berada di sini karena aku sudah menemukan kontrol atas hidupku sendiri."

Hana menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadanya. "Sidang akan tetap berlanjut. Tidak ada mediasi yang berhasil jika salah satu pihak sudah merasa mati di dalam hubungannya. Dan aku, Arlan Mahendra ... aku sudah mati di tanganmu sejak lama."

Arlan terpaku di lantai, menatap lantai marmer ruang mediasi yang dingin. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Hana yang menjauh menuju pintu.

"Hana!" panggil Arlan sekali lagi, suaranya parau.

Hana berhenti sejenak di depan pintu, namun tidak menoleh. "Berhentilah berakting menjadi korban, Mas. Uruslah wanita yang sedang mengandung anakmu. Itu adalah tanggung jawab yang kau pilih sendiri. Jangan tarik aku kembali ke dalam lumpurmu."

Klik ...

Pintu terbuka dan tertutup. Hana keluar dari ruang mediasi dengan kepala tegak. Di koridor, Adrian langsung berdiri dan menghampirinya.

Tanpa sepatah kata pun, Adrian menyampirkan jasnya ke bahu Hana yang sedikit gemetar, memberikan perlindungan yang selama ini tidak pernah diberikan Arlan.

Di dalam ruangan, Arlan masih bersimpuh. Ia memukul lantai dengan tinjunya, merutuki kebodohannya. Namun, di tengah keputusasaannya, sebuah pikiran gelap mulai muncul.

Jika permohonan tidak bisa membawa Hana kembali, maka ia harus menggunakan cara lain yang lebih destruktif. Ia tidak akan membiarkan Hana bahagia di atas kehancurannya.

...----------------...

Next Episode ....

1
mama
ujian preet han..jgn goblok 2x lah jd cwe🤣..mulut suami km licin kyk minyak goreng kok dipercaya🤭
Lee Mba Young
setelah koar koar cerai ada yg bantuin akhirnya di bujuk dikit lngsung luluh sebegitu bucin pa bgitu enak goyangan suami smp gk mau cerai.
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
Lee Mba Young
🤣🤣 ngapain kemarin koar koar cerai trus sekarang batal. hrse terima saja poligami nya kebiasaan wanita indo yg lemah. setelah koar koar cerai smp sidang di rayu dikit langsung luluh. iku ae belum di keloni nnti di keloni lngsung gk jd cerai. 🤣.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.
cinta semu
buat Hana tegar Thor ...
Miss Ra: 💪🤗
siaaaappp
total 1 replies
Mundri Astuti
sakit kamu mah Arlan, ntar anak yg dikandung Maura taunya bukan anaknya ni y, nangis" dah situ saat itu terkuak
Mundri Astuti
mudah"an Adrian bisa jadi tameng buat Hana, hancurin perusahaannya Arlan aja Adrian biar tau rasa dia
Sasikarin Sasikarin
kok di buka pernikahan sandiwara dah terhapus
Miss Ra: iya kak maaf yah...

mnurutku ceritanya kurang bagus dan menarik...
takutnya nanti seperti beberapa karya gagal retensi yg sudah aku buat tpi mengecewakan..

nanti aku buatkan cerita yg lebih menarik lainnya yaa...

🙏
total 1 replies
Mundri Astuti
ayo Hana kamu harus kuat, tunjukkan ke Arlan bahwa kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri dan bahagia tanpa nama besar Arlan dan keluarganya
Himna Mohamad
kereeen
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuut 💪
Lee Mbaa Young
lanjuttt
Miss Ra: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjutt thoor kereen ceritanya
Miss Ra: siaaappp 💪

/Heart//Kiss/
total 1 replies
Yantie Narnoe
semangat up nya...💪💪
Miss Ra: siaaaappp

💪
total 1 replies
Yantie Narnoe
lanjut..💪💪💪
Soraya
mampir thor
Miss Ra: siaaaapppp 💪
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Miss Ra: siaaapppp💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!