"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAKEK AURORA
Leo menarik napas dalam, memaksakan seluruh sel di tubuhnya untuk memanggil kembali sisa-sisa energi yang tertinggal di liontin Aurora, dia ingin menyambung paksa benang takdir yang telah digunting oleh Maxime.
"KEMBALIKAN DIA!" teriak Leo, meraung keras.
DUARRRRRR
Aura hitam-perak itu meledak, menghantam dinding dimensi dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan gunung.
BUMMMMMMM
Getaran hebat mengguncang istana Vampir. Langit-langit ruang bawah tanah runtuh, menjatuhkan bongkahan batu raksasa di sekitar Leo.
Arion dan Serena terpaksa mundur, menciptakan pelindung untuk menahan sisa ledakan energi Leo.
Namun, saat debu mereda, dinding dimensi itu masih di sana, dan bayangan Aurora masih terperangkap di baliknya, semakin pucat, semakin jauh.
BRUKKK
Leo terlempar ke belakang, punggungnya menghantam pilar hingga pilar itu hancur.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Darah segar menyembur dari mulut Leo, seluruh ototnya terasa seperti ditarik paksa dari tulangnya, dia mencoba berdiri, namun kakinya lemas.
Cengkeraman energi yang Leo paksakan tadi justru berbalik menghantam jiwanya sendiri.
"Tidak... tidak bisa..." gumam Leo, menatap tangannya yang gemetar hebat.
Di balik tabir, Maxime tertawa semakin keras, suaranya bergema mengejek setiap tetes keringat dan darah yang dikeluarkan Leo.
"Sudah kubilang, Serigala, kamu hanya monster yang tidak punya kunci," ucap Maxime sinis, kembali mengarahkan belatinya, kali ini tepat di atas jantung Aurora.
"Dimensi ini tidak menerima keberadaan mu, semakin kamu mencoba masuk, semakin cepat Aurora akan mati karena tekanan energimu sendiri," lanjut Maxime, sinis.
Deg
Leo membeku, jantung nya serasa berhenti berdetak, kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari sihir mana pun, dia melihat tubuh Aurora mengejang hebat setiap kali Leo mencoba menghancurkan dinding tersebut. Energi peraknya yang liar justru menyiksa Aurora di sisi lain.
"Leo, berhenti! Kau akan membunuhnya!" teriak Serena histeris.
"Sihir cermin itu memantulkan seranganmu menjadi beban bagi jiwa Aurora!" lanjut Serena, menangis histeris.
Mendengar itu, Leo segera menarik kembali auranya, dia bersimpuh di lantai yang dingin, menempelkan telapak tangannya yang hancur ke permukaan dinding marmer yang kini kembali tenang.
"Aurora... maafkan aku," bisik Leo, air matanya jatuh membasahi lantai.
"Aku begitu bodoh... aku ingin menolong mu tapi aku justru menyakitimu..." bisik Leo, lirih.
Di dalam sana, Aurora perlahan membuka matanya, dia melihat wajah Leo yang hancur karena putus asa.
Dengan sisa tenaganya, Aurora menyandarkan kepalanya ke arah dinding, seolah ingin merasakan sentuhan Leo meski hanya melalui bayangan.
"Pe-pergi... Leo..." bisik Aurora melalui gerakan bibirnya yang lemah.
"Selamatkan... dirimu..."
"TIDAK! JANGAN BERANI-BERANI NYA KAU MENYURUH KU PERGI KAMU PUTRI GALAK!"
Teriak Leo menggeleng kepalanya ribut.
"Aku tidak akan pergi tanpamu!" teriak Leo, lagi, meski kini suaranya terdengar lemah dan penuh keputusasaan.
Maxime mengangkat belatinya tinggi-tinggi, cahaya merah di ruangan itu mencapai puncaknya.
"Waktunya habis, Serigala kecil, saksikan lah bagaimana cahaya terakhir dari keluarga Wallece dan Zuhaimi padam!" ucap Maxime, tertawa jahat.
BHUK
Leo memukul lantai marmer itu dengan sisa tenaganya, namun dinding itu tetap tidak bergeming, Leo hanya bisa menonton saat belati Maxime mulai bergerak turun menuju dada Aurora.
Leo tidak berani melihat lebih lanjut, dai memejamkan matanya rapat-rapat, Leo merasa dunianya runtuh, keberaniannya, kekuatannya, semua yang dia banggakan sebagai seorang Alpha dan keturunan vampir, terasa tidak berguna, dirinya berada di sana, tepat di depan gadis yang jiwanya telah menyatu dengannya, namun dia hanya bisa melihat gadis itu perlahan menuju kematiannya sendiri.
"Siapa pun... kumohon... bantu aku," rintih Leo dalam keheningan yang menyakitkan.
BUMMMM
Ruangan bawah tanah itu bergetar hebat, bukan karena sihir, tapi karena kehadiran Raja Revan, sang penguasa legendaris ras Vampir itu melangkah masuk dengan aura yang begitu berat hingga Arion dan Serena terpaksa menunduk.
Mata merahnya yang tajam langsung tertuju pada altar kosong, lalu beralih pada Leo yang bersimpuh di lantai dengan tangan berdarah-darah.
"Jadi ini hasil dari kerja sama yang kau banggakan, Arion?" tanya Raja Revan, dengan suara rendah nya, namun setiap katanya terasa seperti sabetan pedang.
"Kamu membiarkan darah dagingku diculik oleh pengkhianat di bawah hidung seorang bocah Serigala ini?" lanjut Raja Revan, menatap tajam pada Raja Arion.
"Ayah-"
"Diam! Tidak ada yang menyuruh mu berbicara!" potong Raja Revan, geram.
"Kalau saja ibu mu tidak melarang ku, mungkin sudah ku robek dada mu itu, Arion, berani nya kau membiarkan cucu ku tersiksa," ucap Raja Revan, mendengus.
Raja Arion hanya menghela nafasnya panjang dan memilih untuk diam saja, karena sampai kapanpun dia tidak akan menang beradu argument dengan Ayah nya itu.
Sementara Leo, di tidak bergeming, dia tidak takut pada kemarahan pria yang beru saja datang itu, dari auranya saja, Leo sudah bisa menebak siapa pria itu.
"Buka jalannya..." bisik Leo, suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan yang murni.
"Kau bicara padaku, Serigala?" tanya Revan mendekat, ujung jubah peraknya menyentuh tangan Leo.
"Dimensi Cermin bukan pintu yang bisa kamu dobrak dengan otot serigala mu, untuk menembusnya, kamu harus menghancurkan jiwa mu sendiri menjadi kepingan agar bisa menyelinap di antara celah dimensi. Dan kamu? Kamu bahkan bukan vampir murni," ucap Raja Revan, sinis.
Tidak ada yang bisa menjinakkan Raja Vampir terdahulu itu, kecuali satu orang, Ratu Alana, istri tercintanya.
"Aku tidak peduli! Aku merasakan nya, sebelum ikatan itu putus, aku merasakan ketakutannya! Dia tidak pernah takut pada apa pun, tapi tadi, dia memanggilku!" ucap Leo, menatap tajam pada Raja Revan, tanpa rasa takut.
"Kalian bilang ini karena kontrak darah? Tidak! Ini bukan lagi tentang perjanjian Ayahku dan Raja Arion, tapi ada sesuatu yang menarik ku padanya sejak pertama kali kami bertemu di hutan itu, jika dia hilang, maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap berdiri di sini!" ucap Leo mencengkeram dadanya tepat di atas liontin itu.
Serena terisak, melihat bagaimana pemuda itu hancur karena rasa khawatir, ternyata ikatan mereka yang terjalin dari mereka kecil kini sudah tumbuh mengakar dan begitu kuat, walaupun baru beberapa hari ini mereka di pertemukan secara langsung.
Arion hanya bisa terdiam, menyadari bahwa ikatan di antara Leo dan Aurora telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan kuat daripada ikatan darah biasa, itu adalah ikatan takdir yang tidak seharusnya terjadi sesingkat ini, mengingat Leo dan Aurora baru bertemu.
Sementara Raja Revan tertegun sejenak melihat intensitas emosi Leo, dia bisa melihat aura Leo yang tidak stabil, energi perak dan cokelatnya tidak lagi bertarung, melainkan melebur menjadi satu karena satu tujuan: Aurora.
"Kamu sadar apa yang kamu minta, Leo Alistair?" tanya Raja Revan, dengan suara yang kini sedikit lebih manusiawi.