Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kedatangan Aruna dan Christian di kediaman Papa Adrian disambut dengan kemewahan yang berbeda—bukan kemewahan yang dingin seperti di rumah Hermawan, melainkan kemewahan yang hangat dan penuh kasih sayang.
Papa Adrian telah menyiapkan makan malam spesial untuk merayakan kembalinya putri menantunya itu ke pelukan keluarga mereka yang sebenarnya.
"Duduklah, Aruna. Papa sengaja meminta koki menyiapkan salmon panggang kesukaanmu," sambut Papa Adrian dengan senyum lebar.
Aruna membalas senyuman itu, namun wajahnya tampak sedikit lebih pucat dari biasanya.
"Terima kasih, Pa. Tapi, Aruna ke kamar mandi dulu sebentar, ya."
Christian menatap punggung istrinya dengan dahi berkerut.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?"
"Hanya ingin cuci muka, Mas," jawab Aruna singkat sambil melangkah menuju kamar mandi di dekat area ruang makan.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Aruna segera bertumpu pada pinggiran wastafel.
Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur.
Tiba-tiba, dunianya seolah berputar hebat. Pandangannya kabur, dan bayangan ubin di bawah kakinya seakan bergoyang.
Aruna segera memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran marmer wastafel hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia berusaha mengatur napas, menghalau rasa mual yang tiba-tiba naik ke kerongkongannya.
'Ada apa denganku? Apakah ini efek jatuh dari jurang kemarin? Ataukah karena aku terlalu lelah?' batinnya penuh tanya.
Setelah beberapa saat, rasa pening itu perlahan mereda.
Aruna membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba mengembalikan rona di pipinya.
Ia memaksakan senyum di depan cermin, memastikan tidak ada yang curiga dengan kondisinya.
Dengan langkah perlahan, ia kembali ke ruang
makan.
Christian langsung menarikkan kursi untuknya, matanya menelisik wajah Aruna dengan tajam.
"Lama sekali? Kamu pucat, Aruna," bisik Christian saat Aruna sudah duduk di sampingnya.
"Aku hanya kurang tidur, Mas. Mungkin karena tadi banyak bicara dengan Akhsan dan Papa Hermawan," dalih Aruna sambil mencoba meraih garpu, meski tangannya masih sedikit bergetar.
Papa Adrian, yang menyadari ada yang berbeda dari cara Aruna menatap makanan, tersenyum penuh arti ke arah menantunya.
"Makan yang banyak, Aruna. Setelah semua badai ini, tubuhmu butuh nutrisi lebih. Mungkin besok Christian harus membawamu ke dokter untuk pemeriksaan menyeluruh."
Aruna hanya mengangguk pelan, berusaha menelan suapan pertamanya meskipun perutnya merasa menolak.
Suasana hangat di meja makan mendadak pecah menjadi kepanikan luar biasa.
Baru saja Aruna hendak menyuap potongan salmonnya, garpu di tangannya terlepas dan berdenting keras menghantam piring porselen.
Wajah Aruna mendadak seputih kertas.
Kepalanya terkulai lemas ke samping sebelum akhirnya tubuhnya merosot dari kursi.
"Aruna!!" teriak Christian dengan suara yang menggelegar di ruang makan.
Dengan refleks kilat, Christian menangkap tubuh istrinya sebelum menghantam lantai.
Ia mendekap kepala Aruna di lengannya, mengguncang bahunya dengan tangan gemetar.
"Sayang, kamu kenapa? Aruna! Bangun, Sayang!"
Papa Adrian ikut berdiri dengan wajah panik, segera memerintahkan pelayan untuk memanggil sopir.
"Christian, jangan tunggu lagi! Bawa dia ke mobil sekarang! Kita ke Rumah Sakit Medika!"
Tanpa membuang waktu, Christian menggendong Aruna dengan gaya bridal style, berlari menuju mobil dengan jantung yang berdegup kencang karena ketakutan.
Di sepanjang perjalanan, ia terus menggenggam tangan Aruna yang dingin, membisikkan doa dan kata-kata penguatan, meski Aruna tetap tak bergeming dalam pingsannya.
Christian mondar-mandir di depan ruang unit gawat darurat. Kemejanya yang tadi rapi kini kusut, dan beberapa kancing atasnya terbuka.
Tak lama kemudian, seorang dokter perempuan
keluar dengan senyum tipis yang menenangkan.
"Keluarga Nyonya Aruna?"
"Saya suaminya, Dok! Bagaimana keadaannya? Apa ini karena trauma jatuh dari jurang itu?" tanya Christian bertubi-tubi.
Dokter itu terkekeh pelan, sebuah reaksi yang membuat Christian bingung.
"Tenang, Tuan Christian. Istri Anda memang mengalami kelelahan kronis dan tekanan darahnya sempat rendah, tapi itu adalah hal yang sangat wajar bagi wanita di kondisinya."
"Maksud Dokter?"
"Selamat, Tuan. Istri Anda sedang hamil muda. Usia kandungannya baru memasuki minggu keenam. Pingsannya tadi adalah reaksi tubuh karena kurang nutrisi dan kelelahan mental yang berat."
Christian terpaku. Dunianya seolah berhenti berputar sesaat.
Air mata yang tadi ia tahan karena takut, kini tumpah karena rasa syukur yang tak terhingga.
Di tengah badai dendam dan darah yang baru saja mereka lalui, sebuah kehidupan baru telah hadir.
"Ha-hamil?" bisik Christian tak percaya.
"Iya. Tapi tolong dijaga baik-baik, ya. Mengingat riwayat traumanya baru-baru ini, kandungannya cukup rentan. Nyonya Aruna butuh ketenangan total," pesan dokter tersebut.
Christian masuk ke dalam kamar perawatan dengan langkah sangat pelan.
Ia melihat Aruna sudah sadar, bersandar lemah di tumpukan bantal dengan infus di tangannya.
Begitu mata mereka bertemu, Christian berlutut di samping ranjang dan mencium tangan Aruna berkali-kali.
"Terima kasih, Sayang, terima kasih," bisik Christian dengan suara serak.
Aruna yang masih tampak bingung mengusap rambut suaminya.
"Kenapa, Mas? Aku sakit apa?"
"Kamu tidak sakit, Sayang. Ada malaikat kecil di sini," ucap Christian sambil meletakkan tangan
Aruna di atas perutnya sendiri yang masih rata.
Ruang perawatan itu kini tidak lagi terasa mencekam.
Suasana hangat memenuhi setiap sudut kamar saat Papa Adrian masuk dan langsung memeluk Christian serta Aruna sekaligus. Air mata haru tampak di sudut mata pria tua itu.
"Selamat, anak-anakku. Terima kasih, Aruna. Kamu memberikan hadiah paling berharga untuk keluarga ini," ucap Papa Adrian dengan suara bergetar.
Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap Aruna dengan penuh perhatian.
"Sekarang katakan, cucu Papa mau makan apa? Kamu ngidam apa, Nak?"
Aruna tersenyum kecil, rona merah mulai kembali di pipinya.
"Tiba-tiba aku ingin asinan buah, Pa. Yang segar dan pedas."
Christian tertawa pelan, rasa lega membuncah di dadanya.
Ia mencium kening istrinya dengan sangat lembut, seolah Aruna adalah permata yang paling rapuh di dunia.
"Tunggu di sini sebentar, ya? Aku akan carikan asinan buah yang paling enak untukmu. Jangan turun dari ranjang sebelum aku kembali."
Aruna menganggukkan kepalanya, Christian kemudian melangkah keluar kamar bersama Papa Adrian untuk memberikan ruang bagi Aruna agar bisa beristirahat.
Di ruang tunggu rumah sakit, Indri sudah duduk menanti dengan cemas.
Begitu melihat kakak dan papanya keluar dengan wajah berseri-seri, Indri langsung berdiri.
"Gimana, Kak? Kak Aruna baik-baik saja, kan?" tanya Indri cepat.
Christian duduk di samping adiknya, menghela napas panjang penuh kebahagiaan.
"Ipar kamu hamil, Ndri. Kamu akan punya keponakan."
"Hah?! Serius?!" Indri memekik tertahan, lalu menutup mulutnya dengan tangan.
"Ya ampun, aku bakal jadi tante! Kak, ini beneran kabar paling bahagia setelah semua drama kemarin!"
Papa Adrian duduk di kursi seberang mereka, menyandarkan punggungnya dengan tenang.
"Ini adalah awal baru, Christian. Tapi ingat, Sisil masih ada di luar sana meskipun dalam pengawasan polisi di rumah sakit jiwa. Dan Akhsan dia juga harus tahu batasannya sekarang."
Christian mengangguk tegas. "Aku tahu, Pa. Aku akan memperketat penjagaan untuk Aruna. Tidak akan ada yang bisa menyentuh istri dan anakku. Mulai besok, saat Akhsan mulai bekerja di perusahaan, aku akan memastikan dia tahu bahwa jarak antara dia dan Aruna sekarang adalah jurang yang tidak bisa lagi ia seberangi."
Indri memegang tangan kakaknya. "Kakak tenang saja, aku juga akan bantu jagain Kak Aruna di rumah. Kita nggak akan biarkan siapapun merusak kebahagiaan ini lagi."
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat