menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 Ujian di Ujung Detik
Lampu di ruang medis meredup, menyisakan keremangan yang mencekam. Saka menatap jemari Anita yang kini dihiasi gurat hitam—akar dari Oblivion yang terus menjalar. Tidak ada lagi waktu untuk keraguan. Setiap detik yang ia habiskan untuk meratapi keadaan adalah satu inci lagi kegelapan merayap menuju jantung gadis yang ia cintai.
"Bawa aku ke sana, Silas. Buka gerbang The Final Second," ucap Saka. Suaranya tidak lagi bergetar; ada nada dingin yang muncul, nada yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah tidak memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.
Dekan Silas mengangguk. Ia mengarahkan tangan mekaniknya ke lantai aula medis. Sebuah lingkaran transmisi muncul, berputar dengan kecepatan cahaya, membentuk lubang hitam kecil yang menelan Saka dalam sekejap.
Saka mendarat di sebuah tempat yang tidak memiliki bentuk. Ini adalah Celah Nol, titik di mana waktu belum diciptakan dan ruang belum dibentuk. Di depannya, berdiri sebuah cermin raksasa yang permukaannya bukan kaca, melainkan aliran air raksa yang memantulkan ribuan versi dirinya.
"Ujian ini bukan tentang kekuatan fisik, Saka," suara Silas bergema di dalam kepalanya. "Ini adalah konfrontasi antara jiwamu yang sekarang dengan semua 'sampah' emosional yang kau buang untuk mencapai titik ini. Kau harus mengalahkan Saka Sang Penyesal."
Dari dalam cermin, melangkah keluar sesosok pria yang sangat mirip dengan Saka, namun mengenakan pakaian yang compang-camping dan bersimbah darah. Wajahnya adalah wajah Saka saat ia sekarat di lorong gelap Bandung sepuluh tahun lalu.
"Kau pikir kau bisa lari?" Saka Sang Penyesal berbisik, suaranya parau dan penuh kebencian. "Kau mencuri sepuluh tahun kehidupan dari orang lain. Kau membiarkan Rian mati. Kau membuat ibumu trauma. Dan sekarang, kau menyeret Anita ke ambang kehancuran hanya agar kau tidak merasa sendirian."
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan mereka!" teriak Saka, memanggil pedang Tinta Keabadiannya.
"Bohong!" Sang Penjaga Penyesalan menerjang. Serangannya bukan berupa tebasan, melainkan hantaman memori. Saka dipaksa merasakan kembali dinginnya pisau yang menusuk perutnya, rasa bersalah saat melihat Anita menangis di pemakamannya yang seharusnya terjadi, dan kesunyian saat dunia melupakannya.
Saka jatuh berlutut. Tubuh hantunya mulai retak. Di dimensi ini, rasa bersalah adalah racun yang mampu menghapus eksistensi. Jika ia menyerah pada penyesalan, ia akan lenyap menjadi abu sejarah.
Sementara itu, di ruang medis Akademi, kondisi Anita memburuk. Luka hitam di tangannya mulai mengeluarkan asap tipis yang berbau belerang. Altair, yang terikat rantai kronos di sudut ruangan, tertawa kecil meski mulutnya berdarah.
"Percuma, Gadis Buku," ucap Altair lemah. "Saka tidak akan pernah bisa mengalahkan dirinya sendiri. Dia terlalu mencintai rasa sakitnya. Rasa sakit adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa 'hidup' sebagai hantu."
Anita membuka matanya perlahan. Cahaya perak di matanya kini bercampur dengan kilatan hitam. Ia tidak lagi bicara sebagai Anita, melainkan sebagai Suara Alexandria.
"Kau salah, Putra Penghapus," desis Anita. Suaranya tumpang tindih dengan ribuan bisikan kuno. "Saka tidak mencintai rasa sakitnya. Dia mencintai masa depan yang dia janjikan padaku. Dan pengetahuan yang kau coba hapus ini... adalah senjata yang akan menghancurkanmu."
Anita memaksakan dirinya duduk. Dengan tangan yang gemetar, ia mulai menuliskan aksara kuno di udara—sebuah mantra sinkronisasi dimensi. Ia mencoba mengirimkan energinya menembus gerbang The Final Second untuk membantu Saka.
Kembali ke Celah Nol, Saka sedang dicekik oleh bayangannya sendiri. "Menyerahlah, Saka. Mati di sini lebih baik daripada hidup sebagai hantu yang terus menyakiti orang di sekitarnya."
Tiba-tiba, sebuah suara lembut merayap masuk ke dalam kesadaran Saka. “Saka... jangan lihat ke belakang. Lihatlah aku... di depanmu.”
Itu adalah suara Anita. Bersamaan dengan suara itu, setitik cahaya perak muncul di dada Saka. Cahaya itu adalah sisa memori Alexandria yang pernah ia titipkan pada Anita.
Saka menyadari sesuatu. Ia tidak perlu mengalahkan penyesalannya; ia hanya perlu menerimanya sebagai bagian dari perjalanannya. Ia meraih tangan bayangannya yang mencekik lehernya, bukan untuk melepaskannya, melainkan untuk memeluknya.
"Aku memaafkanmu," bisik Saka kepada dirinya yang lama. "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini."
Seketika, Saka Sang Penyesal hancur menjadi butiran cahaya emas yang menyatu ke dalam tubuh Saka. Ledakan energi murni meledak, memenuhi seluruh Celah Nol. Wujud hantu Saka yang semula transparan kini mulai memadat. Otot, kulit, dan detak jantung mulai terbentuk kembali dari frekuensi energi yang stabil.
Saka lahir kembali. Bukan sebagai hantu, bukan sebagai manusia biasa, melainkan sebagai The Perfect Sentinel (Penjaga Sempurna). Tubuh fisiknya telah kembali, namun dialiri oleh Tinta Keabadian yang kini terkendali sepenuhnya.
Saka keluar dari gerbang dimensi dengan ledakan cahaya yang menerangi seluruh aula medis. Ia berdiri tegak, memegang sebuah botol kecil berisi Essence of Origin—hasil dari keberhasilannya melewati ujian.
Ia segera menghampiri Anita. "Nit, aku di sini."
Saka meminumkan cairan itu ke bibir Anita. Cahaya emas menjalar ke seluruh tubuh gadis itu, mengejar dan menghancurkan gurat hitam Oblivion hingga tak berbekas. Napas Anita kembali teratur, dan suhu tubuhnya menghangat.
Saka menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa merasakan udara masuk ke paru-parunya dengan nyata. Ia bisa merasakan berat tubuhnya sendiri. Ia menyentuh tangan Anita, dan kali ini, ia bisa merasakan kehangatan kulit gadis itu tanpa perantara energi.
"Aku kembali, Nit," bisik Saka.
Namun, kedamaian itu hanya berlangsung sesaat. Dekan Silas masuk dengan wajah pucat. "Saka, keberhasilanmu menciptakan riak yang terlalu besar. The Architect sendiri yang akan turun tangan. Dia tidak senang kau mencuri tubuhmu kembali dari arsipnya."
Di langit Himalaya, awan mulai membentuk pusaran raksasa yang menyerupai wajah seorang kakek tua yang marah. Waktunya bukan lagi tentang berlatih; perang melawan Pencipta Waktu baru saja dimulai.