Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pijakannya
Pagi itu, udara terasa lebih kaku dari biasanya. Elenna bangun tanpa ada yang mengetuk pintunya. Biasanya pelayan datang membawa teh pagi. Hari ini tidak ada.
Ia bangkit sendiri. Membuka tirai sendiri. Merapikan rambutnya sendiri.
Di lorong, suasana sudah sibuk. Persiapan festival membuat para pelayan mondar-mandir membawa kain, menata dekorasi, dan berbincang-bincang mengenai persiapan festival.
Tak ada yang memanggil namanya. Tak ada yang menunggunya. Semua memiliki urusan masing-masing, dan Ia tak termasuk dalam urusan tersebut.
Ketika ia turun ke ruang makan utama, pintunya sudah tertutup. Dari dalam terdengar suara percakapan samar-samar. Suara Alberto, suara Lilith, dan suara lembut seorang perempuan yang tak Ia kenali.
Elenna berdiri beberapa detik di depan pintu itu. Tidak ada yang membukakan. Ia akhirnya berbalik. Seorang pelayan yang lewat menunduk cepat.
“Nona… sarapan Anda telah disiapkan di dalam kamar"
“Kamar?” tanya Elenna tenang.
Pelayan itu diam sepersekian detik.
“Ruang makan untuk... Tuan Muda, Nona Lilith, dan Tuan putri"
Jawabannya cukup jelas.
Elenna mengangguk.
“Baik.”
Ia tidak bertanya lebih jauh, lebih tepatnya tidak ingin tahu. Ia berjalan keluar menuju taman timur, tempat biasanya tidak dipakai untuk jamuan resmi.
Angin pagi menyentuh wajahnya, terasa dingin walaupun cuacanya cerah.
Ia duduk di bangku batu, melamun sejenak, dan melihat pemandangan kicauan burung-burung. Beberapa menit kemudian, suara langkah terdengar dari arah lorong samping.
Terdengar tawa ringan dari sana, Lilith muncul lebih dulu. Terlihat anggun. Di sisinya berjalan seseorang yang mungkin Putri Isabella, gaunnya berwarna biru pucat, sikapnya tegap, tatapannya tajam namun terkendali.
Mereka tidak menyadari Elenna pada awalnya. Lilith sedang berbicara.
“…ayah selalu menekankan pentingnya menjaga martabat keluarga. Terutama di hadapan kerajaan.”
Isabella mengangguk kecil.
“Martabat adalah segalanya bagi seorang bangsawan.”
Lalu mata Isabella menangkap sosok duduk di bangku batu.
Mata mereka saling memandang dalam kesunyian. Lilith yang penasaran pun ikut menoleh
"Oh, Elenna?"
Nada itu ringan. Seolah pertemuan tak disengaja. Elenna berdiri dan memberi hormat yang sempurna.
“Hormat saya pada Tuan Putri Isabella"
Isabella menatapnya beberapa detik.
Tatapan itu bukan sekadar melihat, tetapi juga menilai
Rambut perak yang terlalu mencolok, gaun yang lebih sederhana dari Lilith, luka di wajah yang menutup muka cantiknya, serta sikap yang terlalu tenang untuk seseorang dengan posisi tidak jelas.
“Jadi ini Lady Elenna,” ujar Isabella akhirnya.
Suaranya lembut. Namun, terdengar tidak ramah di telinga Elenna.
“Ya, tuan putri,” jawab Elenna.
Isabella tidak langsung tersenyum.
“Festival akan menjadi acara penting. Banyak bangsawan hadir.”
“Aku mengerti.”
“Sebagai putri seorang Marquess,” lanjut Isabella pelan, “kau tentu memahami bagaimana menjaga citra keluarga.”
Kata-katanya terdengar seperti nasihat. Namun, maknanya jelas. Seperti sebuah pertanyaan
"Apakah kau layak berdiri di posisi itu?"
Elenna tidak menunduk. Ia juga tidak menatap tajam.
“Citra keluarga bukan hanya ditentukan oleh darah, tuan putri. Tapi juga oleh tindakan.”
Udara di antara mereka berubah. Lilith tertawa kecil.
“Tentu saja, adikku selalu memiliki pemikiran yang… unik.”
Isabella memandang Elenna sekali lagi.
“Darah tetap penting,” katanya tenang. “Garis keturunan menentukan tempat seseorang. Itu adalah tatanan yang menjaga dunia tetap stabil.”
Ia tidak perlu menyebut kata itu. Tidak perlu mengatakan anak haram, anak berdarah campuran, semua orang mengerti akan hal itu.
Lilith melangkah sedikit lebih dekat ke Isabella.
“Elenna sering terlalu keras pada dirinya sendiri. Aku khawatir ia memaksakan diri untuk festival nanti.”
Isabella tidak mengalihkan pandangannya dari Elenna.
“Kadang,” katanya pelan, “tidak semua orang cocok berada di panggung utama.”
Kalimat itu jatuh tanpa nada tinggi. Tanpa kebencian yang terang-terangan. Namun, cukup jelas untuk terasa seperti garis batas yang ditarik di tanah.
Ia telah menilai.
Dan ia tidak menyukai apa yang dilihatnya.
Elenna merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan karena kata-kata itu asing, ia telah mendengarnya dalam berbagai bentuk sejak kecil. Dalam bisikan pelayan. Dalam tatapan para bangsawan. Dalam keheningan yang terlalu panjang setiap kali namanya disebut.
Tetapi tetap saja ini menyesakkan, dan kali ini datang dari seorang putri. Seseorang yang tidak perlu meninggikan suara untuk menjatuhkan seseorang. Seseorang yang dengan satu kalimat mampu menentukan siapa yang pantas berdiri di aula, dan siapa yang sebaiknya tetap di bayangan. Seseorang yang sedari lahir hidupnya sudah sempurna.
Elenna menunduk. Tidak terlalu dalam. Tidak terlalu rendah. Cukup untuk menunjukkan hormat tanpa menghapus dirinya sendiri.
“Aku akan memastikan tidak mempermalukan keluarga, Yang Mulia.”
Nada suaranya tenang. Terkendali. Tidak bergetar. Isabella menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Tatapan itu bukan tajam, melainkan dingin. Seperti seseorang yang sedang menilai kualitas kain sebelum memutuskan apakah layak dipakai atau dibuang.
“Aku berharap demikian,” ucapnya akhirnya, tipis.
“Festival bukan tempat untuk kesalahan.”
Lilith, yang berdiri setengah langkah di belakang sang putri, mengangkat dagunya sedikit. Pandangannya menyapu Elenna dari ujung kepala hingga kaki, sebuah penilaian yang tidak disembunyikan.
“Lady Elenna tentu memahami posisinya,” katanya lembut, hampir terdengar membela.
“Terkadang niat baik saja tidak cukup.”
Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan itu, halus, tertata, seperti benang sutra yang melilit perlahan. Isabella tersenyum tipis. Tidak lebar. Tidak hangat.
“Sebaiknya begitu.”
Hening jatuh sejenak. Angin taman bergerak pelan, menggoyangkan daun dan membuat kain gaun berdesir lembut.
Lalu Isabella berbalik.
“Nona Lilith, mari kita lanjutkan obrolan kita"
“Tentu, tuan putri,” jawab Lilith cepat.
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan taman. Gaun mereka bergerak anggun, langkah terukur, punggung tegak tanpa ragu. Mereka terlihat seperti keluarga bangsawan yang sesungguhnya, bukan seseorang dengan darah campuran yang menyusup.
Lilith sempat melirik sekilas ke arah Elenna.
Dan di sana, hanya sepersekian detik, terlihat kemenangan kecil
Bukan kemenangan yang dirayakan.
Melainkan yang disimpan. Suara langkah mereka perlahan menjauh. Tertelan oleh jarak.
Elenna tetap berdiri di tempatnya. Tangan terlipat rapi di depan, bahu lurus. Wajahnya tenang. Ia tidak marah. Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak merasa terhina. Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih dingin dari itu, kehampaan
Mengapa semua orang seakan ingin menjatuhkannya?
Apakah salahnya bila ia dilahirkan?
Apakah kehendaknya bila ia tinggal di sini dan menerima semua caci maki dari orang?
Isabella bukan sekadar netral. Ia telah memilih. Bukan karena bukti. Bukan karena keadilan. Melainkan karena darah lebih mudah dipercaya daripada kebenaran.
Elenna menarik napas perlahan. Mengangkat wajahnya sedikit, menatap langit sore yang mulai berubah warna.
Festival tinggal satu hari lagi.
Satu hari sebelum aula dipenuhi cahaya, musik, dan senyum-senyum yang tidak pernah benar-benar tulus, dan kini ia tahu, bahwa sejak awal dunia tidak pernah berpihak padanya.
Ia tidak hanya menghadapi Lilith. Ia menghadapi tatanan dunia yang sejak awal tidak pernah menginginkannya berdiri sejajar dengan mereka.
Namun, jika dunia itu menolak keberadaannya. Maka ia tidak akan memohon diterima. Ia akan berdiri pada tempatnya, meraih pijakannya sendiri.