Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter⁶ — Sanksi sosial.
Meski terus menyangkal perasaan yang diam-diam mulai tumbuh pada Lastri, sepanjang perjalanan Malvin justru kerap tersenyum sendiri. Senyum itu muncul tanpa ia sadari, ringan, seolah pikirannya tertinggal pada satu wajah dan satu suara. Ia berjalan dengan langkah biasa, terlalu larut dalam benaknya hingga tak peka pada perubahan di sekeliling.
Dan saat itulah—
Sesuatu tiba-tiba menutup kepalanya. Sangat kasar dan udara menjadi pengap, seperti penutup kepala yang disarungkan paksa.
“Enyah dari desa ini! Jangan sok ikut campur urusan di sini!”
Brugh!
Pukulan pertama mendarat tanpa aba-aba pada tubuh Malvin.
Brugh!
Tubuhnya terhuyung, lalu roboh. Hantaman demi hantaman menyusul, membabi buta, tanpa memberi kesempatan untuk melawan atau sekadar mengenali siapa pelakunya. Dunia Malvin menggelap di balik kain penutup itu, napasnya tercekiik, tubuhnya hanya bisa menerima.
Hingga akhirnya, ketika semua terasa jauh dan sunyi, tubuhnya dibuang begitu saja. Tak lebih dari barang tak bernilai, di tempat yang asing dan sepi.
Kesadaran datang perlahan, seperti kabut yang enggan pergi. Bau antiseptik menusuk hidung Malvin sebelum ia benar-benar membuka mata. Kepalanya terasa berat, nyeri berdenyut setiap kali ia mencoba bergerak.
Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka sedikit. Cahaya putih menyilaukan pandangannya. Ia memejamkan mata sejenak, menelan napas pendek, sebelum akhirnya berusaha fokus kembali.
Sosok pertama yang ia lihat adalah seseorang yang duduk di sisi ranjang. Wajah itu tampak tegang, mata sembab seolah kurang tidur.
“Tuan?” suara itu terdengar cepat, nyaris tak percaya.
Malvin mengerang pelan. “Di… mana ini?” suaranya serak, nyaris tak keluar.
Asistennya segera berdiri, mendekat. “Syukurlah Anda sudah sadar. Kita di rumah sakit, Tuan. Saya mencari-cari Anda semalaman, dan menemukan Anda dalam kondisi pingsan.”
Malvin memejamkan mata lagi, potongan ingatan datang menyeruak—gelap, sesak, dan rasa sakit yang membabi buta. Rahangnya mengeras.
“Lastri…” gumamnya lirih mengingat perempuan itu, entah firasat apa yang datang padanya.
Asistennya terdiam sejenak, menatap wajah Malvin dengan raut cemas. “Dokter menyarankan Anda banyak beristirahat. Kondisi kaki Anda cukup parah, meski tidak sampai patah. Dan saya juga sudah mencari tahu soal apa yang sebenarnya terjadi pada Anda—”
Malvin membuka mata kembali, tatapannya kini lebih tajam meski masih lemah. “Tidak perlu heboh, ada hal lain yang harus aku lakukan lebih dulu.”
Asistennya mengangguk, meski jelas tidak sepenuhnya setuju. Dan di balik dinding putih rumah sakit itu, Malvin sadar—ini bukan sekadar penyerangan biasa.
.
.
.
Pagi itu, seseorang meminta Lastri untuk datang ke balai desa. Lalu dari arah jalan utama, suara toa masjid terdengar lebih lama dari biasanya. Bukan panggilan ibadah, melainkan pengumuman rapat warga di balai desa.
“Demi menjaga kerukunan,” kata suara itu, “Seluruh warga diharapkan hadir.”
Kata kerukunan kembali diulang-ulang, seolah menjadi mantra wajib. Namun bukan untuk menciptakan kedamaian, melainkan agar desa itu terus patuh pada aturan demi tampilan yang disebut rukun.
Lastri menatap ibunya yang sedang menyiapkan sarapan, perempuan itu berhenti mengaduk sayur.
“Jangan datang,” larang ibunya.
Lastri menggeleng. “Kalau aku tidak datang, mereka tidak akan berhenti mengganggu kita. Dan aku tidak akan lari... hanya karena aku tahu aku akan direndahkan di sana. Ibu tidak perlu khawatir, Lastri bukan pengecut. Dan juga, bukan seorang penakut.”
Di balai desa, kursi-kursi plastik disusun rapi. Warga berdatangan, wajah-wajah yang biasa Lastri sapa kini menyimpan jarak. Surya berdiri di depan, kemeja putihnya rapi dengan wajah yang dipenuhi senyuman hangat.
“Kita berkumpul bukan untuk menghakimi,” katanya membuka, suaranya dibuat rendah dan lembut. “Tapi hanya ingin menjaga persatuan antar warga.”
Lastri berdiri di barisan tengah, ia sengaja tidak duduk. Lastri ingin terlihat, dan agar tak ada cerita yang dipelintir tentang keberadaannya.
“Belakangan ini, desa kita tidak tenang. Ada kegaduhan yang bermula dari tindakan pribadi, tapi berdampak pada banyak orang.”
Beberapa kepala menoleh ke arah Lastri. Tidak serentak, tapi cukup untuk membuat udara berubah.
“Media sosial, bukan tempat menyelesaikan masalah rumah tangga.” Surya melanjutkan.
Seorang tokoh masyarakat berdiri. “Kami sepakat,” katanya lantang. “Apa yang dilakukan saudari Lastri telah memecah belah desa.”
Kata itu jatuh seperti palu.
Lastri menarik napas. “Saya boleh bicara?” tanyanya.
Surya tersenyum. “Tentu, silakan.”
Lastri melangkah maju satu langkah. “Saya tidak ingin membela diri, saya hanya ingin meluruskan.”
Ia menatap warga satu per satu. “Yang saya unggah adalah kejadian nyata. Tidak ada yang ditambah, tidak pula dikurangi. Kalau kebenaran membuat kita terpecah belah, mungkin yang rapuh bukan persatuannya... tapi fondasinya.”
Riuh rendah muncul dari para warga.
“Lihat!” seru seseorang. “Masih saja menyalahkan orang lain!”
“Janda memang begini,” bisik yang lain.
Surya mengangkat tangan. “Tenang! Tenang! Saudari Lastri, kami menghargai kejujuran. Tapi caranya—”
“Ini adalah cara saya satu-satunya,” potong Lastri dengan suara dingin. “Karena cara-cara lain selama bertahun-tahun ini, tidak pernah di dengar oleh Anda!”
Sunyi sejenak.
Lalu seorang ibu berdiri. “Kalau semua orang seperti kamu, desa ini bisa hancur. Anak-anak perempuan kami yang belum menikah, nantinya akan jadi seperti apa?”
Lastri menatap ibu itu dengan pandangan dingin. “Jadi, yang harus dipelajari anak-anak perempuan adalah berbohong, asal caranya halus dan tak terbongkar?”
Desis terdengar.
Surya menutup rapat dengan keputusan yang sudah ditetapkan sejak awal. “Demi ketertiban, kami meminta Saudari Lastri serta keluarganya pergi dari desa ini.“
“Kalau saya menolak?” tanya Lastri.
Surya tersenyum tipis. “Konsekuensi yang harus diterima adalah sanksi sosial.”
Lastri mengangguk, namun suaranya mengeras. “Sanksi sosial, saya sudah menjalaninya. Namun saya tetap menolak pergi dari desa tempat saya dilahirkan, tempat saya bertahan dan berjuang!”
Namun, bisik-bisik menjadi lebih berani.
“Perusak rumah tangga.”
“Cari perhatian.”
“Dia arogan dan keras kepala, pantas diceraikan.”
Surya tersenyum puas. Warga masih berdiri di pihaknya, dan itu sudah cukup. Statusnya sebagai kepala desa pilihan mereka, akan menjadi tameng yang ia butuhkan.
“Sekali lagi saya tegaskan,” suara Surya meninggi, penuh tekanan. “Anda dan keluarga Anda silakan angkat kaki dari desa ini. Saya beri waktu satu kali dua puluh empat jam. Jika masih bertahan… jangan salahkan saya bila terjadi kekerasan.”
Sorot mata Lastri bergetar tipis. Bukan karena takut, melainkan karena bayangan ayahnya yang masih terbaring sakit, dan tubuh ibunya yang tak lagi sekuat dulu. Jika kekerasan itu benar-benar datang, merekalah yang paling dulu menanggungnya.
Tekad Lastri masih berdiri tegak, namun hatinya mulai goyah.
Pada saat itulah pintu balai desa terbuka. Derit pelan terdengar, diikuti keheningan yang mendadak jatuh. Seorang pria masuk, duduk di atas kursi roda.
Malvin.
Wajah Surya seketika mengeras, ia menoleh tajam pada orang kepercayaannya. “Bukankah kau bilang dia sudah kau bereskan? Lalu kenapa dia masih bisa datang ke sini?”
Orang kepercayaannya itu menelan ludah sebelum menjawab, berusaha terdengar yakin. “Kami sudah melakukan semua sesuai perintah Bapak. Dia dipukuli, bahkan kakinya kami patahkan. Bapak tak perlu khawatir, meski dia datang... dia bukan siapa-siapa. Dia tidak akan bisa menolong Lastri.”
Surya menarik napas pelan. Ekspresinya kembali tenang, seolah ucapan itu cukup untuk meredakan amarahnya. Namun saat pandangannya bertemu dengan sorot mata Malvin—tajam, dingin, dan tak menunjukkan kekalahan, ada sesuatu yang mengusiknya. Dan Surya, tidak bisa menerjemahkan arti dari tatapan Malvin.
mereka emang pantes di bui